Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 73.


__ADS_3

Hendrik berjalan keluar dari apartemen Kirana dengan perasaan kecewa lantaran tak bisa mengajaknya untuk tinggal bersama lagi. Tapi suasana hatinya semakin di perburuk lagi dengan ia yang tanpa sengaja harus berpapasan dengan Richard saat akan masuk ke dalam lift. Ya, Richard adalah orang yang sangat ia benci saat ini.


Ia menatap Richard dengan penuh kebencian. "Aku harap jika kamu juga ingin memiliki Kirana, maka kita bersaing secara sehat," bisiknya kala Richard berdiri tepat di sampingnya.


"Boleh! Aku harap kamu nggak akan kecewa jika Kirana nantinya akan tetap meminta cerai darimu dan memilih bersamaku. Karena Kirana sudah mulai nyaman berada di sampingku beberapa minggu terakhir ini." ujar Richard sinis.


"Tapi aku juga punya keyakinan jika rasa cinta Kirana masih ada untukku. Buktinya kita baru saja selesai melakukan hubungan suami istri. Dan dia sama sekali tak menolak saat aku ajak." Hendrik sengaja membuat Richard semakin sakit hati.


Benar saja, tangan Richard sudah mulai terlihat mengepal sebelah. Ingin rasanya Richard memukul Hendrik saat ini, namun niatan itu ia urungkan. Lantaran ia masih bisa berfikir jernih. Kalau sampai Richard nekat memukul Hendrik, yang ada justru ia kalah dari awal.


"Kenapa? Kamu nggak suka jika dengar aku dan Kirana masih saling mencintai? Harusnya kamu tuh sadar diri dari awal. Kirana itu hanya menganggap kamu sebagai Kakak aja. Jangan berharap lebih!" ejek Hendrik merasa puas karena bisa membuat Richard tak berkutik.


"Jangan kamu kira dengan kamu punya harta banyak, lalu kamu bisa meluluhkan Kirana." imbuh Hendrik lagi.


Richard memilih mengabaikan Hendrik dengan berjalan meninggalkannya. Ia takut jika berlama-lama mendengar ocehan Hendrik, bisa-bisa ia kehilangan kesabarannya.


Sedangkan Hendrik sendiri tertawa puas setelah melihat lawannya menjadi emosi namun tak bisa melawannya.


Setelahnya ia bergegas jalan turun ke bawah. Karena ia memarkirkan motornya di sembarang tempat.


"Untung aja motorku masih ada di sana. Kalau sampai hilang bisa pusing aku," gumamnya sambil berlari menuju ke motornya.


Namun saat Hendrik akan menyalakan mesin motor bututnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia segera memperhatikan layar ponselnya. "Mama?" keningnya berkerut. "Ada apa lagi Mama menghubungiku? Bukankah saat itu beliau sendiri yang mengatakan agar aku jangan menghubunginya lagi." gerutu Hendrik lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket ojolnya.


Ia memilih mengabaikan panggilan itu. Lantaran masih sakit hati dengan perlakuan Mamanya yang selalu membedakannya dengan Judika dan saudara-saudaranya yang lain. Sedari kecil Hendrik memang selalu di minta untuk mengalah dengan Adik dan Kakaknya.

__ADS_1


Sesampainya di kos, ia segera mandi dan beristirahat. Karena besok ia harus cari orderan dari pagi.


Namun saat akan memejamkan mata, pikirannya tiba-tiba teringat akan kata-kata Kirana yang mengatakan jika toko bunga itu bukan miliknya.


"Ahh, nggak masalah deh. Sekarang aku sudah nggak terobsesi dengan harta lagi. Aku juga sudah mulai terbiasa dengan hidup sederhana. Ternyata tak semenyeramkan yang aku bayangkan.


Justru yang penting sekarang ini aku harus bisa mendapatkan hati Kirana kembali. Karena aku baru menyadari kalau sebenarnya aku mulai jatuh cinta padanya.


Rasa ini baru aku sadari ketika melihat Kirana begitu dekat dengan Kakak kelasnya yang sialan itu. Dan aku merasa sangat cemburu. Semoga aja Kirana masih mau memberiku satu kesempatan lagi. Maka tak akan aku sia-siakan lagi dia nanti.


Mulai sekarang aku harus lebih rajin lagi cari orderan ojol. Biar bisa secepatnya mengurus surat nikah dengannya. Lalu setelahnya fokus membuka usaha berdua." Hendrik bergumam sambil tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan ke depannya dia bakal hidup bertiga dengan keluarga kecilnya.


Keesokkan paginya, Hendrik bangun pagi-pagi sekali. Ia segera mandi lalu mulai keliling sambil mencari orderan. Berharap agar bisa secepatnya dapat uang, lalu ia akan pergi ke apartemen Kirana untuk memasakkan Kirana makanan kesukaannya.


Tapi ternyata tanpa ia sadari, ia berjalan melewati depan gereja di mana ia dan Kirana menikah saat itu. Kemudian ia membelokkan kendaraannya memasuki halaman parkiran gereja.


Pak Gembala tersenyum ramah menyambut kedatangan Hendrik. "Selamat pagi, Pak Hendrik. Tentu saya masih ingat dengan jemaat saya sendiri, meskipun sudah lama kita tak pernah bertemu," Pak Gembala kembali mengedarkan pandangannya. " Bu Kirana mana? Apakah tidak ikut kemari? Sudah satu bulan terakhir ini Bu Kirana tidak datang ibadah kemari. Semua baik-baik saja kan Pak Hendrik?" sambungnya sambil mengajak Hendrik masuk ke dalam ruang kerjanya.


Hendrik seketika jadi gugup saat Pak Gembala menanyakan Kirana. "Ki-kirana lagi di rumah, Pak. Dia juga baik-baik saja. Ini saya... saya kebetulan lewat depan sini. Makanya saya mampir. Selain itu saya ingin konsultasi."


"Konsultasi soal apa, Pak Hendrik? Silahkan, saya akan bantu semampu saya," sahutnya dengan seuntai senyum.


"Jadi begini, Pak," kembali Hendrik membetulkan posisi duduknya. "Pernikahan saya dan Kirana saat ini sudah berada di ujung tanduk. Memang semua ini karena salah saya yang sudah menyia-nyiakan dan menyakiti perasaan dia selama ini.


Tetapi sekarang saya sudah menyesalinya, Pak. Apalagi di saat Kirana jauh dari saya, justru ada laki-laki yang mengejarnya. Saya nggak mau kalau sampai Kirana lebih memilih dia, Pak. Apakah Bapak bisa bantu saya agar pernikahan saya dan Kirana ini bisa di selamatkan?" pinta Hendrik mengiba.

__ADS_1


"Loh, Bu Kirana jauh dari Pak Hendrik ini maksudnya bagaimana ya?"


Hendrik menundukkan kepalanya. "Sudah hampir 3 bulan ini kami pisah rumah, Pak. Semua juga salah saya yang menyebabkan Kirana pergi."


Pak Gembala menghela nafas. "Apakah Pak Hendrik sudah mencoba mengajak Bu Kirana bicara berdua dari hati ke hati?"


"Sudah, Pak. Tapi sepertinya Kirana masih meragukan saya. Saya bisa memaklumi itu, tapi tetap aja saya merasa takut jika dia meragukan saya itu karena ada yang mempengaruhinya," lirihnya tak bersemangat.


"Minta maaflah yang tulus dengannya. Atau jika memang Pak Hendrik merasa butuh konseling. Ajaklah Bu Kirana untuk datang kemari. Agar kita bisa mendiskusikan masalah kalian bersama nantinya."


Hendrik terdiam, ia berusaha mencerna kalimat dari Pak Gembala barusan. "Baiklah, Pak. Saya akan ajak Kirana kemari besok. Semoga aja dia mau ikut dengan saya."


"Syukurlah, saya doakan semoga pernikahan kalian baik-baik saja. Usaha kalian berdua juga berjalan lancar, baik itu usaha rumah makan dan usaha toko bunganya." tutur Pak Gembala ramah.


Degh.


"Toko bunga? Kami tidak ada yang punya toko bunga, Pak. Kalau rumah makan saya punya, tapi sayangnya 2 bulan yang lalu ada musibah kebakaran. Jadi saat ini saya bekerja jadi ojol, sedangkan Kirana bekerja di toko bunga milik teman Tantenya." ungkap Hendrik yang membuat Pak Gembala bingung.


Pak Gembala mengerutkan keningnya. "Loh, apa sudah bukan milik Bu Kirana lagi toko bunganya? Sayang sekali ya kalau begitu," lirihnya.


Hendrik jadi semakin bingung dengan ucapan Pak Gembala barusan. "Kenapa beliau begitu bersikukuh jika toko bunga itu milik Kirana? Apakah Kirana bohong denganku?" batin Hendrik.


"Dan untuk Pak Hendrik sendiri saya turut berduka cita atas musibah yang Pak Hendrik alami. Saya dengar juga berita itu, tapi saya tidak menyangka jika itu rumah makan pak Hendrik yang terbakar," tutur Pak Gembala sambil menepuk pelan bahu Hendrik.


"Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya mau pamit dulu, sampai ketemu lagi besok," pamitnya lalu berjalan ke arah parkiran motor.

__ADS_1


Sepanjang jalan ia jadi terus memikirkan kata-kata Pak Gembala soal toko bunga milik Kirana. "Apakah Kirana takut jika aku menguasai hartanya ya? Makanya ia menyembunyikan soal toko bunga itu." gumamnya.


__ADS_2