Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 34.


__ADS_3

Untung saja Hendrik masih sibuk dengan ponselnya. Jadi dia tak dengar apa yang di bicarakan oleh Tante Linda dan Kirana.


"Ayo masuk dulu, Ran." Tante Linda mengandeng lengan Kirana. "Kamu baik-baik saja kan? Kok Tante lihat wajah kamu pucat begitu?"


"Ahh, mungkin efek dari hamil aja, Tan." sahut Kirana diiringi anggukan kepala oleh Hendrik.


"Kalian tunggu di sini ya. Tante mau bikinin minum dulu."


"Tante aku mau numpang ke kamar mandi ya. Soalnya tiba-tiba terasa mual," sela Kirana, ia berpura-pura agar bisa bicara dengan Tante Linda di belakang tanpa di dengar oleh Hendrik.


"Oh, ayok Tante antar," sahut Tante Linda ramah.


Hendrik mau tak mau harus menunggu seorang diri di ruang tamu. Karena Om Alex, suami dari Tante Linda sedang ada tugas keluar kota. Dan dia juga engan untuk ikut Kirana ke kamar mandi yang jelas-jelas sedang mual.


Sesampainya di depan pintu kamar mandi, bukannya langsung masuk, Kirana justru mengajak Tante Linda untuk pergi ke kamarnya. Namun sebelumnya ia juga memastikan terlebih dahulu kalau Hendrik tak menyusulnya ke belakang.


"Tan, boleh Kirana bicara dengan Tante di kamarnya Tante?" bisik Kirana.


"Ada apa, Ran? Sepertinya kamu sedang ada masalah?" Tante Linda mengamati wajah Kirana dengan cemas. "Ya sudah ayok, tapi bagaimana kalau suamimu mencari nanti?"


"Ahh, nggak mungkin Tante. Dia itu orang paling sibuk." Kirana berusaha menyakinkan Tante Linda yang terlihat khawatir.


Sesampainya di kamar, Tante Linda mengunci pintunya dari dalam. "Ada apa sih, Ran?"


"Tan, Kirana boleh minta tolong nggak? Kirana ingin kabur dari dia. Tapi uang tabungan Kirana sudah habis.


Jadi maksudnya, Kirana mau pinjam uang sama Tante. Nanti kalau Kirana sudah dapat kerja lagi, pasti Kirana ganti. Tolong banged ya, Tan. Atau Kirana minta bagian dari hasil penjualan sawitnya deh, Tan," Kirana menyatukan kedua telapak tangannya.


Seketika wajah Tante Linda berubah panik saat Kirana membahas hasil penjualan sawit. Namun ia segera mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu kan lagi hamil, Ran. Jangan pakai acara kabur-kaburan deh. Tante nggak setuju, dan Tante nggak bakal mau bantuin kamu. Kalau kamu kabur, itu sama aja kamu mempersulit hidupmu dan anakmu kelak. Sudah bagus kamu dapat suami yang sudah mapan seperti dia."


Kirana membuang nafas kasar, sepertinya susah memohon pada Tante Linda. Tapi ia masih tetap mau berusaha.


"Tapi Kirana sering makan hati, Tan. Masa dia dekat sama cewek lain, dan cewek itu pernah nawarin buat jadi istri kedua Mas Hendrik," Kirana berucap sambil memonyongkan mulutnya.


"Aduh, Ran. Hal seperti itu aja kamu pusingkan? Jangan bodoh kamu. Sini deh Tante kasih tau biar kamu sedikit pintar," Tante Linda mengeser duduknya agar lebih dekat lagi dengan Kirana.


"Yang namanya laki-laki, kalau sudah punya banyak uang ya memang rata-rata seperti itu. Tapi yang paling penting dia tetap pulang, tetap memberimu nafkah lahir, dan batin. Soal di mau main sama ini kek, sama itu kek, itu jangan di ambil pusing. Belajar masa bodoh aja.


Mulai sekarang saran Tante, kamu kuasain aja semua uangnya. Dengan begitu kamu kan bakal bisa senang-senang kapanpun kamu mau?" tutur Tante Linda memgompori Kirana.


"Uang Mas Hendrik itu terbagi untuk sodara-sodaranya juga, Tan. Jadi mana bisa aku menguasainya?" decak Kirana lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ancam dong, Ran! Katamu, Mama mertuamu kan sangat menginginkan cucu. Nah, gunain itu buat morotin suamimu. Jangan mau kamu kalau cuma di jadiin alat buat ngelahirin anak! Harga diri dong," ucap Tante Linda sambil menyilangkan kaki lalu mengibaskan rambutnya yang sebenarnya sangat pendek.


Kirana nampak memikirkan ide dari Tante Linda itu. Tapi bagaimana bisa dia menjadi perempuan yang gila harta? Sedangkan selama ini harta peninggalan orang tuanya saja dia titipkan ke Tante Linda. Lalu ia lebih memilih jadi karyawan biasa di swalayan kecil.


"Aku nggak yakin kalau aku bisa seperti yang Tante ajarkan tadi," gumam Kirana namun masih terdengar jelas di telinga Tante Linda.


"Makanya belajar. Lagian kamu jadi istri mau-maunya nggak di kasih kebebasan buat pegang semua akses keuangannya dia."


"Nanti aku pikirkan lagi deh, Tan."


Sebisa mungkin Tante Linda berusaha agar Kirana tak meminta sertifikat, atau uang dari hasil penjualan sawit. Apalagi ia sudah memberitahu Kirana kemarin lewat pesan singkatnya. Tapi sayangnya Kirana belum membaca pesan itu.


Sedangkan Kirana sendiri akhirnya mencoba memikirkan semua. Kemarin saran dari Bu Gembala mengajarkan untuk tetap bersabar, dan terus berdoa agar Hendrik bisa berubah. Sedangkan sekarang dari Tante Linda justru mengajarkan untuk jadi perempuan yang gila harta.


Saat Kirana sedang fokus berpikir, tiba-tiba Tante Linda menepuk paha Kirana. "Kamu sudah baca pesan Tante kemarin? Kok belum kamu balas sih?"

__ADS_1


"Nah, itu yang mau Kirana tanyakan sama Tante juga. Kemarin Tante ada ngirim pesan apa? Soalnya pesannya keburu terhapus."


"Oh ... eh ... itu ... anu ..." Tante Linda nampak gugup seketika. Ia bingung mau mulai sandiwaranya dari mana.


"Kenapa sih, Tan? Bukannya tadi Tante bicaranya bisa lancar bahkan sangat semangat sekali? Kok sekarang tiba-tiba jadi gugup begini?" Kirana menatap lekat ke arah mata Tante Linda.


"Itu, Tante mau ngebhas soal sertifikat tanah peninggalan orang tuamu."


Degh,


Seketika perasaan Kirana menjadi tidak enak. Bagi Kirana orang kalau sudah mulai mengajak membahas soal harta warisan, pasti punya niat yang tidak baik.


Kirana bangkit duduk kembali. "Ada apa dengan sertifikat peninggalan orang tuaku, Tan? Apakah ada masalah?" Kirana mencoba menerka-nerka.


"Nggak ada masalah sih, Ran. Cuma kemarin waktu Tante lagi beres-beres semua berkas, nah sertifikat tanah serta perkebunan sawit milik orang tuamu udah nggak ada lagi.


Padahal Tante sudah mencarinya ke semua ruangan. Tapi tetap aja nggak ketemu. Bagaimana dong, Ran?" nampak wajah Tante Linda berubah jadi sedih.


Ternyata firasat Kirana benar, pasti sudah terjadi sesuatu, hingga Tante Linda membahasnya. Padahal semua sertifikat itu sudah ia titipkan pada Tante Linda dari 4 tahun yang lalu. Dan selama itu tidak pernah jadi masalah.


"Kok bisa sih, Tan? Terus bagaimana dong? Apa aku buat surat laporan kehilangan aja ya, Tan? Biar nanti bisa di cetak ulang sertifikatnya?" usul Kirana yang segera di tepis oleh Tante Linda.


"Eh, jangan dulu, Ran. Nanti Tante coba cari lagi deh. Siapa tau terselip di mana gitu. Lagian kalau ngurus begitu itu pasti lama dan ribet. Di lain sisi pasti butuh uang yang nggak sedikit.


Memangnya kamu ada uangnya? Kamu sendiri aja barusan mau pinjam uang ke Tante kan?" cegahnya.


"Loh, terus hasil dari penjualan sawit selama ini kemana, Tan? Kan semua masuk ke rekening Tante? Bahkan aku nggak nerima sedikitpun," selidik Kirana yang mulai mencium bau-bau kecurangan.


"Belum ada yang panen, Ran. Jadi ya, Tante belum nerima uang apa-apa!" tukas Tante Linda lalu ia membung muka, agar Kirana tak menatap matanya.

__ADS_1


__ADS_2