Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 78.


__ADS_3

"I-ini s-suami Kakak?" tanya Sisil terbata sambil menunjuk Hendrik.


"Iya, kamu kenal sama Mas Hendrik?"


"Dia ini customer yang aku ceritain tadi sore itu loh, Sayang. Yang ngasih tip banyak ke aku," ungkap Hendrik jujur apa adanya, dia tak mau membuat Kirana salah paham.


Kirana seketika tertawa terbahak-bahak. "Jadi Mas ojol yang kamu taksir dari kemarin itu Mas Hendrik, Sil? Astaga, kalau kamu naksir sama ojol yang ini ya jangan dong. Ini mah sudah ada yang punya," kelakar Kirana. Bahkan tanpa sadar ia semakin mempererat pelukannya.


Sisil menutup wajahnya karena malu. "Ish, Kakak mah. Aku mana tau kalau dia suami Kakak. Kan Kakak nggak pernah kasih lihat ke aku foto pernikahan kalian?" ujar Sisil membela diri.


"Iya deh, aku yang salah. Hehehe."


"Sudah yuk, kita makan aja kalau gitu, keburu dingin juga makanannya." sela Hendrik.


Hendrik menuntun Kirana untuk duduk di kursi meja makan. Kebetulan kamar hotel yang Kirana sewa adalah tipe president. Jadi semua fasilitas tersedia di dalam kamar.


"Duh, aku bakal jadi obat nyamuk nih," celetuk Sisil sambil terus mengambil nasi ke atas piringnya.


"Makanya cepet cari pacar. Biar nggak jadi obat nyamuk mulu," sahut Kirana tak mau kalah.


Hendrik hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kedua perempuan di dekatnya itu saling ledek satu sama lain.


Setelah selesai makan malam, Sisil langsung pamit pulang. Ia benar-benar merasa malu pada Hendrik. Lantaran tadi siang dia sempat bertingkah genit. Untungnya Hendrik tak membahasnya sekarang. Tapi jika sampai Hendrik memberitahu Kirana, mungkin Kirana juga akan kecewa pada Sisil.


"Kak, aku pamit pulang ya. Makasih buat makanannya. Buat Mas Hendrik tolong lupain kejadian tadi siang ya," mohonnya sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Kirana menatap Hendrik seolah ingin meminta jawaban. Tapi Hendrik justru diam sambil memperhatikan Sisil yang berajalan menjauh.


"Memangnya Sisil tadi siang ngapain sih, Mas?" tanya Kirana saat mereka sudah menutup pintu.


Hendrik terkekeh geli melihat wajah Kirana yang terlihat cemburu. "Kamu penasaran? Ya sudah sini aku ceritain," Hendrik menuntun Kirana agar duduk di sofa bersebelahan dengannya sambil terus memegang telapak tangan Kirana.


"Jadi tadi siang, Sisil temanmu itu sempat ngajakin aku kencan malam ini. Tapi aku tolak, dengan mengatakan kalau aku sudah punya istri. Eh, nggak taunya dia nggak percaya, terus malah semakin semangat buat nempelin dadanya ke punggungku.


Aku maju, dia juga ikutan maju. Jadi ya, terpaksa aku ancam dia kalau masih maju-maju terus, nanti bakal aku turunin dia di pinggir jalan. Untungnya setelah itu dia mau duduk seperti penumpang lainnya."

__ADS_1


Bukannya marah, Kirana justru kembali tertawa sambil membayangkan wajah Hendrik dan Sisil tadi siang. Yang satu ngebet pengen kenalan, sedangkan yang satunya takut jika sampai istrinya tau dan jadi salah paham.


"Pantesan aja tadi Sisil sampai malu banged pas tau kamu itu suamiku," ujarnya sambil tertawa dan memeluk Hendrik lagi.


Hendrik yang mendapat pelukan manja dari Kirana justru mulai berani membalas pelukan itu.


"Sayang, maafin aku ya. Aku janji nggak bakal sia-siakan kamu lagi," tutur Hendrik seraya mengelus rambut Kirana lembut.


"Iya, Mas. Aku sudah maafin kamu kok. Tapi, ..." Kirana melepas pelukannya dan tertunduk.


Kemudian Hendrik menangkup kedua pipi Kirana. "Aku tau kamu belum bisa percaya kalau aku sudah benar-benar berubah kan? Nggak masalah kalau soal itu. Seiring berjalannya waktu pasti kamu bisa percaya sama aku, kalau aku benar-benar serius sama kamu. Tapi yang penting besok kita datang ya ke gereja untuk konsultasi?"


Kirana terdiam, ia takut jika nanti bertemu dengan Pak Gembala, pasti beliau akan membahas soal toko bunga Kirana. Tidak mungkin juga kalau Kirana meminta Pak Gembala tidak membahasnya. Pasti Pak Gembala akan menolak.


Mungkin ini memang sudah saatnya Mas Hendrik tau soal toko itu.


"Baiklah, Mas. Aku setuju, karena aku dulu juga minta seperti itu saat keluar dari apartemenmu," ucap Kirana akhirnya.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya. Besok pagi aku jemput kamu," Hendrik berdiri lalu berjalan mengambil tas dan jaketnya.


"Kita naik motor nggak masalah kan, Sayang?" tanya Hendrik seraya memakaikan helm ke kepala Kirana.


"Nggak apa, Mas. Justru lebih enak kalau pakai motor, nggak perlu kena macet," sahutnya sumringah.


Tanpa mereka sadari ternyata ada yang tak suka melihat pemandangan itu. Ia mengepalkan tangannya, lalu memukul setir mobilnya. Bahkan ia berencana ingin membuat Kirana menderita setelah ini.


...****************...


Beberapa saat kemudian, setelah melewati berbagai kemacetan di pagi hari, mereka telah sampai di gereja. Pak Gembala juga sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


"Shalom, Bapak," sapa Kirana dan Hendrik bersamaan.


"Shalom. Wah, sudah lama kalian tidak datang kemari," Pak Gembala menyambut kedatangan mereka. "Ayo kita masuk ke dalam."


Mereka bertiga masuk ke dalam ruang kerja Pak Gembala.

__ADS_1


"Bagaimana, Pak, Bu. Apakah mau langsung di mulai saja konsultasinya?"


"Iya, Pak. Tapi sebelumnya ijinkan saya untuk menceritakan semua akar masalahnya," ujar Hendrik.


Lalu ia mulai menceritakan apa saja yang ia perbuat pada Kirana. Begitupun dengan Kirana, ia juga menceritakan apa saja yang telah ia lalui beberapa bulan terakhir ini.


Terkecuali mengenai kepemilikan toko bunga. Ia masih mencoba menyembunyikan soal itu dari Hendrik. Untungnya Pak Gembala juga tak terlalu fokus dengan hal itu.


"Jadi setelah kalian sudah sama-sama saling mengakui kesalahan masing-masing, lalu apa rencana kalian?"


"Saya ingin sekali mendapatkan kesempatan kedua dari Kirana, Pak," tutur Hendrik sambil menatap Kirana.


"Lalu bagaimana dengan Bu Kirana sendiri? Apakah mau memberikan kesempatan kedua itu pada Pak Hendrik?"


Kirana mengigit bibir bawahnya. "Saya ... saya sebenarnya juga masih mencintai Mas Hendrik, Pak. Dan saya juga ingin memberikan kesempatan kedua padanya. Tapi saya masih ragu, Pak."


"Saya bisa memahami apa yang Bu Kirana rasakan saat ini. Tapi kalau boleh saya beri saran, alangkah baiknya jika kalian mencoba memulainya lagi dari awal. Toh dari Pak Hendrik juga sudah minta maaf dan berjanji akan lebih menghargai dan mengutamakan Bu Kirana."


Kirana menganggukkan kepalanya tanda menyetujui saran dari Pak Gembala.


"Dan untuk Pak Hendrik, tolong di manfaatkan sebaik mungkin kesempatan kedua yang telah Bu Kirana berikan. Karena jarang ada orang yang bisa mendapatkan kesempatan kedua di dalam hidupnya."


"Iya, Pak. Saya nggak akan sia-siakan kesempatan kedua yang telah Kirana berikan pada saya," sahutnya sambil mengenggam erat tangan Kirana.


"Pak, bolehkan saya ijin untuk melakukan doa di altar dengan Kirana? Saya ingin kembali mengenang masa-masa pernikahan kami saat itu," pinta Hendrik.


"Oh, tentu boleh. Silahkan saja langsung masuk ke sana."


Hendrik menuntun Kirana untuk duduk di kursi lantaran perutnya yang sudah membesar membuatnya sulit berlutut. Sedangkan Hendrik sendiri duduk berlutut di altar.


Hendrik menumpahkan segala kerisauan hatinya di sana. Tak lupa ia pun juga berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan Kirana kembali. Tanpa campur tangan Tuhan rasanya mustahil semua ini terjadi.


Kirana juga berterima kasih pada Tuhan, karena masih memberinya hati yang mau memaafkan. Apalagi kesalahan Hendrik hanyalah karena mudah terpengaruh sama teman-temannya.


Kalau untuk selingkuh, sepertinya itu kecil kemungkinan untuk terjadi. Terbukti dari setelah pisah dari Kirana, ia sama sekali tak tergoda oleh perempuan manapun. Bahkan saat Sintya mengodanya, ia mampu menahan hasratnya.

__ADS_1


Ya, walaupun Kirana tau kalau Hendrik juga diam-diam saat itu mencari kesenangan melalui media sosial. Tapi itu semua juga karena dirinya sendiri yang tak mau melayani Hendrik dengan baik.


__ADS_2