Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 40.


__ADS_3

"Bahagia kok," ucap Kirana datar lalu memejamkan matanya.


Lelah, ya itulah yang Kirana rasakan sebenarnya. Ia sangat ingin pergi dari Hendrik. Tapi orang-orang di sekitarnya semua menyarankan agar Kirana mau bertahan dengan Hendrik. Apalagi Hendrik juga mulai bisa meminta maaf pada Kirana jika ia telah melakukan kesalahan.


Tapi itu semua tak mampu mengembalikan hati Kirana yang terlanjur sakit hati ulah Hendrik, Mama mertua, serta Adik iparnya.


"Kalau bahagia, peluk dong," pinta Hendrik seraya membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Nggak usah lebay deh, Mas! Kayak anak kecil aja yang dikit-dikit harus berpelukan."


Hendrik terdiam terpana mendengar jawaban Kirana yang benar-benar di luar dugaannya. Namun ia akhirnya memilih mengalihkan topik pembicaraan.


"Kamu mau USG lagi kapan? Besok mau nggak?"


"Lihat aja besok aku mood apa nggak."


Hendrik mengerutkan keningnya. Padahal waktu itu Kirana bisa bahagia banged saat akan USG. Tapi kali ini kok jadi cuek. Lalu ia gegas turun ke bawah untuk mencari tahu penyebab Kirana menjadi cemberut.


Tapi, hampir semua karyawan di bawah yang ia tanya, tak ada satupun yang bisa memberi jawaban yang sesuai dia inginkan.


Kemudian ia memilih kembali ke lantai atas dengan membawa makan siang untuk mereka berdua.


...****************...


Malam harinya pukul 19.00, sesuai dengan rencana beberapa teman-teman Hendrik mulai berdatangan ke apartemen. Rata-rata dari mereka masih singel semua, dan mereka juga sama-sama punya bisnis rumah makan yang tersebar di kota Surabaya.


Jamuan makan malam yang terhidang semuanya Hendrik bawa dari rumah makannya. Ia lagi-lagi tak mengijinkan Kirana memasak.


Saat semua sudah berkumpul, acara makan malampun di mulai. Ada satu orang teman Hendrik yang datang membawa tunangannya. Jadi Kirana tak merasa risih ketika harus makan malam bersama dengan mereka. Yang memang tak ada satupun yang Kirana kenal sebelumnya.

__ADS_1


Setelah selesai, para tamu laki-laki memilih mengobrol di area balkon yang lumayan luas dengan pemandangan suasana kota malam hari.


Sedangkan Kirana memilih bersantai di depan televisi dengan Mita.


"Beruntungnya kamu Mbak bisa menikah dengan Mas Hendrik," puji Mita kala mereka tinggal berdua saja.


Kirana tersenyum tipis menanggapi ucapan Mita, setipis rasa cintanya pada Hendrik. Lalu kembali fokus menonton acara televisi.


"Banyak loh Mbak yang ngejar-ngejar Mas Hendrik. Termasuk aku juga sih. Tapi sepertinya Mas Hendrik terlalu pemilih.


Dan aku kira standart untuk jadi istrinya Mas Hendrik itu harus dari kalangan pengusaha yang tentunya good looking juga. Eh, ternyata, ..." Mita memperhatikan penampilan Kirana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia ingin melihat reaksi Kirana. Tetapi Kirana justru abai dengan ucapan Mita barusan.


Mita yang merasa di abaikan, kembali mengompori Kirana. Entah apa maksud dan tujuannya. Padahal Kirana juga tidak menyenggol dia sama sekali dari tadi.


"Mbak, tau nggak kalau dulu Mas Hendrik...." belum selesai Mita berbicara, Kirana sudah menoleh ke arahnya dengan tatapan tak suka.


Tetapi bukannya minta maaf, Mita justru terlihat seperti ingin menantang Kirana untuk adu jotos.


"Karena memang setiap orang pasti punya masa lalu. Jadi baik buruknya tingkah laku suami saya di masa lalu, ya biarlah. Itu urusan dia dan masa lalunya. Nggak ada hubungannya sama saya. Jangan di bahas lagi saat ini.


Lagian kamu sendiri juga sudah bertunangan kan? Terus kenapa masih ngebahas masa lalu? Atau jangan-jangan kamu mau bertunangan sama dia, hanya karena ingin bertemu dengan suami saya ya?" imbuh Kirana di sertai dengan senyum sinis.


"Jangan sembarangan ya kalau bicara!" Mita murka karena merasa tak berhasil membuat Kirana panas ataupun marah. Tapi justru dia sendiri yang jadi marah. Lalu tiba-tiba Mita menyiram air yang ada di gelas ke arah badannya.


"Auww!" teriaknya hingga mengundang perhatian semua orang yang sedang mengobrol di balkon.


Mereka semua gegas berhamburan masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Mita segera memasang muka sedihnya seraya memeluk tunangannya.


Sedangkan Kirana tetap duduk santai dan mengabaikan orang-orang yang mengerubungi Mita yang sedang menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Ada apa, Mit?" tanya Hendrik yang merasa tak enak jika ada tamunya yang mendapat perlakuan kurang baik.


"Aku juga nggak tau, Mas. Tiba-tiba aja Mbak Kirana menyiramku. Padahal tadi aku hanya diam menonton TV. Apa mungkin Mbak Kirana ada gangguan jiwa ya? Makanya suka nyerang orang tiba-tiba," tutur Mita dengan terbata karena masih menangis.


Hendrik menoleh ke arah Kirana, begitupun sebaliknya. Mereka saling pandang beberapa saat. Tetapi setelah itu Kirana bangkit berdiri dan ingin segera masuk ke dalam kamarnya. Baginya drama seperti ini sudah terlalu sering ia lihat di TV.


"Tunggu, Ran," cegah Hendrik saat Kirana akan membuka pintu kamar.


"Boleh aku tanya, apa alasannya kamu menyiram Mita?"


Sebenarnya Hendrik tau, kalau Kirana tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi demi terlihat jelas di mata semua orang, Hendrik akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Kirana berjalan mendekat ke Mita, lalu mengambil teko yang berisi air. Kemudian menyiramkan air itu ke arah wajah Mita. Hingga semua orang yang melihatnya melongo.


Hendrik segera berlari memeluk Kirana agar ia tak semakin berbuat yang aneh-aneh.


"Ka-kamu kenapa nyiram aku!" bentak Mita tak terima. Matanya melotot dengan nafas naik turun tak beraturan saking emosinya.


"Loh kok nanya? Tadi kan kamu yang minta aku nyiram kamu?" sahut Kirana santai lalu makin mempererat pelukannya ke Hendrik. Tujuannya hanya ingin membuat Mita semakin marah.


"Iiihhh! Lihat Sayang, bajuku semakin basah!" rengek Mita pada tunangannya seraya menghentakkan kakinya berulang kali.


Tunangan Mita yang terlihat tak terima pun, kemudian angkat bicara. "Hen, aku rasa benar deh ramalan kita di luar tadi. Istrimu ini memang pembawa sial buat kamu. Dan buat semua keluargamu. Hati-hati aja bisnismu nggak lama lagi bakal gulung tikar! Jadi saranku lebih baik secepatnya kamu ceraikan dia.


Lebih baik mencegah kan daripada kamu menyesal karena telah kehilangan bisnis yang sudah lama kamu rintis?" ujarnya dengan emosi.


Kirana melepas pelukannya, lalu menatap wajah Hendrik dengan penuh tanya.


"Ramalan? Kalian percaya dengan ramalan? Lemah sekali iman kalian jika dikit-dikit mempercayai ramalan!" bentak Kirana yang sudah sangat emosi.

__ADS_1


Ia menatap mereka satu per satu, "Jadi tujuan acara kalian malam ini adalah meramal? Dan hasilnya menyatakan kalau aku pembawa sial buat Mas Hendrik? Waw, kalian semua hebat, bahkan melebihi Tuhan!" Kirana bertepuk tangan seraya mengirari Hendrik.


"Kamu percaya dengan ramalan mereka, Mas?" tanya Kirana serius saat sudah berdiri tepat di depan Hendrik.


__ADS_2