Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 25.


__ADS_3

"Bagiku dia tetap perempuan baik-baik!" ucap Hendrik seperti orang yang tak mau dibantah lagi. "Terus mau apa kamu sekarang?" bukannya meminta maaf, tapi Hendrik justru membuat susana semakin runyam.


Padahal yang Kirana ingin adalah Hendrik mau mengubah pandangannya terhadap perempuan itu. Tapi sepertinya Hendrik memang sudah di butakan olehnya.


"Sejauh apa hubunganmu dengannya, Mas? Dan apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini? Hingga bisa membuatmu bersikap seperti sekarang?"


Lalu Kirana melangkah agar bisa berdiri tepat di depan Hendrik. Ia ingin menanyakan sesuatu yang selanjutnya akan menjadi keputusannya.


"Sekarang kamu pilih aku atau dia? Kalau kamu pilih dia, aku bakal pergi. Karena bagiku dengan kamu pilih dia, itu sama aja kamu sudah memintaku untuk pergi dari hidupmu.


Tapi jika kamu pilih aku dan anak kita ini, aku minta kamu akhiri hubunganmu dengannya malam ini juga. Setelahnya aku akan berusaha memaafkanmu dan melupakannya." ucap Kirana penuh penekanan meskipun dengan bibir bergetar.


Sekuat tenaga ia berusaha agar tak menangis di depan Hendrik saat mengucapkan pertanyaan itu. Bagi Kirana, apapun jawaban Hendrik nanti, dia sudah siap kalaupun harus keluar dari apartemen di tengah malam seperti sekarang.


Hendrik diam tak bergeming, tapi kemudian dia berjalan keluar kamar dengan raut wajah penuh amarah.


BRAK!


Pintu di tutup cukup keras hingga membuat Kirana mengelus dada saking kagetnya. Air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan, akhirnya sekarang tumpah juga.


"Apakah ini jawabanmu, Mas? Apakah sebegitu beratnya bagimu untuk mengakhiri hubungan dengan perempuan itu? Apa yang sudah dia berikan padamu? Hingga dia bisa mengalahkan posisiku yang sebagai istrimu dan yang akan memberimu seorang anak.


Ternyata pernikahan kita ini hanyalah sebuah omong kosong. Bohong kalau kamu bilang akan membahagiakan aku dan menjadikan aku satu-satunya setelah kita menikah.


Ya Tuhan, aku mohon tolong maafkan aku. Aku nggak sanggup jika harus menjalani rumah tangga dengan orang seperti Mas Hendrik. Apakah sebaiknya aku besok pagi bertanya sekali lagi pada Mas Hendrik?


Jadi jika aku sampai pergi dari sini itu sudah jelas penyebabnya. Kecuali kalau Mas Hendrik mau benar-benar berubah, mungkin aku akan memberinya satu kesempatan lagi. Tapi apa mungkin hal itu terjadi?" Kirana berucap seorang diri seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran quen itu.


Tempat tidur yang nyaman, tapi tak mampu membuat Kirana ikut merasa nyaman ketika terbaring di atasnya.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Perdebatan panjang di antara mereka tadi tak membuahkan hasil sama sekali. Hendrik justru memilih pergi sebelum menentukan pilihan yang sudah Kirana minta.

__ADS_1


*****


Tertidur dalam keadaan mata lelah akibat banyak menangis membuat Kirana bangun terlambat. Ia memperhatikan ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul 09.00 pagi. Lalu ia segera beranjak keluar kamar untuk memastikan keberadaan Hendrik. Namun yang dicari pun ternyata sudah tidak terlihat keberadaannya lagi.


Terduduk sendiri di kursi meja makan, sembari merenungkan segala sesuatunya. Tiba-tiba terlintas ide untuk menghubungi teman kerjanya sewaktu masih sama-sama kerja di tempat Bu Siska.


Kirana mengambil ponselnya lalu mencari nomor teman kerjanya itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya nomor yang ia cari di dapat.


[Tine, kamu sibuk nggak sekarang? Kalau nggak sibuk, boleh aku main ke tempatmu?"] pesan terkirim.


Satu menit, lima menit, hingga tiga puluh menit, pesan itu tak kunjung dibaca oleh Kristine. Di telpon juga tidak ada jawaban.


"Andai aku mau punya nomor ponsel teman-teman yang lain. Pasti aku nggak bakal sebinggung sekarang," Kirana merutuki kebodohannya sendiri.


Kirana berjalan ke dapur, untuk memasak sarapan sebelum ia keluar mencari tempat tinggal baru untuknya. Ini pertama kalinya Kirana memasak sarapan pagi. Karena sebelumnya selalu Hendrik yang menyiapkan.


Entah itu dia masak sendiri, atau beli dari luar. Bukan Kirana yang malas, tapi mau sepagi apapun Kirana bangun, Hendrik selalu melarangnya masuk ke dapur. Kecuali hanya untuk cuci piring atau gelas bekas Kirana sendiri.


Saat ini meskipun usia kandungannya masih 13 minggu, namun itu cukup membuat Kirana sering merasa lelah. Bahkan tak jarang mual sering melandanya.


Kirana memilih naik ojek motor kali ini. Karena takut jika uangnya tak cukup untuk menyewa kontrakan dan bertahan hidup sebelum mendapat kerja nantinya.


Suasana terik di siang hari membuat Kirana memilih untuk istirahat terlebih dulu. Ia terduduk di trotoar lalu memesan satu gelas es kelapa muda yang terlihat sangat menyegarkan itu.


Sudah beberapa tempat yang ia datangin siang ini, namun semua kamar sudah terisi penuh. Padahal kontrakan itu biasanya selalu kosong cukup lama. Mengingat tempatnya yang terlalu masuk ke dalam gang sempit. Tapi kali ini semuanya penuh. Seakan-akan Tuhan tak mengijinkan jika Kirana pergi dari Hendrik.


"Ya Tuhan, apakah ini petunjuk darimu jika aku nggak boleh keluar dari apartemen Mas Hendrik sebelum semuanya jelas?" gumam Kirana sambil terus meminum es kelapa mudanya.


"Ah, apa iya sih? Mungkin tadi itu hanya kebetulan saja. Sebaiknya setelah ini aku akan membuktikannya sekali lagi. Aku akan mencari info terlebih dahulu dari iklan yang ada di media sosial. Untuk memastikan kalau di sana masih ada kamar kosong. Daripada aku sudah jauh-jauh kesana tapi hasilnya zonk.


Ugh! Kenapa nggak dari tadi aja sih aku lakuin hal seperti ini. Kan aku jadi nggak secapek sekarang dan nggak habis banyak ongkos untuk ojek motor.

__ADS_1


Emang ya, kalau pikiran lagi kacau itu lebih baik tidur. Daripada bertindak tapi nggak ada hasil. Huh!" omel Kirana.


Setelah mencari di beberapa laman media sosial, akhirnya Kirana menemukan iklan sewa kontrakan dengan harga yang cukup murah. Dan untungnya masih ada sisa satu kamar yang kosong. Gegas ia menghubungi nomor yang tertera.


tut ... tut ... tut ...


"Halo,"


"Halo selamat sore, Bu. Apakah masih ada kamar yang kosong?" tanya Kirana tanpa mau berbasa-basi lagi.


"Wah, sayang sekali. Baru aja ada yang bayar DP-nya, Mbak."


Kirana yang awalnya semangat kini berubah jadi lemas seketika.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih, Bu."


Pupus sudah harapan Kirana untuk keluar dari apartemen Hendrik hari ini. Kristine yang ia hubungin dari tadi pagi juga belum merespon. Sedangkan kontrakan yang sudah ia cari dari tadi siang juga belum ia dapat.


Pukul 17.00, Kirana memilih untuk kembali pulang ke apartemen milik Hendrik. Ia bertekad akan mengajak Hendrik untuk bicara lagi dengan kepala dingin.


*****


Hendrik duduk di sofa ruang tamu sambil terus menyelesaikan pekerjaannya di laptop. Beberapa saat kemudian terlihat Kirana baru datang, namun ia sengaja mengabaikan kedatangan Kirana. Padahal tadi siang saat ia pulang ia sangat khawatir melihat Kirana yang sudah tak ada di kamarnya. Apalagi di tambah ia melihat travelbag milik Kirana sudah terisi penuh baju-bajunya.


Kirana yang merasa di abaikan pun memilih untuk masuk ke dalam kamar. Hendrik hanya melirik sekilas dan menunggu reaksi Kirana selanjutnya.


Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga bersuara. Hingga membuat Hendrik penasaran dan menyusul masuk ke dalam kamar.


Mata Hendrik membeliak, saat melihat Kirana sudah tergeletak di lantai. "Kirana!"


Ia segera mengendongnya dan membawa ke rumah sakit. Karena wajah Kirana terlihat sangat pucat.

__ADS_1


__ADS_2