Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 88.


__ADS_3

"Apa, Mas?" pekiknya tertahan dengan mata membulat. Kemudian Kirana melihat sekilas Bu Mery takut jika Bu Mery mendengar percakapannya.


"Kamu nggak salah ngomong kan, Mas? Rumah ini kan kamar yang satunya bocor, dan belum di betulin juga. Lagipula kenapa mendadak sih kalau memang mau tinggal sama kita?" bisiknya lagi.


Hendrik hanya tersenyum, "Kan sekarang lagi nggak musim hujan, jadi ya masih aman lah. Nanti tinggal kita belikan tempat tidur sama kipas angin dan almari aja." sahutnya santai.


Kirana menatap penuh selidik, "Memangnya rumah yang di Jakarta kenapa, Mas? Maaf nih, ya. Aku bukannya nggak mau Mama sama Papa tinggal di sini, tapi kan lebih baik kalau kita nggak tinggal seatap sama mereka."


"Rumah yang di Jakarta ditempati sama Mas Handoko dan istrinya, Sayang. Karena Mas Handoko baru saja diberhentikan dari tempat kerjanya. Otomatis rumah dinasnya juga diambil lagi sama perusahaannya.


Lagian rumah sakit buat Papa kontrol kan memang ada di Surabaya. Jadi kan lebih baik mereka tinggal sama kita sampai Papa benar-benar sembuh. Masa iya, kita tega biarkan mereka berdua sendirian? Mereka kan sudah tua, Sayang. Kita sebagai anak-anaknya kan wajib buat merawat mereka?


Kamu tenang aja, Mama nggak bakal ngerecokin kamu kok. Apalagi di tambah sebentar lagi kan kamu mau lahiran. Mama sama Papa pasti senang sekali jika bisa tinggal satu rumah sama cucu mereka," beber Hendrik seraya mengenggam telapak tangan Kirana.


Kirana nampak berat sekali memutuskan untuk setuju dengan permintaan Hendrik. Baru beberapa jam Mama mertuanya datang saja, ia sudah berdebat dengan Mama mertuanya lantaran Kirana bangun siang. Lalu bagaimana jika nanti mereka benar-benar tinggal satu atap? Apa tidak bakal terjadi keributan setiap harinya?


"Kamu setuju kan, Sayang? Ini hanya sementara aja kok. Hanya sampai Papa sembuh aja. Aku janji sama kamu," pintanya lagi dengan wajah memelas.


Kirana menghela nafas panjang. "Baiklah, Mas. Tapi beneran ini hanya sementara aja ya. Aku bener-bener nggak mau tinggal satu atap sama mertua," putus Kirana akhirnya.


Beberapa saat kemudian saat Kirana sudah selesai makan, terdengar pintu diketuk. Hendrik berjalan membukakan pintu.


"Pak, saya diminta Bu Carol datang untuk membantu pekerjaan di sini katanya," ucapnya saat pintu sudah dibuka.


"Oh iya, langsung aja ke dapur ya. Bu Carolnya lagi ke kamar mandi soalnya," titah Hendrik seraya mempersilahkan mereka masuk.

__ADS_1


Tiba-tiba Bu Mery berjalan tertatih menghampiri Hendrik. "Loh ini siapa, Hen? Kok mereka datang pakai seragam begini? Kalau di bilang petugas kebersihan kok seragamnya beda?" tanya Bu Mery terheran-heran sambil menunjuk ke arah karyawan Kirana satu per satu.


Hendrik menunduk seraya menggaruk tengkuk lehernya. "Ehm ... mereka ini, ...."


"Mereka temen-temen kerja Kirana, Ma. Mereka bakal bantuin Mama masak hari ini. Jadi Mama nanti hanya tinggal kasih tau apa saja bumbunya dan bagaimana cara masak yang benar saja," celetuk Kirana yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Bu Mery.


Hendrik mengelus dadanya. Ia merasa lega karena Kirana akhirnya muncul juga. Jadi ia tak akan salah menjawab.


"Aduh, nanti bayar mereka pakai uang apa? Biarlah Mama kerjain semua sendiri aja," sunggutnya.


"Nggak perlu, Ma. Mereka ikhlas kok bantuin kita," lalu Kirana berpaling ke arah karyawannya. "Bener begitu kan?"


"Iya benar, Tante. Kami datang ikhlas mau bantu-bantu Bu Carol," sahutnya.


"Ya sudah kalau gitu. Ayo buruan masuk, karena ini sudah hampir sore. Sedangkan Besok acaranya pagi-pagi sekali," titahnya lalu kembali berjalan ke dapur.


"Mas, mana rincian hutang-hutangmu? Katanya kamu mau secepatnya bayar hutang ke Tony?" tanya Kirana seraya menengadahkan telapak tangannya.


"Iya, besok aja aku kasih. Sekarang kita bantuin Mama dulu aja."


"Aku nggak ikut bantuin ya, Mas. Aku kan nggak bisa nyium bau masakan yang banyak begitu."


Hendrik menganggukan kepala kemudian menuntun Kirana agar masuk ke dalam kamarnya. "Ya sudah, kamu istirahat aja, ya. Nanti biar aku yang jelasin ke Mama kalau kamu mual jika nyium aroma masakan," ucapnya dengan seuntai senyum.


Di dalam kamar, Kirana segera menyalakan lilin aroma terapi, guna mengurangi aroma masakan yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah pintu dan jendela.

__ADS_1


Memang jarak antara kamar dan dapur tidaklah terlalu jauh. Dan ini menguntungkan Kirana. Jadi nanti jika Bu Mery membicarakannya ia akan bisa mendengarnya. Apalagi Bu Mery kalau berbicara suaranya selalu lantang.


Dan benar saja, tak lama setelah Kirana akan memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara Bu Mery yang mulai berceloteh ria.


"Mana istrimu? Ini teman-temannya disuruh bantuin Mama, sedangkan dia malah balik tidur lagi. Sudah berlagak jadi bos aja dia!" sinisnya.


"Kirana mual jika mencium bau masakan yang terlalu banyak, Ma. Jadi biar Hendrik aja yang gantiin Kirana untuk bantuin Mama," belanya seraya mulai membantu mengupas bumbu.


Bu Mery secepat kilat menepis tangan Hendrik. "Taruh pisau itu! Mau ditaruh di mana harga dirimu sebagai suami! Masa suami yang bantuin masak di dapur? Sedangkan istrinya enak-enakan tidur?


Kamu tuh tugasnya kerja di luar. Tugas di dapur itu ya istri, mau dia mual atau nggak ya itu memang sudah kodratnya sebagai perempuan!


Pokoknya harus bisa tetep masuk dapur. Kecuali kalau dia duitnya sudah banyak, tinggal di rumah mewah, pembantu ada puluhan. Wajar kalau di bersikap seperti itu. Lah ini cuma penngangguran aja banyak gaya!" lantangnya dengan mata melotot.


Semua karyawan Kirana yang sedang membantu di sana seketika berkasak-kusuk. Mereka sepertinya tak menyangka jika bos mereka yang selama ini mereka kenal punya sikap yang baik, bisa mempunyai mertua yang berkebalikannya, bahkan bermulut sangat tajam.


Hendrik menghela nafas panjang, lalu merangkul bahu Bu Mery. "Ma, sudahlah ya. Malu kalau di dengar sama orang lain. Aku juga nggak keberatan kok ngerjain semua ini," tukasnya.


Kirana yang mendengar semua omelan Bu Mery, kembali meradang. Meskipun Hendrik sudah membelanya sekalipun itu tak mampu menghilangkan rasa sakit hatinya.


Kirana kemudian berjalan keluar, lalu menuju dapur. Meskipun saat ini ia harus menahan mual, ia kuat-kuatkan dengan cara menutup hidung.


"Kalian bertiga ayo ikut saya!" Kirana menunjuk ke tiga karyawannya dengan suara tak kalah keras dari Bu Mery.


Sontak hal itu membuat semua orang yang di dapur, menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Mau kemana, Sayang? Kan kerjaan belum selesai?" tanya Hendrik menghampiri Kirana.


"Lebih baik mereka kembali kerja di toko. Dan aku juga mau keluar ke salon. Aku mau melakukan perawatan. Silahkan kamu kalau mau bantu Mama untuk acara besok," tegas Kirana dengan penuh penekanan.


__ADS_2