
"Pergi jauh kamu dari Mama! Jangan pernah kamu berpikir untuk kembali lagi! Tapi sebelum kamu pergi, tolong tinggalkan semua ATM mu! Semua uangmu itukan hasil dari rumah makan! Jadi kamu nggak berhak sedikitpun membawanya!" hardik Bu Mery sambil berkacak pinggang sebelah tangan.
Hendrik balik badan, lalu mengeluarkan semua kartu kredit serta ATM nya. termasuk melepas jam tangan yang ia gunakan. "Sudah puas, Mama? Aku harap juga Mama tak pernah menyesali semua ini."
Kemudian ia berjalan keluar dengan perasaan malu. Malu karena Mama kandungnya sendiri bisa bersikap seperti itu di depan umum.
Sesampainya di jalan raya, ia terus saja berjalan menyusuri trotoar. Pikirannya saat ini sedang kacau. Dia ingin mencari Kirana, tapi kalau keadaan dia seperti ini, apakah dia bisa menemukan Kirana?
Bahkan uang di dompetnya saja hanya tinggal beberapa ratus ribu. Semua uang tabungannya sudah habis tak bersisa. Ya, semua habis untuk memenuhi kebutuhan Judika serta mentraktir teman-temannya beberapa waktu terakhir.
"Ah, sebaiknya aku coba hubungin teman-temanku. Siapa tau mereka mau meminjamkan uang padaku. Kemarin kan aku sudah keluar banyak uang untuk mereka. Sekarang saatnya mereka untuk balas budi denganku," gumam Hendrik sambil mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya.
Tapi sudah beberapa orang teman yang ia hubungi, namun semua temannya menolak untuk membantu Hendrik dengan berbagai macam alasan yang tak masuk akal. Termasuk Tony juga tak mau membantunya kalau soal uang.
"Sial! Giliran aku susah begini, tak ada satupun yang mau membantuku. Padahal dulu aku selalu ada untuk mereka semua!"
Karena sudah cukup lelah, ia duduk di salah satu halte bus. Matanya melihat ke arah seberang jalan yang bertuliskan jual beli ponsel. Tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah ide untuk menjual ponselnya itu demi bertahan hidup.
"Nggak apalah, yang penting masih bisa aku pakai untuk komunikasi dan mencari keberadaan Kirana," ujarnya sambil memperhatikan ponsel barunya.
Setelahnya ia kembali berjalan sambil mencari kontrakan terdekat. Kebetulan ia juga kembali teringat kalau Kirana membuka toko bunganya di sekitar daerah situ.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, akhirnya ia menemukan satu kontrakan kecil. Yang harganya juga sesuai lah dengan uang yang ia punya saat ini. Apalagi ia juga berencana akan membeli satu motor bekas untuk alat transportasinya.
"Ahh, akhirnya aku bisa juga terbebas dari bayang-bayang Judika. Biarpun aku harus kehilangan semua yang aku punya. Tapi setidaknya jika nanti aku mau berusaha lagi, pasti aku bisa membangun rumah makan dari uang modalku sendiri," gumam Hendrik sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kapuk yang sedikit berdebu.
Ya, kamar kos yang ia sewa sudah mendapat fasilitas kasur kapuk, kipas angin, dan lemari pakaian. Meskipun semua perabotan itu jauh dari kata layak pakai, tapi setidaknya ia tak perlu keluar uang untuk membeli perabot. Apalagi rencananya ia juga tak mau berlama-lama tinggal di tempat seperti itu.
Sore harinya saat cuaca sudah mulai dingin, Hendrik kembali keluar untuk mencari makan serta membeli motor bekas. Sudah dari pagi ia menahan lapar.
Saat sedang mengantri di salah satu warung makan padang, ia juga mulai bertanya-tanya soal di mana tempat jual beli motor bekas terdekat yang terpercaya.
Akhirnya dia di arahkan ke salah satu tempat yang tak jauh dari rumah makan padang itu. Di sana ia memilih motor dengan harga yang paling murah. Lagi-lagi dia berprinsip kalau itu hanya dia gunakan sementara aja sampai ia bertemu dengan Kirana kembali.
Motor sudah ia dapatkan, makan juga sudah. Kini saatnya dia mulai berkeliling mencari toko bunga Kirana. Namun sudah beberapa kilometer ia berkeliling, tetap saja toko bunga itu tak ia temukan.
"Waduh, setau saya di daerah sini nggak ada tuh nama toko bunga seperti yang Mas sebutkan tadi. Tapi kalau toko bunga yang baru buka terus langsung ramai saya tau. Cuma nama toko bunganya kalau nggak salah LiNa Florist gitu. Pemiliknya masih muda terus cantik sekali." ungkap pedagang bakso dengan mata berbinar seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Kalau boleh tau, itu di mana alamatnya, Pak?" Hendrik terlihat antusias. Apalagi saat pedagang bakso tadi mengatakan kalau pemilik toko bunga itu masih muda dan cantik. "Pasti itu adalah Kirana," batin Hendrik yakin.
"Nggak begitu jauh dari sini kok. Pokoknya nanti Mas nya lurus aja ke arah utara, nah nanti pasti ketemu sama pertokoan yang cat hijau. Di situ dah toko bunga LiNa Florist yang saya bilang barusan."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak. Makasih untuk informasinya." Hendrik bergegas menuju ke tempat yang di tunjuk barusan.
__ADS_1
Setelah menyusuri jalan sesuai arahan dari pedagang bakso tadi, Hendrik akhirnya menemukan pertokoan bercat hijau. Dan benar di sana ada toko bunga berplang 'LiNa Florist'.
Dengan perasaan tak sabar, ia segera memarkirkan motornya. Lalu ia berjalan menghampiri security yang berdiri di depan toko.
"Permisi, Pak. Apa betul pemilik toko bunga ini bernama Kirana atau Linda?" tanyanya.
"Bukan, Mas. Nama pemilik toko bunga ini Bu Carol. Bukan Kirana seperti yang Mas bilang," sahutnya sopan.
Dasarnya memang Hendrik tak mencintai Kirana sedikitpun, jadi wajar kalau dia pun lupa siapa nama panjang Kirana.
"Masa bukan Kirana sih Pak namanya? Padahal menurut info yang saya dapat pemilik toko bunga ini namanya Kirana sama Tante Linda."
Security itu nampak berpikir. "Atau coba Mas cari di sebelah sana, siapa tau yang Mas cari dia buka toko bunga di sebelah sana," security itu menunjuk ke arah lain.
Hendrik menggelengkan kepalanya. "Kalau boleh tau ciri-ciri pemilik toko bunga ini sedang hamil nggak, Pak?" ia masih berusaha mencari tau.
"Nggak, Mas! Orang dia masih single, gimana mau hamil?" sergah security itu dengan tampang masam.
"Ah, masa aku salah toko sih? Tapi kata pedagang bakso tadi hanya ini toko bunga yang baru buka. Terus kenapa sekarang security ini bilangnya kalau pemilik toko bunga ini nggak sedang hamil, bahkan masih single. Aakkkrrggghh!" Hendrik mengacak rambutnya saking stressnya.
"Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu, Pak."
__ADS_1
Dengan langkah gontai ia kembali mengambil motornya. Lalu berjalan pulang menuju kos barunya.
"Kamu di mana sih, Ran?" gumamnya sepenjang jalan sambil matanya melihat kanan kiri. Berharap orang yang ia cari tiba-tiba muncul di depan mata.