Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 27.


__ADS_3

Hendrik keluar dari ruangan Kirana dengan perasaan campur aduk. Padahal kemarin dia sendiri yang mengatakan kalau mempersilahkan Kirana untuk mencari laki-laki lain yang menurut Kirana jauh lebih baik dari dirinya.


Tapi baru melihat Kirana akrab dengan laki-laki lain, Hendrik sudah menunjukkan sikap tak sukanya.


"Cih! Aneh sekali kamu, Mas! Padahal dia hanya dokter yang sedang menanganiku, dan kebetulan dia kakak kelasku dulu. Tapi kamu bertindak kalau seolah-olah aku sudah berselingkuh!" geram Kirana lalu kembali memejamkan mata.


Namun tiba-tiba pintu kembali diketuk. Kirana mengabaikannya, karena ia berpikir kalau itu pasti petugas rumah sakit yang mau membersihkan kamarnya.


"Hai, Ran! Kamu sedang istirahatkah?" panggilnya.


"Kak Richard?" seru Kirana seraya merubah posisinya menjadi duduk. "Ada apa, Kak?"


"Suamimu kemana?" ia mengedarkan pandangannya lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Oh, katanya sih mau balik ke tempat kerjanya. Ada urusan mendadak katanya tadi. Oh iya Kak, katanya hari ini aku sudah bisa pulang? Tapi kok kamu tadi bilang besok baru bisa pulang sih? Aku tuh sudah baikan tau! Lagipula aku juga lagi ada misi yang harus aku selesaikan."


"Ah elah! Macam detektif aja kamu sekarang pakai misi-misi segala. Hahaha!" ledek Richard. "Apa perlu aku bantu untuk menyelesaikan misimu itu?" tawarnya kemudian tapi sambil tetap tertawa. Seakan-akan Kirana sedang mengajaknya bercanda.


Kirana terdiam sesaat sembari menimbang-nimbang tawaran Richard, awalnya dia sempat ingin menerima tawaran itu. Tapi akhirnya ia menolak, karena ia tak mau ada orang lain yang tau permasalahan dalam rumah tangganya.


Baginya cukup dirinya saja yang tau baik buruknya suaminya itu. Jangan sampai ada orang lain yang tau.


"Hehehe, nggak usah Kak. Ini hanya misi kecil-kecilan kok." sahut Kirana tersenyum yang memperlihatkan gigi kelincinya. "Tapi aku boleh nggak minta tolong satu hal sama kamu?" Kirana menangkupkan kedua telapak tangannya.


Richard mengangkat sebelah alisnya, "Apaan? Jangan sampai kamu minta di beliin mie ramen yang super pedas ya. Karena aku pastiin bakal menolaknya." tegas Richard tapi tetap diiringi senyuman.


"Nggak lah, Kak. Aku cuman minta ijinkan aku pulang hari ini ya? Aku beneran sudah baikan sekarang. Buktinya udah bisa duduk tegap nih."


Richard menggelengkan kepala. "Ck! Kamu memang nggak berubah ya. Tetap keras kepala dari dulu. Apa yang di mau, harus di dapatkan."

__ADS_1


"Baiklah, tapi dengan syarat kamu nggak boleh sampai telat makan lagi ya. Kasihan tuh anakmu." Lalu Richard bangkit berdiri. "Tunggu sebentar, biar aku urus semuanya dulu. Nanti kalau sudah selesai, aku kabarin lagi."


"Makasih banged ya, Kak." sorak Kirana kegirangan seperti anak kecil yang dapat mainan baru.


Satu jam kemudian, Richard kembali lagi ke ruangan Kirana dengan membawa beberapa lembar surat pernyataan yang menyatakan bahwa Kirana lah yang minta pulang hari ini di karenakan sudah merasa lebih baik.


"Dih, sudah rapi aja kamu, Ran? Padahal selang infus juga belum di lepas."


"Iya dong, kan aku sudah benar-benar sembuh. Bahkan kalau aku bisa ngelepas sendiri ini infus, udah aku lepas dari tadi," sahut Kirana.


"Nih, tandatangan dulu di sini!" titah Richard.


"Kamu pulang sama siapa? Tunggu jemputan suami atau mau aku antar? Kebetulan sebentar lagi kan jam istirahat."


"Aku bisa pulang sendiri kok, Kak. Lagian aku mau kasih kejutan buat suamiku."


"Wah, pasti bahagia sekali ya rumah tangga kalian? Aku jadi iri nih, tapi aku doain semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan. Dan yang paling penting kamu dan calon bayimu sehat." ucap Richard sambil melepas selang infus yang menempel di tangan Kirana.


"Sudah selesai, kamu hati-hati ya pulangnya. Oh iya, ini ada kartu namaku. Mungkin aja nanti atau kapanpun kalau kamu butuh bantuanku, hubungin aja nomor itu, aku siap bantu kamu."


Sebenarnya Richard sedikit penasaran dengan kisah rumah tangga Kirana. Tapi ia tak mau terlalu banyak tanya tentang kehidupan Kirana saat. Kecuali memang Kirana sendiri yang mulai bercerita dengannya.


Bagi Richard hal yang aneh jika seorang suami nggak ada di samping istrinya saat istrinya sedang di rawat. Apalagi istrinya dalam keadaan hamil muda.


"Eh, ngasih aku kartu nama gini ntar kalau cewekmu marah gimana Kak?" ledek Kirana.


"Tenang aja, aku jomblo sejati, Ran." Ia menepuk dadanya sendiri. "Lagian mana ada sih perempuan yang mau sama aku?" tiba-tiba raut wajah Richard nampak murung.


Kirana yang melihatnya, segera menghiburnya. "Pasti ada Kak, Tuhan nggak mungkin biarin kita hidup seorang diri. Mungkin jodoh Kakak sedang di persiapkan sama Tuhan saat ini," Kirana menepuk lembut bahu Richard.

__ADS_1


"Mungkin juga jodohku saat ini sudah jadi milik orang lain." balasnya nanar.


"Eh, mana ada seperti itu. Tuhan nggak bakal salah kasih jodoh lah Kak. Kan segala sesuatu yang sudah di satukan oleh Tuhan, nggak bisa dipisahkan oleh manusia. Jadi nggak ada itu namanya jodoh yang tertukar. Kalau aku sih percaya gitu."


"Berarti kamu nggak bakal pisah ya sama suamimu?" tanpa sengaja Richard justru keceplosan di depan Kirana.


Richard terkesiap lalu menutup rapat-rapat mulutnya dengan menggunakan telapak tanganya.


"Maksudnya gimana ya, Kak? Bukannya Kakak sendiri tadi yang mendoakan aku supaya bisa langgeng sama suamiku? Tapi kok sekarang ....?" Kirana menggantungkan kalimatnya, karena terasa aneh baginya.


"Bu-bukan gitu maksud aku, Ran. Maksud aku hanya memastikan kalau kamu nggak bakal pisah kan sama suamimu? Meskipun ada banyak masalah di rumah tangga kalian?" ucap Richard gugup.


"Huh!" Kirana membuang nafas. "Aku hanya manusia biasa Kak yang kadang juga ingin lari dari masalah. Tapi sebisa mungkin aku akan menjaga dan mempertahankan rumah tanggaku. Kecuali ...."


"Kecuali apa?" potong Richard penasaran.


"Kecuali jika suamiku yang meminta aku untuk pergi darinya." Kirana berucap dengan lirih.


Kirana jadi teringat kembali tentang perdebatan malam itu yang hingga kini belum ia dapatkan jawabannya.


Namun, tiba-tiba ia juga teringat akan tujuan selanjutnya, yaitu datang ke rumah makan milik Hendrik untuk mencari jawaban soal perempuan berinisial P itu.


"Kak, ini sudah beres semua kan? Aku sudah boleh pulang kan?" Kirana memastikan sekali lagi.


"Sudah kok." jawab Richard tertunduk lesu.


"Okeh, aku pulang ya, Kak. Makasih buat semuanya. Bye!"


Kirana berjalan menuju pintu, tapi Richard dengan cepat menarik tangan Kirana, hingga membuat Kirana terpelanting dan jatuh di pelukan Richard.

__ADS_1


Kini mata mereka saling beradu pandang. Richard yang tanpa sadar mulai memejamkan matanya, lalu semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kirana.


__ADS_2