
Setelah menunggu beberapa menit, ia berharap agar nomor itu berhenti menghubunginya. Tapi ternyata nomor itu terus saja menghubungi Kirana. Hingga akhirnya membuat Kirana mengalah untuk menerima panggilan itu.
"Halo," sapa Kirana.
"Halo, Ran. Syukurlah akhirnya kamu mau nerima panggilan ini," sahutnya dari sebrang sana. Terdengar sangat gembira sekali.
Kirana mengernyitkan keningnya. "Ini Mas Hendrik kah?" tanya Kirana ragu-ragu. Karena suara itu sedikit serak.
"Aku Richard, Ran!" serunya tak terima. "Masa kamu lupa sih sama suaraku? Atau jangan-jangan nomor ponselku juga belum kamu simpan ya? Makanya kamu nggak tau kalau yang telpon ini aku. Jahat banged sih kamu sama aku," sambungnya lagi dengan nada ngambek.
"Hehehe, iya maaf aku belum sempat nyimpan nomor Kakak waktu itu, soalnya keburu kartu nama Kakak hilang.
Tapi Kakak tau nomor ponselku darimana? Kan aku nggak pernah ngasih tau ke Kakak?" tanya Kirana penasaran.
"Bukan hal yang sulit buat dapat nomor ponselmu," sahutnya membanggakan diri.
Kirana memutar bola mata malasnya. Sebenarnya ia ingin menjaga jarak dengan Richard, lantaran teringat kejadian sebelum ia pulang dari rumah sakit tempo hari. Apalagi saat ini posisi Kirana sedang tak bersama dengan Hendrik. Bisa-bisa nanti Hendrik malah menuduhnya telah berselingkuh.
"Ya sudahlah, mau tau darimana juga nggak penting kok," balas Kirana sedikit cuek.
"Ah elah, Ran. Gitu aja dah marah. Aku tuh tau nomormu dari, ...." belum selesai Richard bicara, namun Kirana sudah memotongnya.
"Kakak ada apa siang-siang begini telpon aku? Ada hal penting kah?" sewot Kirana tapi Richard malah mengira kalau Kirana sedang menja padanya.
"Nggak ada sih, Ran. Aku cuma mau ingetin aja kalau besok lusa kamu ada jadwal kontrol kandungan kan? Jangan sampai telat ya. Atau kamu mau aku ambilin nomor antriannya?"
__ADS_1
"Iya, aku tau kok. Terus kalau soal nomor antrian nggak usah di ambilin Kak. Aku bisa datang tepat waktu kok. Ehm, udah dulu ya, Kak. Aku mau istirahat soalnya. Bye!" tanpa menunggu jawaban dari Richard, Kirana memutus panggilannya. Kemudian ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
Sekarang ia merebahkan kepalanya di atas meja kasir. "Bodoh, kamu Ran. Bisa-bisanya kamu mengira kalau Mas Hendrik akan menghubungimu berkali-kali hingga kamu terima panggilannya.
Itu adalah hal yang nggak mungkin terjadi. Buktinya semalam chatnya nggak kamu balas aja, dia nggak pusing!
Mungkin juga sekarang ini Mas Hendrik sedang sibuk dengan perempuan-perempuan seksi itu. Jadi dia nggak bakal merasa kesepian ketika kamu nggak ada di sampingnya.
Berharap boleh, tapi jangan terlalu berambisi. Kalau nggak dapet malah sakit sendiri kamu nanti!" Kirana merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul meja.
Tante Linda yang mendengar kalimat Kirana barusan hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.
"Ran, pulang yuk. Semua sudah selesai kan? Kita istirahat, agar besok sepanjang acara wajahmu terlihat fresh," ajak Tante Linda sembari mengelus lembut kepala Kirana.
"Ya sudah, sekalian kita ke salon ya. Sudah lama rasanya Tante nggak pergi ke salon di temanin seseorang."
Kirana mengangguk setuju, sepertinya dia memang perlu juga melakukan beberapa treatment meskipun dalam keadaan hamil.
Beberapa menit kemudian mereka telah tiba di salah satu mall terbesar di kota Surabaya. Pertama kali masuk mereka langsung menuju ke salah satu resto yang ada di dalam sana untuk makan siang.
Tetapi, mata Kirana tiba-tiba melihat pemandangan yang kurang menyenangkan. Ya, ia melihat Judika sedang berjalan ke arahnya sambil menenteng beberapa paperbag berlogo brand ternama.
Ingin rasanya Kirana putar balik, namun sepertinya percuma. Karena Judika sudah berada di depannya.
"Hai? Bagaimana rasanya hidup jadi gelandangan di jalanan lagi? Ternyata aku nggak perlu susah-susah buat nyingkirin kamu dari kehidupan Abangku ya.
__ADS_1
Aku senang sekali loh, waktu tau kamu pergi dari hidup Abangku. Ya, meskipun Abangku nggak mengusir kamu secara langsung sih," cibirnya sambil memamerkan belanjaannya.
"Tapi makasih ya, kamu sudah sadar diri buat pergi. Oh iya, sebagai tanda makasihku buat kamu, ini aku ada uang receh buat kamu makan siang," lalu ia merogoh saku celananya dan mengambil uang pecahan lima puluh ribu yang sudah tergulung tak beraturan.
Judika melemparkan uang itu ke arah wajah Kirana. Bahkan Tante Linda yang melihat kelakuan Judika menjadi geram. Namun untungnya Kirana berhasil menahan Tante Linda agar tak terpancing.
Kemudian Kirana mundur satu langkah, "Ambil lagi uangmu itu!" ia menunjuk uang lima puluh ribu yang ada di kakinya. "Aku nggak sudi nerima uang yang kamu dapat dari hasil ngemis ke Abangmu! Dan satu lagi yang harus kamu ingat. Jangan suka meremehkan orang lain. Belum tentu orang yang kamu remehkan itu akan terus ada di bawah. Roda kehidupan itu berputar, mungkin aja suatu saat kamu yang ada di bawah," balas Kirana santai namun dengan tatapan tajam.
"Hahaha! Ternyata orang miskin seperti kamu ini suka menghayal ya? Asal kamu tau ya, harta orang tua dan Abangku itu nggak akan pernah habis! Soalnya kamu si pembawa sialnya sudah pergi jauh! " cemooh Judika dengan cukup lantang. Membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka bertiga.
"Baguslah, aku juga nggak mau balik lagi sama Abangmu, kecuali ia mau meninggalkan harta orang tuanya." setelah berucap Kirana beranjak pergi.
"Jangan mimpi kalau Abangku bakal ngemis buat minta kamu balik sama dia! Karena dia sudah punya penggantimu! Kalau nggak percaya lihat aja sendiri. Ia sedang makan bersama di resto jepang." teriaknya dari jauh.
Kirana terus saja melangkah menjauh, ia tak mau lagi berdebat dengan Judika si manusia sombong. Tapi kalimat terakhir Judika mampu membuat Kirana penasaran.
"Apa iya, sebegitu cepatnya Mas Hendrik berpaling darinya?" batin Kirana.
"Sabar, ya Ran. Tante tau bagaimana perasaanmu saat ini." ucap Tante Linda sambil mengenggam tangan Kirana.
"Mulai sekarang Tante nggak akan meminta kamu untuk kembali pada Hendrik. Tapi Tante juga nggak akan melarangmu jika kamu berubah pikiran nantinya. Sekarang kita makan dulu ya, lupakan semua ucapan adiknya Hendrik tadi."
"Tante duluan aja ke sana ya. Tante pesan aja makanan yang Tante suka. Kirana mau ke toilet sebentar, nantin Kirana nyusul."
Padahal saat ini Kirana ingin membuktikan ucapan dari Judika tadi. Jika memang ia melihat Hendrik sedang jalan berdua dengan perempuan lain, maka saat ini juga Kirana akan memilih untuk benar-benar menghilang dari kehidupan Hendrik.
__ADS_1