Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 79.


__ADS_3

Sepulangnya dari gereja, sesuai dengan rencana sebelumnya, Hendrik akan mengantarkan Kirana untuk kontrol. Tapi kali ini mereka kontrol di rumah sakit lain. Kirana tak mau jika harus kontrol di rumah sakit yang ada Richard di sana.


Setelah mengantri, kini giliran Kirana yang di panggil masuk. Dengan perasaan bahagia, Hendrik menuntun Kirana masuk ke dalam.


"Wah, posisinya sudah bagus ini, Bu. Air ketubannya juga cukup," ungkap Bu Dokter sambil memperhatikan layar monitor.


"Kalau jenis kelaminnya apa sudah bisa dilihat, Dok?"


"Sudah, Pak. Sebentar ya, ini kakinya si kecil menutupi terus. Sepertinya dia malu-malu."


Kirana dan Hendrik terkekeh bersamaan.


"Nah, ini dia baru kelihatan. Jenis kelaminnya perempuan, Bu, Pak. Tapi ini hanya prediksi saja ya."


Hendrik tak henti-hentinya mengucap syukur atas kebahagiaan yang dia dapat hari ini. Yaitu kembalinya Kirana dan kabar tentang calon anaknya yang dalam keadaan sehat.


Setelahnya mereka langsung pergi makan siang di warung pinggir jalan. Mereka memilih warung yang terlihat sepi. Hitung-hitung mau berbagi rezeki dengan si pemilik warung makan.


Sambil menunggu makanan datang, Hendrik kembali mengajak Kirana bicara.


"Sayang, setelah ini kita lihat rumah kontrakan yang sudah aku sewa ya. Aku harap kamu cocok sama rumahnya. Ya walaupun nggak besar, tapi rumah itu cukup nyaman dengan adanya taman bunga kecil di bagian depan. Kamu suka dengan rumah yang ada taman bunganya kan?" tanya Hendrik dengan seuntai senyum.


Kirana terkejut dengan ucapan Hendrik barusan, sampai-sampai minuman yang sudah ia minum tersembur. "Taman bunga? Dari mana kamu tau kalau aku suka taman bunga, Mas?"


"Astaga, Sayang. Maaf kalau aku sudah bikin kamu terkejut," Hendrik membersihkan baju Kirana yang basah karena kena semburan.


"Ta-tapi kamu tau dari mana?"

__ADS_1


"Iya, nanti aku kasih tau, tapi kamu jangan marah sama Sisil ya, Sayang."


"Sisil? Maksudnya Sisil yang ngasih tau kamu? Kapan? Apakah kalian sempat tukeran nomor ponsel kemarin?" cecar Kirana merasa cemburu.


"Nggak, Sayang. Aku nggak kasih nomor ponselku ke Sisil kok." Hendrik memegang tangan Kirana agar Kirana mau percaya dengannya.


Kirana memutar bola mata malas, lalu menghela nafas panjang.


"Jadi, Sisil waktu aku jemput kemarin, sebelum dia ngajak kencan, awalnya dia ngajakin ngobrol. Nah yang di bahas itu katanya sih bosnya dia."


"Lalu? Apa hubungannya sama aku? Kan yang Sisil bahas bosnya," Kirana masih berusaha menghindar dengan berbicara tanpa menatap mata Hendrik.


"Karena Sisil ceritanya begini, Sayang.


Mas, tau nggak sih, aku baru aja nemenin bos aku beli rumah itu tadi. Bagus ya rumahnya? Aku salut deh sama bosku itu. *Masih muda tapi sudah sukses. Punya dua toko bunga yang keduanya sama-sama ramai.


Tapi aku juga kasihan sih sama Kak Kirana, bosku ini. Sekarang dia lagi hamil besar, tapi nggak tau suaminya kemana. Dulu sih dia mendirikan toko bunga ini sama Tante Linda. Cuma semenjak Tante Linda meninggal, dia jadi ngelolah semua sendiri.


"Ja-jadi kamu sudah tau kalau, ...." Kirana terbata mengucapkan kalimatnya.


"Aku sudah tau, Sayang. Aku bangga sama kamu."


"Kamu nggak minta untuk tinggal di rumah yang sudah aku beli kemarin, Mas?" tanya Kirana penasaran.


Hendrik menatap Kirana, "Nggak, Sayang. Itu hasil jerih payahmu. Aku malu jika harus tinggal di rumah itu. Jadi lebih baik saat ini aku cari rumah kontrakan yang sama-sama punya taman di bagian depan."


"Maaf ya, Mas. Aku nggak ada maksud buat bohong sama kamu. Aku hanya trauma jika kamu tau aku punya uang, maka kamu akan lebih mengutamakan adikmu itu," Kirana berucap lirih sambil menunduk.

__ADS_1


"Iya aku tau itu, Sayang. Makanya aku nggak minta agar kita tinggal di sana. Aku ingin kita tinggal di rumah yang dari hasil jerih payahku sendiri. Dan untuk rumah yang sudah kamu beli itu, sepenuhnya hak kamu mau kamu sewakan atau mau kamu jual lagi.


Satu lagi, aku sudah di usir sama Mama waktu itu. Semua harta yang aku punya juga sudah Mama ambil untuk menebus Judika agar tak di tahan. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal Judika lagi ya."


Kirana merasa sedikit lega setelah akhirnya Hendrik tau semua yang Kirana punya saat ini.


Setelah selesai makan, mereka berdua menuju ke arah rumah kontrakan yang sudah di bayar oleh Hendrik. Kirana sendiri sudah tak sabar melihat rumah yang akan ia tempati nantinya.


Cukup menempuh perjalanan lima belas menit, mereka telah sampai di depan rumah minimalis dengan pagar berwarna putih.


"Ini Sayang rumahnya. Bagaimana, kamu suka nggak? Tapi maaf ya, kalau baru terisi satu tempat tidur sama kipas angin aja. Tapi aku janji nanti bakal belikan kamu perabot yang lain," jelas Hendrik seraya menuntun Kirana masuk ke dalam rumah.


"Nggak apa, Mas. Nanti bisa beli perabotannya pakai uangku aja. Tapi ngomong-ngomong kamu dapat uang dari mana untuk sewa rumah ini? Sewa rumah kan mahal, Mas?" tanya Kirana heran.


"Aku dapat pinjaman dari Tony. Kamu inget kan sama Tony?"


Kirana mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat. "Oh, Tony yang katanya bisa ngeramal itu kan?" sunggut Kirana tak suka.


"Iya, tapi dia kan sudah minta maaf. Bahkan saat itu dia juga sudah membantuku agar Sintya bisa di tahan atas kasus membakar rumah makan milikku. Masa kita nggak kasih dia maaf sih, Sayang?"


"Lebih baik kamu kembalikan uang pinjaman dari dia itu, Mas. Aku nggak mau kamu hutang budi sama dia."


"Sabar, Sayang. Aku pasti bakal balikin uangnya secepatnya."


"Ya sudah terserah kamu aja deh, Mas. Tapi maaf aku nggak bisa maafin dia gitu aja."


Malam harinya, Hendrik kembali mengantar Kirana menuju hotel. Karena mereka baru akan menempati rumah itu besok. Ada sebagian ruangan yang belum Hendrik bersihkan. Dan itu sangat menganggu Kirana. Apalagi Kirana adalah tipikal orang yang alergi terhadap debu dan tempat yang berantakan.

__ADS_1


"Mas, sepertinya besok kita harus adain syukuran deh. Cukup mengundang Bapak Gembala sama semua karyawanku aja. Bagaimana menurutmu?" usul Kirana saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.


"Apapun yang menurutmu baik, silahkan kamu lakukan, Sayang. Tapi bagaimana dengan anggarannya? Uangku sudah nggak cukup lagi kalau harus di pakai untuk acara syukuran," jelas Hendrik dengan bingung.


__ADS_2