
"Mas, gawat!" seru Kirana kala sudah duduk di samping Hendrik.
"Ada apa, Ran? Apanya yang gawat? Kamu mau melahirkan?" panik Hendrik seraya memperhatikan wajah Kirana yang tampak tegang.
Bahkan ia juga sampai melempar ponselnya ke sembarang arah saking paniknya melihat Kirana yang tiba-tiba datang sambil terengah-engah.
Kirana masih belum menjawab, lalu ia mulai memegang perutnya dan memasang raut wajah seperti orang sedang kesakitan. Ia benar-benar ingin menjahili Hendrik malam ini.
"Ran, kamu kenapa? Apa kita mau ke dokter lagi sekarang?" Hendrik pun ikutan memegang perut Kirana.
Karena Kirana belum juga mau menjawab, akhirnya Hendrik berinisiatif segera mengendong Kirana, mengambil kunci mobil, dan berjalan keluar menuju basement.
Ia bahkan tidak peduli jika saat ini keluar hanya menggenakan celana pendek saja. Padahal Hendrik termasuk orang yang paling memperhatikan penampilan untuk keluar dari apartemennya.
Selama di gendongan, Kirana masih terus memasang wajah kesakitannya. Meskipun di hatinya sedang tertawa puas telah berhasil membuat Hendrik khawatir.
"Sabar ya, Ran. Ini pasti karena kamu yang kebanyakan nangis, makanya perutmu jadi sakit dan mau melahirkan," Hendrik berucap sambil terengah-engah.
"Hah? Sejak kapan lahiran di usia 13 minggu?" batin Kirana merasa heran dengan ucapan konyol Hendrik.
Sesampainya di dalam mobil, Kirana akhirnya sudah tak tahan untuk menahan tawanya lagi. Kirana tertawa cukup keras dan melengking, bahkan suara tawanya kini mirip dengan Mbak Kunti yang suka fashion show malam hari di atas atap rumah warga.
Kali ini Hendrik justru mengira kalau Kirana sedang kesurupan. Hingga ia bergidik ngeri sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Ya Tuhan, kenapa pakai acara kesurupan segala sih di saat genting begini?" ujar Hendrik, lalu ia gegas keluar dari mobilnya lagi dan berlari terbirit-birit entah kemana.
Kirana yang melihat reaksi panik dan ketakutan Hendrik semakin tertawa puas sampai perutnya terasa keram.
"Ternyata asik juga ya jahilin kamu, Mas." Kini tawa Kirana sudah berhenti. Lalu ia mulai memperhatikan sekitar, ternyata saat ini dia sendirian berada di basement.
"Heemm, mungkin sebaiknya aku susul aja Mas Hendrik ke atas, lagian lama-lama di sini aku juga takut."
__ADS_1
Sayangnya saat Kirana akan membuka pintu mobilnya, pintu itu tidak bisa dibuka.
"Loh, kok terkunci sih? Terus gimana aku bisa keluar dong kalau begini ceritanya! Apa ini namanya senjata makan tuan. Niat mau ngerjain, malah aku sendiri yang susah sekarang," rutuk Kirana seraya menepuk keningnya.
Cukup lama Kirana menunggu datangnya Hendrik di dalam mobil. Hingga membuat Kirana menjadi panik. Udara pun menjadi enggap dan panas.
"Kamu kemana suh, Mas? Lama-lama bisa pingsan aku kalau begini." Kirana terisak dalam keheningan.
Namun tiba-tiba dari jauh terlihat Hendrik datang bersama seorang Bapak-bapak yang usianya mungkin sekitar lima puluh tahun lebih. Mereka berlari dengan tergesa-gesa menuju ke mobil Hendrik.
"Itu Pak istri saya ada di dalam sana," terdengar samar-samar suara Hendrik saat berlari mendekat.
Ketika Hendrik membuka pintu mobilnya, ia melihat Kirana yang dalam keadaan lemas, mungkin karena mulai kehabisan nafas.
Hendrik segera membantu Kirana keluar dari mobil dan mendudukkannya di samping mobil dengan kaki masih menahan punggung Kirana agar tetap bisa bersandar.
"Kamu sudah nggak kesurupan lagi, Ran? Kok sekarang malah lemas begini sih? Padahal aku dah capek-capek lari nyari orang yang bisa nybuhin kamu. Tapi sekarang kamu malah udah nggak kesurupan lagi," selorohnya seraya mengamati wajah Kirana sambil mengoyang-goyangkan ke arah kanan kiri berulang kali.
Kirana yang awalnya lemas, karena mendengar pertanyaan Hendrik mendadak jadi kesal. Dengan sisa tenaga yang ada akhirnya Kirana memukul lengan Hendrik.
PLAK!
"Kalau pintu mobilnya nggak aku kunci, yang ada nanti kamu malah di bawa kabur sama setannya gimana?" balas Hendrik lalu bangkit berdiri. Hingga Kirana jadi terjatuh dan tertidur di lantai basement.
"Ihhh! Kalau mau berdiri bilang-bilang dong! Kan aku jadi tidur di lantai!" pekik Kirana lalu mengibas-kibaskan rambutnya agar tak kotor lagi.
"Maaf Mas, ini jadi nggak di sembuhin yang kesurupan?" tanya Bapak-bapak itu memotong obrolan Kirana dan Hendrik.
"Nggak jadi, Pak. Saya mah nggak kesurupan, suami saya kali yang kesurupan!" omel Kirana lalu berusaha bangkit berdiri.
"Enak aja! Kalau aku yang kesurupan kenapa malah kamu yang ketawa seperti Mbak Kunti?" bantah Hendrik tak mau kalah.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya sampeyan nggak kesurupan, Mbak?" tanya Bapak-bapak itu memastikan sekali lagi.
"Tidak Bapak. Saya baik-baik saja, nih coba Bapak perhatikan dengan teliti." Kirana mendekatkan wajahnya ke wajah Bapak tua itu.
"Eh, ngapain dekat-dekat?" Hendrik menarik rambut Kirana secara tiba-tiba.
AUWH!
PLAK!
Satu pukulan mendarat lagi di tangan Hendrik.
"Sakit tau, Mas! Tar kalau rambutku yang indah ini rontok gimana?"
"Lebih baik rambutmu yang rontok, daripada perasaanku!" ungkap Hendrik dengan tampang kesal.
Kirana tiba-tiba tersenyum, " Ciyeee, ada yang cemburu nih," ledeknya lalu kembali tertawa ala Mbak Kunti.
"Nah, Pak dia kesurupan lagi! Itu setannya datang lagi. Tolong bantu saya, Pak," ujar Hendrik sambil menunjuk Kirana, lalau ia bersembunyi di belakang Bapak tua itu.
"Bocah gemblung! Itu istrimu bukan kesurupan! Dia hanya tertawa, tapi memang suaranya mirip Mbak Kunti kalau sedang tertawa!
Sepertinya benar yang di bilang istrimu, kalau yang kesurupan itu sebenarnya kamu, bukan dia!" gerutu Bapak tua itu sambil berkacak pinggang dan mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kok bisa, Pak?" Hendrik mengaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal sama sekali.
"Ya wes lah, Bapak tak pulang aja kalau gitu! Daripada di sini, yang ada malah Bapak sendiri yang kesurupan nantinya! Mana tempatnya di sini sepi sekali. Kalian juga buruan naik ke atas sana!" lalu Bapak tua itu berjalan menjauh sambil terus mengomel.
Setelah Bapak tua itu tak terlihat lagi, Kirana kembali tertawa terbahak-bahak. Namun tiba-tiba tawanya terhenti kala ia sadar kalau Hendrik menatapnya dengan tatapan tajam.
"Mas, kamu kenapa ngeliatin aku seperti itu sih? Serem tau di tempat sepi begini, kamu malah ngeliatinnya kayak gitu," Kirana mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Tapi Hendrik justru berjalan makin mendekat ke arah Kirana tanpa berkedip. Hingga membuat Kirana makin bergidik ngeri.
"Mas, jangan becanda deh ah. Nggak lucu tau," Kirana mencoba tenang, namun tetap saja suasana hening di malam hari ini membuat dia ingin menangis dan berlari.