Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 33.


__ADS_3

Keesokan paginya, Kirana sengaja bangun siang. Ia sangat ingin menghindari Hendrik. Namun saat dia berbalik badan, Hendrik justru masih tidur di sampingnya.


Kirana segera melihat ke jam dinding, ternyata sudah pukul 09.00. "Kok dia tumben sih nggak berangkat kerja?" Ia berucap dalam hati.


"Pagi, Sayang!" sapa Hendrik tiba-tiba, padahal kedua matanya masih tertutup rapat.


Mata Kirana membeliak. Ia bergidik ngeri, lalu merubah posisinya menjadi duduk membelakangi Hendri. "Bagaimana mungkin orang yang masih tidur, tapi bisa mengucapkan selamat pagi? Jangan-jangan dia punya ilmu? Ish, ilmu apaan juga? Atau jangan-jangan dia sedang bermimpi? Dasar laki-laki nggak tau diri! Bisa-bisanya dia bermimpi lagi bertemu dengan selingkuhannya di saat sedang tidur bersamaku!" gumam Kirana nyaris tanpa ada suara yang keluar saking lirihnya.


"Aku nggak mimpi, Sayang. Aku memang lagi nyapa kamu. Kok kamu malah ngira aku lagi nyapa perempuan lain sih?" lagi-lagi Hendrik berucap dengan mata masih tertutup rapat.


Kirana menoleh dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hendrik, untuk memastikan kalau Hendrik memang masih tidur atau sudah bangun tapi pura-pura tidur.


Tapi, saat wajah Kirana sudah berjarak tinggal 2 senti lagi dari Hendrik, ia tiba-tiba membuka matanya lalu menarik kuat-kuat Kirana agar masuk ke dalam pelukannya.


"Cie, yang ketahuan mau nyium aku. Romantis banged sih ternyata istriku ini?" ledek Hendrik dengan tangan masih melingkar di badan Kirana.


"Jangan ke pedean jadi orang! Lepasi aku!" Kirana memukul-mukul dada bidang Hendrik yang telihat menggoda.


"Kalau aku nggak mau gimana?" Hendrik membalik posisinya hingga menjadi dia yang berada di atas Kirana.


Melihat posisinya yang sudah terkurung oleh Hendrik, membuat Kirana dengan cepat, memutar otak untuk bisa menghindar lagi dari Hendrik.


"Buruan minggir, aku mau ke kamar mandi!" pekiknya.


"Nanti aja, kan belum mulai kita? Atau kamu kita main-main di kamar mandi?" goda Hendrik lagi.


"Ugh! Ini orang sepertinya harus di kasih pelajaran," batin Kirana.


Mula-mula Kirana menutup mulutnya, lalu berekspresi seolah-olah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar dari dalam mulutnya.


"Kamu kenapa lagi sih, Ran? Masa tiap mau aku ajak begituan kamu selalu aja bermasalah. Kalau nggak perut yang sakit, sekarang malah mau muntah," cebik Hendrik lalu gegas menghindar dari Kirana.


Hendrik termasuk orang yang mudah merasa jijik. Jadi lebih baik dia menjauh, daripada melihat Kirana muntah di depannya.

__ADS_1


Kirana berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.


"Hueeek! Hhueek!" Kirana sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar Hendrik.


"Aku tunggu kamu di meja makan ya!" teriaknya lalu terdengar suar pintu di tutup.


"Yes! Akhirnya aku bisa lolos lagi." Kirana menatap wajahnya di cermin. Senyum puas mengembang di sudut bibirnya.


"Enak aja kamu sudah nyakitin hatiku, tapi masih mau minta aku layani. Okeh, nggak masalah kalau kamu ngelarang aku untuk keluar dari sini. Tapi ya jangan salahin aku kalau aku bertindak sesuka hatiku mulai sekarang."


Kemudian ia melanjutkan berendam air hangat untuk merelaxkan pikirannya. "Biarlah Mas Hendrik menungguku lama. Lagipula bukan aku yang memintanya menungguku." gumam Kirana lalu mulai memejamkan matanya sambil menghirup aroma dari lilin yang ia gunakan.


Tiba-tiba ia teringat pesan singkat dari Tantenya yang belum ia baca. "Kira-kira Tante Linda mengirimi aku pesan apa ya kemarin? Bodohnya kemarin nggak langsung aku baca. Kalau sekarang gimana caranya aku mau baca kalau ponselku aja di sembunyiin sama Mas Hendrik.


Tapi untungnya ponselku, aku kasih sandi untuk membuka kuncinya. Jadi Mas Hendrik nggak bisa buka-buka ponselku.


Hemm, apa aku pura-pura aja ya minta di anterin sama Mas Hendrik ke rumah Tante Linda? Nanti sampai sana aku akan tanya langsunhlg padanya. Ahh iya ide yang bagus!


Lalu Kirana keluar dari bathup dan membersihkan diri dari sisa-sisa sabun menggunakan shower.


"Ran, kamu mandi apa tidur sih?" teriak Hendrik dari meja makan.


Kirana membuka pintu. "Maaf Mas, aku tadi mual sekali. Jadi lama deh mandinya."


"Buruan makan, keburu dingin jadi nggak enak nantinya."


"Nggak mau! Aku nggak mau makan itu, aku maunya makan salad aja! Hueek!" Kirana mendorong jauh-jauh piring yang ada di depannya.


Terlihat Hendrik mulai memasang wajah tak sukanya. "Ini meja makan, Ran. Jangan mual-mual di sini dong! Kamu bikin nafsu makanku hilang kalau begini!" hardiknya kasar.


"Kalau kamu nggak suka, ya biarin aku pergi dari sini! Biar aku nggak mual-mual di depan kamu!" sahut Kirana sedikit meninggi.


"Hah!" Ya sudah nanti aku bikinin saladnya."

__ADS_1


"Tapi aku maunya beli di luar. Aku nggak mau bikinan kamu."


"Apa bedanya sih, Ran? Kan sama aja saladnya? Malah lebih bersih kalau aku yang bikinin buat kamu!"


"Nggak sama!" Kirana bangkit dari duduknya. "Lagian aku juga pengen main ke rumah Tante Linda. Sudah lama aku nggak main ke sana."


"Tante yang dari siapa? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku kalau kamu masih punya saudara lain di sini? Dan kenapa beliau tak hadir saat kita menikah kemarin?" protesnya tak terima.


Kirana menyilangkan tanganya di depan dada. "Ck! Memangnya kalau aku cerita, kamu mau dengar? Bukannya selama kita nikah yang kamu pikirin hanya Judika dan perempuan gatel itu?" ucapnya sinis.


"Sudahlah, jangan mulai perdebatan lagi. Aku hanya tanya aja tadi. Tapi syukurlah kalau kamu masih punya Tante yang sama-sama masih tinggal di kota ini."


"Siapa yang mulai sih?"


Hendrik bangkit dari kursinya, lalu mendorong Kirana agar segera mengambil tasnya. "Ya sudah, sana siap-siap. Aku anterin kamu ke Tante Linda. Tapi aku juga ikut masuk ke dalam nanti!"


"Kamu nggak kerja?"


"Kerja, tapi setelah selesai nemenin kamu! Makanya nanti jangan lama-lama di sananya!"


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Tante Linda. Rumah yang nampak sederhana namun elegan dengan warna putih gold. Banyak berbagai macam tanaman bunga di halamannya. Hingga membuatnya makin nyaman jika tinggal di dalamnya.


tok... tok... tok...


"Permisi, Tante. Ini aku Kirana," panggilnya.


Tak berapa lama kemudian, pintu di buka.


"Kirana?" Tante Linda memeluk erat Kirana lalu mencium kedua pipi Kirana secara bergantian.


"Bagaimana kabarmu, Sayang? Maaf ya, Tante nggak bisa datang ke acara pernikahanmu. Karena ...." ucapan Tante Linda terhenti lantaran Kirana mencubit pelan pinggangnya.


Tante Linda menatap Kirana heran. "Sstss!" Kirana menaruh telunjuknya di depan bibirnya. "Jangan di bahas di depan dia."

__ADS_1


__ADS_2