
Sedangkan di tempat lain, Kirana dan Tante Linda sudah mulai jarang datang ke toko bunga. Apalagi semenjak Sintya datang marah-marah saat itu. Mereka sekarang lebih memilih untuk memantau dari rumah saja.
Dan untungnya selama Kirana datang ke toko bunga kemarin perutnya masih belum terlalu terlihat jika ia sedang hamil. Jadi tak ada yang tau soal kehamilannya kecuali Sisil yang sudah menjadi karyawan kepercayaan Kirana.
Malam harinya saat Kirana sedang fokus dengan kerjaannya di depan laptop. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menatap layar, ternyata itu panggilan dari Richard.
"Hai, Kak. Ada apa?" sapa Kirana.
"Hai, aku mau main ke sana boleh nggak?" tanyanya dengan nada mengiba.
"Boleh lah, ini kan juga apartemen kamu, Kak. Kebetulan Tante Linda dari kemarin juga nanyain kamu mulu nih. Katanya ada yang mau Tante Linda tanyakan sama kamu," tutur Kirana.
"Okedeh, kalau gitu bukain pintunya dong. Aku sudah capek nih berdiri di depan pintu dari tadi," rintihnya.
"Hah?" Kirana langsung bangkit dari sofa dan berjalan membuka pintu.
"Kamu kenapa nggak langsung pencet belnya aja sih, Kak?" omel Kirana sambil menggelengkan kepalanya saat pintu baru dibuka.
"Sengaja pengen jahilin kamu," Richard menjulurkan lidahnya lalu berjalan masuk ke dalam melewati Kirana.
"Dasar kurang kerjaan banged! Padahal pasienmu dah banyak, kok bisa-bisanya kamu masih kurang kerjaan begini?" ucap Kirana kesal.
"Sudah kalian itu kalau ketemu pasti seperti anjing sama kucing. Nggak pernah bisa akur sebentar aja," sela Tante Linda yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar suara Richard.
Richard dan Kirana tertawa bersamaan melihat Tante Linda yang marah-marah. Ya, mereka berdua sama-sama sosok anak yang jauh dari Ibunya. Maka tak heran jika mereka saat ini menganggap Tante Linda sebagai Ibu mereka.
"Duduk sini, Tante kangen sama kamu," titah Tante Linda sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Tunggu dulu, Tan. Aku mau ambil piring dulu, soalnya aku bawain rujak cingur kesukaan Tante nih," ucapanya sambil melirik ke arah Kirana.
Ya, ia tau kalau Kirana sedang ngidam rujak cingur, makanya malam ini ia bela-belain untuk datang membawakan makan itu.
"Ihhh, itu mah makanan kesukaanku, Kak. Kenapa belinya cuma satu aja sih? Lagipula sejak kapan Tante Linda suka sama rujak cingur?" rengeknya sambil berjalan mendekati meja makan.
__ADS_1
"Sejak malam ini lah, iya kan Tan?" ledek Richard yang masih getol ingin membuat Kirana menangis.
Kirana menoleh ke arah Tante Linda. "Tan, rujaknya buat Kirana aja boleh nggak? Dedek bayinya lagi pengen," lirihnya dengan mengelus perutnya.
"Makanlah, Nak. Itu memang dibeli buat kamu, Richard aja yang jahil," sahut Tante Linda sambil tersenyum bahagia.
"Yeeyy! Makasih Tante Sayang," sorak Kirana berhambur mencium kedua pipi Tante Linda.
"Eh, aku nggak di cium juga?" tanya Richard pura-pura polos. Lalu menyodorkan pipinya.
Brugh!
Satu bantal sofa berhasil mendarat dengan mulus ke arah badan Richard. "Noh udah di cium sama bantal. Hahaaha," ujar Kirana tersenyum puas.
Richard pun ikut tertawa besar. Ia bahagia karena sudah berhasil membuat Kirana kembali ceria. Meskipun sampai saat ini ia masih belum bisa memiliki Kirana seutuhnya.
"Ran, kamu tau nggak kalau kemarin rumah makan milik suamimu terbakar?" tanya Richard sambil duduk di depan Kirana.
"Ya gimana kamu mau tau, kalau kamu fokus sama kerjaan di laptop mulu. Sesekali lihatlah TV, biar kamu tau ada berita apa aja hari ini," sewot Richard sambil mencomot cingur yang ada di piring Kirana.
"Hem, iya deh kapan-kapan aku lihat TV," Kirana melanjutkan makannya lagi.
"Kamu nggak tanya kenapa bisa terbakar, atau siapa pelakunya, atau apa gitu?" Richard mengangkat satu alisnya.
Kirana kembali menatap Richard, "Untuk apa, Kak? Itu sudah bukan urusanku lagi. Aku hanya bisa mendoakan semoga ia sabar menjalani musibah ini. Dan semoga cepat di beri pengganti yang lebih baik."
"Memangnya kamu benar-benar ingin pergi jauh darinya? Kamu nggak ingin mempertahankan rumah tangga kalian?"
Kirana menghela nafas. "Kalau aku secara pribadi sih ingin mempertahankan, Kak. Tapi semua aku serahkan sama Tuhan aja deh. Bagaimana baiknya aku akan jalanin."
Wajah Richard berubah menjadi sedih, tapi ia langsung alihkan dengan pembahasan lain.
"Oh iya, dan dengar-dengar lagi yang ngebakar rumah makan Hendrik itu karyawannya sendiri loh. Tapi atas suruhan mantan pacar Hendrik juga sih," jelas Richard bak lambe turah yang sedang membawakan acara gosip.
__ADS_1
"Serius kamu?" kali ini Tante Linda berjalan mendekat. Sepertinya berita ini menarik perhatiannya.
"Katanya sih, Tan. Dan sekarang mantan pacarnya Hendrik itu udah di tahan."
"Wah, cepat juga ya mereka bisa mengungkap kasus itu." Tante Linda merasa takjub.
"Selagi ada uang pasti lancar, Tan. Cuma yang aku dengar, mantan Hendrik itu sahabatan sama kamu ya, Ran?" Richard mengalihkan pandangannya pada Kirana yang sedang asik makan rujak.
"Dulu, sekarang udah nggak lagi," seloroh Kirana santai.
"Baguslah, kami jangan berteman sama orang-orang berotak jahat. Takutnya nanti kamu malah terkontaminasi lagi. Hehehe."
"Sudah ah, ngapain bahas Mas Hendrik sih? Bahas yang lain aja deh," sela Kirana yang mulai merasa tak nyaman.
"Iya deh, maaf. Kamu mau ngebahas apa emangnya?"
"Rumah sakit! Aku mau kita bahas soal rumah sakit buat aku lahiran nanti. Katanya aku di suruh pindah rumah sakit?" Kirana mencebikkan bibirnya.
"Oh iya, aku sampai lupa. Besok ya, aku bakal bawain brosur beberapa rumah sakit bersalin yang bagus pelayanannya."
"Sip! Makasih ya, Kak. Kamu memang Kakak angkatku yang paling baik."
Setelahnya mereka kembali mengobrol santai. Hingga tak sadar jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.
"Aku pamit pulang dulu ya, Ran. Besok kalau kamu nggak sibuk, mau nggak ikut aku jalan-jalan? Biar kamu juga bisa sekalian cuci mata. Nggak bosen apa diem mulu di kamar?"
"Iya deh, aku pikir-pikir dulu malam ini. Bye!"
Richard pun berlalu menjauh meninggalkan kamar apartemennya. Sedangkan Kirana dan Tante Linda kembali masuk ke dalam kamar masing-masing.
Kirana menatap ponselnya, berita dari Richard tadi mampu membuatnya merasa kasihan pada Hendrik. "Apa aku buka aja ya blokiran nomor ponselnya Mas Hendrik? Siapa tau dia mengirimiku pesan. Tapi pesan buat apa? Ah, coba dulu aja deh."
Lalu ia mulai mengotak atik ponselnya. "Dah selesai! Mari kita lihat sekarang, seberapa jauh usaha Mas Hendrik untuk mempertahankan rumah tangga ini bersamaku," lirih Kirana lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja nakas.
__ADS_1