Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 53.


__ADS_3

Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Kirana berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ia gegas mengambil nomor antrian lalu duduk di depan poli obgyn.


Ternyata hari ini lumayan banyak yang melakukan kontrol kandungan. Rata-rata dari mereka datang berdua bersama suaminya. Hanya Kirana yang datang seorang diri. Namun hal itu tak membuatnya merasa sedih.


Menunggu beberapa menit, akhirnya nama Kirana dipanggil agar masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Hai, Ran. Bagaimana kabarmu?" sapa Richard dengan seuntai senyum saat Kirana masuk ke dalam ruangannya.


"Baik, Kak," sahut Kirana berusaha seramah mungkin. "Emm, Kak ini mau langsung di USG atau gimana? Kok aku nggak disuruh berbaring di sana?" Kirana menunjuk ke arah brankar.


"Eh, iya lupa," Richard menepok keningnya. "Maaf ya aku jadi grogi gara-gara lihat kamu. Yuk lah, silahkan berbaring dulu."


Kemudian Richard mulai mengoleskan gel ke perut Kirana. Ia menggeser alatnya ke bagian kanan dan kiri.


"Kak, gimana kondisi kandunganku? Jelasin lah itu apa aja yang terlihat di layar." protes Kirana.


Richard menghembuskan nafas. "Sabar lah, Ran. Ini juga lagi aku amatin, hehehe!"


"Kamu lebih banyak ngamatin ke arahku, bukan ke layar sana!" Kirana mengerucutkan bibirnya.


"Kandungan kamu semua baik kok. Air ketuban cukup, posisi plasenta juga bagus, lalu BBJ juga sudah sesuai dengan usia kandunganmu yang masuk 16 minggu."


Mata Kirana mulai berkaca saat melihat bayinya di layar monitor. "Dia mulai bisa gerak-gerak itu di usia berapa?"


"Biasanya ada yang di usia 16 minggu, tapi ada juga yang di usia 20 minggu ke atas."


"Kalau jenis kelaminnya sudah terlihat belum, Kak?"


"Belum dong. Nanti kalau udah 25 minggu ke atas biasanya sudah terlihat jelas," jawab Richard sambil sesekali mencuri pandang ke Kirana. "Memangnya kamu pengen punya anak cewek atau cowok, Ran?" sambungnya penasaran.


"Apapun jenis kelaminnya nanti, aku akan tetap bahagia kok Kak. Karena dia akan jadi temanku," haru Kirana.


"Syukurlah!" sahut Richard seraya balik badan lalu berjalan ke arah mejanya. Karena pemeriksaan USG telah usai.


"Tadi Hendrik datang ke sini," ucap Richard sambil terus memperhatikan catatan buku kesehatan Kirana.


Kirana terkesiap, namun segera menyusul Richard duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.

__ADS_1


"Ada apa Mas Hendrik kemari? Apa dia mengatakan sesuatu padamu, Kak?" cecar Kirana penasaran.


"Dia hanya ingin mengajakku bicara, katanya mau membahas soal kehamilanmu. Namun aku menolaknya, karena aku yakin dia sedang berbohong. Dia pasti ada maksud lain," jawbanya dengan sangat yakin. "Apakah kamu sedang ada masalah dengannya?" imbuh Richard lalu menatap Kirana seperti sedang melakukan penyelidikan.


"Nggak ada kok," membuang muka. "Em, kalau pemeriksaannya sudah selesai aku mau pamit keluar dulu," Kirana bangkit berdiri.


"Lebih baik kamu cerita sama aku, siapa tau aku bisa membantumu mencari solusi," tawarnya tiba-tiba.


"Saat ini aku bisa mengatasinya sendiri. Lagian aku juga sudah tinggal dengan Tanteku. Uups!" Kirana menutup mulutnya menggunakan telapak. Tanpa sengaja dia sendiri yang justru kelepasan saat berbicara.


"Ran, aku harap kamu mau menungguku di kantin sampai jam istirahat nanti. Karena ada hal yang aku curigai dari gelagat Hendrik tadi."


"Tapi masih satu jam lagi, Kak," keluhnya sambil melirik jam tangannya.


"Plis banged, Ran. Ini juga demi kebaikanmu," pintanya mengiba.


Karena Kirana juga merasa penasaran, akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju. "Kalau gitu aku keluar dulu, sekalian mau ngabarin Tante Linda agar beliau tak kepikiran."


Kirana keluar dari ruangan Richard, lalu berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan menuju kantin, Kirana gunakan untuk menghubungi Tante Linda. Ia terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau antrian hari ini sangat panjang. Jadi dia akan pulang sedikit lambat ke toko.


Kalau Kirana berkata jujur, takutnya Tante Linda jadi ikut kepikiran. Apalagi beliau sudah tua, seharusnya waktunya istirahat. Tapi sekarang justru masih harus membantu Kirana merintis usaha.


"Maaf, ya kalau lama," ujar Richard sambil membawakan minuman dan camilan untuk Kirana.


"Iya, nggak apa kok. Santai aja," balas Kirana. "Jadi tadi mau ngomong apa, Kak?" sambungnya.


"Oh, jadi gini, Ran," Hendrik menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Kirana. "Kalau menurut feelingku, kedatangan Hendrik tadi pagi itu tujuannya mau cari tau kamu sekarang ada di mana. Nah, berhubung yang dia tau kamu adalah pasienku, pasti deket dong aku sama kamu. Apalagi kita pernah satu sekolah dulu."


"Hem, itu kan baru feelingmu aja Kak. Lagian kamu kok bisa sih mikir kalau dia cari keberadaanku?"


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu sekarang tinggal sama Tantemu? Pasti kalian habis berantem kan? Eh, tapi maaf ya sebelumnya," tiba-tiba Richard jadi kikuk sendiri.


"Memang sih, selama aku keluar dari apartemennya, aku sudah nggak mau nerima panggilan telpon dan membalas pesannya."


"Nah, mungkin bagi Hendrik masalah kalian itu harus di selesaikan secepatnya, tapi dia nggak tau kamu ada di mana. Kalau menurutku sih gitu, Ran.


Jadi sekarang tergantung sama kamu, kamu mau nggak ketemu lagi sama dia untuk menyelesaikan semuanya? Atau kamu pilih untuk menghilang selamanya dari dia?"

__ADS_1


"Aku sendiri juga nggak tau, Kak. Tapi yang jelas untuk saat ini aku nggak mau ketemu sama dia dulu."


"Boleh aku kasih saran?" tutur Richard sangat hati-hati. karena ia tau, perasaan Ibu hamil itu sangat sensitif.


"Apa?" Kirana berpaling menatap Richard.


"Kalau kamu belum mau ketemu sama Hendrik, lebih baik kamu jangan tinggal di rumah Tante Linda juga. Kamu bisa sewa apartemen untuk sementara waktu.


Dan untuk rumah sakit, sebaiknya kamu jangan di rumah sakit ini lagi. Kamu bisa pindah ke rumah sakit yang lain. Yang jauh lebih bagus juga boleh.


Kalau kamu mau, aku bisa kasih kamu rekomendasi beberapa rumah sakit bersalin yang bagus," sarannya.


Kirana nampak mulai memikirkan saran dari Richard.


"Mungkin memang sebaiknya aku nggak tinggal lagi di rumah Tante Linda. Apalagi saat itu Tante Linda juga menyarankan kalau aku harus sembunyi dan mengubah nama panggilan ku di toko sampai aku benar-benar sudah sukses," batin Kirana menyetujui saran Richard.


"Gimana, Ran?" tanya Richard memastikan.


"Aku rundingkan dulu sama Tante Linda ya, Kak."


Meskipun dia sudah setuju dengan saran dari Richard, tapi Kirana masih ingin meminta pendapat dari Tante Linda.


"Kalau kamu butuh apartemen, kamu bisa tinggal di apartemenku bersama Tante Linda. Gratis!" serunya sambil menyodorkan makanan yang ada di depannya pada Kirana.


"Makasih sebelumnya, Kak. Aku akan sampaikan ini semua ke Tante Linda. Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, Kak."


"Kamu nggak makan dulu, Ran? Ini sudah aku pesankan buat kamu," tutur Richard penuh harap.


"Maaf Kak, tapi aku harus segera pulang. Tante Linda pasti khawatir kalau aku terlalu lama ada di luar begini."


"Baiklah, hati-hati di jalan ya. Hubungin aja aku kalau kamu butuh bantuanku," ujar Richard tulus.


Lalu Kirana bangkit berdiri dan meninggalkan Richard yang masih duduk di kantin.


Dua puluh lima menit kemudian, ia telah sampai di toko. Terlihat sekali suasana toko yang masih ramai oleh antusias pecinta bunga.


Sebelum turun Kirana menggunakan kaca mata hitam, topi, serta masker wajah. Agar tak ada yang bisa mengenali wajahnya.

__ADS_1


Namun, ketika Kirana akan naik ke lantai 2 menemui Tante Linda, ada salah satu pegawai yang datang menghampirinya.


"Bu Carol, maaf tadi ada yang ingin memesan dua ratus tangkai bunga mawar segar untuk dekorasi kamar pengantin. Katanya besok siang akan di ambil, sedangkan stok kita hari ini hanya tinggal lima puluh tangkai saja. Apakah bisa, Bu?" tuturnya sopan.


__ADS_2