
"Astaga, Ma! Kenapa bisa Mama berbicara seperti itu? Apa sih yang Mama banggakan? Dulu Papa menikahi Mama juga bukan melihat dari harta Mama kan?
Mama dulu sekolah juga tidak. Bahkan setiap hari Mama harus jadi pembantu di rumah Tante Rika kan?" ucap Pak Robert sambil terus memegangi dadanya.
Bu Mery terkesiap saat mendengar suami yang selama ini sangat ia cintai dan hormati tega berkata seperti itu. Padahal Bu Mery pikir, suaminya itu tak akan pernah membahas tentang masa lalunya. Tapi nyatanya sekarang justru suaminya itu membahas masa lalunya di depan menantu yang sangat ia benci.
"Tega kamu, Pa! Kenapa kamu membahas masa laluku di depan perempuan ini!" hardik Bu Mery seraya menunjuk Kirana.
Untungnya saat ini Pak Robert sedang dirawat di ruangan VVIP. Jadi meskipun Bu Mery sedang berteriak, tak ada pasien lain yang akan merasa terganggu oleh suara cemprengnya yang sangat memekakkan telinga itu.
"Makanya Mama kalau nggak mau dihina, ya jangan menghina orang. Papa nggak suka kalau Mama punya sikap langit seperti itu. Kita semua ini sama di mata Tuhan. Hanya perbuatan kitalah yang membedakan.
Jadi Papa harap mulai sekarang Mama harus bisa bersikap baik juga pada menantu kita Kirana. Bagaimanapun juga saat ini dia sedang mengandung cucu kita. Bukan hanya istri Handoko yang Mama manjain," tegas Pak Robert dengan sedikit penekanan.
Kirana dan Hendrik hanya bisa diam menyaksikan perdebatan di antara kedua orang tuanya.
"Ran, tolong maafkan perkataan Mama mertuamu ya. Anggap aja hanya angin lalu. Jangan pernah di masukkan ke dalam hati," ujarnya seraya menepuk punggung tangan Kirana yang memang sedari tadi sudah beliau pegang.
Bu Mery yang melihat dan mendengar perkataan suaminya pada Kirana, merasa semakin sakit hati dan membenci Kirana.
Sedangkan Hendrik merasa lega, karena setidaknya Papanya bisa bersikap bijak pada Mama dan istrinya.
"Papa juga mau ucapkan terimakasih karena kamu telah mengijinkan Hendrik untuk memberikan biaya pengobatan untuk Papa. Sebenarnya Papa ada uang pensiun, tapi itu sudah habis untuk biaya pengobatan Judika kemarin.
Tapi kamu tenang saja, bulan depan jika uang pensiun Papa sudah cair, maka akan Papa kembalikan uang kalian," tuturnya dengan seuntai senyuman.
Kirana menggelengkan kepalanya. "Jangan, Pa. Papa nggak perlu ngembaliin uang Mas Hendrik. Karena biaya pengobatan Papa juga tanggung jawab kami. Kami ikhlas melakukan ini semua," tolak Kirana lembut.
__ADS_1
Bu Mery menyunggingkan bibirnya. "Ya harusnya memang begitu! Masa sama mertua aja perhitungan! Sudah bagus Hendrik nggak aku suruh buat ninggalin kamu! Nggak berguna sama sekali!" sinisnya tapi pandangannya menatap ke arah pintu masuk.
"Maksud Mama apa ya? Kenapa benci sekali sama saya?" tanya Kirana yang mulai merasa risih.
Hendrik berusaha menenangkan Kirana dengan cara mengusap punggungnya. "Sabar, Sayang. Jangan berdebat di depan Papa yang sedang sakit. Kasihan Papa kalau dengar perdebatan antara menantu dan istrinya." bisik Hendrik.
Bu Mery melipat tangannya di depan dada. "Maksud saya, andai kamu mau kerja dan punya penghasilan, pasti Hendrik nggak perlu sampai mengadaikan BPKB motornya kan?
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memangnya ada orang yang mau nerima kamu sebagai pegawainya? Secara kamu aja hanya tamatan SMA!"
Kirana berpaling menatap Hendrik untuk meminta jawaban atas ucapan Bu Mery barusan. Namun ternyata Hendrik hanya diam tertunduk.
Ingin rasanya Kirana segera menyeret Hendrik keluar dari ruangan ini. Dan segera mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. Tapi bagaimana caranya?
"Sudah, Ma. Kalau Hendrik sampai gadai motor itu juga salah Papa. Andai Papa nggak sakit, pasti mereka juga nggak perlu sampai gadai motornya," sela Pak Robert lagi.
Akhirnya, tepat pukul 22.00 malam, Kirana mengajak Hendrik untuk pulang dengan alasan dia sudah sangat lelah.
"Pa, saya pulang dulu ya. Besok saya main lagi kesini. Dan untuk biaya pengobatan semua sudah Kirana tanggung."
"Sok kaya! Paling-paling juga hasil hutang sana-sini! Jangan sampai aja nanti tiba-tiba banyak rentenir yang datang menagih!" celetuknya dengan lirikan sinis.
"Mama tenang aja. Kami pakai uang dingin kok kalau untuk biaya pengobatan, Papa," sahut Kirana tak mau kalah.
Sesampainya di rumah, Kirana segera mendudukkan Hendrik di ruang tamu.
"Aku mau bicara sama kamu, Mas," ketusnya.
__ADS_1
Hendrik yang merasa bersalah telah menyembunyikan sesuatu pada Kirana, mau tak mau mengikuti permintaan Kirana.
"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud menyembunyikan apapun dari kamu. Aku hanya nggak ingin merepotkan kamu dalam hal biaya rumah sakit Papa."
"Tapi nyatanya karena hal ini kan kamu sampai bisa membentakku tadi? Coba kalau kamu jujur dari awal, aku pasti bisa ngerti kok Mas. Bahkan aku juga mau kok kalau harus ngebiayain pengobatan Papa sampai sembuh!"
Hendri hanya diam tertunduk. Dia sama sekali tak punya muka di hadapan Kirana saat ini.
"Sudah, sekarang gini aja. Totalin semua hutang kamu, nanti biar aku yang bayar. Tapi aku juga minta rinciannya. Aku nggak mau kasih uang tunai ke kamu. Tapi aku bakal bayar langsung ke yang bersangkutan."
Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Kirana berjalan masuk ke dalam kamarnya. Karena hari ini ia masih belum mengecek hasil laporan harian dari karyawannya.
Keesokan harinya, ia bangun kesiangan lantaran semalam begadang hingga pukul 03.00 dini hari.
Saat ia akan berjalan keluar kamar, terdengar suara ribut dari arah dapur. Kirana memutuskan untuk mengecek kesana. Padahal biasanya jika Hendrik sedang masak pun tak bakal seheboh ini suaranya.
"Mas, kamu lagi masak apa sih? Kok tumben berisik sekali? Apa kamu nggak berangkat kerja?" teriak Kirana sambil terus berjalan ke arah dapur.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tatkala melihat seseorang di dapurnya. "Mama?" serunya dengan mata membulat.
Bu Mery menoleh ke arah Kirana yang sedang berdiri di ambang pintu dapur. "Oh, tuan putri baru bangun ya? Bagus sekali kamu jadi istri? Suami sudah bangun dari tadi pagi, bahkan sudah berangkat kerja juga. Tapi kamu sebagai istri malah baru bangun tidur!
Istri macam apa kamu itu? Masa suami yang harus menyiapkan makanan buat kamu? Jangan mentang-mentang kamu lagi hamil, terus kamu memanfaatkan keadaan ini ya!" omelnya panjang lebar.
"Saya nggak pernah meminta Mas Hendrik untuk masak buat saya, Ma. Tapi itu kemauan Mas Hendrik sendiri. Karena setiap saya yang masak, Mas Hendrik selalu melarang," sanggah Kirana.
"Ya itu pasti karena masakanmu nggak enak! Makanya Hendrik melarangmu masak!"
__ADS_1
Kirana memutar bola mata malas. "Terserah Mama aja deh. Tapi ngomong-ngomong tumben Mama ada di sini, tapi Mas Hendrik nggak ada?"