Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 62.


__ADS_3

Karena penasaran, Hendrik pun mengikuti langkah kaki Tony untuk masuk ke dalam.


"Duduklah dulu, aku akan ambilkan minum," titah Tony pada Hendrik saat mereka sudah berada di ruang tamu.


"Nggak perlu, aku buru-buru. Jadi tolong kamu mulai cerita aja sekarang."


Wajah Tony terlihat semakin tegang sekarang. Namun akhirnya ia ikut duduk di kursi tak jauh dari Hendrik.


Tony menghela nafas, "Jadi aku mau jujur sama kamu sekarang. Tapi tolong maafkan aku karena sudah menipumu." ia berucap sambil menundukkan kepala.


"Memangnya kamu bohong apa sama aku?" Hendrik mengerutkan keningnya. "Kalau hanya soal kamu yang pura-pura jadi tunangannya Mita, aku nggak peduli."


"Bukan soal itu. Tapi ini soal, ...." Tony meremas jari-jari tangannya. Ia benar-benar takut jika Hendrik marah besar padanya.


"Soal apa? Cepatlah bicara yang jelas! Aku nggak punya banyak waktu, karena aku harus mencari keberadaan Mita juga." tegur Hendrik yang mulai hilang kesabaran.


"Soal ra-ramalan waktu itu, Hen. Ramalan yang mengatakan kalau istrimu pembawa sial. Sebenarnya kami sama sekali nggak ada keahlian untuk meramal, tapi semua itu memang kita sengaja demi agar kamu dan istrimu berpisah saja." jelas Tony terbata.


Hendrik bangkit berdiri. "Maksudnya? Berarti kalian sudah memfitnah Kirana? Tapi kenapa kalian lakukan itu? Apa Kirana telah berbuat salah sama kalian?"


"Kirana tak ada salah sama kami, bahkan kami sama sekali nggak kenal Kirana sebelumnya, Hen. Tapi semua ini rencana dari Sintya. Dia tak terima saat itu kamu lebih pilih Kirana daripada dirinya." ungkap Tony sekali lagi.


"Sintya? Kenapa kalian Mau?" Hendrik memukul tembok untuk meluapkan kekesalannya.


Tony terkesiap, "Karena saat itu aku butuh uang, Hen. Jadi aku terima tawaran Sintya dan Mita saat itu."


"Brengsek! Gara-gara kalian aku jadi kehilangan calon anakku!" amuk Hendrik sambil memukul wajah Tony.


"Pukul aku, Hen. Lampiaskan semua kekesalanmu, aku nggak akan melawanmu. Karena ini memang salahku. Salahku yang sudah tega memfitnah istrimu, hingga membuatnya terusir dari rumahmu."


Hendrik menggurungkan niatnya yang hendak memukul Tony lagi. Ia kembali terduduk di kursi sambil mengusap kasar wajahnya.


"Berapa kalian di bayar, hingga tega berbuat seperti ini?" lirih Hendrik frustasi. Tak lama kemudian ia kembali bangkit berdiri.


"Sekarang kamu harus ikut aku ke rumah Sintya. Bantu aku untuk mencari bukti jika Sintya lah dalang di balik terbakarnya rumah makanku." ucap Hendrik penuh penekanan.


Tony mengangguk setuju. Lalu mereka pergi ke rumah Sintya menggunakan mobil Tony, agar Sintya mau membukakan pintu gerbangnya. Tetapi sebelumnya Hendrik juga telah menghubungi pihak kepolisian untuk ikut serta bersamanya menuju ke rumah Sintya. Tentunya mereka juga ikut di mobil Tony.


Benar saja, saat mobil Tony berhenti di depan gerbang rumah Sintya, ia tak segera membuka gerbangnya. Ia benar-benar memastikan kalau Tony datang seorang diri terlebih dulu. Jadi terpaksa Hendrik dan 2 orang polisi lainnya menundukkan badan mereka agar tak terlihat Sintya yang menunggu Tony di depan pintu.

__ADS_1


Setelah pintu gerbang dibuka, barulah Tony memasukkan mobilnya. Kemudian Sintya mengarahkannya ke garasi.


Awalnya Tony menolak, namun Hendrik dan 2 orang polisi itu memberi kode pada Tony agar mau menuruti perintah Sintya.


"Jangan lupa kamu harus bisa membuat Sintya bercerita semua kejahatannya. Terutama soal kebakaran di rumah makanku. Karena hanya kamulah yang bisa melakukan itu semua saat ini." titah Hendrik sebelum Tony benar-benar turun dari mobil.


Untungnya Sintya tak ikut ke garasi, jadi Tony masih punya kesempatan untuk merencanakan taktik bersama Hendrik.


"Okeh, aku akan merekam semuanya."


Sekitar satu setengah jam Hendrik menunggu di dalam mobil. Hingga akhirnya Tony terlihat kembali berjalan ke arah mobil.


"Mana hasil rekamannya? Aku ingin mendengarnya sekarang," ujar Hendrik yang sudah tak sabar.


"Sabar, Hen. Jangan di sini, nanti Sintya curiga. Lebih baik kita keluar dulu dari sini," saran Tony.


Setelah berjalan beberapa meter dari rumah Sintya, mereka pun akhirnya mulai mendengarkan bukti rekaman itu ramai-ramai.


"Tumben kamu datang ke sini, Ton? Ada angin apa nih?" tanya Sintya.


"Aku kebetulan lewat sini, jadi mampirlah. Emang nggak boleh?"


"Hehehe, padahal aku mau pinjam uang. Tapi ya sudahlah kalau kamu nggak bisa kasih pinjam. Ngomong-ngomong kamu masih tinggal sendirian aja nih? Makanya cari dong suami. Minimal pacar kek, biar nggak kesepian begini."


"Aku hanya mau menikah sama Hendrik aja, Ton. Bagaimanapun dia cinta pertamaku yang sudah aku beri kesucianku juga. Jadi aku nggak mau melepaskan dia begitu aja.


Sudah banyak pengorbananku untuk mendapatkannya kembali. Termasuk memberimu dan Mita sejumlah uang agar kalian memfitnah Kirana.


Terakhir hari ini tadi, aku juga sudah memberi uang pada Mita agar dia mau melakukan yang aku minta."


"Hah? Kamu minta Mita melakukan apalagi, Sin? Wah, kamu benar-benar abis-abisan ya buat dapetin Hendrik lagi."


"Rahasia dong. Nanti kalau aku kasih tau kamu, yang ada malah kamu bocorin lagi ke yang lain."


"Astaga, masa kamu masih belum percaya sama aku sih? Buktinya sampai sekarang aja Hendrik masih belum tau kalau soal ramalan yang menyatakan Kirana pembawa sial itu hanya karangan kita aja.


Padahal saat itu rumah makan dia sepi kan karena kamu juga yang udah nyebarin berita hoax kalau dia pakai pesugihan. Makanya banyak pelanggannya yang kabur.


Terus setelah Kirana pergi, kamu juga yang sudah bikin rumah makannya kembali ramai dengan cara kamu bikin orderan atas nama beberapa orang. Hahaha! Dasar licik banged kamu ternyata."

__ADS_1


"Hahaha, siapa dulu? Sintya gitu loh. Jadi kamu jangan berani macam-macam sama aku kalau kamu nggak mau aku hancurin."


"Nggak lah, satu macem aja lah aku sama kamu. Oh iya, tadi kamu nyuruh Mita ngelakuin apa sih? Cerita dong sama aku, daripada aku mati penasaran,"


"Tapi janji ya, kalau kamu nggak kasih tau siapapun juga? Soalnya ini benar-benar rahasia. Bahkan Mita aja sudah aku suruh untuk pergi jauh dari kota Surabaya ini."


"Iya, aku janji nggak bakal bocor deh."


"Sebenarnya awalnya aku hanya minta Mita untuk menghancurkan rumah makan Hendrik saja, tapi ternyata di luar dugaanku, dia justru membakar habis rumah makan itu. Dan kamu tau nggak? Ternyata Mita juga meminta orang yang bekerja di rumah makan orang tuanya Hendrik yang ada di Jakarta sana, untuk membakar rumah makannya juga. Hahaaha!"


"Eh, kok Mita bisa punya akses sama karyawan yang kerja di Jakarta sana?"


"Kalau soal itu aku nggak tau, Ton. Tapi yang jelas saat ini aku sangat puas dengan hasil kerja Mita. Jadi aku nggak ragu untuk memberinya sejumlah uang agar dia bisa kabur jauh."


"Tapi apa kamu nggak takut kalau suatu saat tiba-tiba Mita berkhianat sama kamu?"


"Nggak mungkin itu, karena Mita saat ini tinggal menumpang di rumah orang tuaku."


"Okelah, kalau gitu aku pamit ya, Sin. Aku mau cari pinjaman uang ke tempat lain aja kalau gitu."


Setelah mendengar semua rekaman itu, dan di rasa semua bukti itu sudah cukup. Akhirnya kedua polisi itu meminta agar Tony kembali lagi ke rumah Sintya. Kali ini untuk melakukan penangkapan.


Tony menghubungi Sintya kembali, agar dibukakan pintu gerbangnya.


"Sin, tolong bukain gerbang dong. Atau kalau mau, kamu keluar dong sebentar. Ada yang mau aku kasih nih sama kamu. Tadi kelupaan saking asiknya ngobrol sama kamu," ujar Tony.


"Okelah aku keluar sekarang, tunggu ya."


Kedua polisi itu pun juga sudah bersiap berdiri di samping kanan kiri pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang terdengar dibuka, dan....


"Loh, apa-apaan ini, Pak? Salah saya apa? Kenapa tangan saya di borgol begini!" bentak Sintya tak terima.


"Kami mendapat bukti kalau anda lah dalang dari terbakarnya rumah makan Pak Hendrik!" tegas salah satu polisi sambil memasang borgol.


Secara bersamaan Hendrik pun turun dari dalam mobil. " Bawa dia, Pak! Saya mau dia di hukum seberat-beratnya!"


Sintya membeliak. "Ini fitnah, Pak! Saya nggak pernah melakukan hal itu! Ini pasti ada yang memfitnah saya!" tatapan Sintya tertuju pada Tony.


"Anda bisa jelaskan nanti di kantor. Sekarang jangan berusaha melawan!"

__ADS_1


__ADS_2