Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 51.


__ADS_3

Pukul 17.00 sore, Hendrik telah sampai di apartemennya. Ia gegas masuk ke dalam kamar, kemudian segera mandi. Setelah selesai mandi, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia mulai memejamkan matanya karena merasa sangat lelah sekali akhir-akhir ini. Apalagi semenjak Kirana pergi. Banyak sekali kegiatan dia bersama dengan teman-temannya. Entah hanya sekedar berkumpul atau pergi ke tempat hiburan malam hingga pagi hari.


Belum lagi dia harus membantu Judika belanja barang-barang kebutuhannya. Lalu mengurus rumah makannya yang terlihat lebih ramai dari sebelumnya.


Itulah yang membuat Hendrik semakin yakin jika ramalan temannya saat itu benar. Dan ia tak pernah menyesali jika Kirana pergi dari hidupnya.


"Tapi kenapa usaha Mama jadi semakin merosot ya? Padahal Kirana sudah pergi. Harusnya kan usaha Mama juga semakin ramai sama sepertiku di sini. Atau jangan-jangan usahaku saat ini ramai hanya karena kebetulan saja?" batin Hendrik mulai meragukan keyakinannya sendiri.


Namun tiba-tiba ia mendengar suara getaran ponsel dari dalam laci nakasnya. Dengan mata mengantuk ia paksakan untuk melihat notifikasi yang masuk ke dalam ponsel rahasianya itu.


"Ternyata dia," gumam Hendrik sambil menyunggingkan senyumnya.


Sebenarnya ada beberapa nomor yang dulunya sering menghubungi Hendrik, namun hanya satu nomor inilah yang paling bisa membuat Hendrik merasa terpuaskan. Jadi nomor yang lain sudah Hendrik blokir.


Tapi, matanya seketika membulat sempurna kala pertama kali membuka riwayat pesan dari nomor itu.


Hendrik mengubah posisinya yang awalnya rebahan, kini menjadi duduk tegak. "Kok bisa ada riwayat pesan seperti ini? Atau jangan-jangan Kirana sudah mengetahui tentang ponsel ini? Tapi kapan?


Kalau dia sudah tau, kenapa dia biasa saja terhadapku? Harusnya dia kan marah-marah jika tau aku melakukan hal seperti ini di belakang dia?" heran Hendrik sambil terus membaca satu per satu riwayat pesan itu.


"Ah, biarlah kalau Kirana sudah tau. Berarti aku nggak bisa di bilang selingkuh dong? Lagipula ini juga hanya melalui sosial media. Bukan yang bersentuhan fisik secara langsung," Hendrik terkekeh sendiri.


"Hem, Kalau dia nggak marah, kan sama aja kalau dia sudah memberi ijin untuk aku melakukan hal ini. Lagian siapa suruh dia juga nggak mau aku sentuh. Aku sebagai laki-laki normal kan juga butuh di puaskan secara batin."


Setelah cukup yakin dengan pemikirannya itu, kini Hendrik melanjutkan dengan melakukan panggilan video bersama wanita penggoda itu. Baginya itu mampu mengurangi rasa suntuknya.


Cukup lama Hendrik melakukan aktifitas gila bersama perempuan gatal itu. Hingga tak sadar sudah hampir tengah malam. Hanya baterai ponsel lah yang mampu menghentinkan panggilan video mereka.

__ADS_1


...****************...


Pagi Harinya, Hendrik bangun kesiangan lantaran semalam dia tidur sangat larut. Padahal rencananya hari ini dia akan datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit Ibu dan Anak untuk mencari Richard.


Ia gegas berlari ke kamar mandi, agar bisa secepatnya menyelesaikan rencananya ini. Nanti jika dia sudah mengetahui alamat Tante Linda, dia akan meminta orang untuk mengawasi Kirana. Agar Kirana tak menyadari jika dirinya sedang di awasi.


Beberapa menit kemudian, ia telah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Tetapi lagi-lagi Judika menganggu kegiatannya pagi ini.


Dengan santainya ia datang ke apartemen Hendrik lalu meminta Hendrik untuk mengantarkannya ke klinik lantaran ia sedang sakit gigi.


"Lu bisa kan berangkat sendiri? Gua lagi ada urusan penting!" tolak Hendrik tegas.


"Bodo amat! Pokoknya lu harus anterin gua! Kalau lu nggak mau, gua bakal laporin lu ke Mama!" ancam Judika dengan tatapan tajam.


Hendrik melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata kini sudah pukul 10.00 pagi.


"Ya sudah buruan! Tapi nanti pulangnya lu pulang sendiri ya."


"Lah lu aja tadi bisa ke sini nyetir mobil sendiri? Kenapa sekarang nggak bisa sih!" decak Hendrik mulai emosi.


"Beda lah!"


"Lu kenapa nggak kecelakaan aja sih tadi waktu jalan ke apartemen gua! Kan gua tinggal urus pemakaman lu aja!" sinis Hendrik lalu berjalan meninggalkan Judika.


Saat ini kesabaran Hendrik sudah mulai setipis tisu jika harus menghadapi Judika. Andai Mamanya tak memintanya, pasti Hendrik juga enggan di repotkan seperti sekarang.


Tepat pukul 12.00 siang, akhirnya Hendrik telah mengantarkan Judika kembali ke apartemennya. Lalu ia akan lanjut pergi ke rumah sakit Ibu dan Anak menggunakan taksi online saja.


"Bang, beliin gua makan dong! Cepetan yak, jangan lama-lama! Gua udah laper berat soalnya!" titah Judik layaknya dia memerintah pembantunya.

__ADS_1


Hendrik mengepalkan tangannya lalu memukulkan pada dinding tepat di samping wajah Judika.


Bugh!


Judika terkesiap akan tindakan spontan yang di lakukan oleg Hendrik.


"Lu kenapa nggak ngomong dari sewaktu kita masih di jalan tadi sih?" geram Hendrik sampai-sampai giginya bunyi.


"Gu-gua baru terasa laper sekarang soalnya, Bang. Tapi kalau lu nggak mau belikan, ...."


"Kalau gua nggak mau belikan, lu mau laporin ke Mama? Hah? Buruan laporin, gua nggak takut!


Lu tau nggak gua lama-lama capek tau nggak ngurusin lu! Sudah tua tapi kelakuan kayak bocah! Ini itu nggak bisa sendiri.


Bahkan sekarang kalau gua di suruh pilih, antara hidup bareng sama lu atau Kirana yang katanya pembawa sial itu. Gua bakal pilih Kirana.


Lu tau kenapa? Karena meskipun Kirana pembawa sial, dia nggak pernah rewel seperti yang lu lakuin!"


Brak! Hendrik menutup pintu dengan cukup keras. Bahkan sampai kacapun ikut bergetar. Sedangkan Judika masih terdiam tanpa bisa menjawab ucapan Hendrik. Padahal biasanya dia selalu menang jika berdebat dengan siapapun.


Dengan perasaan masih emosi, Hendrik segera memesan taksi online menuju rumah sakit tempat Richard bekerja.


Beberapa menit kemudian, Hendrik sampai. Ia langsung menuju ke bagian poli obgyn.


"Sust, apakah dokter Richard hari ini ada jadwal praktek? Kalau ada, di mana saya bisa bertemu dengannya?" tanya Hendrik pada seorang perawat yang sedang berpapasan dengannya.


"Wah, sayang sekali Pak. Dokter Richard hari ini sedang tidak ada jadwal," sahut perawat itu ramah.


"Kalau begitu apakah saya boleh meminta nomor ponsel dokter Richard?"

__ADS_1


"Waduh, kalau itu saya tidak bisa memberitahu, Pak. Karena itu merupakan privasi. Atau kalau Bapak mau bertemu dengan dokter Richard bisa kembali lagi besok siang. Karena beliau besok ada jadwal," saran dari perawat itu.


Hendrik mengangguk setuju. Meskipun saat ini dia merasa kecewa lantaran tak berhasil. Tapi siapa tau besok siang dia bisa bertemu dengan dokter Richard.


__ADS_2