Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 89.


__ADS_3

Mata Bu Mery membeliak diiringi dengan mulut yang terbuka lebar. "Loh, nggak bisa begitu dong. Tadi kan kamu sendiri yang minta teman-temanmu ini buat bantuin saya? Kok sekarang tiba-tiba di suruh pulang? Bahkan jadi satu masakan aja belum," protes Bu Mery tak tau malu. Lalu menyengol Hendrik menggunakan sikutnya.


"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba jadi begini? Ayolah jangan makin memperkeruh suasana. Pusing aku kalau lihat kalian bertengkar terus. Kalau kamu mau ke salon, sialahkan. Asal, tolong biarkan mereka bantuin Mama sampai selesai ya," Hendrik menatap Kirana penuh harap.


Namun Kirana mengabaikan permintaan Hendrik itu. Ia lebih memilih untuk kembali memberi isyarat pada ketiga karyawannya untuk segera keluar.


Kirana sudah benar-benar kecewa lantaran kebaikannya tidak pernah dihargai. Semua yang Kirana lakukan selalu salah di mata Mama mertuanya itu. Mungkin karena Mama mertuanya masih menganggap jika Kirana hanya sebatas ibu rumah tangga saja yang tak berpenghasilan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya.


Setelah ketiga karyawannya keluar, ia pun menyusul berjalan keluar. Bersamaan dengan itu, taksi online yang sudah ia pesan juga datang. Ketiga karyawannya lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kamu mau kemana? Aku anterin aja ya?" Hendrik membentangkan tangannya agar Kirana tak bisa masuk ke dalam mobil.


"Nggak perlu, kamu bantuin Mamamu aja. Atau kalau perlu, kamu panggil Kak Rita menantu kesayangan Mama itu. Biar dia yang bantuin Mama di sini," sahut Kirana ketus.


"Iya, Kak Rita memang akan datang ke sini, tapi mungkin nanti malam baru sampai. Lagipula Kak Rita juga sedang hamil sama seperti kamu. Jadi nggak mungkin juga dia mau bantuin Mama masak seperti kamu kan?" cetus Hendrik.


Kirana melipat tangannya di depan dada. "Aku nggak peduli! Sudah ah, kamu minggir dulu, Mas. Aku lagi males berdebat sama kamu," cibirnya seraya menepis tangan Hendrik yang menghalanginya.


Namun, Hendrik dengan cepat menahan tangan Kirana. Ia seperti tak mengijinkan Kirana pergi sebelum semua jelas.

__ADS_1


Kirana menatap Hendrik dengan tatapan tak suka. "Lepasin, Mas! Kamu nggak bisa nahan aku, agar aku tak keluar saat ini. Kalau kamu masih nahan aku, berarti kamu egois. Kamu seneng lihat aku tersiksa dengan semua ucapan Mamamu itu," desis Kirana.


Hendrik terkesip saat mendengar ucapan Kirana. Apakah sebegitu menyakitkannya ucapan Mama Mery bagi Kirana? Dengan berat hati akhirnya ia melepaskan tangan Kirana.


"Ya sudah, kalau memang dengan keluar saat ini bisa membuatmu nyaman. Aku tak akan melarangmu. Tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Sayang," tutur Hendrik akhirnya pasrah.


Setelah mobil taksi online yang membawa Kirana dan ketiga karyawannya sudah tak terlihat lagi, Hendrik memutuskan untuk kembali masuk ke dalam membantu Mamanya.


"Sudah pergi tuan putrinya?" cibir Bu Mery kala Hendrik sudah duduk di samoingnya yang sedang mengupas bumbu. "Makanya dari dulu Mama itu nggak pernah setuju kamu nikah sama dia! Cuma kok ya dia terlanjur hamil anakmu," Bu Mery menghela nafas panjang di ujung kalimatnya.


"Sudahlah, Ma. Jangan bahas ini lagi, toh Kirana saat ini memilih keluar rumah juga karena nggak tahan sama ucapan Mama."


Bu Mery menghentikan pekerjaannya lalu menatap Hendrik. "Hei! Mama dulu juga sering di omelin sama mertua Mama. Jadi ....,"


Mata Bu Mery melotot terkejut saat mendengar ucapan anaknya itu. Bagaimana bisa anaknya punya pikiran seperti itu?


"Memangnya dulu Mama bahagia ya saat nenek memperlakukan Mama seperti itu? Mama nggak sakit hati sama sekali gitu?" cibir Hendrik lagi. Entah dia dapat ilham dari mana sehingga bisa melawan ucapan Mamanya hingga tepat sasaran begitu.


"Cukup Hendrik! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu sama Mama! Ini pasti, ...."

__ADS_1


Hendrik bangkit berdiri. "Mama yang cukup. Cukup sampai tadi aja Mama tak suka pada Kirana. Andai tadi Mama nggak bikin Kirana marah, pasti saat ini teman-teman Kirana masih di sini buat bantuin Mama kan? Tapi coba lihat sekarang," Hendrik mengedarkan pandangannya seraya menunjuk sekeliling ruangan. Bu Mery pun juga ikut melihat sekelilingnya.


"Semua masih berantakan dan belum ada satupun masakan yang matang kan? Mama tau ini karena siapa? Semua karena ucapan Mama yang menyinggung Kirana. Mama yang nggak bisa saling menghargai sama Kirana. Kirana itu orang baik, Ma. Sama seperti Kak Rita juga. Tolong jangan beda-bedakan mereka. Bukankah saat ini mereka sama-sama sedang mengandung cucu Mama?" amuk Hendrik dengan hidung kembang kempis serta dada yang naik turun menandakan ia sangat emosi.


Hendrik merasa sangat kesal hari ini. Bagaimana tidak, ia sudah habis uang banyak untuk belanja tadi pagi. Tapinsaat ini dia juga harus repot membantu Bu Mery masak. Lalu bagaimana dengan kerjaannya? Apakah dia harus libur kerja lagi hari ini? Rasa malu yang amat besar pada Kirana lah yang membuatnya marah seperti tadi.


Mau sampai kapan ia akan menumpang hidup pada Kirana? Mulai dari rumah sampai semua pengeluaran kecil hingga besar, Kirana yang menanggung.


Ingin rasanya ia memberitahu Bu Mery tentang fakta ini. Tapi bagaimana jika Kirana yang marah karena ia telah memberitahu Mamanya kalau Kirana sudah sukses sekarang? Ah, rasanya Hendrik semakin frustasi dibuatnya.


Bu Mery tiba-tiba menangis, hingga membuat Hendrik merasa bersalah. "Maaf, Ma. Aku nggak bermaksud membentak Mama. Aku hanya ingin Mama dan Kirana akur. Anggap Kirana seperti anak Mama sendiri."


Namun bukannya menyadari perbuatannya, Bu Mery justru melengos. "Sampai kapanpun Mama nggak akan mau akur sama dia! Harusnya dengan Mama tak suka dengan dia, dia harus lebih pintar merayu Mama. Bukan malah bersikap sombong seperti tadi. Seperti dia sudah jadi orang sukses yang banyak duit saja!" cemooh Bu Mery. Bahkan tangisannya pun kini terhenti seketika.


Hendrik mengelengkan kepalanya. Menyerah, ya itulah yang Hendrik pikirkan saat ini. Ia menyerah untuk membuat Mama dan istrinya akur. Biarlah waktu yang akan mengungkap semuanya.


"Benerkan Ucapan Mama barusan? Rita aja dulu juga sering merayu Mama. Tapi ya memang dasarnya Rita kan anak orang kaya dan berpendidikan. Jadi ya bisa berpikir dengan benar. Nggak seperti istrimu yang ...."


Hendrik bangkit berdiri meninggalkan Bu Mery yang masih belum menyelesaikan kalimatnya. Bosan ia mendengar kalimat itu-itu saja. Mungkin lebih baik saat ini dia keluar sebentar guna menenangkan pikirannya juga.

__ADS_1


"Hei! Kamu mau kemana? Jangan bilang kamu juga mau ninggalin Mama untuk masak sendirian ya!" teriak Bu Mery. Suaranya masih cukup lantang untuk beteriak.


Hendrik terus saja melangkah keluar rumah seraya mengambil kunci motor dan jaketnya. Membiarkan Bu Mery untuk merenungkan semuanya sendirian. Semoga aja nanti sore saat ia sudah kembali, Bu Mery sudah menyadarinya.


__ADS_2