Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 49.


__ADS_3

Kirana berharap jika Hendrik tak tau soal toko bunga milik Kirana. Biarlah nanti waktu yang akan memberitahunya.


Tante Linda bangkit berdiri. "Sudah lebih baik kamu pergi saja dari sini. Biarlah Kirana sama saya, dan saya harap kamu bisa secepatnya urus surat nikah kalian di pencatatan sipil. Agar bisa segera mengajukan gugatan cerai!" bentaknya tanpa perduli jika saat ini telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang makan siang.


"Baiklah, saya akan pergi dari sini. Dan saya harap anda tak menyesal telah mengusir saya hari ini," sahut Hendrik seraya menatap Tante Linda. Kemudian ia berpaling pada Kirana.


"Dan untuk anak yang ada di kandunganmu, aku akan tetap tanggung jawab. Kabari aku kalau kamu akan melahirkan," angkuhnya lalu beranjak keluar tanpa permisi.


Kirana meneteskan air mata. Sedih, ya ia merasa sedih karena pernikahan yang belum genap satu bulan tapi harus berakhir dengan cara seperti ini.


"Sudah kamu jangan menangis ya. Anggap ini awal dari kebahagianmu. Jangan sesali apapun yang sudah terjadi.


Karena dari setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Coba kalau kamu nggak ada masalah sama Hendrik, pasti belum tentu kamu bisa punya toko bunga seperti sekarang kan?


Jadi berterima kasihlah pada mereka semua yang telah menyakitimu. Berkat mereka kamu bisa jadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri," tutur Tante Linda.


Kirana mengangguk lalu menghapus air matanya dengan tisu yang ada di meja.


...****************...


Keesokan harinya, acara peresmian toko bunga Kirana di gelar mulai pukul 09.00 pagi. Semua tamu undangan yang datang juga terlihat sama antusiasnya dengan Kirana. Termasuk Bapak dan Ibu Gembala.


"Pak Hendrik mana, Bu Kirana? Kok dari tadi saya belum bertemu? Apakah acaranya juga sudah bisa di mulai?" tanya Pak Gembala kala akan memulai acaranya.


"Lagi keluar kota, Pak. Jadi acaranya di mulai sekarang saja."

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah kalau begitu ayo kita jalan ke depan untuk menggunting pitanya sekalian."


Tepat pukul 12.00 siang, akhirnya acara peresmian telah usai. Semua tamu juga sudah pulang. Termasuk Bapak dan Ibu Gembala. Awalnya beliau masih ingin mengobrol dengan Kirana soal Hendrik, tapi Tante Linda dengan sopan menolak permintaan Pak Gembala itu dengan alasan Kirana mau kontrol kandungan.


"Huh!" Tante Linda dan Kirana bernafas lega secara bersamaan.


"Akhirnya mereka semua pulang juga ya, Tan. Dan toko ini sudah resmi dibuka hari ini," sorak Kirana sembari duduk di sofa ruang tunggunya.


"Iya, betul Ran. Tante juga merasa lega. Oh iya, bagaimana kalau kamu cari beberapa pegawai? Jadi nanti kamu bisa fokus sama bagian promosi dan bagian merangkai bunga di dalam," usul Tante Linda yang di sambut anggukan setuju oleh Kirana.


"Satu lagi, sebaiknya nanti kalau kamu sudah punya pegawai, kamu jangan bilang kalau namamu Kirana. Bilang aja namamu Carol. Biar nggak ada yang tau kalau ini toko bunga milikmu. Biar Hendrik dan yang lainnya nggak menganggu kamu. Bagaimana menurutmu, Sayang?"


"Kirana selalu setuju dengan pendapat, Tante. Semua ide Tante pokoknya selalu okeh!" Kirana mengancungkan kedua jempolnya.


"Baiklah kalau gitu Kirana mau bikin akun baru untuk promosi sekalian pasang iklan cari karyawan," serunya dengan mata berbinar.


Tak perlu membutuhkan waktu sampai seharian, kini sudah ada beberapa pengunjung yang memenuhi toko bunga Kirana. Mulai dari lantai satu sampai lantai 2, semua di padati oleh pembeli.


Bahkan para pelamar yang berminat bekerja di toko bunga Kirana juga mulai menghubungi nomor WA toko.


Kirana pun segera meminta mereka untuk datang sore ini juga ke toko. Agar mulai besok bisa langsung bisa bekerja. Karena Kirana besok harus kontrol kandungan. Jadi toko tidak perlu sampai tutup.


Apalagi besok kan masih suasana grand opening, jadi antusiasme para pecinta bunga pasti masih menggebu. Kirana dan Tante Linda tak mau melewatkan kesempatan itu.


Benar saja sore harinya ada 10 orang pelamar yang datang ke toko bunga. Mereka yang awalnya di jadwalkan akan bekerja mulai besok, tapi karena kondisi toko yang sedang ramai dan membuat Kirana dan Tante Linda kelimpungan.

__ADS_1


Akhirnya Kirana mengubahnya jadi dari sore hari ini juga mereka semua sudah bisa mulai bekerja. Merekapun dengan senang hati menerimanya. Apalagi Kirana juga memberinya uang makan serta uang transport di luar gaji serta bonus jika mencapai target bulanan.


Dari 10 orang yang melamar, semuanya mendapat tugas sesuai dengan keahlian dan jenis kelamin mereka. Ada yang bagian kasir, bagian pelayan, dan bagian security juga.


Malam harinya pukul 21.00 pintu toko mulai di tutup, meskipun di dalam masih ada beberapa pengunjung yang masih antri di kasir. Karena jika pintu terus dibuka, maka akan masih ada saja pengunjung yang berdatangan.


Tepat pukul 22.00 akhirnya toko resmi ditutup. Capek tapi bahagia, itulah yang Kirana dan Tante Linda rasakan.


Mereka berdua sama-sama tak menyangka jika di hari pertama pengunjung akan membludak seperti tadi. Bahkan stok bunga yang tersisa saat ini hanya tinggal 30 persen saja.


Jadi besok pagi sebelum toko buka, bunga-bunga itu sudah harus terkirim. Agar para pengunjung tak merasa kecewa jika bunga yang dicarinya tak ada.


"Yuk kita pulang, Sayang," ajak Tante Linda sembari mengandeng tangan Kirana.


Selama di perjalanan, Tante Linda kembali mengingatkan Kirana untuk mengubah penampilannya. Serta memintanya untuk tak sering berada di lantai 1. Ia cukup memantau semua kegiatan di lantai 1 dan lantai 2 melalui kamera CCTV saja.


Tante Linda sangat khawatir jika ada yang tak suka dengan Kirana lalu membuat kekacauan di sana.


Kirana lagi-lagi mengangguk setuju dengan pemikiran Tante Linda. Dia tak mau menunjukkan dirinya sebelum melihat semua orang-orang yang menyakitinya mulai berjatuhan dari kesombongan mereka masing-masing.


"Besok kamu jai periksa kandungan jam berapa? Kami berangkat sendiri bisa kan? Biar Tante yang awasin toko," Tante Linda mengelus lengan Kirana.


"Bisa kok, Tan. Lagian ini hanya kontrol biasa kok. Jadi meskipun Kirana datang sendiri juga tak masalah," sahut Kirana dengan seuntai senyum.


"Oh iya, Ran. Apa kamu ada niatan buat lihat Johan di penjara? Siapa tau dia mau jujur sama kamu soal sertifikat yang dia rampas dari Tante?"

__ADS_1


Kirana menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalanan. "Nggak, Tan. Kirana nggak mau kenal lagi sama Mas Johan. Biarlah semua yang sudah di rampas Mas Johan itu jadi jalan buat Kirana untuk sukses di bisnis yang sekarang."


__ADS_2