
Kirana memilih diam tak menjawab pertanyaan Hendrik. Lalu ia membuang muka ke arah kaca mobil melihat jalanan.
"Kenapa jadi diam? Biasanya aja kamu paling unggul kalau soal ngebantah ucapanku."
"Aku lagi nggak pengen ngebahas soal itu sama kamu, Mas. Jadi jangan tanyakan soal itu lagi." sergah Kirana. Ia tak ingin Hendrik semakin banyak tanya lagi.
Ia yakin kalau tadi Hendrik pasti diam-diam sudah menguping pembicaraan Kirana dan Tante Linda. Kalau tidak, mana mungkin Hendrik tau semua. Hendrik kan bukan paranormal yang bisa menerawang.
"Berarti aku nggak salah dong kalau kapan hari, aku nggak mau kasih kamu pinjaman uang untuk membantu Mas Johan? Dan terbukti kan sekarang, kalau dia sudah jahat sama kamu?
Andai kamu kemarin kasih uang buat Mas Johan sebanyak itu, apa nggak dobel sakit hatimu? Makanya lain kali itu lebih waspada. Jangan mudah merasa kasihan, meskipun itu orang terdekatmu," lagi-lagi kalimat dari Hendrik mampu membuat Kirana semakin pusing.
"Kamu bisa diam nggak sih, Mas? Makin pusing rasanya aku kalau kamu terus-terusan ngebahas soal ini. Lagipula aku juga udah menyadari kok kalau Mas Johan bukan orang baik. Tapi nggak perlu sampai sebegitunya juga kamu ngebahasnya."
"Sadarnya telat!"
BRAK!
Kirana memukul dashboard mobil cukup keras. Hingga membuat tanganya memerah. Lalu ia menoleh ke Hendrik dengan tatapan tajam.
"Mulutmu kenapa seperti cewek sih? Suka banged banyak bicara?" protes Kirana tegas.
"Huh! Kenapa kamu malah ngebentak aku? Aku kan cuma menyadarkan kamu dari kebodohanmu!" celetuk Hendrik masih tak mau diam.
"Stop! Turunkan aku di sini! Nggak betah aku lama-lama satu mobil sama orang seperti kamu!" teriak Kirana.
Namun Hendrik tak mengindahkan permintaan Kirana. Ia tetap melajukan mobilnya menuju rumah makan. Tetapi ia mulai tak berbicara apapun lagi.
Sedangkan Kirana mulai memijit keningnya pelan sambil memikirkan semua.
"Aku harus bagaimana sekarang? Mungkinkah aku sanggup menajalani rumah tangga seperti yang di sarankan orang-orang padaku? Harus sabar dan banyak berdoa agar Mas Hendrik bisa berubah sikapnya? Tapi sampai kapan? Ahh, kalau soal itu biarlah aku serahkan sama Tuhan aja.
__ADS_1
Aku sekarang cukup menjalankan peranku saja. Tuhan, tolong lebih luaskan lagi rasa sabarku, agar aku bisa menjadi penolong buat suamiku," Kirana berucap dalam hati.
Tanpa sadar, ternyata mobil Hendrik sudah masuk ke parkiran rumah makannya. Suasana siang ini seperti biasanya, selalu rame dengan pengunjung. Tak heran, karena makanan di sini rasanya sangat nikmat, tapi dengan harga yang masih ramah dengan dompet.
"Buruan turun. Apa kamu mau diam di dalam mobil?" ucap Hendrik sambil melepas sabuk pengamannya.
Kirana segera membuka pintu mobil, lalu berjalan mendahului Hendrik. Tak lupa ia juga menyempatkan diri untuk menyapa security serta tukang parkir yang ada di depan.
"Siang Bapak-Bapak sekalian, sudah jam istirahat kan sekarang? Ayo makan siang dulu. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian," sapa Kirana yang di sambut girang oleh mereka berdua.
Berbeda dengan Hendrik yang terlihat tak suka kala Kirana menyapa kedua orang itu.
"Kalau mau istirahat, gantian aja. Ini jam makan siang, pasti akan rame pengunjung," celetuk Hendrik lalu menarik pelan tangan Kirana.
"Bisa nggak, jangan sok centil gitu di depan orang lain?" bisik Hendrik karena tak ingin ada yang mendengar selain Kirana.
"Apa Salahnya? Aku kan hanya mengingatkan mereka untuk jangan lupa makan siang?" lalu Kirana melepas tangan Hendrik.
Ia yang penasaran segera berjalan menuju ke arah Sintya. Tetapi baru beberapa langkah, lengan Kirana ditahan oleh Hendrik.
"Mau kemana?" tanya Hendrik dengan tatapan tajamnya.
Kirana menunjuk ke arah Sintya. "Jangan bikin keributan di sini. Lebih baik sekarang kamu ikut aku naik ke atas. Kamu juga harus makan dulu kan?" tukas Hendrik seraya memegang erat tangan Kirana agar tak lepas darinya.
Kirana sempat menoleh ke belakang, sebelum benar-benar menaiki tangga.
"Kok dia datang lagi ke sini sih, Mas?"
"Ini tempat umum, Ran. Siapapun boleh datang ke sini. Lagian bagus kan kalau rumah makan ini rame?"
"Tapi jarak rumah dia ke sini itu jauh banged loh, Mas? Pasti dia punya tujuan lain deh! Makanya sampe dia bela-belain." Kirana menarik kesimpulannya sendiri.
__ADS_1
"Jangan mudah berpikir buruk sama orang lain, Ran. Nggak baik itu, coba berpikir positif dulu. Siapa tau dia memang kebetulan lewat dekat sini, terus pas jam makan siang, makanya dia mampir," sela Hendrik yang kini mulai fokus di meja kerjanya.
"Iihh, kamu aneh dan plin-plan banged sih jadi orang!" Kirana menghentakkan kakinya sebelum duduk di sofa.
Hendri menatap kirana sambil menaikkan satu alisnya.
"Iya, kamu aneh! Padahal tadi di mobil kamu bilang kalau aku harus lebih waspada dan jangan mudah percaya sama orang lain, meskipun itu orang terdekatku. Tapi kenapa sekarang saat aku curiga dengan kedatangan Sintya, kamu justru memintaku untuk berpikir positif?
Ish, yang benar yang mana dong yang harus aku ikutin Pak kepala rumah tangga?" ledek Kirana seraya menaruh genggaman tangannya di dagunya.
"Lagipula kamu kok sepertinya biasa aja sih saat tau ada Sintya di sini? Jangan-jangan kalian sudah janjian ya?" tebak Kirana asal.
Hendrik melempar kertas yang sebelumnya sudah ia remas ke arah Kirana.
"Mulai pinter ngebantah ya kamu sekarang? Sudah ikutin aja apa yang aku bilang. Kali ini jangan berpikir negatif.
Oh iya satu lagi, memangnya aku harus bagaimana kalau ada Sintya di sini? Apa aku harus berlari ke arahnya lalu memberinya pelukan selamat datang? Atau aku harus mengusirnya? Nggak mungkin kan, Ran? Jadi stop berpikir aneh-aneh!
Apalagi sampai berpikir kalau aku sudah mengatur janji dengannya. Kalaupun aku sampai sudah atur janji dengannya itu pasti soal kerjaan. Lagipula aku kan ngajak kamu juga hari ini " tukasnya.
"Ihh, aku kan punya otak, jadi ya wajar kalo aku berpikir aneh-aneh. Tapi kemarin-kemarin dia ada datang ke sini nggak sih?"
Hendrik membuang nafas kasar. "Kamu cek aja CCTV kalau nggak percaya sama aku," titah Hendrik pasrah akhirnya.
Lama-lama ia merasa kewalahan sendiri menghadapi kebawelan Kirana.
"Okeh, bakal aku cek! Awas aja kalau sampai kamu ketahuan selingkuh di belakangku!" Kirana mengangkat tangan mengepalnya.
Kemudian ia berjalan ke arah monitor layar CCTV, namun belum sempat ia memencet apapun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk berulang kali.
tok... tok... tok...
__ADS_1
"Siapa?" tanya Kirana, namun tak ada jawaban.