
Hendrik berjalan ke arah Kirana. "Okeh, aku akan ikut ke rumah Tante Linda sekarang sama kamu," ucap Hendrik akhirnya. "Tapi kamu tunggu dulu di sini sebentar. Aku mau pamit sama teman-temanku. Sekalian mau bayarin makanan mereka."
Kirana hanya diam saja, rasanya dia sudah tak mengharapkan apa-apa lagi dari hubungannya dengan Hendrik. Setiap Kirana meminta sesuatu yang sesuai kemauannya, sedikit-sedikit Hendrik pasti selalu mengatakan kalau Kirana seperti anak kecil. Siapa coba yang nggak bakal sakit hati, jika selalu di samain sama anak kecil?
Tapi demi agar semua jelas dan cepat selesai, ia rela mengalah. Ia menunggu Hendrik sambil duduk bangku di dekat eskalator turun. Cukup lama ia duduk di sana, hingga ia mulai cemas. Takut kalau sampai Tante Linda mencarinya ke toilet, namun Kirana justru tak ada di sana. Lalu ia berinisiatif, mengirim pesan pada Tante Linda.
[Tante, makan aja duluan ya. Kirana masih sakit perut ini.] pesan terkirim.
[Ya Tuhan, kok bisa sih, Sayang? Kamu habis makan apa? Atau kita ke dokter aja ya, setelah dari sini.]
Loh, kok malah jadi di suruh ke dokter. Haduh, sepertinya aku salah kasih alasan ini.
[Nggak perlu, Tan. Kirana baik-baik aja kok. Tadi itu karena banyak yang ke toilet, jadinya ngantri deh.]
Pesan terakhir yang Kirana kirim hanya dibaca saja oleh Tante Linda. "Syukurlah, berarti Tante Linda percaya," gumam Kirana lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Sedari tadi ia selalu memperhatikan ke arah pintu masuk resto, berharap Hendrik segera keluar dari sana. Tapi rasanya mustahil, ini sudah terlalu lama ia menunggu.
Kirana kemudian berdiri, hendak meninggalkan Hendrik yang sudah terlalu lama baginya. Masa cuma pamit gitu aja butuh waktu sampai dua puluh lima menit? Ini sih bukan pamit, tapi juga ikut makan dan minum dulu.
Namun tiba-tiba Hendrik terlihat keluar dengan sedikit berlari sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.
"Tuh, benerkan dugaanku kalau dia ikut makan dan minum dulu tadi di dalam! Dasar suami nggak tau diri. Enak-enakan dia makan di dalam, sedangkan istrinya nunggu di luar nahan lapar. Terbuat dari apa sih hati dan perasaannya!" gumam Kirana dengan tatapan sinis ke arah Hendrik.
"Maaf ya kalau lama. Yuk kita jalan sekarang." Hendrik mengadeng tangan Kirana tapi segera ia tepis kasar. Membuat mata Hendrik membeliakkan matanya.
__ADS_1
"Benar-benar sudah gila kamu ya, Mas! Pamit seperti apa sih kamu tadi di dalam? Sampai- sampai butuh waktu dua puluh lima menit lebih? Kamu tau nggak kalau aku juga butuh makan siang? Bisa-bisanya kamu malah pilih nyempetin makan sendirian sama mereka tanpa perduliin aku di sini nahan lapar!" amuk Kirana sambil berjalan meninggalkan Hendrik.
Ia berjalan sangat cepat ke arah resto di mana ada Tante Linda. Rasa emosinya mampu memberikan tenaga tambahan padanya.
Hendrik mengikuti langkah Kirana. Tapi kemudian Hendrik kembali bertanya. "Kita mau kemana dulu sih, Ran? Ayolah kita langsung aja ke rumah Tante Linda. Aku nggak punya banyak waktu soalnya," celetuk Hendrik.
Kirana berhenti melangkah, lalu balik badan. "Sana kamu pergi aja! Aku juga nggak butuh bicara sama kamu, Mas!" tunjuk Kirana ke arah lain.
Setelahnya ia kembali berjalan, tanpa perduli Hendrik mau ikut bersamanya atau tidak. Perutnya sudah benar-benar terasa lapar. Apalagi ini sudah pukul 14.00 siang.
"Kirana, kamu kenapa lama sekali, Sayang?" tanya Tante Linda saat Kirana sudah duduk di sampingnya. Namun tatapan sedihnya tiba-tiba berubah menjadi amarah tatkala Hendrik menyusul masuk ke resto itu.
"Kamu pasti habis bertengkar dengan dia?" bisik Tante Linda pada Kirana, tapi ia malas melihat ke arah Hendrik.
"Eh, ada Tante Linda di sini? Sudah dari tadi kah, Tan?" sapa Hendrik sambil mengulurkan tangannya.
Tante Linda mengabaikan Hendrik. ia enggan menerima jabatan tangan itu. Sikap pemaaf dan penyabarnya kini telah hilang sejak ia tau bagaimana jahatnya mulut adik ipar Kirana, dan kelakuan Hendrik serta teman-temanya di depan resto jepang tadi.
Ya, Tante Linda tadi memang sengaja mengikuti Kirana secara diam-diam. Dan beliau kembali lagi ke resto setelah Kirana mengiriminya pesan.
Andai Tante Linda tidak melihat kejadian tadi, pasti beliau masih akan bersikap baik pada Hendrik. Dan akan selalu meminta Kirana untuk bersabar.
"Ran, kamu makan yang kenyang ya. Itu sudah Tante pesankan semua makanan kesukaanmu.
Oh iya, Lain kali kamu jangan mau jika di suruh menunggu orang yang nggak punya hati ya. Bisa-bisanya kamu di suruh nunggu di luar sendirian, sedangkan dia asik makan sama teman-temannya yang sudah memfitnah kamu!" sinis Tante Linda seraya melirik Hendrik.
__ADS_1
Kirana tersedak ketika mendengar ucapan Tante Linda barusan. "Ma-maksud Tante apa? Kirana kan tadi ke toilet? Bukan menunggu seseorang, Tan," tanya Kirana gugup, tapi ia tak berani menatap wajah Tante Linda.
Begitupun Hendrik, ia mendadak jadi kikuk saat mendapat sindiran dari Tante Linda. Sebenarnya tadi dia juga cuma mau pamit aja sama teman-temannya. Tapi berhubung semua temannya mengancam tidak mau berteman lagi sama dia, akhirnya dia memilih untuk ikut makan dan minum dulu. Bagi Hendrik teman adalah nomor tiga setelah orang tua dan saudara-saudaranya.
"Sudah kamu nggak perlu bohong lagi sama Tante. Karena Tante sudah lihat semuanya dengan mata kepala Tante sendiri," ucap Tante Linda dengan sangat tegas.
Kirana mengangguk pelan, jujur ia sangat terkejut dengan ucapan Tante Linda. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terlanjur terlihat oleh Tante Linda.
Mereka berdua makan dengan santai. Bahkan Tante Linda menambah menu lagi. Tapi tiba-tiba Hendrik menyenggol kaki Kirana.
"Buruan makannya, aku nggak punya banyak waktu. Atau kamu lanjutin lagi makannya setelah kita selesai bicara," bisik Hendrik, namun siapa sangka jika Tante Linda justru bisa mendengarnya.
"Hei!" mata Tante Linda melotot sambil memukul meja makan. "Kamu kalau memang nggak punya waktu buat ponakanku, silahkan pergi! Dan jangan pernah kembali lagi!" bentaknya penuh amarah.
Hendrik terkesiap, "Bukan begitu maksud saya, Tan. Kalau makan kan bisa di lanjutin nanti lagi?" sanggah Hendrik masih tak merasa bersalah.
"Nggak bisa! Biarkan Kirana makan sampai puas dan dengan tenang! Jangan di buru-buru!
Tadi aja Kirana rela nungguin kamu di depan resto seperti orang bodoh tanpa makan dan minum. Tapi sekarang coba lihat, kamu di minta untuk menunggu Kirana selesai makan sambil di kasih makan dan minum aja udah keberatan."
"Tapi saya punya kesibukan lain juga, Tan."
"Bukan cuma kamu yang punya kesibukan! Kirana juga punya! Dia sekarang sudah buka, ...." tiba-tiba Kirana memberi kode pada Tante Linda agar tak melanjutkan kalimatnya.
"Buka apa, Tan? Kenapa nggak di lanjutin?" desak Hendrik yang sudah terkanjur penasaran.
__ADS_1