
Sepanjang malam Hendrik menunggu kabar dari Richard. Ia terus saja mondar-mandir sambil memperhatikan ponselnya, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh.
Namun hingga detik ini, Richard tak kunjung menghubunginya. Hal itu membuat Hendrik semakin uring-uringan.
"Kamu kenapa mondar-mandir seperti orang khawatir, Nak?" lirih Pak Robert kala ia terbangun dari tidurnya. Ia merasa sedikit terganggu dengan suara derap kaki berisik yang Hendrik timbulkan.
Hendrik menoleh lalu menggelengkan kepalanya. kemudian ia menarik kursi di samping tempat tidur Pak Robert. "Papa kenapa bangun jam segini? Aku baik-baik saja kok. Papa istirahat lagi saja ya, biar hasil pemeriksaan besok pagi hasilnya bagus. Kan kalau bagus, Papa bisa di ijinkan pulang," ungkapya diiringi senyum tipis karena merasa tak enak, lantaran Pak Robert yang tiba-tiba saja terbangun.
Pak Robert justru tersenyum getir, "Kamu nggak bisa bohongin Papa. Papa yang membesarkan kamu, jadi sedikit banyak Papa bisa merasakan juga apa yang kamu rasakan. Jujurlah, apa ini semua ada kaitannya dengan Kirana? Papa lihat kamu sangat khawatir dan ketakutan."
Hendrik semakin tertunduk lesu. Ia memijat keningnya yang memang terasa pusing. Sebenarnya ia tak ingin memberitahu Pak Robert, namun ternyata perasaan Pak Robert sangat peka terhadapnya.
"Belum, Pa. Bagaimana caraku untuk menemukannya, jika Kirana saja sudah memblokir semua nomor dan akun sosmedku. Sepertinya dia benar-benar marah sama aku. Aku harus bagaimana lagi, Pa? Aku nggak mau kehilangan dia, apalagi aku yakin jika sebenarnya anakku masih hidup. Anakku belum meninggal seperti yang Kirana bilang tadi pagi." ujar Hendrik frustasi. Beberapa kali ia mengusap wajahnya kasar.
Hanya helaan nafas panjang yang terdengar dari Pak Robert.
"Tapi kemarin sore sebenarnya aku sempat bertemu dengan Richard, dia adalah dokter yang menangani Kirana selama proses melahirkan. Dia juga teman dekat Kirana. Sayangnya saat aku datang kesana, ia justru mengusirku dengan bantuan security. Sehingga aku tak bisa mendapatkan informasi apapun soal Kirana dan anakku."
"Lalu? Apa kamu nggak mencoba titip pesan pada dokter itu?"
__ADS_1
"Sudah, Pa. Makanya sekarang aku sedang menunggu kabar darinya. Sialnya lagi, aku kemarin sore lupa untuk meminta nomor ponselnya. Coba kalau aku nggak lupa minta nomornya, pasti sekarang aku bisa menerornya."
"Ya, sudah. Jika memang kamu nggak bisa kembali bersama dengan Kirana, Papa juga nggak akan mau memaksakan Kirana. Toh memang kalian yang sudah keterlaluan dengannya. Wajar jika dia sangat sakit hati saat ini. Terutama sama kamu. Sebagai suami, harusnya kamu bisa lebih percaya sama istrimu sendiri. Tapi yang kamu lakukan justru ikut menyalahkan dan tak mau mendengarkan penjelasannya."
Hendrik ingin membantah, tapi semua yang Pak Robert katakan memang benar adanya.
Seketika suasana berubah menjadi hening. Mereka berdua bergulat dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan Pak Robert sendiri susah untuk kembali sekedar memejamkan matanya.
Tok... tok... tok...
Terlihat Bu Mery, Rita serta Handoko berjalan masuk. Mereka berjalan perlahan menuju tempat tidur Pak Robert. Hendrik menatap tak suka pada Handoko.
"Pa, tolong maafkan Mama dan Handoko. Kami janji nggak akan melakukan hal seperti ini lagi," Bu Mery berucap sembari mencium punggung tangan Pak Robert.
"Berarti Papa mau kan membantu kami untuk meminta Kirana agar mau mencabut laporannya?" seru Bu Mery. Ada sedikit harapan yang terpancar di kedua sorot matanya.
"Minta maaflah pada Kirana sendiri. Karena dia yang telah kalian perlakukan dengan buruk. Maaf, papa nggak bisa bantu kalian apapun. Jika Kirana mau mencabut laporannya, itu berarti Tuhan sudah menjamah hati Kirana. Tapi jika Kirana tetap melaporkan kalian, ya terimalah. Itu konsekuensi dari perbuatan yang telah kalian lakukan. Dan semoga setelah ini, kalian akan berpikir ribuan kali untuk berbuat jahat dengan siapapun."
"Tapi itu nggak mungkin, Pa. Masa Mama yang harus minta maaf sama dia. Atau begini saja, tolong Papa berpura-puralah jika Kirana yang telah membuat Papa terjatuh. Dengan begitu meskipun kami harus ditahan, setidaknya Kirana juga akan ditahan," lagi-lagi Bu Mery berucap seolah-olah, dialah yang korban dalam masalah ini.
__ADS_1
"Kenapa kalian masih belum juga berubah? Coba kalian pikirkan Kirana sedikit saja. Apa kalian nggak kasihan sama sekali dengannya? Apalagi katanya dia juga kehilangan bayinya yang sama juga itu cucuku." sinis Pak Robert terlihat begitu sangat kesal. Lalu ia berpaling menatap Rita. "Kamu juga sedang hamil, kan? Bagaimana jika kamu mengalami nasib seperti yang Kirana alami? Harusnya kamu bisa mengarahkan suamimu ke jalan yang benar jika ia salah. Bukan malah semakin mendukungnya. Ingat janji pernikahan kalian dulu. Jika kamulah yang akan jadi penolong untuk suamimu. Bukan menjadi pendukung dalam dosa!" ucap Pak Robert panjang lebar.
"Kok Papa jadi menyalahkan Rita sekarang? Tentu Rita tak akan mengalami hal yang Kirana alami. Kenapa? Ya karena Rita selalu patuh dengan ucapan Mama. Sedangkan Kirana? Baru punya bisnis toko bunga aja sudah sombong nggak mau bantuin aku," protesnya tak terima kala sang istri tercinta di salahkan.
Pak Robert menggelengkan kepala. Heran dengan respon yang Handoko berikan. Sikap keras kepala dan tak mau di salahkan sudah menurun dari Bu Mery.
"Terserah kalian saja kalau begitu. Yang jelas Papa tak akan mau membuat kesaksian palsu. Jika Papa sampai dipanggil untuk jadi saksi, Papa akan menceritakan hal yang sebenarnya." tegas Pak Robert sebelum ia memilih untuk kembali memejamkan matanya. Percuma bicara dengan tiga manusia bebal. Tak akan ada ujungnya.
"Bener kan apa aku bilang tadi, Ma. Papa nggak akan mau bantuin kita. Percuma kita datang lagi kesini. Untuk kedepannya biar Papa rasakan jika sampai Mama, aku, dan Rita ditahan, maka Papa tak akan ada yang mengurusnya lagi.
Mau mengandalkan siapa lagi Papa setelah ini? Axel sama Cindy sudah sama-sama sibuk dengan dunianya masing-masing. Terlihat, sampai sekarang mereka kesini hanya sebentar saja waktu itu.
Lalu Judika? Apa yang bisa di harapkan dari bocah pengangguran itu? Sedangkan Hendrik? Pasti dia bakal sibuk mencari keberadaan anakknya!"
"Tutup mulutmu! Kalau kamu masih aja ngoceh-ngoceh nggak jelas di sini, maka aku akan laporkan perbuatanmu tadi sore yang ingin mencelakakan Papa! Jadi lebih baik sekarang kalian pergi saja dari sini. Urusan Papa biar aku yang urus!" tegas Hendrik penuh penekanan.
Dengan sikap angkuhnya mereka berjalan keluar ruangan Pak Robert.
Pukul 12.00 siang, ponsel Hendrik tiba-tiba berdering. Itu panggilan dari nomor yang tak dia kenal.
__ADS_1
"Halo," sapanya kala panggilan terhubung.
"Ini aku, Richard."