
"Maaf, tadi saya yang menemukan ponsel ini terjatuh di parkiran mall. Apakah anda saudara dari pemilik ponsel ini? Karena di sekitar sini sudah nggak ada orang lagi," tanyanya ramah.
"Oh iya, itu ponsel adik ipar saya. Kalau bisa tolong antar ke alamat yang saya kirim melalui chat ya. Nanti akan saya beri imbalan sebagai tanda terimakasih." panggilanpun akhirnya terputus.
Sepuluh menit kemudian nampak mobil Hendrik terparkir di depan salon Rudi. Johan pun langsung menghampirinya.
"Kamu kemana aja sih dari tadi? Di hubungin nggak bisa-bisa. Bikin orang panik aja kamu itu!" tegur Johan dengan tatapan tak suka.
"Maaf, Mas. Tadi aku harus nganter adik sama kedua ponakanku cari jas dan sepatu. Karena jas mereka tertinggal kemarin.
Lagian aku kan nggak perlu di make-up. Jadi datang jam segini juga nggak masalah kan?" jawabnya santai sembari berjalan ke arah sofa.
"Tetap harus di make-up dong. Biar terlihat lebih segar lagi," sahut temannya Rudi.
"Loh, kamu siapa? Kok bukan Rudi yang ngerjain make-up nya?" Hendrik baru menyadari kalau Rudi tak ada di sana.
"Rudi tiba-tiba vertigonya kambuh tadi. Makanya aku yang gantiin dia," jawabnya datar sembari masih fokus dengan wajah Kirana.
Akhirnya pukul 17.30 semuanya telah siap untuk berangkat ke gereja. Mobil pengantinpun sudah menunggu di depan.
Hendrik dan Kirana masuk ke mobil pengantin. Sedangkan Johan ikut di dalam mobil Hendrik yang di kemudikan oleh adiknya.
Tepat pukul 18.00, mereka semua telah sampai di parkiran gereja. Nampak semua tamu undangan sudah hadir dan menunggu kedatangan mereka. Termasuk teman-teman Hendrik dan Kirana.
Kali ini Hendrik yang turun terlebih dahulu. Dan segera masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh adik dan kedua ponakannya.
Sedangkan Kirana masih harus menunggu di luar bersama Johan menunggu aba-aba berikutnya dari panitia.
Di dalam ruangan pembawa acara telah mulai membuka acara dengan kata sambutannya.
"Shalom, selamat sore Bapak dan Ibu hadirin sekalian, kita akan mulai acara pemberkatan pada sore hari ini.
Pada hari senin, 21 maret 2023 kita berkumpul bersama di tempat ini.Turut berbahagia bersama dengan kedua mempelai dan keluarga yang berbahagia.
Dan menjadi saksi peneguhan pernikahan yang kudus antara saudara terkasih kita Hendrik Arsenio, tempat tanggal lahir Jakarta 18 September 1993, anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan suami istri Bapak William dan Ibu Mery.
Dengan saudari Kirana Adara Caroline, tempat tanggal lahir, Sirabaya 25 juli 2000, anak kedua dari pasangan suami istri Bapak Baskoro dan Ibu Indahyani.
Dan yang akan di teguhkan sebagai pasangan suami istri yang sah di hadapan Tuhan dan jemaat oleh Bapak Pendeta Jonathan, selaku gembala sidang.
Baik, kita akan memulai ibadah peneguhan pernikahan pada sore hari ini. Saya mengundang Bapak, Ibu, jemaat Tuhan dan para undangan untuk bangkit berdiri."
Kini Kirana pun telah siap berdiri di depan pintu masuk. Dengan balutan gaun putih yang menjuntai ke lantai, serta veil yang menutupi wajahnya, ia terlihat sangat anggun. Di sampingnya juga sudah berdiri Johan yang memakai jas hitam hingga membuatnya makin tampak gagah.
Sedangkan Hendrik sendiri, sudah berdiri menunggu di depan altar berdampingan dengan Pak Pendeta.
Saat alunan musik yang mengiringi langkah kaki Kirana diputar, semua mata kini tertuju ke arah pintu menyambut Kirana yang akan berjalan menuju altar.
__ADS_1
Terlihat sekali kalau Kirana begitu terharu, tapi untungnya dia masih mampu menahan agar air matanya tak terjatuh. Hendrik yang menunggu di depan pun tak kalah terharunya dengan Kirana.
Di salah satu bangku barisan depan, terlihat kedua ponakan Hendrik sedang melakukan video call dengan neneknya yang tak lain merupakan orangtua Hendrik.
Ya, mereka hanya bisa melihat pernikahan Hendrik dan Kirana melalui panggilan video. Karena Bu Mery sebenarnya kurang setuju jika Kirana jadi menantunya. Bu Mery dari dulu sangat menginginkan jika Hendrik mempunyai istri yang juga punya bisnis sama sepertinya. Jadi bukan istri yang hanya numpang hidup saja.
Tapi sepertinya nasi sudah jadi bubur. Hendrik harus menikah dengan Kirana lantaran Kirana sudah hamil, dan Bu Mery juga sudah sangat ingin punya cucu.
Sekarang Kirana sudah berdiri berhadapan dengan Hendrik dan Pak Pendeta.
"Saya serahkan adik saya, kepada Bapak Pendeta untuk di nikahkan dan di berkati di dalam Kristus," ucap Johan saat menyerahkan Kirana.
"Baik, terimakasih," balas Pak Pendeta.
Lalu Kirana dan Hendrik di persilahkan duduk bersebelahan terlebih dahulu di kursi yang sudah di sediakan di depan altar. Dengan posisi Kirana di sebelah kanan dan Hendrik sebelah kiri.
"Baik Bapak, Ibu sebelumnya mari kita nyanyikan dua lagu pujian untuk Tuhan kita," ajak pembawa acara.
Setelah menyanyikan beberapa lagu pujian, kini saatnya membacakan doa pembuka yang di pimpin oleh wakil gembala sidang.
Kemudian sekarang Pak Gembala juga sudah mulai berdiri lagi di depan altar.
"Shalom, kepada kedua mempelai."
"Shalom, kepada kedua orangtua mempelai dan kepada semua undangan sekalian.
Jika ada yang merasa keberatan mohon berdiri dan tolong sampaikan apa alasannya." tanya Pak Pendeta.
Di sini Kirana semakin cemas. Karena dia takut kalau Sintya tiba-tiba hadir dan merusak semua. Meskipun dia sudah tidak mengundang Sintya. Tapi masih ada kemungkinan, kalau Sintya tau tanggal pernikahan mereka dari kabar mulut ke mulut.
Kirana melirik ke arah Hendrik, ternyata dia juga sedang cemas.
"Bagaimana? Tidak ada?" tanya Pak Pendeta terakhir kalinya sembari memperhatikan semua tamu undangan. "Baiklah, kalau begitu pernikahan ini bisa di lanjutkan."
"Kemudian, sekarang saya minta untuk mempelai pria berdiri. Karena saya akan mengajukan pertanyaan.
Di hadapan Tuhan yang maha tahu, dan di hadapan para saksi ini, mau kah engkau saudara Hendrik Arsenio mengambil saudari Kirana Adara Caroline menjadi istrimu?" tanya Pak Pendeta dengan sungguh-sungguh.
Tetapi Hendrik tak segera menjawab. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Hingga Kirana harus mencubit kaki Hendrik terlebih dahulu baru ia mau menjawabnya.
"Ya, saya bersedia!" jawab Hendrik dengan tegas.
"Mau kah engkau mengasihi, menghormati, dan memeliharanya di waktu ia sehat dan di waktu ia sakit atau cacat?"
"Ya, saya bersedia!"
"Pada waktu kaya dan pada waktu miskin?"
__ADS_1
"Ya, saya bersedia!"
"Waktu senang atau pun waktu susah?"
"Ya, saya bersedia!"
"Bersediakah engkau memelihara dan menjaga pernikahan yang kudus ini sampai Kristus datang kembali?"
"Ya, saya bersedia!"
"Baiklah, kalau begitu silahkan duduk kembali. Sekarang saya akan kembali bertanya pada mempelai wanita. Silahkan berdiri saudari Kirana," titah Pak Pendeta pada Kirana.
"Di hadapan Tuhan yang maha tahu dan di hadapan para saksi ini, mau kah engkau Kirana Adara Caroline mengambil Hendrik Arsenio menjadi suamimu?"
"Ya, saya bersedia!" dengan sangat tenang Kirana menjawab.
"Mau kah engkau menghormatinya dan tunduk kepadanya?"
"Ya, saya bersedia!"
"Mau kah engkau memeliharanya di waktu ia sehat ataupun di waktu ia sakit?"
"Ya, saya bersedia!"
"Pada waktu ia kaya dan pada waktu ia miskin?"
"Ya, saya bersedia!"
"Bersediakah engkau menjaga hubungan yang kudus ini sampai Kristus datang kembali?"
"Ya, saya bersedia!"
"Sekarang saya minta saudara Hendrik juga ikut berdiri. Silahkan kalian berdua berdiri saling berhadapan dan saling memegang tangan.
Karena kita akan sama-sama mendegar kalian berdua akan mengucapkan janji pernikahan. Di mulai dari saudara Hendrik Arsenio terlebih dahulu," ucap Pak Pendeta.
Namun, Hendrik tak segera mengucapkan satu katapun. Padahal semua orang sudah menunggunya. Hingga membuat Kirana memelototkan matanya ke arah Hendrik.
"Kamu belum hapal janji nikahnya, Mas?" bisik Kirana panik.
Beberapa detik kemudian,
"Demi nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Saya, Hendrik Arsenio ...."
lagi-lagi ucapan Hendrik terhenti, ia tertunduk dan memejamkan matanya lalu terlihat ia sedang menarik nafas dalam-dalam. Seperti orang yang sedang dilema saat akan memberi keputusan besar. Membuat semua para tamu undangan bertanya-tanya. Namun tak ada satu pun yang berani bersuara.
__ADS_1
Akhirnya beberapa saat kemudian Hendrik mau kembali mengangkat wajahnya dan menatap lekat ke arah bola mata Kirana yang sudah mulai berkaca-kaca.