
Dengan perasaan emosi Hendrik mengendarai kendaraannya menuju ke rumah kontrakannya. Ia ingin memastikan ucapan dari Axel.
Empat puluh lima menit kemudian, Hendrik telah sampai. Di sana, Axel dan Sinta sudah menunggunya di depan pintu.
"Kalian berdua kenapa masih di sini? Aku pikir kalian sudah jalan ke rumah sakit." seloroh Hendrik saat melepas helmnya.
"Maunya sih gitu, Bang. Tapi ini kan rumah pintunya rusak. Nanti kalau ada orang niat jahat yang masuk ke dalam rumah bagaimana? Jadi ya terpaksa kita jagain, sambil nunggu Abang sampai dulu."
Netra Axel menyapu sekeliling. "Terus Kak Kirana kemana, Bang? Apa dia masih di rumah sakit? Kenapa nggak diajak pulang aja? Kak Kirana kan lagi hamil tua, Bang? Nanti kasihan kalau sampai kecapean."
Hendrik baru sadar, jika Axel belum tau duduk persoalan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Hingga membuat Pak Robert masuk rumah sakit kembali.
"Dia nggak ada di rumah sakit. Dia pasti kabur karena takut aku laporkan kejahatannya ke kantor polisi." tegasnya.
Axel dan Sinta saling adu pandang beberapa detik. "Memangnya ada masalah apa? Kenapa Kak Kirana sampai mau dilaporkan? Coba kamu cerita dulu sama aku, Bang." tuntut Axel seraya menarik tangan Hendrik agar ikut duduk dengannya di kursi teras.
Hendrik menceritakan semua runtutan kejadian dari awal dia pulang, hingga sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Axel dan Sinta sama-sama terkejut tatkala mendengar penuturan dari Hendrik.
Axel bangkit berdiri, "Tapi nggak gitu juga caramu, Bang! Masa kamu tega ngunci Kak Kirana sendirian di rumah. Dia itu sedang hamil anakmu loh! Bagaimana kalau misal sekarang ini Kak Kirana bukan kabur, tapi melainkan ada perampok yang datang ke rumah ini tadi?" Axel mencoba menerka-nerka kejadian yang dia sendiri juga tak yakin.
"Kalau memang Kak Kirana kabur, pasti ia akan membawa semua baju-bajunya kan? Lah ini kopernya aja tertinggal?" sambung Sinta.
"Mungkin juga Kak Kirana memang berniat pergi dari sini, tapi terlanjur ada perampok yang datang." ucap Axel lagi.
Hendrik yang melihat kedua adiknya saling menerka-nerka kejadian, jadi semakin pusing.
"Nggak mungkin ada perampok. Mana ada orang yang merampok rumah kecil seperti ini?" sanggah Hendrik lalu ia beranjak masuk ke dalam rumah.
Ia berencana akan mencari kotak perhiasan Kirana yang waktu itu sempat ia lihat. Karena jika ia bisa menemukan kotak perhiasan itu, maka biaya rumah sakit Pak Robert sudah pasti aman.
Namun sudah cukup lama ia mengacak-acak isi lemari baju dan kopernya, Hendrik tak juga menemuka kotak perhiasan itu. Padahal ia sangat berharap jika Kirana saking paniknya akan kabur, maka kotak itu pasti akan tertinggal sama halnya dengan kopernya yang saat ini juga tertinggal.
"Sial! Ternyata dia tak menyisakan sedikitpun barang berharganya di rumah ini. Lalu bagaimana biaya rumah sakit Papa? Argh! Awas kamu Kirana, aku akan laporkan kamu. Kamu sudah membuat Papa ku masuk rumah sakit, dan sekarang kamu malah lari dari tanggung jawab!" geramnya seraya meninju lemari baju yang ada di depannya.
...----------------...
__ADS_1
Di rumah sakit tempat Kirana dirawat.
Kirana meninggikan posisi kepalanya dengan menumpuk beberapa bantal di punggungnya. Hingga sekarang ia seperti sedang duduk. Netranya menatap ponselnya yang terus saja berdering. Panggilan masih dari orang yang sama sejak tadi. Ia sudah malas untuk berbicara dengan Hendrik.
"Permisi," seorang suster berjalan masuk sambil mengendong bayi cantik Kirana. "Ini bayinya, Bu. Silahkan diberi ASI terlebih dulu," ucap suster itu seraya meletakkan bayi mungil itu kepelukan Kirana.
Air mata Kirana kembali menetes, ia memeluk bayi mungil yang belum sempat ia beri nama itu. Sesekali ia juga mencium kedua pipinya yang terlihat menggemaskan.
Tak dipungkiri, saat Kirana menatap lekat wajah putrinya, ternyata ia sangat mirip sekali dengan Hendrik. Tapi meskipun begitu, hal itu tak lantas membuat rasa sayang Kirana berkurang. Justru ia semakin sayang pada peri kecilnya itu.
"Nggak masalah, jika wajahmu mirip sekali dengannya. Tapi mama harap, kamu nggak menuruni sikap buruknya ya, Nak," harap Kirana seraya membelai lembut pipinya.
Suster segera membantu menurunkan posisi bantal yang tadi sempat Kirana pakai untuk punggungnya bersandar, agar ia bisa berbaring dengan buah hatinya.
"Saya tinggal dulu ya, Bu. Nanti kalau perlu bantuan, tinggal tekan tombol yang ada di atas ini," jelasnya ramah.
Pukul 02.00, Kirana masih saja terjaga. Ia sulit sekali untuk memejamkan matanya. Lantaran masih harus beradaptasi dengan kondisi baru baginya. Apalagi peri kecilnya juga mengajaknya untuk bergadang.
"Sayang, mama akan beri kamu nama Arshinta Kirania Pratista. Yang artinya perempuan cantik dan bercahaya. Dan semoga kelak kehidupanmu selalu bahagia ya, Nak," tuturnya lembut.
Arshi pun memberi respon dengan tersenyum. Membuat Kirana semakin gemas melihatnya.
"Hai, kalian belum tidur? Apakah aku boleh masuk?" sapanya terdengar ramah.
Degh!
Suara yang tak asing bagi Kirana. Segera ia memalingkan wajahnya ke sumber suara.
"Kak Richard?" serunya dengan mata membulat sempurna.
Richard melangkah semakin mendekat, meskipun Kirana belum menjawab pertanyaannya tadi. Tapi ia yakin jika Kirana tak akan menolaknya. Apalagi jika dirinya beralasan akan mengecek kondisi bayinya.
"Maaf ya, kalau aku menganggu. Kebetulan tadi aku lagi lewat depan kamarmu, terus aku lihat kamu masih belum tidur. Jadi sekalian aja aku ingin mengecek keadaanmu dan bayimu. Bagaimana, apakah kamu ada keluhan saat BAK atau BAB?" tanyanya lembut.
Kirana yang awalnya sempat panik, kini mulai terlihat tenang. Lagipula, tidak ada salahnya jika Richard datang ke ruang rawat inapnya. Namun wajahnya masih tetap acuh.
__ADS_1
"Nggak ada," sahutnya singkat.
"Syukurlah,"
Suasana hening beberapa menit. Kirana juga kembali menyibukkan diri dengan mengajak ngobrol Arshi, putri kecilnya.
"Ran, aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku sangat menyesal telah memaksakan kehendak agar kamu mau memilihku saat itu. Aku sadar aku salah.
Sekarang aku ikut bahagia saat melihatmu sudah melahirkan buah cinta kalian. Sekali lagi selamat ya," ujarnya masih dengan posisi menatap wajah lucu Arshi.
"Makasih."
"Hendrik kemana? Kok kamu sendirian? Apakah dia masih kerja?" tanyanya lagi, sepertinya Richard memang penasaran dengan tidak adanya Hendrik sedari tadi.
"Iya."
Kirana selalu menjawab pertanyaan dari Richard dengan singkat. Tujuannya agar Richard segera keluar dari kamarnya. Tapi sepertinya Richard justru semakin ingin tetap berada di sana.
"Kak, bisa tolong tinggalkan kami berdua sekarang? Aku ingin istirahat." usir Kirana halus.
"Baiklah, tapi kalau kamu butuh apa-apa silahkan hubungi aku ya," lalu ia beranjak keluar.
Kirana memutar bola mata malas. "Ngapain aku hubungin kamu, kalau aku masih bisa panggil suster jaga?" batin Kirana kesal.
...----------------...
Pagi harinya setelah di lakukan pemeriksaan, Kirana mencoba membujuk Richard agar di ijinkan pulang hari ini juga. Lantaran ia juga harus menyelesaikan masalahnya yang lain.
"Tolong ijinkan kami pulang hari ini juga kak. Kalau pun misal Arshi belum boleh pulang nggak apa. Cukup ijinkan aku saja untuk pulang sekarang. Aku ada urusan penting," pinta Kirana mengiba.
Richard mengerutkan keningnya. "Urusan penting? Apakah aku boleh tau? Karena saat ini kamu masih tanggung jawabku sebagai pasienku. Aku nggak bisa kasih ijin kamu untuk pulang begitu saja jika keadaanmu belum pulih benar."
Kirana sempat memikirkan alasan apa yang tepat, tapi otaknya tiba-tiba buntu. Tak ada alasan masuk akal yang terlintas di pikirannya saat ini.
"Aku... aku,"
__ADS_1
Richard duduk di sofa seraya menatap serius Kirana. "Kamu kalau ada masalah, bilang aja sama aku. Siapa tau aku bisa bantu kamu. Tenang aja, aku nggak akan ungkit-ungkit lagi kebaikanku seperti waktu itu."
"Aku mau ke kantor polisi, Kak. Aku mau laporkan tindakan kekerasan yang dilakukan Kakak ipar dan mertuaku semalam sebelum aku dilarikan ke rumah sakit," sahut Kirana sambil tertunduk.