Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 69.


__ADS_3

"Hendrik?" seru Richard.


"Richard? Ternyata kamu yang sudah bikin aku celaka?" pekik Hendrik kesal.


"Bu-bukan gitu, Hen. Aku benar-benar nggak sengaja tadi." lalu ia berpaling menatap pengendara lain yang menyaksikan kejadian ini. "Bapak-bapak sekalian, saya kenal dengan Mas ini, jadi saya akan menyelesaikan dengan cara kekeluargaan," ujar Richard sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo yang lain bubar-bubar!" teriak Bapak-bapak itu memberi komando agat tak terjadi kemacetan. Apalagi ini menjelang jam makan siang.


Setelah semua orang bubar, Richard berusaha menghalangi agar Hendrik tak melihat ke dalam mobilnya. Ia tak mau jika Kirana bertemu dengan Hendrik lagi.


"Mbak, saya minta maaf sudah membuat Mbak celaka. Dan ini saya ada sedikit uang bisa Mbak pakai untuk berobat. Jika kurang Mbak bisa hubungin saya ke nomor ini," Richard memberikan uang tunai satu juta rupiah serta kartu namanya.


"Wah, ini juga sudah lebih dari cukup, Mas. Makasih ya, kalau gitu saya mau pesan ojol lagi aja." pamitnya lalu berjalan menjauh sambil tertatih.


Kini tinggal mereka berdua di pinggir jalan itu. Dengan posisi Richard berdiri membelakagi mobil.


Kirana yang melihat dari dalam mobil jadi ikut penasaran. "Kak Richard lama banged sih disana? Padahal orang-orang sudah pada bubar. Berarti kecelakaannya nggak parah dong? Apa aku sebaiknya turun aja ya? Kan sudah kondusif juga keadaannya." gumam Kirana melihat ke belakang.


Kirana membuka pintu mobil, dan berjalan ke arah mereka berdua yang sedang mengobrol serius.


"Kak, sudah aman kan?" seru Kirana.


Sontak membuat mereka berdua berpaling secara bersamaan ke arah Kirana yang berjalan semakin mendekat.


"Kirana? Ini beneran kamu kan?" ucap Hendrik dengan mata berbinar. "Akhirnya aku bisa ketemu lagi sama kamu, Ran. Sudah lama aku cari-cari keberadaanmu. Bahkan aku sering datang ke rumah Tante Linda. Tapi aku nggak pernah dapat jawaban di mana kamu berada."


"Mas Hendrik?" Kirana menunjuk Hendrik dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mulut terbuka. "Kamu kenapa sekarang jadi kerja ojol begini? Bukankah kamu, ...." Kirana enggan meneruskan kalimatnya.


Ia sangat teringat jelas bagaimana sombongnya Judika kala itu yang mengatakan jika harta Hendrik dan Orang tuanya tak akan mudah habis begitu saja. Tapi setelah melihat keadaan Hendrik hari ini, seakan-akan memutar balik semua ucapan Judika.

__ADS_1


"Ceritanya sangat panjang, Ran. Tapi kenapa kalian bisa bersama?" Hendrik menunjuk Kirana dan Richard bergantian, lalu berpaling menatap Richard. "Bukankah barusan kamu bilang kalau kamu nggak tau Kirana ada di mana? Terus kenapa sekarang tiba-tiba ia ada di sini?" tatap Hendrik geram.


Richard membuang nafas kasar. "Karena aku nggak mau kalian bertemu! Tante Linda sebelum meninggal telah menitipkan Kirana padaku. Dan beliau juga berpesan agar Kirana tak kembali lagi bersamamu!" Richard berucap dengan sangat tegas.


"Bohong! Ini pasti hanya karanganmu aja kan? Terbukti dari keberadaan Kirana aja kamu sembunyikan dariku. Pasti soal ini kamu juga bohong!" sergah Hendrik tak terima.


"Terserah! Aku hanya menjalankan amanat dari Tante Linda! Toh kamu juga bukan suami yang baik buat Kirana! Kalau memang kamu suami yang baik, nggak mungkin Kirana sampai pergi dari apartemenmu! Dan kenapa baru sekarang kamu mencarinya?"


"Karena aku terpengaruh sama teman-temanku saat itu! Aku juga sudah lama mencari Kirana, tapi baru sekaranglah aku bisa menemukannya!"


"Kamu kenapa nggak mencoba menghubungiku lagi, Mas?" sela Kirana.


Hendrik mengenggam tangan Kirana erat. "Nomor ponselmu ke hapus saat itu, Ran. Jadi aku susah untuk menghubungimu lagi. Tolong kamu percaya sama aku, aku nggak bohong sama kamu."


Richard segera menepis tangan Hendrik yang memegang tangan Kirana. "Jangan pegang-pegang!" lalu Richard merangkul bahu Kirana.


Tapi dengan cepat Hendrik menarik tangan Kirana agar beralih ke sampingnya. "Kamulah yang jangan pegang-pegang! Kirana masih berstatus sebagai istriku yang sah!" ucapnya dengan mata melotot.


"Aku setuju, Ran. Aku juga ingin menjelaskan banyak hal sama kamu," potong Hendrik.


"Ran, buat apa lagi kamu bicara dengannya?" Richard terlihat kesal.


Kirana menatap Richard. "Kak, bagaimanapun juga di antara aku dan Mas Hendrik, masih ada ikatan pernikahan. Tolong biarkan kami menyelesaikan masalah ini. Entah itu nanti akan berakhir dengan cerai atau tidak rumah tanggaku ini."


"Baiklah, tapi aku ikut kalian! Aku nggak akan biarkan Kirana berbicara berdua aja sama kamu!"


"Hey! Kirana masih sepenuhnya milikku!" ucap Hendrik penuh percaya diri.


"Biarkan Kak Richard ikut, Mas!" sela Kirana.

__ADS_1


Richard tersenyum puas mendengar keputusan Kirana.


"Tapi, Ran...."


"Nggak ada tapi-tapian, Mas. Kalau kamu nggak mengijinkan Kak Richard ikut, lebih baik kita nggak perlu bicara apa-apa lagi," Kirana mulai kesal dengan sikap Hendrik.


"Okeh, tapi dia hanya melihat kita dari jarak jauh kan?" tanya Hendrik lagi.


"Kamu ini lebai sekali sih, Mas? Memangnya kenapa kalau Kak Richard ikut mendengar penjelasan dari kamu? Anggap aja Kak Richard sebagai saksi pembicaraan di antara kita nanti."


Akhirnya Hendrik mau mengalah. Yang penting saat ini dia sudah bertemu kembali dengan Kirana. Dan tinggal lihat keputusan Kirana selanjutnya nanti apa untuk hubungan mereka berdua.


"Motor kamu tinggal aja di bengkel itu. Biar dibetulin dulu, siapa tau ada yang rusak!" saran Richard sambil menunjuk ke salah satu bengkel terdekat.


Setelahnya mereka bertiga menuju ke salah satu cafe terdekat menggunakan mobil Richard.


"Ran, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Aku sangat menyesal karena mudah percaya sama ramalan dan hasutan temanku saat itu. Padahal mereka sama sekali nggak punya keahlian meramal." tutur Hendrik saat mereka sudah duduk di salah satu meja di dalam cafe.


"Aku nggak mau dengar soal itu lagi, Mas. Karena dari awal juga aku sudah tau, jika mereka bohong jika mengatakan aku pembawa sial bagimu. Dan soal rumah makanmu yang terbakarpun aku juga sudah tau," sahut Kirana sambil melipat tangannya di depan dada.


"Lalu kamu mau aku menjelaskan soal apa lagi, Ran?" tanya Hendrik yang mulai bingung.


"Kok jadi kamu tanya sama aku, Mas? Intinya sekrang kamu mau bicara apa sama aku?"


"Aku hanya ingin kamu kembali sama aku, Ran. Aku bakal lakuin apapun juga agar kamu mau menerima aku lagi."


"Yakin?" tanya Kirana sedikit pesimis.


"Yakin, Ran. Bahkan sekarang aja aku rela meninggalkan semua harta orang tuaku dan memilih bekerja jadi ojol," tegasnya.

__ADS_1


Kirana menatap Richard, kemudian Richard terlihat menggelengkan kepalanya.


__ADS_2