Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 60.


__ADS_3

Sintya berjalan keluar menuruni anak tangga dengan deraian air mata. Perasaannya benar-benar sakit, bahkan jauh lebih sakit dari pada dulu saat Hendrik lebih memilih Kirana.


Dia tak pernah menyangka jika Hendrik akan melakukan penolakan ini lagi padanya. Semua rencana yang sudah ia susun dengan rapi, ternyata malah jadi berantakan. Ia sangat malu lantaran Hendrik mengatakan Sintya adalah perempuan murahan yang tak bisa membedakan laki-laki semalam itu Hendrik atau bukan.


Ketika sampai di lantai satu semua pasang mata termasuk Mita menatapnya heran. Karena melihat Sintya turun dengan menangis. Padahal saat naik tadi dia terlihat sangat bahagia.


Mita dengan cepat menyusul langkah kaki Sintya berjalan menuju parkiran mobil. Ia tak peduli lagi jika saat ini dia masih di jam kerja. Bahkan kesalahan Mita itu bisa membuat Hendrik marah. Bisa-bisa Hendrik akan memecatnya detik itu juga. Namun itu semua bukan halangan bagi Mita karena ia sangat khawatir dengan keadaan Sintya.


Bagaimanapun Sintya sudah banyak berbuat baik pada keluarga Mita. Sudah sepantasnya sekarang Mita membalas semua kebaikan Sintya dengan cara melakukan apapun demi kebahagiaan Sintya. Meskipun itu dengan cara yang salah sekalipun.


Sintya masuk ke dalam mobil, lalu ia kembali berteriak cukup keras. Membuat Mita semakin khawatir.


"Sin, buka pintunya," Mita mengetuk kaca mobilnya beberapa kali.


Sintya melihat keluar, lalu membuka pintu mobilnya. Kemudian segera memeluk Mita yang sudah berdiri tegap di depannya.


"Dia menolakku untuk kedua kalinya, Mit. Padahal Kirana juga sudah pergi meninggalkannya. Tapi kenapa dia tak bisa menerimaku? Apa kurangnya aku, Mit? Aku kaya, aku cantik, aku masih single?" ungkap Sintya dengan air mata yang membasahi pipi.


Mita diam mendengarkan semua keluh kesah Sintya sembari mengelus punggungnya. Setelah di rasa Sintya mulai tenang, Mita melepas pelukan itu. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu mau aku lakukan apa agar kamu bisa puas? Katakanlah, aku siap melakukan apapun demi kamu. Sekalipun aku harus kehilangan nyawaku," tutur Mita dengan mata berkaca.


Sintya yang mendengar kalimat itu, merasa seperti mendapat angin segar. Ia menatap kedua mata Mita lekat. "Kamu yakin dengan yang kamu ucapkan barusan? Apa kamu nggak akan menyesalinya?"


Mita mengangguk mantap. "Aku sangat yakin, maka katakanlah apa yang harus aku lakukan sekarang," ia mengulangi lagi kalimatnya.

__ADS_1


Sintya balik badan membelakangi Mita, "Aku mau sekarang kamu buat bisnis Mas Hendrik hancur, bahkan dia harus kehilangan semua harta bendanya!


Aku mau lihat dia kehilangan muka di depan semua orang. Seperti aku yang saat ini sudah kehilangan harga diriku di matanya!" titah Sintya sambil mengepalkan tangannya. Lalu ia berbalik menatap Mita.


"Apa kamu bisa melakukan itu?" Sintya melipat tangannya di depat dada menunggu jawaban dari Mita.


Mita menunduk sesaat memikirkan apa yang harus ia lakukan. Kemudian mengangkat kepalanya tegak. "Ya, akan aku lakukan malam ini juga. Besok pagi kamu akan dapat kabar bahagia," janji Mita pada Sintya.


"Aku tunggu kabar dari kamu, sekarang aku mau pulang dulu," ucap Sintya dengan senyum mengembang.


Ia kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan Mita yang masih berdiri mematung memperhatikan mobilnya yang berjalan menjauh.


"Mita! Sedang apa kamu di sana? Tidakkah kamu lihat di dalam sedang banyak tamu?"


Tiba-tiba suara teriakan Hendrik menyadarkannya dari lamunan sesaatnya.


"Saya nggak mau dengar alasan apapun! Jika saya melihat kamu seperti ini lagi, maka jangan salahkan saya jika kamu saya pecat. Nggak peduli kamu adalah tunangan teman saya sekalipun! Paham kamu?" amuknya sampai urat lehernya nampak jelas.


Mita hanya menundukkan kepalanya, kemudian ia berjalan masuk lagi ke dalam rumah makan.


Ia sudah tidak peduli lagi jika Hendrik mengancam akan memecatnya. Karena yang ada di dalam pikirannya saat ini, rumah makan ini tak akan berumur panjang. Jadi mau di pecatpun ia tak masalah.


Setelah berada di bagian dapur, Mita kembali memikirkan rencana apa yang akan dia buat nanti. Rencana yang tentunya akan merugikan Hendrik, tapi tak bisa menuduhnya sebagai pelaku.


Sedangkan Hendrik sendiri setelah menegur Mita, ia memilih kembali mengawasi rumah Tante Linda. Ia masih sangat penasaran lantaran tadi pagi rumah Tante Linda terlihat sangat sepi.

__ADS_1


Cukup menempuh empat puluh lima menit, akhirnya Hendrik sudah berhenti tepat di depan rumah Tante Linda. Keadaan masih sama seperti tadi pagi saat ia kesana. Tak ada tanda-tanda Kirana berada di dalam rumah.


Beberapa jam kemudian, tiba-tiba ada tetangga Tante Linda yang baru saja datang. Hendrik pun berniat ingin bertanya-tanya. Siapa tau dia bisa mendapatkan informasi.


"Permisi," sapa Hendrik sembari mengetuk kaca mobilnya.


Kaca mobilpun diturunkan. "Ya, ada apa, Mas?" tanya seorang Ibu yang berada di kursi kemudi.


"Maaf, kalau saya menganggu. Saya mau bertanya apakah Bu Linda sedang tidak ada di rumah ya?"


Ibu itu mengerutkan keningnya. "Kemarin pagi saya masih lihat beliau ada di rumah, Mas. Tapi setelah itu keluar sama ponakannya. Nah kalau tadi pagi saya nggak lihat lagi."


"Mas ini siapanya Bu Linda? Coba aja di hubungin nomor ponselnya. Soalnya setau saya, mereka sedang menjalankan usaha juga sekarang. Jadi ada kemungkinan kalau mereka bermalam di rukonya juga.


Toko mereka kan lagi ramai-ramainya sekarang ini, Mas. Wajar kalau mereka jadi jarang pulang," sambung Ibu itu lagi.


"Toko? Toko apa ya Bu? Kok saya baru tau, terus di daerah mana mereka buka?" Hendrik sempat terkejut dengan informasi yang Ibu itu berikan.


"Toko bunga, Mas. Cuma alamatnya saya kurang tau persis. Soalnya baru sekali aja saya datang kesana pas acara pembukaan kemarin.


Tapi lagi viral kok toko bunga mereka. Coba cari tau aja ke sosial media toko bunga yang baru buka. Pasti di arahin ke toko bunga Bu Linda sama ponakannya itu."


Hendrik mengangguk paham. "Terimakasih infonya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu." pamitnya sambil berlalu. Ia sudah tak sabar ingin mengetahui toko bunga yang Ibu tadi maksud.


Kalau memang benar Kirana dan Tante Linda sudah sukses dalam hal membuka usaha baru, itu adalah sebuah berita yang cukup aneh baginya. Mana mungkin seorang yang di katakan pembawa sial bagi dirinya mampu membuka usaha sendiri dan justru sukses?

__ADS_1


Saat ia akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ternyata itu panggilan dari security di rumah makannya.


"Kok tumben ada panggilan dari security? Apa sedang terjadi masalah? Ahh, biarlah nanti saja aku langsung kesana. Yang penting sekarang aku mau cari tau tentang toko bunga Tante Linda dan Kirana dulu," kemudian Hendrik memasukkan kembali ponselnya.


__ADS_2