Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 71.


__ADS_3

Tak berselang lama, ponsel Kirana tiba-tiba berbunyi. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ternyata itu telpon dari Hendrik.


Kirana hanya memperhatikan layar itu tanpa ingin menerimanya. Hingga membuat Richard melirik penasaran.


"Kok nggak di angkat, Ran?"


"Nanti aja kalau sudah di apartemen," jawab Kirana acuh.


Kini ia tak ingin Richard terlalu banyak ikut campur dalam masalahnya setelah ia tau jika Richard menyimpan perasaan padanya.


"Oh! Pasti itu telpon dari Hendrik kan? Kenapa nggak di angkat aja? Kamu nggak mau aku denger pembicaraan kalian lagi kah?


Ck! Beruntung banged ya jadi Hendrik. Sudah nyakitin kamu, tapi masih bisa dapet maaf darimu!" Richard berucap dengan sinis.


"Bukan gitu, Kak. Aku memang lagi males ngomong sekarang. Dan tolong kamu juga jangan terlalu banyak ngatur soal hidupku. Kamu sendiri aja nggak mau kan aku atur?" Bantah Kirana kesal.


"Sadar dong, Ran. Hendrik itu nggak cinta sama kamu! Kamu ngapain mau mempertahankan hubungan dengan orang seperti itu?"


"Kak, lebih baik aku turun di sini aja deh. Aku nggak mau berdebat hal ini terus sama kamu. Cukup sekali tadi aja aku jelasin alasanku sama kamu. Tolong kamu berhenti, aku mau naik taksi online aja."


"Okeh, aku minta maaf. Aku janji nggak bakal bahas soal ini lagi," Richard akhirnya memilih diam kembali. Meskipun perasaannya sangat kecewa pada Kirana.


Sesampainya di apartemen, mereka segera masuk ke dalam kamar apartemen masing-masing. Tak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka berdua.


Baru saja Kirana meletakkan ponselnya ke atas nakas, ternyata ada satu notifikasi pesan masuk dari Hendrik.


[Ran, kamu sudah sampai belum? Kok tadi aku telpon nggak di angkat sih? Apa Richard melarangmu?]


Kirana hanya membaca saja pesan itu. Lalu kembali meletakkan ponselnya. Baginya pesan Hendrik saat ini tidak terlalu penting. Dan pertanyaan yang ia tanyakan juga sepertinya tidak perlu Kirana jawab.


Hingga malam hari ponsel Kirana terus saja berdering. Sampai ia terganggu dalam mengerjakan perkerjaannya.


"Halo, kamu kenapa sih, Mas? Apa ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Kirana ketus.


"Maaf kalau aku ganggu kamu. Aku hanya mau ajak kamu makan malam. Tapi di warung tenda pinggir jalan. Mau nggak?"

__ADS_1


"Maaf, Mas. Bukan aku nggak mau, tapi aku lagi males keluar. Lagian ini juga sudah malem. Aku mau langsung istirahat aja setelah selesai kerjaanku ini," tolaknya halus.


Padahal sebenarnya ia sedang lapar juga. Tapi ia tak ingin luluh begitu aja dengan ajakan Hendrik.


"Oh, gitu. Ya sudah deh kalau gitu. Selamat istirahat ya, Ran." Lalu panggilan pun di akhiri.


Satu jam kemudian, terdengar bel kamar berbunyi.


Kirana mengerutkan keningnya. "Siapa malam-malam datang kesini? Masa Kak Richard sih? Tapi kan dia lagi marah sama aku."


Dengan langkah malas ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan membukakan pintu.


"Mas Hendrik?" pekiknya tertahan saking terkejutnya.


"Hai, kamu pasti belum makan kan? Nih aku bawain kepiting saos padang kesukaanmu," Hendrik menyodorkan satu kantong kresek berwarna putih. "Tapi maaf ya, itu aku belinya di warung pinggir jalan. Belum tau juga sih rasanya enak atau nggak," sambungnya lagi.


"Hah? Kamu ngapain repot-repot segala sih? Tapi makasih ya," sahut Kirana dengan senyum yang dipaksakan.


"Kamu nggak nyuruh aku masuk dulu? Biar sekalian aku masak ulang kepitingnya. Siapa tau itu ada yang kurang dari rasanya."


Namun sayangnya penolakan Kirana itu diabaikan oleh Hendrik. Ia dengan sigap segera berjalan ke dapur, dan mengoreksi rasa masakan yang ia beli. Ternyata benar, rasanya sidikit hambar.


"Kamu tunggu aja di meja makan ya. Aku mau masak sebentar," titahnya sambil menuntun Kirana duduk.


Lima belas menit kemudian, ia kembali lagi dengan membawa nampan berisi satu piring kepiting saos padang, satu piring nasi, dan satu gelas susu hamil.


"Silahkan dimakan, Sayang."


Kirana menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Andai kamu selalu begini saat itu, Mas. Pasti rumah tangga kita akan baik-baik saja," gumam Kirana.


"Hei, kok malah melamun. Ayo dong dimakan. Aku bantuin kupas cangkang kepitingnya ya," Lagi-lagi dengan sigap Hendrik melakukan hal yang di perlukan Kirana.


"Buka mulutnya," Hendrik menyuapkan nasi ke arah mulut Kirana.


"Aku bisa sendiri, Mas," tolak Kirana, tapi Hendrik kali ini tak mau memundurkan tangannya sebelum Kirana memakan nasi yang ada di tangannya.

__ADS_1


Hendrik terus saja melakukan itu hingga nasi di piring itu habis tak bersisa. "Sekarang kamu minum ya, susunya. Mumpung masih hangat,"


Setelah semua habis, ia segera membawa semua bekas makan itu ke dapur lagi. Hendrik sama sekali tak mengijinkan Kirana untuk bergerak.


Beberapa menit kemudian, Hendrik kembali menghampiri Kirana yang sedang duduk di sofa sambil mengamati layar laptopnya.


"Ran, aku boleh bicara lagi sama kamu? Itu pun kalau kamu nggak sibuk," lirihnya.


Kirana segera menutup kembali layar laptopnya. Ia tak ingin Hendrik mengetahui soal toko bunganya.


"Mau bicara apa lagi, Mas?" tanya Kirana sambil melihat ke arah jam dinding.


"Nggak lama kok, Ran," ujar Hendrik yang tau jika Kirana mulai merasa tak nyaman.


Kirana mengangguk setuju. Kemudian, Hendrik duduk di lantai dekat kaki Kirana.


"Jangan duduk di bawah, Mas. Aku nggak nyaman lihatnya," celetuk Kirana.


"Nggak apa, Ran. Aku lebih nyaman duduk di lantai."


Kirana menghela nafas. "Terserah kamu aja lah kalau gitu. Terus mau bicara apa kamu, Mas?"


Hendrik meraih tangan Kirana. "Kembalilah sama aku, Ran. Aku baru sadar ternyata aku sayang sama kamu. Di saat kamu jauh dari aku, aku jadi kurang semangat dalam menjalani hidup.


Tapi semenjak tadi pagi aku bertemu kamu lagi, aku jadi semangat lagi. Jadi tolong hiduplah bersamaku lagi," pintanya dengan isakan tangis.


"Kenapa kamu ngotot banget pengen aku balik lagi sama kamu sih, Mas? Apa karena kamu lihat aku tinggal di apartemen mewah, lalu kamu jadi berpikiran kalau aku sudah sukses?


Kamu salah paham kalau gitu, Mas. Apartemen ini milik Kak Richard. Aku di sini hanya di kasih tumpangan gratis."


"Nggak, Ran. Kamu yang salah paham. Kali ini aku berkata jujur sama kamu. Aku memang sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu.


Jadi aku mohon tinggalah sama aku meskipun hanya di kontrakan kecil. Apalagi tadi kamu juga bilang kalau ini apartemen milik Richard. Kembalikan semua milik Richard.


Aku janji bakal kerja lebih keras lagi, biar bisa membangun bisnis lagi dan membelikanmu rumah yang jauh lebih nyaman dari ini. Kamu mau kan Ran ikut denganku?" Hendrik memohon sambil menaruh kepalanya di pangkuan Kirana.

__ADS_1


__ADS_2