Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 74.


__ADS_3

Kirana mulai merasa tak nyaman dengan tatapan Richard. Apalagi semakin lama justru wajahnya semakin dekat dengan wajah Kirana.


"K-kak, kamu mau ngapain?" tanya Kirana terbata, namun tanganya dengan sigap segera munutup mulutnya sendiri.


"Aarrrgghhh!" teriaknya sambil menjauhkan wajahnya dari Kirana. "Bisa gila aku lama-lama kalau begini!" imbuhnya merasa sangat frustasi. Kemudian ia memilih untuk keluar dari sana dan kembali ke apartemennya sendiri.


Kirana bernafas lega. Setidaknya saat ini Richard tak sampai melakukan hal yang di luar batasannya. ia cepat-cepat menutup pintunya kembali, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Secepatnya aku harus pindah dari sini. Aku nggak mau terlalu banyak hutang budi sama Kak Richard dan keluargannya. Takutnya Kak Richard justru semakin nekat nantinya." desis Kirana sambil mulai mengemasi pakainannya ke dalam travelbag miliknya.


Setelah semua pakaiannya selsai ia kemasi. Kirana segera menghubungi Sisil.


"Halo, Sil. Kamu ada di mana?"


"Kakak kenapa suaranya gemetar begitu? Kakak baik-baik aja kan? Atau mau aku ke sana sekarang?"


"Iya, Sil. Tolong kamu ke sini sekarang ya. Bantuin aku mindahin barang-barang. Aku nggak bisa soalnya kalau sendiri," sahut Kirana asal. Ia tak mau Sisil banyak tanya saat di telpon.


"Ya sudah Kak, aku kesana sekarang ya."


Beberapa menit kemudian, Sisil telah sampai. Ia heran melihat tingkah Kirana yang seperti orang ketakutan. Apalagi saat pintu baru dibuka, Kirana langsung menarik tangan Sisil agar cepat masuk ke dalam.


"Kakak kenapa sih? Kenapa seperti orang ketakutan begitu?" ucap Sisil sambil mengikuti langkah kaki Kirana yang berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sstttss," Ia menaruh jari telunjuknya di bibir. "Kamu jangan banyak tanya dulu, ya. Sekarang aku minta kamu bantuin aku bawa travelbag ku ini turun ke bawah," titahnya sambil mendorong travelbag itu ke arah Sisil.


Mata Sisil membulat sempurna tatkala melihat travelbag itu di sodorkan ke arahnya. Ingin rasanya ia bertanya lagi, tapi tadi Kirana sudah memintanya jangan banyak bertanya dulu. Akhirnya ia mengikuti permintaan Kirana, meskipun di benaknya penuh tanda tanya.


Sesampainya di loby, Kirana segera memesan taksi online. Karena mobil Tante Linda sudah ia kembalikan pada Om Alex. Dan saat ini memang dia belum ada rencana untuk punya mobil sendiri. Ia lebih nyaman jika bepergian menggunakan taksi online.


Lima menit kemudian taksi online yang ia pesan tiba. Kirana dan Sisil masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Sesuai aplikasi ya, Bu?" tanya sang supir.


"Iya, Mas."


"Kak, kita mau kemana sih? Terus Kakak kenapa perginya malam-malam begini? Kakak berantem sama Kak Richard? Pasti ini gara-gara aku tadi pagi ya? Aku minta maaf ya, Kak. Aku nggak tau kalau bakal jadi begini," lirih Sisil sambil mengigit bibir bawahnya.


"Kamu ngomong apa sih, Sil. Ini semua nggak ada hubungannya sama kamu kok. Ini murni masalahku sama Kak Richard. Lebih jelasnya nanti aja ya aku ceritanya di hotel. Nggak enak cerita di sini," putus Kirana lalu ia kembali membuang muka ke arah jalanan.


Sisil pun kembali diam sesuai permintaan Kirana. Namun di hatinya sempat kecewa jika Kirana tak akur lagi dengan Richard. Itu berarti sama aja dengan dia yang tak bisa bertemu lagi dengan Richard.


"Sil, Kamu malam ini tidur di sini ya, temanin aku," pinta Kirana saat mereka sudah masuk ke dalam kamar hotel.


"Okeh, Bos! Tapi Kakak mau tinggal di sini sampai kapan? Nanti kalau Kak Richard nyari Kak Kirana ke toko gimana?"


Kirana berjalan membuka tirai kamar. Kini terlihat pemandanga kota Surabaya di malam hari. Suasana yang begitu hiruk pikuk meski sudah hampir tengah malam.


"Aku hanya beberapa malam aja di sini, Sil. Setidaknya sampai aku mendapatkan rumah yang cocok dan nggak jauh juga dari toko," ia menghela nafas. "Dan kalau misal nanti Kak Richard datang ke toko, kamu bilang aja nggak tau apa-apa soal aku ya, Sil. Tolong banged," sambungnya lagi, tapi arah matanya masih melihat keluar jalanan.


Kirana terdiam sejenak, ia takut jika ceritanya nanti akan membuat Sisil salah paham padanya. Tapi kalau dia tidak cerita, kasihan juga Sisil selalu mengharapkan laki-laki yang tak pernah mau dekat dengannya.


"Kak, napa malah diam? Ya sudah deh kalau nggak mau cerita. Aku nggak maksa kok," celetuk Sisil.


"Sil, andai laki-laki yang kamu cintai ternyata mencintai perempuan lain, apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Kirana tiba-tiba hingga membuat Sisil langsung merubah posisinya menjadi duduk tegak.


"Hah? Maksudnya Kak Richard saat ini mencintai perempuan lain gitu?"


Kirana menganggukan kepala.


"Hahaha!" Sisil tertawa besar. "ya sudah biarin aja, Kak. Toh aku sama Kak Richard kan memang belum ada ikatan apa-apa. Jadi ya Kak Richard juga masih bebas mau mencintai siapapun," ungkapnya dengan sangat yakin.


Kirana berpaling menatap Sisil, kemudian duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Oh, jadi ini penyebab Kakak berantem sama Kak Richard? Uhh, aku jadi terharu deh, Kakak ngebelain aku sampai segitunya. Padahal Kakak kan sudah enak tuh tinggal di apartemen Kak Richard yang sangat mewah. Tapi karena Kakak nggak terima saat tau Kak Richard mencintai perempuan lain, Kakak malah lebih pilih keluar dari sana," Sisil berucap sambil memeluk Kirana dari samping.


Kirana memilih diam, biarlah saat ini Sisil berpikiran seperti itu. Karena jika Sisil tau perempuan yang Kirana maksud adalah dirinya, belum tentu Sisil masih bisa tertawa.


Apalagi Sisil adalah orang kepercayaannya selama membuka toko bunga. Jadi Kirana tak ingin merusak hubungan itu hanya karena persoalan Richard.


"Ya sudah, kita istirahat dulu yuk, Kak. Tapi aku mau mandi dulu ya. Soalnya tadi baru pulang dari toko dan belum sempat mandi," desisnya.


Kirana menutup hidungnya. "Pantes dari tadi aku mencium bau-bau asem gitu. Ternyata kamu belum mandi," ledek Kirana.


"Siapa suruh nyuruh aku cepat-cepat datang. Ya inilah resikonya," sahut Sisil seraya menjulurkan lidahnya.


Saat Sisil sedang mandi, Kirana mempunyai rencana jika nanti ia sudah beli rumah, maka ia akan mengajak Sisil untuk tinggal bersamanya. Hitung-hitung agar rumah tak terlalu sepi.


Sebenarnya Kirana sudah lama menganggap Sisil sebagai adiknya. Apalagi Sisil juga sebatang kara tinggal di kota Surabaya ini. Tapi, untuk mengajak Sisil tinggal bersamanya itu yang masih ia ragukan saat itu. Karena ia takut jika Sisil sering melihat perlakuan Richard padanya.


"Kak, ngelamun mulu sih! Ntar kesambet loh," tegur Sisil saat baru keluar dari kamar mandi.


"Ish, kamu ini ganggu orang lagi menghayal aja."


"Hayo, lagi ngehayalin apa?"


"Anak kecil jangan terlalu kepo." sahut Kirana sambil melempar bantal. Lalu ia langsung tertidur pulas.


Keesokan paginya, setelah selesai sarapan Sisil pamit untuk pergi ke toko. Karena akan ada bunga yang datang.


"Nanti siang pas jam istirahat, kamu kesini lagi, ya. Temenin Kakak lihat rumah. Kebetulan ini ada yang menarik perhatian Kakak." titah Kirana tapi matanya masih fokus menatap ponselnya.


Pukul 09.30, Sisil sudah berangkat ke toko. Sedangkan Kirana sendiri juga kembali mulai mengecek laporan penjualan harian. Tapi tiba-tiba kedua ponselnya berdering secara bersamaan. Saat ia lihat layar ponselnya, ternyata ada panggilan masuk dari Richard dan Hendrik.


"Hah? Kenapa bisa bersamaan begini sih mereka telponnya?" gerutu Kirana kesal.

__ADS_1


__ADS_2