
Hendrik membuang nafas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Iya! Perempuan itu adalah Sintya. Tapi kami memang nggak akan pernah bisa bersatu untuk selamanya. Seperti yang aku bilang padamu tempo hari."
"Apakah masalah keyakinan?" tebak Kirana dengan tenang.
Padahal sebenarnya hatinya sedang menjerit. Ternyata laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suami dan ayah dari anaknya saat ini masih mencintai mantan sahabatnya.
"Ya! Sintya nggak mau ikut dengan keyakinanku. Sedangkan kedua orangtuaku juga melarang aku untuk ikut ke keyakinan Sintya," jawab Hendrik dengan raut wajah penyesalan.
"Jadi kalian sudah lama saling kenal? Bahkan Sintya juga sudah kenal dengan kedua orangtuamu, Mas?" selidik Kirana lagi.
"Nggak! Aku belum mengenalkan secara langsung Sintya pada mamaku."
Kirana membuang muka ke arah luar kaca mobil. Air mata yang sekuat tenaga ia tahan, akhirnya kini tumpah juga.
"Maafkan aku, Ran. Aku nggak ada maksud buat melukai perasaanmu saat ini. Tapi dari tadi kamu yang memaksa ingin tau siapa perempuan itu.
Aku harap kamu bisa mengerti akan hal itu. Percayalah saat ini aku sedang belajar melupakan dia dan belajar untuk bisa menerima kamu dan anak yang ada di dalam perutmu itu." Hendrik mengenggam tangan kanan Kirana.
Tak ada jawaban dari Kirana. Namun suara isakan tangisnya sudah menghilang.
"Aku antar kamu pulang, besok pagi aku jemput."
Hendrik menyalakan mesin mobilnya lagi. Suasana hening kembali menyelimuti sepanjang perjalanan mereka menuju tempat tinggal Kirana.
*****
Keesokan harinya, sedari pukul 07.00 Kirana sudah bersiap. Namun hingga pukul 09.30, mobil Hendrik tak kunjung tiba. Padahal janji temu dengan Pak Gembala sekitar pukul 10.00 pagi.
Kirana mencoba mengalah dengan menghubungi Hendrik. Meskipun hatinya masih terluka, tapi dia menepis semua rasa itu. Karena yang terpenting bagi Kirana saat ini ia bisa secepatnya menikah dengan Hendrik, agar anak dalam kandungannya memiliki status yang jelas saat dia lahir ke dunia nanti.
Sudah beberapa kali Kirana menghubunginya, namun tak ada satupun yang di angkat. Hingga tiba-tiba ada satu bunyi notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Kirana.
[Aku nggak bisa jemput kamu. Kamu berangkat sendiri aja ya ke gerejanya.] bunyi pesan dari Hendrik.
Mata Kirana membulat sempurna saat mbaca pesan itu.
"Bisa-bisanya dia memberi kabar di saat jam sudah mepet begini? Apakah sesibuk itu urusan dia pagi ini," gerutu Kirana sambil mulai memesan taksi online.
Untung saja pagi ini dia bisa cepat mendapat taksi online. Dan jalanan juga lumayan lenggang. Jdi tak perlu memakan waktu lama untuk sampai di gereja.
__ADS_1
Tepat pukul 10.30 Kirana telah sampai di gereja. Namun saat ia melihat kesekitar, ternyata masih belum terlihat mobil Hendrik terparkir di depan gereja.
[Aku sudah sampai. Kamu di mana sekarang?] pesan terkirim.
Tetapi pesan itu tak kunjung dibaca oleh Hendrik. Hingga akhirnya Kirana memutuskan untuk menunggu di dalam saja.
"Loh Kirana kok baru datang jam segini? Katanya kemarin jam sepuluh sudah di sini?" tanya Pak Gembala kala Kirana baru membuka pintu gerbang.
" Maaf Pak, tadi jalanan sedikit macet. Makanya saya baru bisa sampai di sini jam segini," jawab Kirana berbohong.
"Terus mana Hendrik? Kalian nggak datang bersama?" Pak Gembala mengedarkan pandagannya kesekitar.
"Hendrik nanti katanya nyusul, Pak. Karena masih ada kerjaan penting di rumah makannya," lagi-lagi Kirana harus berbohong di hadapan Pak Gembala.
"Ya sudah kita masuk dulu aja kalau gitu. Sekalian saya dan Ibu Gembala mau tanya-tanya sedikit," ajak Pak Gembala dengan ramah.
Di dalam ruang kerja Pak Gembala, ternyata Ibu Gembala juga sudah menunggu kedatangan kami.
"Kirana mau minum apa? Biar Ibu buatkan dulu," tawarnya dengan seuntai senyum.
"Saya minum air putih saja, Bu. Biar nggak merepotkan Ibu," tolak Kirana sopan.
Ibu Gembala ini termasuk orang yang sangat sayang pada semua jemaatnya. Apapun masalah yang di alami oleh jemaatnya, pasti beliau juga ikut merasakannya.
"Kirana nikah sama Hendrik, apa sudah dapat restu dari Johan?" selidik Ibu Gembala.
"Saya sudah minta restu, Bu. Tapi sepertinya Mas Johan kurang setuju jika saya menikah dengan Hendrik."
"Lalu? Siapa yang jadi wali nikahmu nanti jika Johan saja tidak setuju?" Pak Gembala mengernyitkan keningnya.
"Nanti saya akan coba bicara lagi dengan Mas Johan. Karena bagaimanapun saat ini saya sedang hamil, dan harus menikah dengan ayah dari anak ini," ucap Kirana lirih.
"Sabar, ya. Tuhan pasti kasih jalan jika kalian memang jodoh," ucap Bu Gembala memberi penguatan.
Tanpa di sadari mereka telah cukup lama menunggu kedatangan Hendrik. Tapi yang di tunggu tak kunjung memberi kabar. Bahkan pesan Kirana yang terakhir dia kirim, juga belum dibaca oleh Hendrik.
"Pak, sepertinya Mas Hendrik nggak bisa datang hari ini. Apakah bisa bimbingannya di undur jadi besok saja?" tanya Kirana.
"Oh, begitu ya? Baiklah kalau begitu besok jam 10.00 saya tunggu ya, Ran. Jangan sampai telat lagi. Karena besok siang saya harus berkunjung ke rumah jemaat."
"Iya, Pak. Saya usahakan tepat waktu besok. Kalau begitu sekarang saya pamit ya, Pak, Bu. Terimakasih atas jamuannya," lalu Kirana kembali memesan taksi online.
__ADS_1
Namun kali ini dia memesan bukan ke arah kos nya. Tetapi ke rumah makan Hendrik. Kirana ingin tau ada apa sebenernya dengan calon suaminya itu. Kenapa tidak ada kabar sama sekali.
Sekitar tiga puluh lima menit kemudian, Kirana telah sampai di parkiran rumah makan Hendrik. Suasana siang hari memang selalu ramai dengan pengunjung. Hingga semua karyawan terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Siang, Pak," sapa Kirana saat berpapasan dengan Pak Satpam yang selalu berjaga di pos depan.
"Eh, ada Mbak Kirana. Habis dari mana, Mbak? Denger-denger sudah nggak kerja lagi di swalayannya Bu Siska ya?"
"Iya, Pak. Saya sudah mengundurkan diri dari sana."
"Wah, pasti sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus ini," tebaknya dengan wajah sumringah.
"Puji Tuhan, Pak." Kirana pun turut tersenyum ramah.
"Pak Hendriknya ada di dalam kan, Pak?" tanya Kirana berbasa-basi. Padahal ia sudah tau kalau Hendrik pasti ada di dalam. Karena mobil Hendrik paling mencolok di area parkir karyawan.
"Oh, mau ketemu sama Pak Hendrik toh ternyata. Sepertinya ada di dalam, Mbak. Itu mobilnya aja masih terparkir cantik di sana," ujarnya sambil menunjuk ke arah parkiran menggunakan bibirnya.
"Kalau gitu saya masuk dulu ya, Pak."
Saat baru memasuki pintu utama, ada beberapa karyawan yang langsung berbisik-bisik kala melihat kedatangan Kirana.
"Mbak, Pak Hendriknya ada di atas nggak?" tanya Kirana sopan.
"Oh ada kok, Bu. Tapi Pak Hendriknya sedang ada tamu," jawabnya ragu-ragu.
"Jangan panggil saya 'Bu', panggil saja 'Mbak'. Kita masih sepantaran kok."
"oh iya, Bu. Eh, Mbak maksud saya."
"Kalau boleh tau tamunya cewek atau cowok?"
"Cowok dan cewek, Mbak."
"Sudah dari tadi?"
"Iya dari tadi pagi mereka berdua sudah datang."
Tanpa bertanya lagi, Kirana segera berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Saat akan mengetuk pintu, Kirana mendengar ada suara perdebatan yang cukup pelik sepertinya.
Akhirnya Kirana mencoba untuk menguping tentang pembicaraan mereka.
__ADS_1