Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 18. Curiga.


__ADS_3

"Iya, maaf aku hanya bercanda. Habisnya aku takut kalau Hendrik bakal ngelarang kamu buat ketemu sama aku lagi," Johan mengacak lembut rambut Kirana.


Namun Kirana hanya diam saja. Padahal biasanya dia akan protes kala rambutnya di acak-acak oleh Johan.


"Ran, kamu baik-baik saja kan? Kok aku lihat sepertinya kamu sedang ada masalah?" tebak Johan kala melihat raut wajah Kirana yang masih melamun.


"Hei, Ran!" kali ini Johan menepuk-nepuk pipi Kirana.


"Eh, iya. Kenapa Mas? Mas ngomong apa barusan? Maaf aku nggak dengar," Kirana terlihat kelabakan sendiri.


"Ya jelas nggak dengar, lah kamu lagi ngelamun. Lagi pula ngelamunin apa sih kamu? Baru juga nikah kemarin, sekarang dah ngelamun lagi," ledek Johan.


"Siapa yang ngelamun sih, Mas?" sahut Kirana lalu beranjak masuk ke dalam kamar yang kemarin sempat ia tempati.


"Jangan bohong, Ran. Aku bisa tau kalau kamu sedang ada masalah saat ini. Ceritalah, biar kamu nggak terbebani lagi." Johan memegang bahu Kirana.


"Iya, Mas. Kalau aku ada masalah, aku pasti akan cerita. Tapi masalahnya sekarang aku memang lagi nggak ada masalah. Percaya deh sama aku," Kirana mencoba tersenyum demi menutupi beban pikirannya saat ini.


"Mertua sama iparmu bagaimana sikapnya sama kamu?"


"Baik."


"Baik aja? Nggak ada yang lain selain kata baik kah?" selidik Johan.


"Aku kan baru kenal sama mereka, Mas. Jadi belum bisa menilai mereka lebih dalam."


"Ran, kalau misal aku pergi jauh. Kamu jaga diri baik-baik ya," tiba-tiba Johan meneteskan air matanya.


"Kamu ini kenapa sih, Mas? Daritadi ngomongnya ngaco terus deh."


Johan hanya membalasnya dengan tersenyum getir. Seakan-akan dia sudah punya firasat, akan ada hal buruk yang akan menimpannya tak lama lagi. Namun dia sendiri juga tidak tau kapan itu akan terjadi. Setidaknya dia sudah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya pada Kirana.


"Ran, kalau sudah selesai beresin bajumu, kita ngobrol di luar yuk. Aku kangen nongkrong berdua sama kamu," ajak Johan tiba-tiba.


"Boleh, Mas. Kita jalan ke mall yuk, sekalian kita nonton juga nanti," sahut Kirana dengan penuh semangat.


"Kamu sudah ijin sama Hendrik? Inget, sekarang kamu sudah punya suami, jadi mau kemanapun kamu harus ijin dulu sama suamimu. Biarpun itu kamu keluarnya sama aku," Johan mengingatkan Kirana akan kewajibannya. Karena ia tak mau jika adiknya berbuat salah.

__ADS_1


"Siap bos!" Kirana memberi hormat seperti sedang upacara bendera.


Tak selang lama Kirana menghampiri Johan lagi. "Yok lah kita jalan sekarang aja," ajak Kirana.


"Apa kata Hendrik? Dia ngijinin kan?" Johan memastikan kembali.


"Belum dibaca sih, mungkin dia lagi sibuk. Tapi aku yakin Mas Hendrik pasti ngijinin kok."


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di mall terbesar di Surabaya. Di sana mereka langsung menuju ke lantai foodcourt. Karena memang mereka sama-sama belum makan.


Namun saat Kirana akan menaiki escalator, dari arah berlawanan terlihat Hendrik dan Judika akan turun. Hendrik yang melihat keberadaan Kirana terlebih dulu, segera menarik tangan Judika untuk ikut bersembunyi bersamanya.


"Apaan sih lu, Bang? Main tarik-tarik aja. Untung gua nggak jatuh tadi!" protes Judika.


"Tuh lihat kesana!" Hendrik memutar kepala Judika agar melihat keberadaan Kirana yang sedang jalan sama Johan.


"Ngerti kan lu sekarang alasan kenapa lu tadi gua tarik secara tiba-tiba?" omel Hendrik.


"Kalau sampai Kirana tau, bisa perang dunia yang ada nanti," imbuhnya.


"Ya, lu ngapain sih kalah sama istri? Bego lu jadi laki!" ejek Judika tanpa rasa bersalah.


Untung juga gua masih inged pesan Mama buat nahan lu di sini dulu. Coba kalau nggak, udah gua suruh balik lu ke Jakarta!"


Kali ini Dewi Fortuna lagi-lagi masih berpihak pada Hendrik. Dua kali sudah dia selamat hari ini dari Kirana.


**********


Pukul 17.00 sore, Kirana kembali menghubungi Hendrik untuk minta di jemput di mall saja. Karena kalau pesan taksi online pasti susah dapatnya.


[Mas, jemput aku di mall ya. Bisa nggak? Kalau nggak bisa aku pesan taksi online aja.] pesan terkirim dan langsung berubah centang dua biru.


[Bisa kok, Ran. Kebetulan aku lagi ada di dekat jalanan sana sekarang.] balasan dari Hendrik.


"Kok bisa sampai sekitar sini Mas Hendrik? Bukannya rumah makan Mas Hendrik ada di arah berlawanan sama mall ini? Ah mungkin memang habis ada janji sama customernya," Kirana mencoba berpikir positif.


Tak perlu menunggu lama, akhirnya mobil Hendrik berhenti di depan Kirana dan Johan. Mereka berdua segera masuk.

__ADS_1


"Kok bau rokok sih, Mas?" tanya Kirana sambil menutup hidungnya.


Hendrik lupa menyemprot parfum ke mobilnya kala Judika turun tadi. Ya, Hendrik terpaksa menurunkan Judika di jalanan dan memintanya naik taksi online, karena Kirana mengirim pesan minta di jemput.


"Tadi temanku ada yang numpang soalnya, Ran. Dan dia perokok aktif, maaf ya kalau kamu jadi nggak nyaman," jawab Hendrik sedikit gugup.


Membuat Kirana dan Johan menatap heran.


"Kalian abis belanja apa aja?" tanya Hendrik berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Nggak beli apa-apa sih, Mas. Tadinya mau nonton juga, tapi filmnya jelek-jelek. Lagian aku baru inget kalau kita kan juga mau ke dokter kandungan malam ini," sahut Kirana dengan seuntai senyum.


"Mas Johan mau ikut atau pulang?" tanya Hendrik sopan.


"Pulang aja, aki sudah capek sekali nemanin Kirana jalan-jalan tadi," balasnya.


Tepat pukul 18.30, mobil Hendrik berhenti di depan rumah Johan.


"Mas, aku nggak mampir lagi ya. Tapi minggu depan aku main lagi ke sini," ucap Kirana saat Hendrik memasukkan tas berisi baju-baju Kirana ke kursi bagian belakang.


Johan hanya membalas dengan senyum dan berhambur memeluk Kirana sangat erat. Dia sangat takut kalau minggu depan sudah tidak bisa memberikan senyuman dan pelukan ini pada adik semata wayangnya ini.


"Mas kenapa nangis? Aku kan sekarang cuma pamit pulang aja? Minggu depan aku juga bakal main lagi kesini," Kirana melepas pelukan Johan.


"Iya, Mas. Aku bakal sering anter Kirana untuk datang kesini kok. Jadi Mas jangan sedih," kali ini Hendrik juga ikut berucap dengan sedih.


"Tolong jaga Kirana ya. Jangan sakiti dia, jangan tinggalkan dia. Kalau kamu sudah nggak cinta lagi sama dia, kasih tau dia baik-baik. Kalau Kirana ada berbuat salah, tegur dia baik-baik juga," Johan memeluk Hendrik sangat erat.


Seakan-akan ini akan jadi pertemuan terakhir mereka.


"Iya, Mas. Aku janji bakal jaga Kirana selalu."


Lalu mereka berdua pun pamit pulang. Karena nggak mau kehabisan nomor antrian juga.


Tetapi saat mereka baru sampai di parkiran rumah sakit Ibu dan Anak, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal ke ponsel Kirana.


Awalnya Kirana mengabaikan panggilan itu. Karena dia tak kenal dengan nomor itu. Namun hingga panggilan ke lima, akhirnya Kirana mau menerima panggilan itu.

__ADS_1


Apalagi Hendrik juga memintanya menerima panggilan itu.


"Halo,"


__ADS_2