Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 58.


__ADS_3

Kirana kemudian memutar mobilnya, lalu kembali jalan menuju ke toko.


"Sebaiknya kita jangan datang lagi ke rumah Tante. Atau mungkin lebih baik rumah Tante kita sewakan aja ya, Ran? Uangnya nanti bisa kamu pakai untuk beli rumah," tawar Tante Linda.


"Kalau Tante mau sewain rumah itu, terus nanti kalau Om Alex pulang bagaimana?" Kirana menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan.


Tante Linda berpaling menatap kaca mobil, "Mungkin Om kamu nggak bakal balik lagi ke sini, Ran," sahutnya lirih.


Kirana terkesiap, satu tangannya meraih tangan Tante Linda. "Tante nggak boleh bilang begitu. Om Alex kan lagi kerja di sana. Lagipula selama ini Om Alex selalu telpon Tante kan? Uang bulanan juga pasti selalu dikirim kan?"


"Semua sudah berubah, Ran. Om mu sudah satu bulan terakhir ini jarang menghubungi Tante, Ran. Bahkan uang bulanan yang biasanya ia beri, sampai sekarang belum juga dikirim," tiba-tiba saja Tante Linda mulai meneteskan air matanya.


"Sabar ya, Tan. Kita doakan aja semoga Om Alex di sana baik-baik saja. Dan semoga secepatnya Om Alex pulang lagi ke Surabaya," Kirana masih terus mengenggam tangan Tante Linda agar Tante Linda merasa tenang.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di toko. Beberapa karyawan juga sudah mulai berdatangan. Termasuk beberapa karyawan baru yang akan mulai bekerja hari ini.


Pukul 08.00 toko bunga kembali dibuka. Namun, tiba-tiba terlihat mobil Sintya datang memasuki parkiran ke toko. Kirana yang masih berada di lantai satu gegas naik ke lantai dua bersama dengan Tante Linda.


"Ada apa lagi dia datang kemari?" batin Kirana sambil mulai menatap layar CCTV.


"Brak!" Sintya mengebrak meja. "Mana bos kalian? Suruh dia keluar menemui saya! Saya mau komplain atas kelakuan karyawannya selama mengerjakan dekor di rumah saya kemarin!" amuknya kala baru memasuki toko.


Sisil yang ketakutan saat melihat Sintya mengamuk, segera menelpon Kirana.


"Bu Carol, ini sepertinya client kita yang kemarin datang lagi sambil marah-marah. Saya harus bagaimana? Apa saya arahin dia untuk ke ruangan Bu Carol saja? Saya dan teman-teman yang lain takut, Bu," lirih Sisil sambil sesekali melihat ke arah Sintya.


"Tolong kamu handel dia ya, Sil. Soalnya saya nggak mungkin menemui dia. Karena dia salah satu orang yang saya hindari.


Kamu bilang aja kalau saya sedang sibuk. Dan suruh aja dia sampaikan komplainnya ke kamu. Kalau dia masih ngotot, kamu minta tolong security untuk minta dia pergi.

__ADS_1


Kamu jangan khawatir, saya terus pantau kamu dari CCTV ini. Jadi kalau sampai dia berbuat kasar pun, kita bisa laporin dia balik," tutur Kirana panjang lebar.


"Baik, Bu. Kalau gitu saya samperin dia dulu." Sisil menutup telponnya lalu berjalan mendekati Sintya. Beberapa karyawan yang lain hanya melihat dari jarak jauh.


Dan untungnya ini masih pagi, jadi toko belum terlalu ramai oleh pengunjung.


"Selamat pagi, Kak. Mohon maaf, bos kami sedang sibuk. Kalau misal ada komplain bisa sama saya. Nanti saya yang akan menyampaikan pada Bu Carol," ucap Sisil ramah.


"Saya hanya mau bicara sama bos kalian! Kalau bos kalian nggak mau menemui saya, terpaksa masalah ini akan saya bawa ke jalur hukum. Karena di antara kalian kemarin ada yang mencuri di kamar saya!" tegas Sintya dengan mata melotot dan berkacak pinggang.


Sisil terkejut dengan tuduhan Sintya. Bahkan tiga orang yang kemarin juga ikut mendekor di rumah Sintya pun jadi ikut mendekati Sisil dan Sintya. Padahal awalnya mereka tak mau ikut campur.


"Me-mencuri? Mencuri apa ya, Kak? Karena saya bisa pastikan di antara kami kemarin tidak ada yang mencuri apapun dari kamar Kakak." Sisil mulai gemetar, meskipun ia yakin tak ada yang melakukan pencurian itu.


"Halah! Mana ada maling yang mau ngaku! Pokonya sekarang saya mau bertemu dengan bos kalian. Kalau kalian masih menghalangi, terpaksa saya laporkan ke kantor polisi kasus ini!" ancam Sintya.


"Bu Carol, ini kami malah di tuduh mencuri barang di kamarnya kemarin. Saya harus bagaimana ya, Bu?" tanya Sisil ketakutan.


"Kamu jangan takut, sekarang kamu harus bisa pastikan kalau memang di antara kalian kemarin tak ada yang mencuri.


Kalau dia mengancam akan melaporkan kalian, silahkan saja. Toh dia juga nggak punya bukti kalau kalian lah yang mencuri. Saya akan jamin kalian aman," sahut Kirana.


Setelah Kirana menutup telponnya, Tante Linda berinisiatif untuk turun ke bawah menemui Sintya. Tentunya dengan sedikit menyamar menggunkan topi, masker serta kacamata hitam.


"Apa pemilik toko bunga ini sama sekali nggak mau menyelesaikan masalah ini? Apa begini caranya jika ada client komplain maka karyawannya yang di suruh menemui?" teriak Sintya yang mengundang perhatian beberapa pengunjung lain.


"Jangan kamu teriak-teriak di toko saya!" bentak Tante Linda yang sudah berdiri di belakang Sintya.


Sintya balik badan, menatap Tante Linda dari ujung kaki sampai ujung kepala. Matanya mulai menyelidiki.

__ADS_1


Kirana yang melihat dari rekaman CCTV juga ikut terkejut. "Tante Linda kenapa nekat turun ke bawah sih? Nanti kalau sampai Sintya tau itu Tante Linda kan bisa bahaya," cemas Kirana sambil berjalan mondar-mandir di ruangannya.


"Oh jadi anda pemilik toko bunga ini? Kenapa baru muncul sekarang! Tadi aja sok sibuk, giliran di ancam mau di laporin, baru mau muncul!" bentak Sintya dengan angkuhnya.


"Silahkan duduk dulu, kita bicara baik-baik," Tante Linda menanggapinya dengan santai.


"Nggak bisa! Saya hanya mau minta tanggung jawab atas hilangnya barang saya di kamar!"


"Baiklah kalau anda tidak bisa di ajak bicara baik-baik. Sekarang saya mau tanya, barang apa yang hilang? Dan apakah anda punya bukti jika karyawan kami yang mengambil?


Jika anda hanya membuat tuduhan palsu oada karyawan saya, dengan berat hati saya akan laporkan anda balik dengan tuduhan pencemaran nama baik serta membuat kegaduhan di toko saya!" ucap Tante Linda penuh penekanan.


Wajah Sintya nampak berubah menjadi malu. Padahal awalnya ia sangat garang.


"Sa-saya nggak punya bukti. Tapi saya yakin kalau merekalah pelakunya. Karena hanya mereka yang masuk ke kamar saya kemarin!"


"Oh, ya? Lalu bagaimana dengan laki-laki yang masuk ke kamar anda setelah karyawan saya pulang? Bukankah anda sendiri yang bilang jika anda akan melakukan malam pertama? Entah itu malam pertama yang baik atau buruk!" sinis Tante Linda.


Semua mata yang memperhatikan akhirnya kembali berbisik-bisik. Membuat Sintya kembali meradang.


"Jadi anda menuduh suami saya yang mencuri?" bantah Sintya tak mau kalah.


"Suami saya anda bilang?" Tante Linda tersenyum miring. "Bukannya itu suami orang yang anda undang masuk ke kamar anda semalam? Uups maaf, saya keceplosan bicaranya," kembali berpura-pura menutup mulutnya.


"Awas aja kamu ya! Saya akan laporkan masalah ini! Jangan mentang-mentang anda lebih tua, lantas membuat saya takut!" geram Sintya sambil menunjuk wajah Tante Linda.


"Silahkan! Dan sebaiknya sekarang juga anda keluar dari sini secara baik-baik sebelum saya panggil petugas keamanan untuk menyeret anda keluar!" tegas Tante Linda lalu berjalan meninggalkan Sintya yang masih berdiri mematung menahan amarah.


"Siapa anda sebenarnya?" tanya Sintya lantang.

__ADS_1


__ADS_2