Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 52.


__ADS_3

Keesokan harinya, mulai dari pagi Hendrik sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Bahkan ia sampai rela menonaktifkan ponselnya dari semalam agar ia bisa beristirahat cepat dan tak ada yang mengganggunya.


Tepat pukul 09.00 pagi, dia sudah duduk di kursi tunggu depan poli obgyn. Banyak para perawat bahkan ibu-ibu yang saling berbisik saat melihat keberadaan Hendrik di sana. Lantaran Hendrik yang datang seorang diri ke poli obgyn membuat mereka merasa heran.


Sedangkan dari ujung koridor nampak Richard berjalan sambil memainkan ponselnya. Ia sama sekali tak tahu jika kehadirannya sudah di nantikan seseorang.


Hendrik yang melihat Richard berjalan ke arahnya segera berdiri lalu menghampirinya. "Selamat pagi, Dok!" sapa Hendrik saat Richard sudah berdiri di depannya.


"Pagi!" Richard menjawab sekilas. Ia tetap lanjut berjalan menuju ruang prakteknya sambil tetap memperhatikan ponselnya.


Richard masih belum sadar jika yang menyapanya adalah Hendrik, suami Kirana. Sedangkan Hendrik merasa kalau Richard sengaja mengabaikannya.


Hendrik berusaha mengejar Richard kembali. "Maaf, bisa kita bicara sebentar?" tanya Hendrik dengan suara sedikit berteriak.


Richard berpaling ke belakang sambil menunjuk dirinya. "Apakah yang anda tanya adalah saya?" tanya Richard dengan alis berkerut.


Ia mengulurkan tangannya. "Ya, betul. Saya Hendrik suami Kirana. Apakah kita bisa bicara sebentar saja?" Hendrik mengulangi lagi pertanyaannya.


"Oh, maaf saya tidak bisa kalau sekarang. Karena saya sedang berada di jam kerja," tolaknya cepat.


Sebenarnya bisa saja Richard berbicara dengan Hendrik. Lantaran jam prakteknya baru akan mulai sekitar satu jam lagi. Tapi buat apa juga dia memberikan waktunya itu untuk berbicara dengan orang yang menurutnya adalah saingannya?


"Baiklah, bagaimana kalau setelah anda selesai kerja hari ini? Saya mau membahas masalah ...." ia nampak berpikir sesaat. "Emm, masalah kandungan Kirana. Ya, saya mau bahas kandungan Kirana saat ini," tutur Hendrik yang sengaja berbohong demi tercapai tujuannya.


Richard menaikkan satu alisnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lalu kenapa Bu Kirana tidak ikut kemari, Pak?"


"Istri saya sedang mual parah, jadi tidak bisa ikut. Bagaimana, Dok? Apakah saya bisa bicara nanti setelah jam tugas anda selesai?" sedikit memaksa.


Richard mengamati wajah Hendrik yang terlihat gugup. Ada perasaan muak saat melihatnya. "Saya tidak bisa janji. Karena jadwal saya cukup padat. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak!" ia balik badan lalu berjalan meninggalkan Hendrik yang masih berharap.


"Tunggu, Dok!" Hendrik kembali menyusul Richard. "Ini kartu nama saya, tolong kabarin saya kalau anda sudah ada waktu luang." Hendrik menyodorkan kartu nama miliknya.


"Lebih baik ajak Bu kirana datang kemari, Pak. Agar saya bisa langsung memeriksanya." Richard tak mau menerima kartu nama Hendrik dan pilih melanjutkan masuk ke dalam ruangannya.


Hal itu membuat Hendrik naik darah. "Sial! Kalau bagini ceritanya, aku harus cari tau keberadaan Kirana melalui siapa?" Ia mengacak rambutnya kasar. Terlihat sekali wajah frustasinya.

__ADS_1


Tiba-tiba terlintas satu nama di pikirannya. "Ahh, apa sebaiknya aku tanya pada Johan saja? Pasti Johan tau di mana alamat Tante Linda. Aku akan memberinya uang jika perlu agar ia mau memberiku alamat Tantenya itu. Tapi Johan di tahan di lapas mana?" lagi-lagi Hendrik di buat stress karena memikirkan ini.


Dengan langkah gontai Hendrik kembali menuju parkiran mobil. Ia berencana pergi ke rumah makannya saja.


Di saat bersamaan, ketika mobil Hendrik akan keluar dari area parkir, dari jauh terlihat mobil Tante Linda yang dikendarai oleh Kirana memasuki area parkir mobil. Untungnya Hendrik tak tau jika itu mobil Tante Linda yang telah berpapasan dengannya.


Setibanya di rumah makan, ia kembali di kejutkan dengan kedatangan Sintya. Perempuan yang dulu pernah singgah di hatinya. Tak ada berubah dari Sintya. Ia tetap suka berpakaian seksi dengan menguncir satu rambutnya.


"Hai, Mas. Kok tumben wajahmu terlihat kusut begitu? Sepertinya kamu sedang ada masalah dengan Kirana ya?" ucap Sintya kala Hendrik berjalan di sampingnya.


"Bukan urusanmu!" sahutnya cuek.


Sintya menahan lengan Hendrik. "Tunggu Mas, aku datang ke sini karena ingin berbicara penting sama kamu," pinta Sintya mengiba.


"Kita bicara lain waktu saja. Sekarang aku sedang sibuk dan nggak mau bertemu dengan siapapun!" tegasnya tanpa berpaling. Tatapannya tetap ke depan.


Hal ini membuat Sintya merasa semakin tertantang untuk menaklukkan Hendrik kembali. Ia benar-benar tak peduli jika nanti ia akan di cap sebagai pelakor.


"Benarkah? Padahal aku mau membantumu jika kamu ingin mencari keberadaan Kirana loh," Sintya berucap sambil tersenyum genit dan memainkan ujung rambutnya.


Sintya mendekatkan bibirnya ke telinga Hendrik. "Ya, aku akan kasih informasi tentang Kirana," bisiknya dengan nada menggoda.


"Kita bicara di atas!" Hendrik menarik tangan Sintya sedikit kasar.


"Sabar dong, Mas. Kalau ada yang lihat kan bisa jadi bahan gosip kita nanti."


Hendrik melempar tubuh Sintya ke sofa yang ada di ruangan kerjanya. "Sekarang kasih tau aku, dari mana kamu tau kalau aku sedang mencari keberdaan Kirana?" tatapan Hendrik sangat tajam.


Sintya tersenyum miring, lalu menyilangkan tangan dan kakinya. "Apa sih yang aku nggak tau soal kamu, Mas? Ini semua karena aku cinta mati sama kamu."


"Aku hanya minta kamu jawab pertanyaanku. Jika kamu hanya ingin membahas sesuatu yang nggak penting, aku akan mengusirmu sekarang juga!" bentak Hendrik yang mulai merasa kesal.


Ya, dia mau mengajak Sintya naik ke atas, lantaran hanya untuk mendapatkan informasi soal Kirana. Selebihnya dia tidak butuh lagi.


"Duduklah sini, Mas," Sintya menepuk sofa yang ada di sampingnya. "Kita bicara dengan santai, agar kamu bisa menyimak semua info yang aku berikan."

__ADS_1


Dengan berat hati Hendrik mengikuti kemauan Sintya. "Buruan! Kamu tau dari mana kalau aku mencari keberadaan Kirana sekarang!"


"Salah satu temanku ada yang memberitahuku kalau katanya waktu itu dia melihat Kirana kabur dari apartemenmu bersama dengan laki-laki lain. Makanya beberapa hari terakhir aku ingin menemuimu. Tapi sayangnya kamu selalu sibuk," Sintya pura-pura sedih.


"Beri tau aku kemana Kirana pergi dengan laki-laki itu. Dan apakah kamu juga kenal dengan laki-laki itu?" cecar Hendrik tak sabar.


"Aku tau di mana Kirana, dan siapa laki-laki itu," Sintya menggeser posisi duduknya agar lebih dekat lagi dengan Hendrik. "Tapi semua informasi ini tentunya nggak gratis."


Hendrik terlonjak. "Apa maksudmu? Kamu mau uang?" tanya Hendrik.


"Buat apa aku uang? Aku sudah punya kalau uang!" Sintya melirik Hendrik.


"Lalu?"


Sintya mengelus pipi Hendrik "Bayar aku dengan kehangatan seperti yang pernah kamu berikan pada Kirana."


Hendrik menepis tangan Sintya. "Nggak bisa!" Aku nggak mungkin melakukan hal itu di belakang Kirana."


Sintya bangkit berdiri lalu berjalan ke arah jendela melihat jalanan. "Kamu kira aku nggak tau kalau setiap malam kamu memuaskan hasratmu menggunakan jasa wanita penghibur? Aku juga tau kalau Kirana nggak mau kamu sentuh kan semenjak kalian resmi menikah?" sinisnya.


Hendrik menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Sintya bisa tau banyak hal tentangnya.


"Aku akan pikirkan lagi, sekarang kamu pulanglah!" usir Hendrik sambil membukakan pintunya.


"Baiklah, aku akan tunggu kabar bahagia darimu, Mas," Sintya berjalan keluar ruangan dengan perasaan puas.


Ia sangat yakin jika Hendrik akan menerima tawarannya itu. Karena Sintya tau jika Mamanya Hendrik sangat menginginkan cucu. Maka Hendrik pasti akan melakukan apapun demi menemukan Kirana yang sedang mengandung anaknya.


Biarlah saat ini dia mengalah dengan memberitahu keberadaan Kirana pada Hendrik.


Tapi setidaknya sebelum itu terjadi, ia telah berhasil membuat Hendrik tidur bersamanya atau kalau bisa mengahamilinya juga. Dan beberapa minggu kemudian, ia akan mengatakan jika dirinya juga telah hamil anak Hendrik.


Maka rencana selanjutnya adalah membuat Kirana meminta cerai lantaran tau tentang perselingkuhannya dengan Hendrik lalu tak lupa ia juga akan membuat Kirana keguguran.


Ya, itulah rencana busuk Sintya saat ini. Namun akankah semua rencananya berhasil?

__ADS_1


__ADS_2