
Hendrik dan Sisil menoleh secara bersamaan ke arah Kirana.
Sisil dengan cepat berjalan menghampiri Kirana, lalu memegang lengannya. "K-kak Kirana? Kakak sejak kapan ada di sini? Bukankah tadi Kakak bilangnya mau ke toko depan?"
"Jauhin tanganmu dari tanganku!" hardik Kirana dengan lirikan tajam.
"Maafkan aku, Kak. Aku nggak ada maksud untuk nyakitin Kakak. Tapi kalau misal Kakak mau berbagi suami sama aku, maka aku akan sangat berterimakasih. Karena aku juga mencintai Mas Hendrik. Aku rela jadi yang kedua, Kak," Sisil masih berucap dengan rasa percaya dirinya. Hingga membuat Kirana naik pitam.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Sisil. "Aku rasa meskipun sudah aku tampar pun kamu nggak bakal sadar sama apa yang sudah kamu ucapkan barusan!" geram Kirana.
Hendrik yang melihat istrinya sedang emosi, segera berlari menenangkannya dengan cara mengusap punggungnya.
"Pantas aja kemarin kamu semangat sekali buat minta bantuin Mas Hendrik bersih-bersih rumah. Ternyata, ada maksud dan tujuanmu di balik itu semua!
Di mana akal sehatmu, Sil? Bisa-bisanya kamu mengharapkan jadi yang kedua? Nggak ada istilah poligami di hidupku!"
Kirana berpaling menghadap Hendrik. "Kamu sendiri bagaimana, Mas? Apa kamu mau menikahi Sisil? Kalau iya, aku bakal mundur. Silahkan kamu lanjutkan dengannya."
"Nggak, Sayang. Aku nggak mau pisah sama kamu lagi. Cukup kemarin aja aku buat kesalahan. Dan aku harap kali ini kamu percaya kalau aku juga nggak inginkan Sisil jadi istriku." Hendrik berucap dengan sangat yakin.
"Tapi aku janji bakal jadi istri yang penurut sama kamu, Mas. Kasih aku kesempatan agar aku bisa merasakan jadi istrimu," Bahkan Sisil sampai rela bersujud di kaki Hendrik.
Hendrik segera menjauhkan kakinya dari Sisil.
"Lebih baik, sekarang kamu keluar dari rumah ini. Dan jangan pernah perlihatkan wajahmu di hadapanku lagi! Mulai hari ini juga kamu aku pecat!" bentak Kirana penuh amarah sambil menunjuk ke arah pintu.
"Kamu pasti nyesel Kak, karena udah nolak aku jadi madumu! Coba pikirkan lagi Kak, saranku ini.
Dengan aku menjadi adik madumu, maka aku akan semakin membantumu untuk membesarkan toko bunga. Tapi jika kamu menolakku, maka siap-siap aja toko bungamu itu akan sepi pengunjung!" ancam Sisil dengan senyum miring.
__ADS_1
"Hey! Bukan kamu yang menentukan rejekiku. Kamu bisa nggak sih, nggak memaksakan kehendakmu? Sudah jelas-jelas kalau Mas Hendrik pun juga menolak kamu. Kenapa kamu musti ngotot?
Masih banyak, Sil laki-laki di luar sana. Atau lebih baik, sekarang kamu kejar aja gih itu Kak Richard!" balas Kirana sinis.
Sisil berjalan keluar sambil menghentakkan kakinya.
"Minum dulu, Sayang," Hendrik memberi satu gelas air putih pada Kirana. "Kamu jangan sampai terlalu kepikiran dengan masalah ini ya. Aku nggak mau anak kita kenapa-napa," ungkap Hendrik seraya mengelus perut Kirana.
"Aku hanya syok aja, Mas. Ternyata Sisil begitu ambisius sama kamu. Padahal waktu sama Kak Richard dia nggak seperti ini. Apa dia merasa bahagia jika menjadi istri kedua ya?"
"Lebih baik jangan bahas dia lagi. Yang penting aku kan nggak tergoda sama sekali." Hendrik mengecup kening Kirana. "Sekarang kita siap-siap yuk. Pasti sebentar lagi Pak Gembala dan yang lainnya akan datang."
Kirana mengangguk setuju, apalagi jam di dinding memang sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi. Sedangkan acara di mulai dari pukul 09.00.
Setelah acara selesai di siang harinya. Kirana mengumpulkan semua karyawannya di halaman rumah.
"Selamat siang semuanya. Sebelumnya saya mau ucapkan terimakasih karena kalian sudah hadir dan ikut mendoakan rumah kontrakan saya yang baru.
Tiba-tiba ada salah satu karyawan Kirana yang unjuk tangan. "Bu, kapan bonus kita yang bulan ini di berikan? Bisanya kan awal bulan, tapi ini sampai akhir bulan kenapa belum juga di berikan pada kami?"
Kirana terkejut mendapat pertanyaan itu. "Loh, bukannya sudah di bagikan sama Sisil ya awal bulan kemarin?"
"Kami belum ada yang menerima sama sekali, Bu. Bahkan hari ini aja Sisil kok nggak datang, Bu?" ujar karyawan yang lain.
"Satu lagi informasi buat kalian semua. Mulai hari ini Sisil sudah tidak bekerja lagi di LiNa Florist. Karena dia ada satu masalah yang nggak bisa saya jelaskan pada kalian semua.
Tapi kalian jangan khawatir, uang bonus akan saya berikan dobel dengan bulan depan ya. Karena saya juga harus mencari tau dulu kemana larinya uang bonus kalian semua," jelas Kirana dengan ramah.
Tepuk tangan pun terdengar bergemuruh. Namun setelahnya mulai terdengar kasak-kusuk di antara para karyawan.
"Yey, akhirnya si mak lampir Sisil nggak kerja lagi di toko. Semoga aja nanti penggantinya nggak bersikap kayak Sisil ya."
__ADS_1
"Iya, jangan sampai deh. Bisa pusing aku kalau punya pengawas toko seperti dia. Mau keluar sayang, nggak keluar makan hati mulu. Padahal Bu Carol aja nggak judes kayak dia."
Kirana yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Tetapi di dalam hatinya, ia juga berencana akan melaporkan Sisil atas tuduhan pencurian uang toko jika uang bonus itu terbukti di salah gunakan olehnya.
Tepat pukul 13.30, akhirnya semua tamu undangan sudah pulang semua. Kini Kirana dan Hendrik duduk di ruang tamu beralaskan karpet.
"Terus rencana kamu apa sekarang, Sayang? Kamu mau rekrut pegawai baru lagi?" tanya Hendrik membuka obrolan.
"Nggak tau, Mas. Tapi yang jelas untuk sementara waktu ini bakal aku pegang sendiri. Toh jarak dari sini ke masing-masing toko juga nggak terlalu jauh kan?" Sahut Kirana sambil memainkan ponselnya.
"Ya sudah, kami seangat ya. Maaf aku nggak bisa bantuin kamu apa-apa. Mungkin aku hanya bisa bantuin kamu antar jemput aja nantinya."
Kirana menganggukan kepala. "Iya, Mas. Kamu juga fokus aja sama kerjaanmu."
"Aku ambilkan kamu bantal ya, biar dudukmu nyaman," lalu ia beranjak masuk ke dalam kamar.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Tapi nomor itu tak ada namanya.
"Mas, ponselmu berdering," panggil Kirana sedikit berteriak.
"Angkat aja, Sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Dengan perasaan cemas Kirana menerima panggilan itu. Ia sedikit trauma jika sudah berurusan dengan dunianya Hendrik.
"Halo," sapa Kirana saat panggilan itu di terimanya.
"Halo! Ini siapa? Mana Hendrik?" ketus perempuan di seberang sana.
Kirana mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku nggak asing sama suara ini. Tapi siapa ya? Dan di mana aku drngarnya?" gumam Kirana.
"Halo! Halo! Kenapa malah diam aja sih? Hendriknya mana?" ulangnya lagi.
__ADS_1