Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 11. Bahagia


__ADS_3

Setelah semua makanan terhidang di atas meja. Hendrik mulai mengenggam tangan Kirana.


"Ran, sekali lagi maafkan aku atas perkataanku tadi siang. Aku tau kalau kamu pasti sakit hati saat aku mengatakan kalau aku hanya sebatas kasihan sama kamu. Tapi itu memang benar, aku kasihan sama kamu.


Namun satu hal yang harus kami tau juga, kalau aku sebenarnya juga sayang sama kamu. Makanya tadi aku sudah benar-benar mengahkiri hubunganku dengan Sintya," ucapnya dengan sangat tegas.


"Maafkan aku juga tadi nggak datang di bimbingan pranikah kita yang pertama. Karena Sintya tiba-tiba saja datang lalu mengajakku untuk bicara," sambungnya lagi.


"Kamu mau kan maafin aku dan melanjutkan pernikahan kita? Aku janji nggak bakal bikin kamu sedih lagi. Aku janji bakal bikin kamu bahagia setelah kita menikah nanti," Hendrik berucap dengan isakan tangis.


"Sayang sama aku? Sejak kapan? Apa sejak penampilanku berubah?" sinis Kirana lalu menyilangkan tangannya di atas dadanya.


"Aku nggak tau, tapi yang jelas rasa sayang itu kini ada buat kamu dan anak kita yang ada di dalam perut kamu."


"Aku nggak mau hanya ucapan di mulut saja, Mas. Aku maunya bukti, bukan sekedar janji," sahut Kirana sambil mulai memakan makanan yang ada di depannya.


"Ya, aku siap membuktikannya sama kamu. Bila perlu apapun yang kamu minta, aku akan berusaha untuk mengabulkannya."


Kirana tersenyum miring. Sebenarnya masih ada perasaan terluka dan ragu di hatinya. Meskipun kini Hendrik telah berjanji akan membahgiakannya. Namun demi anak yang di kandungnya Kirana akan mencoba percaya janji yang Hendrik berikan padanya.


*****


Keesokan paginya, pukul 07.00 ada satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Kirana.


[Pagi, jangan lupa sarapan ya. Oh iya, aku sekarang mau jemput adikku dulu di bandara. Setelah itu baru jemput kamu, terus kita ke gereja bareng.] bunyi pesan itu.


Kirana kembali meletakkan ponselnya tanpa membalasnya. Lalu ia segera mandi dan bersiap. Karena ia tak mau telat lagi datang ke gereja kali ini.


Pukul 09.30, terdengar suara pintu di ketuk. Kirana yakin kalau itu pasti Hendrik. Karena dari share location yang Hendrik kirim juga mengatakan kalau dia sudah sampai.


"Hai, kamu makin cantik aja," sapa Hendrik dengan senyum mengembang.


"Makasih," sahut Kirana cuek.

__ADS_1


Kirana memang sengaja berlagak cuek di depan Hendrik mulai sekarang. Dia ingin membuktikan soal janji yang Hendrik ucapkan kemarin malam. Kalau memang Hendrik mulai sayang sama Kirana, tentu dia nggak akan marah meskipun Kirana bersikap biasa aja sama dia.


"Setelah pulang dari bimbingan, mau nggak kalau kita pergi cari cincin buat pernikahan kita?" tawar Hendrik sambil sesekilas melirik ke arah Kirana duduk.


"Nggak perlu, Mas. Nanti yang ada kamu malah nawar harga lagi ke tokonya. Aku malu, jadi lebih baik nggak usah pakai cincin nikah segala. Uangnya bisa kamu pakai buat modal usahamu aja."


"Kali ini aku nggak bakal nawar kok. Bahkan kalau kamu mau beli kalung, anting, gelang, atau yang lainnya juga silahkan. Aku nggak masalah."


"Kamu kenapa tiba-tiba berubah begini sih, Mas? Kok aku jadi takut ya." Kirana bergidik ngeri, seakan-akan dia sedang lihat hantu yang sangat menakutkan.


"Aku baru menyadari kalau ternyata kamulah jodohku yang sebenarnya. Makanya mulai sekarang aku mau dan siap melakukan apapun demi kamu dan anak kita nanti."


Tanpa sadar, akhirnya mereka telah tiba di parkiran gereja. Pak Gembala pun telah menunggu di dalam.


Selama jam bimbingan pranikah, masing-masing mendapat pertanyaan yang sama. Dan hampir semua jawaban mereka sama. Itu menandakan kalau memang mereka telah siap untuk membina rumah tangga.


Dua jam kemudian, bimbinganpun berakhir. Karena Pak Gembala juga harus ada jadwal kunjungan ke rumah jemaat.


Kini saatnya Hendrik mengantar Kirana untuk memilih perhiasan yang dia mau.


Saat Kirana sedang asik memilih, tiba-tiba terlihat Sintya berjalan menghampiri mereka.


"Selamat ya, Ran. Kamu sudah berhasil merebut Mas Hendrik dariku," Sintya berucap dengan mata berkaca, lalu ia mengalihkan pandagannya ke arah Hendrik.


"Dan untuk kamu, Mas. Semoga kamu nggak menyesal sama pilihan kamu ini."


Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, ia berlalu pergi menjauh. Padahal awalnya Kirana mengira akan terjadi perdebatan pelik lagi antara dia dan Sintya. Namun ternyata hal itu tak terjadi.


"Sebenarnya setelah aku pergi kemarin, ada kejadian apa lagi ya disana? Kok mereka bisa jadi begini sekarang?" Kirana bertanya-tanya dalam hati.


"Sudah nemuin yang kamu mau?" Hendrik membuyarkan lamunan Kirana.


"Eh, sudah Mas. Aku mau kalung sama cincin ini aja. Terus liontinnya aku mau yang bentuk love itu aja deh. Sepertinya bentuknya cantik, aku suka," wajah Kirana mulai berbinar lagi, membuat Hendrik merasa lega. Karena usahanya sedikit berhasil.

__ADS_1


Seusai membayar, Hendrik segera mengantar Kirana pulang ke kos-nya.


Saat di perjalanan Kirana mengajak bicara Hendrik. "Mas, kapan kita USG? Aku pengen tau perkembangan anak kita," tanya Kirana dengan sedikit manja.


"Harus ya USG itu?"


"Haruslah! Apa kamu keberatan buat ngluarin uang untuk aku pakai USG?"


"Bukan gitu, Ran. Aku kan hanya tanya, apakah harus? Aku kan nggak pernah hamil. Kalau memang harus, ya ayok. Kapan kamu mau, nanti aku antar."


"Oh, gitu. Kirain kamu keberatan. Hehehe."


Hendrik tersenyum sembari mengacak lembut rambut Kirana menggunakan tangan kirinya.


"Tapi kalau kita USG sebelum kita nikah, tar kalau di tanya siapa suaminya, aku jawab apa? Kan kita belum nikah resmi?" Kirana mengetuk dagunya dengan telunjuk.


"Hm, jadi maunya kamu gimana?"


"Setelah kita nikah aja deh, Mas." Kirana tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.


*****


Satu bulan kemudian.


Semua persiapan pernikahan antara Kirana dan Hendrik sudah hampir seratus persen selesai.


Uang gaun yang waktu itu di tawar oleh Hendrik, akhirnya ia batalkan. Hendrik siap membayar sesuai harga normalnya, yaitu sebesar sepuluh juta rupiah.


Bahkan Johan pun akhirnya mau memberi restu pada Kirana dan Hendrik. Dan dia siap menjadi wali dari Kirana nanti.


Untuk undanganpun sudah mulai di sebar, biarpun yang mereka undang nanti hanya beberapa teman dekat saja.


Hanya saja orangtua Hendrik tetap bersikukuh tidak mau datang ke acara pernikahan ini. Banyak alasan yang mereka buat. Mereka hanya mengirim adik dan dua orang ponakan Hendrik saja untuk hadir.

__ADS_1


Sedih, tapi bagi Kirana itu hal yang bisa di maklumi. Apalagi usia orangtua Hendrik kini sudah di atas 65 tahun.


__ADS_2