Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Ban 7. Pelit Atau Irit


__ADS_3

Namun belum sempat Rudi menerima ponsel Kirana, tiba-tiba Hendrik menyusul ke dalam ruangan fitting.


"Sudah nemu yang cocok? Kenapa kamu lama sekali sih nyobain gaunnya?" tanya Hendrik sambil memperhatikan Kirana yang masih memakai bajunya utuh.


"Aku masih bingung mau pilih yang mana, Mas. Soalnya semua bagus-bagus. Tapi tadi aku sudah nyoba beberapa gaun kok. Iya kan, Rud?" Kirana menyengol tangan Rudi.


"Ah, eh iya kok, Hen. Tadi dia sudah nyoba, tapi masih belum nemu ukuran yang pas. Ini kita masih mau nyari lagi," tukas Rudi gugup.


"Ya sudah lanjutkan, aku tungguin disini aja kalau gitu."


Lalu Hendrik duduk di sofa tepat di samping Kirana berdiri.


Kirana yang melihat Hendrik sudah duduk, mendadak jadi kesal. "Ck, andai tadi aku bisa lebih cepat sedikit saat mencari foto Sintya, pasti sekarang kan aku tau jawabannya soal Sintya," gerutu Kirana lirih sembari menghentakkan kakinya secara kasar.


Rudi yang melihat tingkah kekanakan Kirana hanya tersenyum tipis.


"Aku mau yang ini aja deh, Rud," ujar Kirana saat melihat dirinya ke arah kaca besar yang ada di ruangan itu.


"Cucok meong deh. Kamu nggak sekalian ambil sepasang, Hen? Biar semakin 'wah' gitu," tanya Rudi lalu melirik sekilas ke sofa tempat Hendrik duduk.


"Berapa harganya kalau sepasang?" Hendrik mengerutkan alisnya.


"Sebenarnya sih normalnya 10 juta. Itu sudah include make-up sepasang ya. Tapi karena aku sudah kenal sama kamu, jadi aku kasih harga teman deh, tujuh juta lima ratus ribu aja. Gimana?" tawar Rudi.


"Bisa kurang lagi nggak?"


"Haduh, gimana ya, Hen? Itu sudah murah banget loh. Masa masih mau kamu tawar lagi sih?" Rudi nampak kecewa saat Hendrik minta di kurangin lagi harganya.


"Tiga juta aja boleh nggak? Kalau nggak boleh ya sudah nggak jadi."


"Astaga, Hen. Harga segitu mah cukup buat biaya dryclean gaunnya aja nanti. Lagian kamu pelit banget sih jadi orang? Ini kan buat acara nikahanmu sendiri. Sekali seumur hidup loh, masa mau yang murahan sih?" protes Rudi.

__ADS_1


"Sama yang waktu itu aja kamu nggak pakai acara tawar menawar. Bahkan uang DP hangus, kamu juga nggak masalahin," sambung Rudi lagi.


Seketika Hendrik menoleh ke arah Rudi dengan wajah memerah. "Jangan ngarang lah, Rud. Aku kan baru kesini sekarang sama Kirana." sanggah Hendrik cepat.


Rudi akhirnya tahu kalau maksud Hendrik berkata seperti itu adalah untuk jangan sampai Kirana tau kalau dulu dia sempat mau nikah tapi gagal.


"Oh iya, aku salah orang," sahut Rudi.


Membuat Kirana mengernyitkan keningnya. "Tadi Rudi bilangnya Mas Hendrik pernah kesini dan booking baju, tapi sekarang saat Mas Hendrik bilang kalau Rudi hanya ngarang, Rudi juga membenarkan. Jadi yang bener yang mana sih ini?" batin Kirana merasa jengkel.


"Jadi gimana? Boleh nggak harga segitu?" tanya Hendrik lagi.


"Sudah Mas, jangan di tawar lagi. Pakai harga normalnya aja nggak apa kok. Aku siap kalau harus keluar uang juga," celetuk Kirana.


"Nggak perlu! Kamu simpan aja uangmu itu. Untuk acara pernikahan nggak harus pakai gaun dan make-up yang mewah. Yang penting itu kita bisa resmi jadi suami istri," tolak Hendrik tegas.


"Tapi benar kata Rudi, Mas. Acara ini kan sekali seumur hidup. Apa salahnya kalau kita pilih yang terbaik?" Kirana masih mencoba membujuk Hendrik.


"Kamu lebih fokus ke acara nikah ini apa kehidupan kita setelah nikah?" Hendrik berucap sedikit lantang. Untung saja bridal tempat Rudi sore ini sedang sepi. Jadi nggak ada yang mendengar perdebatan mereka kecuali Rudi.


"Gini aja deh, Hen. Aki kasih harga lima juta kamu mau nggak? Biar dah aku rugi juga nggak apa. Aku nggak tega soalnya liat calon istrimu," ujar Rudi.


Hendrik tampak menimbang-nimbang tawaran yang di berikan oleh Rudi. "Okelah, aku setuju!" sahut Hendrik kemudian.


"Berarti fix yang ini ya gaun yang di pakai nanti?" tanya Rudi pada Kirana dengan wajah mulai tak bersemangat.


"Rud, aku boleh minta nomor ponselmu nggak?" bisik Kirana saat Rudi berdiri di sampingnya.


"Buat apa? Maaf sepertinya aku nggak bisa kasih. Aku nggak mau ya kalau nanti Hendrik salah paham sama aku," tolak Rudi halus.


"Aku mau tanya-tanya lagi soal perempuan yang kamu ceritain tadi. Sumpah aku jadi penasarn nih sekarang," bujuk Kirana.

__ADS_1


"Lebih baik nggak usah cari tau yang sudah berlalu. Yang penting kan sekarang dia nikahnya sama kamu. Berarti kamulah pemenangnya. Apalagi di tambah sekarang kamu lagi hamil anaknya. Pasti dia juga udah ngelupain perempuan itu," saran Rudi sembari tersenyum ke arah Kirana.


"Tapi aku hamil anaknya itu karena dia dalam keadaan mabuk berat saat itu. Pernikahan ini aja terjadi karena terpaksa," ujar Kirana lirih.


"Andai aku nggak hamil, aku juga nggak bakal nikah sama dia. Pliss, bantuin aku ya. Aku nggak mau kalau masih ada yang belum selesai di masa lalu Mas Hendrik saat kita sudah resmi nikah nanti," lagi-lagi Kirana berusaha merayu Rudi agar mau memberikan informasi padanya soal perempuan misterius itu.


"Ayo, Ran kita pulang kalau kamu sudah selesai," Hendrik tiba-tiba menyusul masuk ke kamar ganti.


"Iya, Mas. Ini sudah selesai kok."


Saat berada di dalam mobil, Kirana terus memikirkan cara agar dia tau siapa perempuan itu.


"Mas, perempuan yang di maksud sama Rudi itu tadi siapa ya? Kok bisa kalian sampai udah fitting gaun pengantin juga?" tanya Kirana tanpa basa-basi lagi.


Perasaan kecewa, penasaran, cemburu, iri, dan marah semua berkecamuk di dalam hatinya.


"Tadi sudah jelas kan kalau Rudi hanya ngayal aja."


"Bohong! Tadi siang karyawanmu ada yang bilang kalau ada satu perempuan yang sering datang menemui kamu. Terus tadi Rudi juga bilang kalau kalian sempet fitting gaun buat nikah. Nggak mungkin kan kalau semua itu hanya sebuah hayalan yang di karang oleh dua orang yang berbeda, tapi hayalannya sama?" tandas Kirana penuh amarah.


Ciiitttt!


Hendrik menepikan mobilnya dan menginjak rem secara mendadak. Lalu dia menatap ke arah Kirana dengan tatapan tajam.


"Jadi ini yang lebih penting buat kamu? Memangnya kalau kamu sudah tau siapa perempuan itu, apa yang bakal kamu lakuin? Apa bisa kamu membuat aku bisa bersatu dengan dia?" bentak Hendrik.


Degh!


Sebuah kalimat pernyataan yang mampu membuat hati Kirana teriris perih. Belum resmi menikah aja Hendrik sudah membentaknya dengan kasar begini.


"Aku hanya ingin kamu menyelesaikan masalah hatimu dengan dia sebelum kita benar-benar resmi menikah, Mas. Okeh aku bisa terima kalau saat ini kamu memang belum ada rasa cinta sama aku. Tapi aku juga nggak mau kalau kamu masih terbayang-bayang sama perempuan lain.

__ADS_1


Kasih tau aku siapa dia, Mas. Mungkin dengan aku tau siapa dia, aku bisa mencoba berdamai dengan keadaan. Dan mungkin juga aku bisa mencoba membantu kamu agar bisa melupakan dia.


Apakah perempuan itu Sintya sahabatku, Mas?" tanpa di sadari air mata Kirana kini sudah mulai berjatuhan membasahi pipi mulusnya.


__ADS_2