Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 36.


__ADS_3

"Maaf ya, Tante kalau saya menganggu obrolan penting kalian. Soalnya saya harus segera pergi ke rumah makan." ucap Hendrik kala pintu kamar baru dibuka.


"Kita nggak lagi ngobrol penting kok," Kirana menoleh memberi kode kedipan mata pada Tante Linda. "Iya kan Tante?"


"Iya, tadi kita hanya ngobrolin masa kecil Kirana. Sekalian dia minta tolong di gosok punggungnya pakai minyak hangat. Katanya mual-mual terus gitu."


Hendrik nenganggukan kepalanya, padahal dia sudah mendengar semua obrolan dari Tante Linda dan Kirana. Mulai dari yang Kirana ingin kabur, soal sertifikat, hingga nasehat terakhir yang Tante Linda berikan pada Kirana.


Hendrik cukup merasa puas kala Tante Linda menasehati Kirana agar tak mudah berpikir untuk kabur darinya, tapi ia kurang suka kala Tante Linda mengajarkan Kirana untuk menguasai semua milik Hendrik.


Bagi Hendrik itu hal yang tidak baik. Karena jika istri yang menguasai semuanya, apalagi sampai memegang semua keuangan, itu sama aja nanti membuat Hendrik tak punya wibawa lagi sebagai kepala keluarga.


Ia juga sengaja mengetuk pintu kamar, karena tak ingin Tante Linda mengajarkan hal-hal buruk lagi pada Kirana.


"Ran, kita langsung ke rumah makan ya sekarang. Soalnya ada yang mau pesan dalam jumlah besar hari ini," ucap Hendrik seraya mengandeng tangan Kirana.


"Kalian nggak mau makan siang dulu di sini?" tawar Tante Linda, karena sebenarnya ia masih merasa rindu pada Kirana yang sudah lama tak pernah bertemu dengannya.


Ya, ia selama ini selalu berusaha menghindari bertemu dengan Kirana karena di bawah ancaman Johan. Ia tak mau mengambil resiko yang besar. Tapi kala ia mendengar kabar kalau Johan sudah di tahan, ia berusaha mencari keberadaan Kirana. Dengan mencoba mengirimi pesan. Namun ternyata Kirana tak membaca pesan itu, tetapi justru memilih datang ke rumahnya.


Tante Linda awalnya masih tak ingin memberitahu Kirana soal seritifikat yang telah diambil Johan. Tapi karena Kirana mulai menuduh, akhirnya Tante Linda membongkar semua yang dia sembunyikan selama ini.


Untungnya Kirana juga percaya dengan cerita dari Tante Linda. Karena memang seperti itulah yang terjadi. Sedih jika Kirana tak mau percaya, Tante Linda sudah menganggap Kirana seperti anak sendiri. Apalagi Tante Linda memang tidak punya anak sama sekali.


Dan untuk nasehat yang dia berikan pada Kirana untuk berani menguasai soal keuangan itu menurutnya hal yang sangat wajar. Itu demi menjaga agar uang suami tak lari untuk perempuan lain. Sebenarnya lari untuk saudara juga kurang benar, namun masih bisa di tolerir. Siapa tahu saudaranya memang perlu dibantu.

__ADS_1


"Lain kali aja ya, Tan. Soalnya Mas Hendrik ada kerjaan yang nggak bisa di tunda atau dipindah tangankan," sesal Kirana denga raut wajah sedih. "Atau Tante main ya, ke apartemen kami. Nanti kita sambung lagi cerita-ceritanya," girang Kirana, karena akhirnya dia akan mempunyai teman curhat lagi.


Tante Kirana menatap Hendrik, untuk meminta pendapatnya. Karena semenjak pintu kamar dibuka, Hendrik terlihat sedikit memperlihatkan wajah tak sukanya pada Tante Linda.


"Bagaimana, Hen? Apakah Tante boleh main ke tempat kalian?" tanya Tante Linda akhirnya. Karena yang ditunggu-tunggu tidak juga memberikan respon apapun.


"Oh, tentu boleh, Tan. Kapanpun Tante mau main, pintu kami selalu terbuka. Apalagi Tante adalah pengganti orang tua Kirana. Bagaimana mungkin kalau saya melarang Tante untuk berkunjung ke tempat kami?" sahut Hendrik kikuk.


Jujur, jawaban itu sebenarnya bertentangan dengan hatinya. Hendrik sebenarnya tak ingin jika Kirana terlalu dekat dengan Tante Linda. Tadi aja dia berusaha menghentikan obrolan mereka saat tahu kalau Tante Linda mengajari Kirana untuk berani menguasai keuangan suami.


"Kalau memang nggak boleh juga nggak apa kok, Hen. Tante nggak bakal maksa, daripada kamu seperti nggak ikhlas gitu ngijinin Tante untuk main ke tempatmu."


Ucapan dari Tante Linda mampu menyentil Hendrik. "Bagaimana Tante Linda bisa tau isi hatiku?" gumam Hendrik dalam hati.


Kirana yang merasa tak enak pada keduanya yang sepertinya sedang salah paham, akhirnya angkat bicara juga.


Untungnya mereka berdua akhirnya mau ikut tersenyum juga kala Kirana tertawa. Jadi suasana tidak setegang sebelumnya.


"Kita balik dulu ya, Tan. Salam buat Om Alex juga," Kirana memeluk Tante Linda lalu mencium kedua pipinya.


Tante Linda mengantar mereka hingga carport, "Kalian hati-hati di jalan ya. Kabari Tante kalau kalian sudah sampai."


Lalu Tante Linda menatap Hendrik. "Tante titip Kirana ya. Tolong jaga dan sayangi dia. Jangan pernah sakiti dia, karena Kirana sebenarnya sangat rapuh hatinya. Dia hanya pura-pura kuat aja selama ini," titahnya dengan menahan air matanya agar tak terjatuh.


"Iya Tante, saya akan berusaha menyanyagi Kirana dan anak-anak kita kelak," sahut Hendrik tegas.

__ADS_1


"Bagus, setidaknya kamu mau berusaha. Jangan ucapin janji, tapi berakhir dengan penghianatan." tatapan Tante Linda seketika berubah jadi tajam.


Hendrik hanya membalasnya dengan senyum tersungging. Entah apa maksudnya. Kemudian Hendrik mulai menyalakan mesin mobilnya, di lain sisi ia juga sudah tak betah jika terus-terusan disindir oleh Tante Linda.


Hendrik takut jika Kirana juga ikut-ikutan berani bicara seperti Tante Linda.


"Sampai jumpa lagi ya, Tan!" Kirana mengeluarkan separoh badannya lalu melambaikan tangan.


Tante Linda membalas lambaian tangan itu, kemudian berlalu masuk lagi ke dalam rumah.


"Jangan seperti itu, Ran! Nanti kalau kamu nyangkut terus nggak bisa masuk lagi badanmu gimana?" ucap Hendrik kal Kirana masih mengeluarkan separoh badanya melali kaca mobil.


"Ish! Kamu kira badanku segede gajah?" sahutnya lalu memutar bola matanya.


"Aku hanya kasihan sama anakku yang kegencet karena sikap kekanakanmu!" tegur Hendrik tak puas. Bagaimana bisa Kirana bertingkah seolah dia tidak sedang hamil.


Kirana memegang perutnya lalu menepok keningnya. "Astaga aku lupa, maafin Mama ya, Nak. Kamu pasti sakit ya kegencet barusan?"


Hendrik mengelengkan kepalanya, "Dasar aneh! Apa sih yang kamu pikirin? Sampai bisa lupa kalau sedang hamil? Padahal itu perut nempel loh sama badanmu!" omelnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Banyak yang aku pikirin! Jadi wajar kalau aku jadi pelupa begini. Makanya kamu juga jangan nambahin beban pikiranku," sahut Kirana tak terima disalahkan.


"Banyak itu apa? Soal perempuan itu? Atau soal Mas Johan? Atau justru soal sertifikat tanah dan perkebunan sawit yang diambil Mas Johan?" dengan rinci Hendrik menyebutkan semuanya.


Kirana di buat terkejut dengan pertanyaan Hendrik. Ia sangat tak menyangka kalau ternyata Hendrik bisa tau soal sertifikat tanah yang ia bahas dengan Tante Linda tadi.

__ADS_1


Padahal Kirana berencana tak membahasnya dengan Hendrik. Tapi kalau sudah begini, apa mungkin Kirana masih bisa menyembunyikannya dari suaminya yang super duper menyebalkan itu?


__ADS_2