Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 90.


__ADS_3

Setelah mobil yang membawanya berjalan menjauh dari rumah kontrakan, Kirana memutuskan untuk ikut ke toko bersama ketiga karyawannya itu. Padahal awalnya dia berencana akan pergi ke salon saja, tapi setelah ia pikir-pikir ulang mungkin sebaiknya dia ke toko. Apalagi sudah sebulan lebih ia tak melakukan visit ke toko cabang. Mungkin karena lokasinya yang lebih jauh, jadi membuat Kirana jarang untuk kesana.


Sesampainya di sana, Kirana langsung menuju ke ruangan kerjanya. Seperti biasa, Kirana selalu menyediakan satu ruangan yang di desain khusus untuk dirinya istirahat dan menerima client.


Satu jam setelah dirinya berkutat di depan laptop, tiba-tiba salah satu karyawannya mengetuk pintu ruangannya.


"Permisi, Bu. Ini ada client yang ingin memesan karangan bunga dalam jumlah banyak," ucapnya dari balik pintu.


Kirana berjalan membukakan pintunya, terlihat di sana sudah berdiri satu orang ibu-ibu berumur sekitar 55tahun dengan gaya khas ibu-ibu sosialita. Dengan menggunakan kacamata hitan dan menenteng tas bermerk tentunya.


"Permisi, perkenalkan saya Angel," jelasnya seraya mengulurkan tanganya.


Kirana membalas uluran tangan itu. "Oh, iya Bu. Saya Kirana, owner dari LiNA Florist. Silahkan masuk," ujar Kirana ramah seraya menggeser tubuhnya agar Bu Angel tadi bisa masuk ke ruangannya.


"Langsung saja ya kalau gitu," ucapnya sambil melepas kacamata hitamnya. "Saya ingin memesan karangan bunga sebanyak 20 papan ucapan selamat. Apakah bisa selesai hari ini juga? Kalau tidak bisa, saya akan cari toko bunga yang lain," ketusnya dengan sangat angkuh.


Kirana terkesiap, bukan karena jumlah pesanannya. Tapi lebih ke cara ibu-ibu ini berbicara. Benar-benar sangat angkuh bagi Kirana. Ingin rasanya ia menolak, tapi mengingat demi sebuah profesionalisme akhirnya ia menganggukan kepalanya.


"Baik, Bu. Saya akan meminta keryawan saya untuk mengerjakannya sekarang juga. Jadi paling lambat nanti malam bunga itu sudah bisa di kirim ke alamat yang ibu berikan," jawab Kirana seraya tersenyum ramah. Meskipun hatinya saat ini ingin segera mengusirnya.


"Yakin bisa nanti malam selesainya? Sedangkan beberapa toko bunga yang saya datangi tadi aja semua menolak. Jangan sampai pengerjaan cepat, tapi hasil jelek ya! Saya tidak mau bayar kalau seperti itu!" sinis Bu Angel sambil menyilangkan kakinya yang terlihat menggunakan sepatu heel yang sangat tinggi.

__ADS_1


Kirana kembali mengangukkan kepalanya sopan. Bahkan ia senantiasa selalu tersenyum. "Kami akan usahakan, Bu. Kebetulan saya ada 2 toko, jadi pengerjaannya bisa di bagi 2 nanti. Maka Ibu tak perlu merasa khawatir. Dan kalau untuk desain, Ibu bisa pilih melalui karyawan saya nanti."


"Oh, baguslah kalau begitu!" Bu Angel berucap seraya memakai kacamata hitamnya kembali. "Sekarang saya mau pamit. Untuk desain saya serahkan saja sama toko bunga ini. Dan untuk pembayarannya akan saya lakukan setelah bunga di kirim ke alamat yang saya minta," tegasnya lalu bangkit berdiri.


Kirana juga ikut berdiri, lalu mengantarkan Bu Angel sampai ke meja pemesanan. Di sana karyawannyalah yang mencatat. Sedangkan Kirana sendiri hanya berdiri menunggu di samping meja.


Meskipun di wajahnya masih terlukis senyum ramah, tapi dia sama sekali sudah malas untuk mencatat yang berhubungan dengan Bu Angel. Baik itu siapa sebenernya si pemesan, siapa nanti nama penerimanya, di mana alamat penerimanya, dan lain sebagainya. Baginya cukup kali ini aja dia punya client yang sikapnya arogan.


Dan, benar saja. Setelah selesai karyawan Kirana mencatat, tiba-tiba Bu Angel bangkit berdiri, lalu berjalan keluar. Ia sama sekali tak menganggap ada Kirana di sana. Padahal Kirana sudah berusaha sesopan mungkin.


"Huh!" Kirana menghela nafas panjang. "Sabar, Ran. Sabar! Memang sih Client adalah raja, yang patut dihormati. Tapi ya masa sampai sebegitunya sih," gerutu Kirana seraya mengelus dadanya berulang kali.


[Wah, semua papan karangan bunganya cantik-cantik seperti ownernya ya. Saya benar-benar suka dan puas belanja di toko bunga nak Kirana. Besok-besok saya pasti akan belanja lagi di sana, serta merekomendasikan toko bunganya pada temen-teman sosialita saya.] bunyi balasan pesan dari Bu Angel.


Kirana bernafas lega, akhirnya client yang tadinya memandang sebelah mata dirinya, kini sudah bisa bicara baik-baik lagi.


[Terimakasih Bu Angel. Saya sangat bersyukur jika Bu Angel merasa puas dengan hasilnya.]


Pukul 21.00, saat Kirana akan keluar dari toko bunga, tiba-tiba ia melihat Hendrik turun dari motornya. Kirana menatap heran ke arahnya.


"Ko pulangnya sampai toko tutup sih, Sayang?" tanya Hendrik kala ia sudah berdiri di depan Kirana.

__ADS_1


Namun bukannya menjawab, Kirana justru balik tanya. "Kamu tau darimana kalau aku ada di toko, Mas?" sunggutnya. Ia kembali menjadi bad mood saat melihat wajah Hendrik.


Hendrik meraih kedua tangan Kirana lalu menciumnya. "Kan aku bisa lihat dari GPS ponselmu. Hehehe."


"Oh!" ketus Kirana, lalu melangkah ke arah motor. "Ya sudah, ayo pulang. Mama masaknya sudah selesai kan? Di rumah sudah nggak berantakan dengan aroma dapur kan, Mas?" cecar Kirana sambil menggenakan helm.


Hendrik tersenyum kuda. "Aku nggak tau, Sayang. Kan aku juga ninggalin Mama sendirian di rumah dari tadi siang."


Ucapan Hendrik barusan membuat Kirana membeliakkan matanya. Ia tak menyangka jika Hendrik juga meninggalkan Mamanya sendirian di rumah. Padahal jelas-jelas Mamanya pasti butuh bantuannya.


"Habisnya, Mama sih bukannya fokus masak saat aku bantuin. Eh, malah ngajak debat mulu. Ya udah, sekalian aja aku tinggal nge gojek. Sekalian, capek tapi dapet duit. Lah kalau di rumah, sudah capek tapi masih harus dengerin omelan Mama," jelasnya lagi. Padahal Kirana tak bertanya alasannya dia keluar juga. Tapi baguslah, akhirnya Kirana kan jadi tau penyebab suaminya itu ikutan keluar dari rumah.


Tapi, di lain sisi Kirana juga jadi kepikiran. Bagaimana akhirnya cara Mama mertua menyelesaikan beberapa masakannya malam ini? Apa iya Mama mertua tidak jadi masak? Kalau sampai batal masak, lalu untuk acara besok pagi bagaimana? Jangan sampai deh malam ini saat Kirana baru pulang, lalu di suruh bantuin masak.


Kirana yang baru membayangkannya saja sudah bergidik ngeri. Apalagi jika itu jadi kenyataan.


"Hei, kamu lagi mikirin apa?" tegur Hendrik karena Kirana tak kunjung naik ke atas motornya.


"Mas, aku nggak pulang ke rumah ya malam ini. Aku mau tidur di hotel aja," Kirana melepaskan kembali helm yang sudah ia kenakan.


"Tapi besok di rumah ada acara, Sayang. Masa kamu nggak dateng sih? Bagaimana kalau papa tanya kamu kemana?" protes Hendrik.

__ADS_1


__ADS_2