Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 109.


__ADS_3

Richard memang sengaja mengambil cuti untuk hari ini. Jadi dari pagi hingga malam, ia masih berada di hotel tempat Kirana menginap. Tentu hal itu tak membuat Kirana risih. Lantaran ada Ayu, suster Arshinta. Apalagi alasan Richard adalah untuk mengawasi cara kerja Ayu di hari pertama.


Saat mereka sedang asik mengobrol santai, tiba-tiba ponsel Richard berdering. Ia gegas menerima panggilan itu.


"Ya, ada apa?" raut wajahnya yang tadinya datar, kini terlihat tersenyum. Membuat Kirana sedikit heran dengan perubahan Richard yang tiba-tiba itu.


Sayangnya ia tak bisa mendengar apa pun pembicaraan antara Richard dengan seseorang di sebrang sana.


"Okeh. Kalau gitu nanti kabari lagi." ujar Richard sebelum panggilan itu berakhir.


"Cie, pacarmu telpon ya, Kak. Kenalin dong sama aku," ledek Kirana yang mengira jika Richard tadi sedang berbicara dengan kekasihnya.


Alis Richard berkerut. "Hah? Aku jomblo abadi tau." pungkasnya lalu kembali memainkan ponselnya.


Kirana menghela nafas panjang. Ia tak ingin membalas ucapan Richard barusan. Takutnya jadi ada yang salah paham nantinya.


"Oh iya, kamu kenapa mau sih Kak ambil kedua toko bungaku? Bukannya kamu sudah sibuk banged ya di rumah sakit? Terus nanti siapa yang mengawasi kedua toko bunga itu? Apa kamu percaya begitu aja sama semua karyawanmu? Karena aku dulu pernah di khianati sama orang kepercayaanku."


Richard meletakkan ponselnya, lalu ia menatap lekat Kirana. "Aku tau jika kamu nggak pernah rela untuk menjual toko bunga itu sama orang lain. Lantaran di sanalah kamu memulai bisnis pertamamu dengan orang yang berarti juga di hidupmu. Makanya dengan suka hati aku akan mengambil alih sementara toko bunga ini. Nanti jika kamu atau saat Arshinta sudah dewasa dan ia ingin melanjutkan kembali toko bunga ini. Dengan senang hati akan aku kasih kembali toko bunga ini.


Kalau soal mengawasi toko bunga, nanti bakal ada sepupuku yang bantuin aku. Jadi bisa aku pastikan, jika toko bunga ini akan tetap berjalan dengan lancar." ungkap Richard panjang lebar.


Lagi-lagi Kirana di buat terkesima oleh perlakuan Richard terhadapnya dan Arshinta.


"Lalu, itu semua karyawan dari mana? Kok kamu bisa secepat itu dapat karyawan? Dan semua karyawanku kamu kemanain, Kak? Aku nggak mau jika mereka harus diberhentikan paksa," Kirana memicingkan matanya. Ia ingin memastikan jika semua karyawannya tak mersa dirugikan.

__ADS_1


Karena bersama merekalah Kirana merintis usaha toko bunga itu hingga serame sekarang ini.


"Kamu tenang aja, mereka itu hanya saling tukar tempat kerja aja kok. Kebetulan sepupuku juga punya bisnis toko bunga. Jadi nggak ada yang diberhentikan secara paksa."


"Baguslah kalau gitu." Kirana mengulas senyum. Kemudian ia beranjak berdiri, ia ingin melihat Arshinta yang terdengar sedang bercanda dengan Ayu.


"Eh, tunggu dulu, Ran. Kita angkat telpon ini dulu," kemudian ponselnya ia loudspeaker agar Kirana bisa ikut mendengar percakapannya di telpon kali ini.


Awalnya Kirana binggung dengan maksud Richard. Buat apa juga ia harus ikut menerima telpon dari ponsel Richard. Namun ketika mendengar suara dari sebrang sana, ia seketika terduduk kembali. Wajahnya sedikit menegang.


"Halo! Apa betul ini dengan Pak Christian?" tanyanya.


"Ya, Betul. Saya Richard Christian." sahut Richard dengan tegas.


"Ka-kamu? Apa kamu Richard teman Kirana?" suara Hendrik terkejut.


"Jika benar kamu, Richard teman Kirana. Tolong kasih tau aku di mana Kirana sekarang. Karena aku mau bicara penting dengannya."


"Kamu nggak akan bisa bertemu dengan Kirana. Karena ia telah berangkat tadi siang ke luar negri. Jadi lupakan saja dia! Dan tunggu saja gugatan cerai darinya." panggilan ia akhiri secara sepihak. Tanpa peduli jika Hendrik masih ingin menyampaikan sesuatu lagi.


"Jadi dia datang ke toko. Ternyata dia benar-benar berusaha untuk menemuiku," gumam Kirana. Namun, Richard dapat mendengarnya.


"Apa kamu mau menemui dia?"


"Nggak sama sekali, Kak! Justru aku dapat ide dari ucapanmu barusan," Kirana tersenyum tipis.

__ADS_1


Richard menaikkan satu alisnya. "Ucapanku? Yang mana?"


"Aku akan bawa Arshinta ke luar negri. Agar kami bisa hidup dengan tenang. Aku yakin, dengan aku membawa Arshinta semakin jauh, maka Mas Hendrik tak akan bisa menemukan kami." ucapnya penuh keyakinan.


Richard ingin melarang keputusan Kirana tersebut. Tapi apa hak dia? Rasanya Richard tak akan bisa berjauhan lagi dengan Kirana. Namun, jika itu demi kebaikkan Kirana, Richard tak bisa melarangnya lagi.


"Kamu yakin?"


Kirana menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku pasti dukung rencanamu itu. Tapi kamu mau nggak jika ke luar negri nanti, kamu ke tempat di mana orang tuaku tinggal saja? Nanti di sana kamu bisa tinggal bersama dengan orang tuaku. Mereka pasti senang jika kamu mau tinggal bersama mereka. Apalagi kamu membawa Arshinta.


Mereka juga sudah lama mengharapkan kehadiran seorang cucu di usia mereka yang sudah masuk lansia. Sayangnya aku belum bisa memberikan itu untuk mereka. Untuk menemukan sosok pendamping yang seiman denganku saha susah," Richard tertawa di ujung kalimatnya.


Ia menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, semua teman seusianya sudah bahgia dengan memiliki keluarga kecil masing-masing. Sedangkan ia sendiri masih harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari seseorang.


Kirana menerawang jauh ke depan. Sebenarnya ia juga tak masalah jika harus tinggal di negara yang sama dengan orang tua Richard. Apalagi jika ke pergiannya ke luar negri kali ini adalah yang pertama kalinya. Tentu ia sangat butuh bantuan dari seseorang yang sudah tau seluk beluk negara tersebut. Tapi bagaimana jika orang tua Richard nanti punya pemikiran lain?


"Aku... aku pikirkan dulu ya, Kak. Toh aku berangkatnya kan juga masih satu minggu lagi. Tunggu sampai kasusku di sini selesai. Karena kalau soal gugatan cerai, aku akan minta tolong sepenuhnya pada pengacara. Jadi tanpa adanya aku di sini, gugatan tetap bisa di ajukan."


"Oh iya, kamu sebaiknya tinggal saja di apartemenku yang satunya, Ran. Sepertinya itu akan lebih aman buat kamu. Kamu nggak perlu khawatir, kan sekarang sudah ada Ayu? Aku janji kejadian yang dulu, tak akan terulang lagi," pintanya mengiba.


Kirana kembali berpikir, sebenarnya tak ada yang salah dengan penawaran Richard. Apalagi mengingat jika mulai sekarang ia harus lebih menghemat lagi. Lantara semua bisnisnya sudah ia pindah tangankan pada Richard. Otomatis sudah tak ada lagi penghasilan yang ia dapatkan setiap harinya.


"Baiklah, Kak. Aku setuju, aku akan tinggal sementara di sana sampai aku berangkat nanti." ujar Kirana.

__ADS_1


Setelahnya Richard pamit pulang. Namun saat di lobby, tiba-tiba Richard melihat Bu Mery, Handoko, dan Rita sedang berdebat dengan bagian resepsionis hotel.


__ADS_2