Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 61.


__ADS_3

Namun ponselnya terus saja berdering. Hingga ia merasa sangat terganggu. Bahkan kali ini Bu Mery juga ikut menghubunginya.


Akhirnya ia memutuskan untuk menepi dan menerima panggilan dari security itu dengan perasaan geram.


"Halo! Kamu bisa kan kalau telpon itu jika sekali aja nggak saya angkat, berarti saya sedang sibuk! Jangan berulang kali menghubungi seperti ini! Seperti sedang terjadi kebakaran aja! Kamu punya etika kan?" cecar Hendrik penuh amarah.


"Maafkan saya, Pak. Kalau memang ini tidak penting, maka saya juga tidak akan menghubungi Bapak seperti ini. Tapi masalahnya sekarang sedang ada masalah besar, Pak. Rumah makan sudah hangus terbakar, dan tidak menyisakan sedikitpun," jelasnya dengan nafas memburu.


"Apa? Kamu nggak sedang bercanda kan?"


Ingin rasanya Hendrik tidak mempercayai kabar buruk itu, tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan orang minta tolong dari seberang sana.


"Kalau bisa Bapak segera datang kemari. Karena dari pihak kepolisian juga sudah datang." lalu panggilan pun di akhiri sepihak.


Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering. Kali ini Bu Mery yang menghubunginya. Dengan perasaan sedih, Hendrik kembali menerima panggilan dari Mamanya itu.


"Hen, bagaimana ini, Nak," terdengar suara tangisan dari Bu Mery.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis seperti itu? Apa telah terjadi sesuatu? Mana Papa, Ma?" tanya Hendrik panik.


"Rumah makan Mama terbakar, Hen. Semua hangus terbakar, nggak ada yang tersisa lagi. Bagaimana ini, Hen?" suara tangisnya semakin kencang.


Degh!


Bak di sambar petir di suasana cerah. Bagaimana mungkin secara bersamaan rumah makan miliknya dan milik Bu Mery bisa terbakar.


Padahal rumah makan itulah sumber penghasilan mereka selama ini. Jika rumah makan itu sudah terbarkan, maka bisa di pastikan kalau mereka akan jatuh miskin seketika.


"Hen! Kenapa kamu diam saja?"

__ADS_1


"Rumah makan Hendrik juga baru saja terbarkar, Ma. Lalu Mama maunya Hendrik harus bicara apa?" sahut Hendrik lemas.


"A-apa? Nggak mungkin! Nggak mungkin kalau rumah makan milikmu juga terbakar! Kamu pasti bohong kan? Iya kan, Hen?" Bu Mery tak bisa percaya begitu saja.


"Buat apa Hendrik bohong untuk hal seperti ini, Ma. Baru saja Hendrik mendapat kabar dari security yang jaga di sana."


"Ini, ini pasti gara-gara istri pembawa sialmu itu! Atau jangan-jangan dialah yang sudah menyuruh orang untuk membakar rumah makan kita.


Ya, Mama yakin ini pasti ulah dia. Karena hanya dialah orang yang patut kita curigai saat ini," Bu Mery seolah-olah sudah sangat yakin jika ini semua ulah Kirana.


"Kita nggak bisa nuduh dia begitu saja tanpa bukti yang jelas, Ma." sela Hendrik yang masih ragu jika ini semua perbuatan Kirana.


Apalagi baru saja Hendrik dapai info jika Kirana dan Tante Linda sangat sibuk mengurus tokonya. Pasti mereka sama-sama tak punya waktu untuk menyusun rencana membakar rumah makan. Di lain sisi, Kirana kan juga belum tau alamat rumah makan Bu Mery.


"Pokoknya Mama bakal bikin laporan kalau Kirana lah yang sudah membakar rumah makan kita!" setelahnya panggilan terputus.


Hendrik meletakkan kepalanya di setir mobil. Ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja membuat dadanya sesak.


Ini nggak adil Tuhan! Harusnya Kirana lah yang gagal! Karena dialah pembawa sial bagiku! Atau jangan-jangan sebenarnya akulah pembawa sial baginya? Aakkkhhh!" Hendrik memukuli setir mobilnya berulang kali.


Beberapa saat kemudian, emosinya mulai menurun. Dia memutuskan untuk datang ke lokasi rumah makannya.


Terlibat di sana sudah terpasang garis polisi. Serta ada beberapa media yang sedang meliput berita hari ini.


Hendrik terus berjalan mendekati polisi, dan mengabaikan beberapa wartawan yang ingin bertanya-tanya padanya. Pasti berita hari ini akan sangat ramai di perbincangkan. Karena api telah membakar beberapa bangunan.


"Selamat sore, Pak Hendrik. Saya ingin meminta beberapa keterangan dari Bapak saat ini. Mari ikut saya ke sana," ucap salah satu polisi yang menghampiri Hendrik lalu mengajaknya bicara di tempat yang tidak terlalu ramai wartawan.


"Untuk sementara ini kebarakan terjadi di duga akibat tabung gas yang bocor dari dapur anda, Pak Hendrik. Tapi kami dari pihak kepolisian akan tetap menyelidiki apakah kebakaran ini murni kecelakaan atau justru ada faktor kesengajaan."

__ADS_1


"Di sengaja? Maksud, Bapak?" tanya Hendrik penasaran.


"Ya, siapa tau ada orang yang dengan sengaja melakukan ini dengan cara membuat tabung gas menjadi bocor. Mungkin ada orang yang menaruh dendam dengan anda? Coba anda ingat-ingat, apakah akhir-akhir ini anda ada masalah dengan seseorang? Jika anda mencurigai seseorang, anda bisa laporkan pada kami. Selain itu kami juga akan mengecek beberapa CCTV. Semoga aja bisa kita dapatkan jawabannya." ungkap Pak polisi panjang lebar.


"Baik, Pak. Nanti jika ada yang saya curigai, akan saya laporkan." lalu Pak polisi itu kembali bergabung dengan rekan lainnya.


Hendrik duduk di dalam mobil, ia kembali mengingat-ingat kejadian beberapa jam sebelum kejadian. Orang yang saat ini sangat ia curigai adalah Sintya. Lantaran tadi Sintya juga telah mengancamnya. Tapi apakah mungkin Sintya masuk ke dalam dapurnya?


Namun tiba-tiba ia teringat dengan Mita. "Ahh, pasti ini Mita yang melakukan! Karena dia dekat dengan Sintya," Hendrik mencari nomor Mita, lalu menghubunginya.


Tapi panggilannya selalu ditolak. "Sial! Kalau kamu seperti ini, aku jadi semakin yakin kalau ini ulahmu, Mita! Awas aja kamu, aku nggak akan biarkan kamu lepas begitu aja." geram Hendrik.


Kemudian ia melajukan mobilnya ke arah rumah Tony, tunangan Mita. Siapa tau saat ini Mita sedang bersamanya.


Baru saja sampai, ternyata Tony juga baru datang.


"Hai, Ton!" panggil Hendrik yang langsung turun dari mobilnya.


Tony pun berhenti menutup gerbang rumahnya. "Hendrik? Ada apa? Tumben kamu kemari?" Tony nampak terkejut dengan kehadiran Hendrik yang terkesan tiba-tiba itu.


"Kamu tau Mita ada di mana?"


Alis Tony berkerut. "Mita? Kamu ngapain nyari Mita? Kan dia sedang kerja di rumah makan milikmu?"


"Rumah makanku sudah terbakar ulah Mita." geram Hendrik.


"Apa? Mita ngebakar rumah makanmu? Kok bisa?" mata Tony membeliak. "Eh, tapi aku nggak tau menau soal ini, Hen. Jujur aku tau berita ini juga dari kamu." sambungnya merasa khawatir.


"Bagaimana mungkin kamu nggak tau, kamu kan tunangan Mita?"

__ADS_1


"Kami belum tunangan, Hen. Ayolah kita masuk ke dalam. Aku akan ceritakan semua sama kamu. Tapi tolong jangan libatkan aku dalam masalah ini ya, Hen. Aku masih harus menafkahi adik-adikku soalnya," pinta Tony memohon.


__ADS_2