Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 26.


__ADS_3

Kirana yang dalam keadaan setengah sadar saat di gendong oleh Hendrik menuju ke mobil segera memejamkan matanya. Perasaan antara kecewa dan sakit hati masih menyelimuti hatinya. Hingga akhirnya dia benar-benar pingsan. Dan ketika sadar, ternyata dia sudah terbaring di ruangan yang serba putih dengan tangan terpasang selang infus.


Melihat ke kanan dan kiri, ternyata tak ada satu orang pun yang menemaninya saat ini. Padahal ia berharap Hendrik ada di sampingnya. Walaupun mereka sedang tidak akur.


Ceklek!


"Permisi, selamat malam, Bu," sapa seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Kirana.


Posisi Kirana yang tidur membelakangi pintu, membuat dia tak langsung tahu siapa yang baru saja masuk ke kamar rawat inapnya. Namun dari suaranya sepertinya tidak asing bagi Kirana.


Kirana menoleh, seketika matanya membeliak dan mulut terbuka lebar.


"Kak Richard? Ini kamu Kak Richard Kakak kelasku waktu SMA dulu kan?" tebak Kirana dengan wajah antusias.


"Astaga, ini beneran kamu, Ran? Pantas aja tadi waktu baca nama pasien kok sepertinya nggak asing dengan nama ini. Ternyata dunia ini sempit ya? Aku kira kita nggak bakal bisa bertemu lagi setelah aku pulang dari luar negeri." sahut Richard tak kalah senangnya.


"Sombong kamu Kak. Mentang-mentang pindah keluar negri, terus nomor aku di blokir," Kirana memonyongkan bibirnya.


"Bukan sombong, Ran. Tapi nomor Indo nggak bisa dipakai di sana. Dan sialnya aku malah nge-reset ponselku. Jadilah semua daftar kontakku hilang."


"Ah, alasan aja kamu, Kak."


"Ekhm .... apa bisa kita mulai periksa pasiennya sekarang, Dok? Karena kita masih harus memeriksa beberapa pasien lagi," tegur perawat yang ada di samping Richard. Terlihat sekali wajah cemburunya.


"Eh, iya lupa. Ya sudah, Ran. Sekarang aku periksa kamu dulu ya. Nanti kalau aku sudah selesai jam dinas, aku mampir lagi kesini. Kita ngobrol lagi, karena ada beberapa hal yang mau aku tanyakan."


Kirana menganggukan kepala sambil tersenyum bahagia. Seakan-akan baru mendapatkan mata air di tengah gurun pasir.


"Tapi jadwal Dokter Richard padat setelah ini sampai dua minggu ke depan." lagi-lagi perawat itu memotong obrolan Richard dan Kirana, serta melihat sinis ke arah Kirana. Dia seperti tak terima jika Richard akan mengobrol kembali dengan Kirana.


"Saya tau! Dan saya bukan anak kecil yang harus kamu kasih tau tentang jadwal saya! Jadi berhenti menyela obrolan saya dengan siapapun itu. Itu nggak sopan namanya!"

__ADS_1


"Maafkan saya, Dok. Saya hanya ...."


Perawat itu tak melanjutkan kalimatnya, karena tangan Richard sudah memberinya kode untuk diam.


"Tenang aja, Sust. Saya nggak bakal ngerebut Dokter Richard kok. Saya sudah bersuami, bahkan sekarang saya sedang hamil," terang Kirana karena ia mulai risih dengan tatapan sinis dari perawat itu.


"Suami kamu mana, Ran? Kok nggak nemenin kamu di sini?" tanya Richard sambil terus memeriksa Kirana.


Kirana mengedikkan bahunya, "Entahlah, aku juga baru saja bangun. Tapi dia nggak ada di sini."


"Kamu jangan sampai telat makan dong, Ran. Kamu itu punya penyakit asam lambung. Di tambah sekarang kamu lagi hamil muda. Harusnya kamu lebih bisa memperhatikan pola makanmu. Hindari stress, jangan terlalu banyak pikir," omel Richard tanpa perasaan.


Kirana menanggapi dengan seuntai senyum. Andai Kirana bisa memilih, dia juga nggak akan memilih hidup dengan banyak masalah seperti saat ini.


"Kira-kira aku harus tinggal di sini berapa lama, Kak? Bisa nggak kalau besok aku pulang?"


"Bisa, asal kondisi kamu jauh lebih baik dari sekarang." lalu Richard ijin keluar ruangan.


Bayang-bayang itu terus saja menghantuinya. Hingga membuatnya susah tidur. Padahal tadi Richard sudah memintanya untuk tak banyak memikirkan hal-hal yang berat.


Tapi mau bagaimana lagi, sudah mengalihkannya dengan mencoba menyalakan televisi, namun tetap saja tak mengubah keadaan bagi Kirana.


Menjelang subuh, Kirana baru bisa memejamkan matanya. Itupun dia paksakan agar kondisinya bisa cepat pulih dan ia bisa keluar dari sana.


Pukul 10.00 pagi, Kirana kembali terbangun karena kakinya tak sengaja tersenggol tangan Hendrik.


"Maaf, aku nggak sengaja," ucap Hendrik datar.


Kirana membuang muka, "Kemana kamu semalam? Sudah puas jalan-jalannya sama perempuan gatal itu?" sinisnya.


"Jangan asal menuduh kalau nggak ada bukti. Aku semalam tidur di apartemen!" sahut Hendrik masih tetap acuh.

__ADS_1


"Kenapa kemarin nggak tungguin aku sampai sadar baru pulang?" protes Kirana lagi.


"Coba kamu lihat," Hendrik menunjuk sekitar ruangan. "Kamu harusnya bisa mikir dong, kalau aku di sini, aku tidurnya di mana? Di sofa? Ya nggak bisa dong! Ntar kalau aku ikutan sakit gimana? Siapa yang cari uang? Siapa nanti yang ngawasin rumah makan kalau sampai aku sakit?


Mikir itu jauh ke depan, Ran! Jangan hanya besarin egoismu aja! Apalagi sampai nuduh aku seperti tadi!" gerutu Hendrik panjang lebar tanpa perduli kalimatnya itu membuat Kirana sakit hati atau tidak.


"Oh!" sahut Kirana singkat. Ia sudah tak mau memperpanjang masalah lagi dengan Hendrik. Baginya saat ini dia hanya perlu cepat sembuh, dan menyelidikin hubungan Hendrik dengan perempuan gatal itu.


Jika ia sudah punya bukti yang kuat soal hubungan Hendrik dan perempuan itu, maka ia akan dengan mudah pergi dari Hendrik.


"Sudah, sekarang makanlah. Jangan lupa minum obatnya juga. Setengah jam lagi aku harus kembali ke rumah makan." ucapnya.


Kirana enggan menanggapi ucapan Hendrik. Ia kembali memejamkan matanya. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


tok... tok... tok...


"Selamat pagi, Pak, Bu. Saya mau memeriksa kondisi pasien," sapa Dokter Richard ramah.


"Hai, Kak. Aku sudah baikkan, apa aku sudah boleh pulang sekarang?" Kirana sengaja memanggil Dokter Richard dengan sebutan 'Kak'. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Hendrik.


Namun berbeda dengan Richard, ia jadi gugup kala Kirana memanggilnya dengan sebutan 'Kak'. Ia takut Hendrik menjadi salah paham.


"Saya periksa dulu, ya, Bu." ucap Richard kikuk.


"Hilih, pakai panggil 'Bu' segala. Kemarin aja panggil nama," ledek Kirana yang sambut tatapan tak suka dari Hendrik.


Richard menoleh ke Hendrik yang berdiri di sebrangnya. "Kondisi pasien, sudah lebih baik dari kemarin. Kemungkinan besok sudah boleh pulang. Saya minta tolong lebih diperhatikan lagi ya, Pak pola makan istrinya. Saya pamit permisi."


Hendrik mengantar Richard sampai di depan pintu. Lalu kembali menemui Kirana dengan tatapan tak suka.


"Kamu kenal dengan dia? Seberapa dekat hubungan kalian? Kalau memang kamu lebih cocok sama dia, silahkan lanjutkan!" cecar Hendrik tanpa jeda lalu ia berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


__ADS_2