
Acara pemberkatan hari ini dilaksanakan pada sore hari. Jadi di pagi harinya masih ada waktu bagi Hendrik untuk menghafalkan janji suci yang akan di ucapkannya nanti di depan altar. Karena sampai hari ini dia masih belum bisa menghafalnya, mungkin karena saking deg-degannya.
Berbeda dengan Kirana yang lebih santai menghadapi hari ini. Bahkan pagi ini saja dia masih tidur dengan dengkuran halusnya.
"Hei, calon pengantin! Kamu mau bangun jam berapa? Apa kamu nggak mau perawatan dulu pagi ini?" terdengar suara teriakan dari arah ruang tamu.
"Aku masih ngantuk berat, Mas. Semalem habis geladi bersih soalnya. Terus bantuin temen-temen pemuda juga buat bikin dekor," Kirana menjawab tapi matanya tetap terpejam.
Johan yang gemas dengan tingkah adiknya, segera berjalan ke kamar yang sengaja dia sediakan untuk Kirana selama satu bulan terakhir ini.
Ya, Johan merasa khawatir hingga melarang Kirana untuk tinggal sendirian lagi di kamar kos sebelumnya. Apalagi Kirana sedang hamil muda, pasti bakal sering butuh bantuan seseorang untuk berada di sampingnya. Sedangkan Hendrik sendiri belum resmi menjadi suaminya.
"Kalau kamu masih belum mau bangun, jangan salahkan aku kalau aku nggak mau jadi wali nikahmu nanti." ancam Johan, yang akhirnya mampu membuat Kirana segera bangun dari tidur nyamannya.
"Hoam!" sambil menguap Kirana merelaxkan tubuhnya juga. "Aku kurang tidur, Mas. Nanti kalau mata pandaku muncul gimana? Kan malah horor make-up ku," Kirana mencebikkan bibirnya.
Johan duduk di samping Kirana. "Iya deh, tapi kamu sarapan dulu. Kasian tuh anak kamu, pasti dia lapar di dalam perutmu."
"Ah iya, aku lupa kalau sekarang lagi hamil," Kirana tersipu malu.
"Hadeh!" Johan menepuk keningnya sembari geleng-geleng kepala.
"Ran, kamu nggak ngundang Sintya? Bagaimanapun dia kan sempat jadi sahabat baikmu?" tanya Johan kala Kirana sudah duduk di kursi meja makan.
"Nggak, Mas. Aku sama Mas Hendrik sudaj sepakat nggak ngundang dia. Nanti yang ada dia malah bikin kacau acaraku."
Johan mengedikkan bahunya.
Setelah selesai sarapan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Berarti Kirana sudah harus siap-siap berangkat ke salonnya Rudi. Karena untuk perjalanan kesana aja sudah memakan waktu hampir 1 jam.
"Mas, ayo berangkat sekarang aja. Tapi aku mau mandi dulu ya," ajak Kirana sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan menggunakan taksi online, akhirnya tepat pukul 13.30 siang, Kirana dan Johan sudah tiba di salonnya Rudi.
"Hai, Rud!" sapa Kirana kala baru masuk ke ruangan Rudi.
__ADS_1
"Kirana? Wow! Ini beneran kamu kan?" tanya Rudi sembari mengitari tubuh Kirana.
"Iya ini aku Kirana yang katamu dulu kucel."
"Eh, kamu perawatan di mana cin? Aku sampai pangling loh sama kamu." tak henti-hentinya Rudi melihat wajah Kirana.
"Pantesan aja Hendrik langsung klepek-klepek sama kamu. Ish, kamu memang hebat nakhlukin Hendrik. Bahkan yang awalnya nawar harga sewa gaun aja, sekarang malah jadi bayar normal dia. Kalau kaya gini sih, itu mantannya yang dulu kalah jauh sama kamu," kelakar Rudi merasa puas.
"Aku juga bersyukur akhirnya Mas Hendrik mau memilih aku. Padahal kemarin aku sempat mikir kalau pernikahan ini bakal batal. Tapi ternyata Tuhan memang mempersatukan kita," sahut Kirana dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, calon pengantin jangan nangis dong. Yuk ah, kita mulai aja dandannya. Tapi sebelumnya kita facial dulu aja kali ya, biar lebih bagus hasilnya nanti," tawar Rudi dengan gaya gemulainya.
"Terserah kamu aja lah. Aku pokoknya terima beres aja, hehehe."
Setelah selesai melakukan treatment facial dan nail art, kini Kirana di minta untuk pindah ke ruangan make-up.
"Ran, Hendrik mana? Kok jam segini dia belum datang kesini juga?" tanya Johan tiba-tiba.
Kirana memperhatikan jam di layar ponselnya. Ternyata sekarang sudah pukul 15.00. Sedangkan acara pemberkatan pukul 17.30. Harusnya saat ini Hendrik sudah datang ke salonnya Rudi.
"Maaf, Mas nggak bisa. Kirana harus segera di make-up. Karena waktu untuk nge make-up dia butuh waktu yang cukup lama. Bagaimana kalau Mas aja yang mencoba menghubungi Hendrik," saran Rudi sopan.
Akhirnya Johan berulang kali mencoba menghubungi Hendrik. Namun tetap saja belum di respon. Di chat pun juga tidak dibaca.
"Kamu kemana sih, Hen! Awas aja ya kalau kamu sampai kabur di hari pernikahanmu ini! Bakal aku cari kamu meskipun sampai ke ujung dunia sekalipun!" geram Johan.
"Gimana, Mas?" tanya Kirana yang juga ikutan panik.
Johan menggelengkan kepala sebagai jawaban kalau dia belum berhasil menghubungi Hendrik.
Waktu terus berputar, tapi Hendrik masih juga belum ada kabar atau tanda-tanda akan datang.
"Kemana kamu, Mas?" gumam Kirana.
Tapi tiba-tiba, "Aduh!" pekik Rudi sembari meremas kepalanya sangat kuat.
__ADS_1
"Rud, kamu kenapa?" Kirana berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Rudi yang sudah terduduk di lantai.
"Vertigoku tiba-tiba kambuh, Ran." rintih Rudi dengan suara terbata.
Degh!
Lagi-lagi Kirana memperhatikan ke arah jam dinding. Ternyata sekarang sudah pukul 15.45. Sedangkan make-up dia belum selesai. Hair di juga belum sama sekali.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Mas Hendrik ini juga kemana sih?" Kirana benar-benar panik saat ini.
"Aku panggil temanku aja ya, buat lanjutin make-up kamu. Tapi mungkin dia butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di sini."
"Okeh, nggak masalah. Yang penting ada yang bisa gantiin kamu, Rud," Kirana menyatukan kedua telapak tangannya.
Satu masalah sudah teratasi, berarti sekarang Kirana harus menghubungi pihak panitia yang sudah ada di gereja untuk mengabarkan kalau dia bakal datang terlambat.
"Halo, Isner. Ini aku Kirana, sebelumnya aku mau minta maaf. Bisa nggak ya kalau acara pemberkatan di undur satu jam dari jadwal? Karena ini tiba-tiba ada sedikit masalah. Jadi nggak mungkin kalau kita datang pukul 17.00 nanti," tanya Kirana cemas.
"Masalah? Apa perlu kami datang kesana untuk membantu?" tanyanya balik.
"Nggak perlu, kami sudah bisa mengatasinya kok. Sekarang kami hanya butuh bantuan untuk mengundur acaranya saja. Bagaimana? Tolong banget ya sebelumnya."
"Okeh bisa. Semoga kalian semua baik-baik saja saat sampai sini nanti."
Lalu panggilan teleponpun di akhiri.
Di saat bersamaan, ternyata teman Rudi datang lebih cepat dari yang di prediksi Rudi tadi.
Sambil di make-up, Kirana terus saja memperhatikan ke arah Johan yang sedang serius mencoba menghubungi Hendrik.
Hingga akhirnya, panggilannya pun di angkat.
"Halo," sapa seseorang yang menerima panggilan itu.
"Ini siapa? Bukankah ini nomor ponselnya Hendrik? Mana Hendriknya, saya mau bicara sama dia," tanya Johan dengan alis berkerut.
__ADS_1