Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 83.


__ADS_3

Kirana merapatkan lagi ponsel itu ke telinganya.


"Iya, ini saya Kirana, istrinya Mas Hendrik. Maaf apakah ini Mama Mery?" tebak Kirana akhirnya.


"Oh, jadi kalian sudah hidup bersama lagi?" sahutnya terdengar sinis.


Ternyata tebakan Kirana tepat, orang yang selalu ia hindari selama ini, kini telah berbicara dengannya walaupun hanya melalui sambungan telpon.


Hendrik terlihat baru saja keluar dari dalam kamar sambil membawa bantal untuk Kirana, namun dari raut wajahnya terlihat ia sedang malas. "Mama?" bisik Hendrik nyaris tanpa suara.


Kirana mengangguk mengiyakan pertanyaan Hendrik sambil menyodorkan ponsel Hendrik dengan wajah cemberut.


Namun, bukannya melanjutkan itu panggilannya. Justru Hendrik memilih memutus panggilan itu. Sepertinya ia tau kalau Kirana juga merasa tak nyaman dengan adanya telpon dari Mamanya itu.


"Loh, kok nggak kamu lanjutin Mas telponnya?" Kirana mengerutkan alisnya. Kirana pikir hubungan mereka sudah baik-baik saja makanya Bu Mery sampai menelpon Hendrik.


"Nggak apa, aku hanya mau bikin kamu nyaman. Aku tau kamu nggak nyaman kan sama Mama? Jadi biar aja nanti aku telpon balik. Lagipula selama ini kalau Mama telpon aku, pasti yang di bahas soal Judika. Bukan tanya kabar tentang aku." sunggut Hendrik lalu meletakkan kembali ponselnya di lantai.


Kirana merasa sangat bahagia sekarang. Bagaimana tidak, Hendrik sedari semalam selalu memperlakukannya bagai ratu. Semua yang Kirana mau, Hendrik memberi itu sebelum Kirana mengucapkannya.


"Mas, aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu?" Kirana berucap sambil menyandarkan kepalanya di bahu Hendrik.


Hendrik mengecup pucuk kepala Kirana sambil membelainya. "Minta aja, Sayang. Selagi aku bisa penuhin sekarang, bakal aku kasih. Tapi kalau belum bisa aku penuhin sekarang, berarti kamu harus sabar dulu," sahutnya sambil terkekeh.


Kirana menghela nafas panjang, "Aku hanya minta jika kamu sudah baikan lagi sama Mama dan yang lainnya, tolong jangan kasih tau mereka kalau aku sudah punya usaha ya, Mas.

__ADS_1


Aku hanya nggak mau mereka tau aja, jadi biarkan mereka tetap menganggap aku Kirana yang dulu. Yaitu Kirana yang nggak punya apa-apa." lirih Kirana.


"Kenapa begitu, Sayang? Bukankah kalau mereka tau justru itu lebih baik? Mereka bakal bisa lebih menghargai kamu kan?"


"Aku nggak mau mereka baik sama aku hanya karena aku ada uang aja, Mas. Aku maunya mereka tuh memang murni mau baik dan sayang sama aku," sanggah Kirana sambil merubah posisi duduknya.


Hendrik tak mau lagi mendebat permintaan Kirana. Tapi tiba-tiba ia meminta ijin untuk ke belakang.


"Sayang, aku ke dapur sebentar ya. Kamu tunggu sini aja. Nanti aku bawakan camilan," titah Hendrik sebelum ia berjalan ke belakang.


Bukan Kirana namanya kalau tidak penasaran. Tapi di depan Hendrik ia pura-pura menganggukan kepala.


Setelah ia yakin kalau Hendrik sudah sampai di dapur, Kirana pun kembali berjalan mengendap-endap seperti tadi pagi saat ia memergoki Sisil.


"Halo, Ma. Ada apa tadi telpon?" sapanya saat telepon sudah tersambung.


Kirana berjalan semakin mendekat, bahkan kini ia sudah berdiri tepat di belakang Hendrik yang berjarak tinggal beberapa senti saja.


"Kamu kenapa susah sekali untuk Mama hubungin sih? Mama butuh bantuan kamu, sekarang.


Adikmu Judika sedang sakit, jadi Mama mau kamu merawatnya sampai dia sembuh. Sebagai anak dan Kakak harusnya kamu tuh lebih perhatian sama Mama dan Judika! Ini malah sibuk ngurusin istri miskinmu itu!


Percuma kamu nggak bakal dapat apa-apa dari dia. Paling juga cuma dapat anak, yang ujung-ujungnya pengeluaran makin bertambah. Apalagi saat ini pekerjaanmu nggak jelas begitu.


Beda kalau kamu mau bantu Mama ngerawat Judika sampai sembuh, Mama bakal kasih kamu bayaran dua juta perbulannya. Bagaimana?

__ADS_1


Oh iya satu lagi kalau soal cucu, Mama sudah nggak mengharapkan punya cucu dari dia lagi. Karena sekarang istrinya Abangmu juga lagi hamil. Dan Mama yakin pasti anaknya jauh lebih bagus dari anak yang bakal di lahirkan sama istri miskinmu itu." Bu Mery bicara panjang lebar, seakan-akan hanya di orang yang paling segalanya di dunia ini.


Kebetulan panggilan itu Hendrik loudspeaker, Jadi Kirana juga bisa mendengar semua yang Bu Mery ucapkan. Sakit hati, itulah yang Kirana kembali rasakan. Tapi ini sudah menjadi resikonya semenjak ia memilih untuk memberi Hendrik kesempatan kedua.


"Mama kapan sih telpon aku tuh untuk menanyakan kabarku? Setiap Mama telpon pasti kalimat pertama yang Mama ucapin selalu begitu.


Lagian bukan tugas aku juga kan Ma untuk merawat Judika? Dan satu hal lagi, aku lebih baik mengurus Kirana yang jelas-jelas istri yang sedang mengandung darah dagingku.


Biarpun Kirana miskin harta, tapi dia nggak miskin hati. Siapa tau nanti Kirana bakal punya usaha dan sukses. Tolong Mama jangan ngeremehin orang begitu. Apalagi ngeremehin istriku.


Selamat juga buat Kak Rita karena sudah berhasil hamil juga. Tapi bisa nggak Mama nggak membandingkan calon anakku dan anak Bang Handoko. Mereka belum ada yang lahir aja Mama sudah memperlakukan dengan nggak adil." jelas Hendrik panjang lebar sambil menahan kesal.


"Jangan mimpi kamu, Hen. Bagaimana mungkin istrimu itu bakal punya usaha dan sukses? Kalian aja sekarang nggak jelas kan tinggalnya di mana? Paling juga bakal sering pindah-pindah lantaran di usir karena nggak bisa bayar.


Bukan Mama mau membedakan, tapi ya bagaimana ya? Dari bibitnya aja sudah beda, Istrinya Handoko seorang sarjana. Sedangkan Istrimu hanya lulusan SMA kan? Duh, dari segi pendidikan aja sudah beda jauh, kok masih nggak mau sadari diri jika di bandingkan!" Bu Mery berucap sangat ketus kali ini.


"Sudahlah, Ma. Kalau Mama telpon hanya untuk mengajak aku berdebat, lebih baik aku tutup dulu telponya. Maaf juga aku nggak bisa bantuin Mama untuk merawat Judika sampai sembuh. Coba aja Mama sewa perawat khusus untuk Judika."


Lalu panggilan pun terputus. Hendrik menghela nafas panjang untuk mengatur emosinya. Namun tiba-tiba Kirana menepuk bahunya, hingga membuat Hendrik terlonjak kaget.


"Sayang, kamu bikin aku kaget aja," tutur Hendrik saat balik badan.


Kirana duduk di kursi yang ada di dapur. "Kenapa ya, Mas Mamamu selalu saja merendahkan aku? Iya aku tau kalau aku hanya lulusan SMA, tapi bukan berarti kalau aku hanya akan melahirkan anak yang buruk kan?" isak Kirana yang sudah tak bisa ia tahan lagi.


Hendrik menatapnya iba, lalu ia duduk berlutut di depan Kirana. "Maafkan Mamaku ya, Sayang. Doakan semoga Mamaku bisa secepatnya sadar kalau kamu tuh sangat berharga," hibur Hendrik seraya mengusap punggung tangan Kirana.

__ADS_1


__ADS_2