Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 55.


__ADS_3

Hendrik akhirnya memutuskan untuk menghubungi Sintya kembali setelah memikirkan dengan matang.


"Halo, Mas. Ternyata kamu hanya butuh waktu satu jam saja untuk memutuskan tidur bersamaku," ledek Sintya dengan angkuhnya.


"Lebih tepatnya untuk mengetahui keberadaan Kirana!" Hendrik tak terima jika Sintya mengatakan kalau Hendrik ingin tidur bersamanya. "Kapan kamu siap? Dan di mana kita bertemu?" tantang Hendrik.


Ia berani berucap seperti itu, lantaran ia telah menyusun rencana juga untuk Sintya.


"Hahahaha," Sintya tertawa besar. "Kamu sabar dong, Mas. Kalau hari ini aku nggak bisa. Bagaimana kalau besok kita bertemu di rumahku? Karena aku harus menyiapkan kamar pengantin untuk kita," ucap Sintya dengan manja.


Hendrik ingin muntah rasanya saat mendengar Sintya mengatakan hal seperti itu. Namun semuanya ia tahan, sampai semua yang ia inginkan tercapai.


"Baiklah, kabarin aku jam berapa kamu siap besok!" Hendrik mematikan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Sintya lagi.


Kemudian, ia menghubungi seseorang yang terkenal sebagai gigolo. Ia meminta tolong untuk dicarikan seorang laki-laki yang memiliki tubuh seperti dia. Dan memintanya datang besok ke alamat yang akan dia kirim.


Setelahnya ia tersenyum puas. "Jangan kamu pikir aku bodoh, Sin! Kamu licik, akupun bisa jauh lebih licik dari kamu." gumam Hendrik sinis.


...****************...


Sedangkan di sebrang sana Sintya tersenyum senang. Lantaran apa yang dia inginkan besok akan menjadi kenyataan.


Dia mengarahkan laju mobilnya ke arah toko bunga yang ia yakini milik Kirana. Namun saat sudah sampai di sana, ia sama sekali tak melihat tanda-tanda kalau Kirana lah pemilik toko bunga itu.


Bahkan pegawai toko itu juga mengatakan kalau pemilik toko bunga ini bernama Bu Carol, dan dia tidak sedang hamil.


Tapi karena Sintya nggak bisa percaya begitu saja, akhirnya dia memutuskan untuk memesan bunga mawar dua ratus tangkai serta jasa decor kamar pengantin. Karena yang ia tahu, bagian decor selalu di awasi bahkan kadang ditangani langsung oleh sang pemilik toko.


Sore harinya Sintya menerima telpon yang harus memupus harapannya untuk bertemu dengan sang pemilik toko LiNa Florist yang ia yakini kalau itu Kirana. Lantaran sang pemilik toko tak bisa memenuhi permintaan Sintya.


"Sial! Padahal rencanaku adalah ingin menunjukkan pada Kirana kalau suaminya yang belum resmi cerai dengannya akan memadu kasih sama aku!" geram Sintya kesal.


"Ahh, tapi aku kan bisa merekam semua kejadian besok, lalu mengirimnya pada Kirana." Sintya tertawa besar kali ini.


Keesokan harinya, sesuai jam yang di janjikan, beberapa karyawan LiNa Florist datang ke rumah Sintya dengan membawa bunga sesuai pesanannya.


Rumah mewah dengan dua lantai, yang berkonsep rumah scandinavian. Wajar saja jika Sintya tinggal di rumah seperti itu, karena kedua orang tuanya seorang arsitek. Jadi mereka bisa mendesain rumah sesuai yang mereka mau.


Tapi sayangnya Sintya hanya tinggal seorang diri di sana. Lantaran kedua orang tuanya lebih memilih untuk tinggal di pulau Dewata. Dan dia juga anak tunggal.


"Selamat pagi, Kak Sintya. Kami dari LiNa Florist, apakah kami bisa mulai mendekor kamarnya sekarang?" sapa mereka dengan sopan.


"Oh, tentu! Ayo silahkan masuk. Pokoknya saya mau dekorasinya nanti harus yang benar-benar bagus!" titahnya sambil berjalan menuju kamar yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Beberapa karyawan yang berjalan mengikuti langkah Sintya merasa takjub dengan pernak-pernik yang menghiasi beberapa sudut di dalam sana. Sintya hanya melirik sinis karena ulah norak para karyawan itu.


Beberapa jam kemudian, tepat sekitar jam 12.30, dekorasi kamar telah selesai. Namun bukan Sintya namanya kalau tidak membuat masalah. Ia terus saja meminta di rombak ulang. Hingga sampai pukul 17.00, mereka akhirnya bisa memuaskan keinginan Sintya.


"Okeh, kalian boleh pulang! Nanti uang sisa pembayarannya akan saya transfer!" ujar Sintya angkuh.


Setelah mengantar semua karyawan itu keluar pintu. Sintya gegas mandi, karena ia akan janji bertemu dengan Hendrik pukul 19.00 malam.


Ia sengaja memilih gaun dengan model yang sangat terbuka. Agar bisa membuat Hendrik lebih terpesona lagi dengannya. Tak lupa ia juga memoles wajahnya dengan riasan yang sangat tebal. Setebal percaya dirinya yang bisa meluluhkan hati Hendrik kembali.


Pukul 18.45, Sintya mengirim pesan pada Hendrik.


[Mas, aku harap kamu nggak telat datangnya. Karena aku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kamu.] pesan terkirim dan langsung terbaca.


[Ini aku sudah sampai di depan rumah kamu. Tolong buka pintunya ya.] balas Hendrik dengan cepat.


Mata Sintya berbinar kala membaca pesan dari Hendrik. Ia tak Menyangkan jika Hendrik justru jauh lebih bersemangat dari pada dia. Buktinya belum jam 7 tapi dia sudah sampai di sini. Kalau misal Hendrik tak semangat, pasti ia akan datang terlambat.


Sintya segera berlari kecil untuk membukakan Hendrik pintu. Tapi sebelum membuka pintu ia kembali menyemprotkan parfumnya. Padahal saat ini aroma parfumnya sudah tercium hingga jarak 1 kilometer.


Di dalam mobil, Hendrik memberi arahan ulang pada laki-laki yang sudah ia sewa kemarin.


"Nanti kalau aku telpon kamu, berarti itu waktunya kamu masuk ke dalam. Untuk kamarnya nanti akan aku fotokan. Dan satu lagi, sebisa mungkin nanti kalau waktu kamu tidur dengannya. Kamu jangan mengeluarkan suara sedikitpun," jelas Hendrik panjang lebar pada laki-laki itu.


Hendrik turun dari mobil dan berjalan ke arah Sintya yang sudah menunggunya di depan pintu.


Ada senyum genit yang Sintya arahkan padanya. Membuat Hendrik ingin kembali mengeluarkan isi perutnya.


"Aku yakin kamu pasti sudah nggak sabar ya," bisik Sintya di telinga kala Hendrik sudah berdiri di depannya.


"Tentu," sahut Hendrik bohong.


Sintya menarik tubuh Hendrik agar masuk ke dalam, tapi saat Sintya ingin mengunci pintunya, tangan Hendrik dengan cepat menghalangi Sintya.


Hendrik berpura-pura sudah sangat terangsang. Ia sengaja mendorong tubuh Sintya menjauh dari pintu yang hanya tertutup biasa.


"Mas, pintunya belum aku kunci," protes Sintya, namun di lain sisi ia tak mau menolak kala Hendrik mengajaknya segera masuk ke dalam kamar.


"Buat apa di kunci, justru bagus kan kalau ada yang lihat kita? Mereka akan meminta kita untuk menikah," sahut Hendrik asal. Padahal ia hanya ingin melancarkan aksinya.


"Ah, kamu genit deh, Mas. Jadi kamu sudah pengen kita menikmati malam itu lagi?" ucap Sintya sambil mencubit pinggang Hendrik.


"Tapi sebelum kita melakukannya, aku ingin kamu kasih tau dulu Kirana ada di mana? Dan siapa laki-laki yang sudah membawanya pergi dari apartemenku," tawar Hendrik menghentikan aksi tangannya yang sudah mulai kemana-mana.

__ADS_1


Padahal saat ini Sintya sudah mulai terangsang. "Bisa nggak kita bahasnya nanti aja, Mas? Aku janji bakal kasih tau kamu," mohon Sintya.


"Kasih tau aja sekarang, toh aku sudah ada di sini kan sama kamu? Masa kamu masih nggak percaya sama aku?" Hendrik berucap sambil mencium tengkuk leher Sintya.


Ia sengaja lakukan agar Sintya tak menaruh curiga padanya.


Sintya membuang nafas kesal, "Baiklah aku percaya sama kamu, Mas." ia mundur menjauh.


"Kirana tinggal di rumah Tante Linda. Alamatnya ada di Pakuwon City blok xx/xx. Dan saat itu dia pergi sama laki-laki yang aku sendiri juga nggak kenal." sahut Sintya dengan nada kesal.


Di saat bersamaan Hendrik menelpon laki-laki itu. Yang menandakan sekaranglah saatnya dia masuk ke dalam rumah.


"Makasih, ya kamu sudah kasih tau aku.Besok aku akan kesana. Dan mencari tau sendiri siapa laki-laki itu." Hendrik bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana, Mas?" Sintya memeluk Hendrik dari belakang.


"Aku mau matikan lampunya dulu. Sekalian mau ambil tutup mata buat kamu. Biar kita mainnya semakin seru." sahutnya lalu melepas tanyan Sintya yang melingkar di pinggangnya.


Padahal sebenarnya Hendrik sedang menunggu datangnya laki-laki itu. Namun tiba-tiba matanya menangkap adanya kamera tersembunyi yang sudah di pasang Sintya.


Hendrik balik badan, "Sin, aku punya ide, gimana kalau kita mainnya sambil kamu aku ikat tangan dan tutup matamu? Biar sama seperti mereka yang main di video itu."


"Apapun, Mas. Asal kamu bisa merasa terpuaskan."


Hendrik berjalan mengambil tali serta kain untuk Sintya. Tujuannya hanya agar Sintya tak bisa melihat siapa yang sedang menidurinya nanti.


Lima menit kemudian, Sintya sudah terikat dengan mata tertutup. Kemudian Hendrik memasukkan laki-laki itu ke dalam kamar. Sedangkan ia sendiri akan menunggu di luar kamar sampai mereka selesai.


Sebelum keluar kamar, Hendrik mengambil kamera tersembunyi itu dan memasukkannya ke dalam kantongnya.


Hingga pukul 22.00, akhirnya laki-laki itu keluar kamar dengan wajah lelah.Wajar saja, hampir tiga jam mereka melakukan itu. Kemudian Hendrik memintanya untuk cepat keluar.


Saat Hendrik melihat keadaan di dalam kamar, ternyata Sintya sedang memanggil namanya. Hendrik lalu menyalakan lampunya kembali. Kemudian ia cepat-cepat membuka kemeja, ikat pinggang dan celana panjangnya.


Setelah dirasa sudah cukup menyakinkan, ia lanjutkan dengan membuka penutup mata Sintya.


"Bagaimana permainan kita tadi?" goda Hendrik sambil memasang wajah lelah.


"Kamu sangat hebat, Mas. Aku nggak nyangka ternyata kamu bisa seliar itu. Semoga aja aku juga bisa hamil anakmu secepatnya," tutur Sintya.m tersenyum malu-malu.


Hendrik terkejut saat mendengar ucapan Sintya. Bagaimana bisa Sintya masih berharap bisa hamil darinya? Namun ia menutupi keterkejutannya barusan dengan ikut tersenyum.


Toh kalaupun Sintya sampai hamil, itu bukan anaknya. Melainkan anak dari laki-laki bayaran tadi. Jadi ia tak bisa dituntut untuk tanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2