
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Itulah yang menggambarkan perasaan Hendrik siang ini. Orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya menghubunginya juga. Dalam hati ia berharap jika Richard siang ini akan memberi kabar yang membuatnya bahagia.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah menyampaikan pesanku pada Kirana? Apa dia bersedia menerima bantuan dari Papaku?" cecar Richard tak sabar.
"Sudah! Tapi sayangnya Kirana menolak untuk dapat bantuan apapun dari Papamu. Dan Kirana bilang, kalian bersiap-siaplah untuk menunggu hasil visum Kirana keluar. Ya, kurang lebih 1 minggu lagi lah. Tentu kamu sudah tau kan maksudku bersiap-siap untuk apa?" selesai mengatakan hal tersebut, Richard memutus panggilan secara sepihak.
Hendrik berusaha menghubungi kembali nomor Richard tersebut, namun ternyata ia sudah diblokir.
"Argh!" teriaknya frustasi. "Apa sebaiknya aku datangi toko bunganya saja? Siapa tau hari ini toko bunga itu sudah buka." monolog Hendrik seorang diri.
Kemudian ia berpamitan pada Pak Robert. Tapi sayangnya Pak Robert harus menjalani pemeriksaan yang mengharuskan dirinya tetap berada di samping Pak Robert. Dengan perasaan gusar, akhirnya terpaksa ia menunggu sampai pemeriksaan itu selesai.
Pukul 17.30 sore, akhirnya Hendrik baru bisa meninggalkan Pak Robert. Tak lupa sebelum ia pergi, ia menitipkan Pak Robert pada suster jaga malam ini. Karena ia tak mungkin meminta Bu Mery untuk datang menggantikannya. Yang ada Bu Mery justru akan besar kepala, lalu menuntut balas jasa.
Dengan kecepatan lumayan tinggi ia memacu kendaraannya. Bahkan beberapa kali ia hampir menabrak orang yang akan melintas di depannya.
"Huh, akhirnya sampai juga aku. Untung saja tadi nggak nabrak orang sama sekali. Coba kalau sampai ada yang aku tabrak, bisa-bisa semakin berat masalah yang menimpaku." Hendrik mengusap keningnya yang berkeringat seraya memarkirkan motornya sedikit jauh dari toko.
Ia sengaja memarkir agak jauh, agar tak ada yang memberitahu kedatangannya pada Kirana.
Netranya pun seketika berbinar kala melihat toko bunga Kirana sedang dalam kondisi ramai pengunjung.
"Nggak sia-sia usahaku kali ini. Semoga aja Kirana ada di dalam sana sambil menggendong anakku," lagi-lagi ia bermonolog untuk mensugesti dirinya sendiri.
Langkah kakinya begitu cepat, namun ketika kakinya baru menginjakkan toko, sekilas ada yang janggal menurut pandangan matanya. Tapi ia berusaha mengabaikan. "Ah, mungkin ini efek mataku yang mulai lelah karena kurang istirahat." batinnya.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu? Bapaknya mau cari bunga apa? Mau cari bunga untuk istrinya atau ibunya?" sapa seorang karyawan dengan senyum ramah.
Hendrik yang baru menyadari kejanggalan itu, kini ia kembali memperhatikan sekitar dengan seksama. Sampai-sampai ia rela untuk keluar lagi guna memastikan jika ia tidak salah masuk toko bunga.
__ADS_1
Dan benar saja, mulai dari security sampai semua karyawan, tak ada satu pun yang ia kenal.
"Benar, ini toko bunga Kirana. Tapi kenapa semua karyawannya nggak ada yang aku kenal? Apa Kirana sengaja mengganti semua karyawannya demi mengelabui aku?" gumamnya.
Karena penasaran, ia menghampiri security yang berjaga di depan.
"Maaf, Pak. Apa Bapak baru bekerja di sini? Soalnya saya nggak pernah lihat Bapak sebelumnya," tegur Hendrik.
Security itu menoleh. "Iya saya memang baru, Pak. Apa Bapak pelanggan setia di sini? Sampai-sampai hafal sama security di sini," kekehnya.
"Ya jelas saya hafal, kan yang punya toko bunga ini istri saya. Kenalkan saya Hendrik, suaminya. Ya, berarti secara nggak langsung saya juga bos situ! Kerja yang semangat ya, biar nanti bisa saya naikkan gajinya." Dengan angkuhnya Hendrik memperkenalkan diri.
'Tuh kan benar, jika kamu berusaha mengelabui aku, Ran. Tapi sayangnya rencanamu sudah bisa aku tebak. Haha!' batin Hendrik tertawa puas.
Di lain sisi security itu garuk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali. Karena yang ia tau, pemilik toko bunga ini cowok. Apa iya bos nya itu seorang gay? Tapi ia buru-buru menepis pikirannya itu. Tak baik jika mempunyai pikiran buruk pada orang yang jelas-jelas kita belum tau faktanya.
"Ya sudah, kalau gitu saya mau masuk dulu untuk menemui istri saya," pamitnya lalu menepuk bahu security itu.
"Maaf, Pak. Bapak mau kemana? Bos kami sedang tidak ada di tempat. Jadi Bapak tidak bisa masuk begitu saja ke ruangan bos." cegah salah satu karyawan yang memergoki Hendrik akan membuka handel pintu.
"Jangan bohong! Saya tau jika istri saya ada di dalam kan?" bantah Hendrik lantang.
"Istri?" lagi-lagi karyawan itu juga di buat bingung oleh pernyataan Hendrik.
"Iya! Istri dan anak saya pasti ada di dalam kan? Jadi kamu jangan halangi saya! Minggir kamu!" bentaknya seraya mendorong kasar bahu karyawan itu.
Dengan perasaan takut, karyawan itu segera berlari turun ke bawah, ia ingin minta tolong pada beberapa karyawan dan security untuk membawa Hendrik keluar dari toko.
Beberapa karyawan gegas naik ke atas, dan sebagian lagi mencoba menghubungi bos mereka. Takut jika sampai Hendrik berbuat nekat dengan merusak toko.
__ADS_1
"Jangan buat keributan di sini, Pak. Ayo silahkan ikut kami keluar, atau kami akan paksa Bapak?" Beberapa sudah memegang tangan Hendrik kuat.
"Kalian nggak bisa usir saya begitu saja!" Hendrik berusaha melepaskan diri dari genggaman erat para karyawan.
"Kirana! Keluar kamu, Ran! Aku tau jika kamu ada di dalam sana! Mau sampai kapan kamu sembunyi dari aku? Aku berhak untuk dapat penjelasan detail dari kamu soal anak kita!" teriaknya sangat lantang, hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung lainnya.
"Siapa Kirana?" bisik seorang karyawan yang bertanya pada temannya yang lain. Tapi akhirnya terdengar di telinga Hendrik juga.
"Kirana itu istri saya! Dia pemilik toko bunga ini kan?" murkanya dengan mata melotot.
"Kirana? Tapi setau kami, pemilik toko bunga ini laki-laki, Pak. Namanya Pak Christian. Bukan Kirana seperti yang Bapak bilang."
"Oh, atau mungkin Kirana yang Bapak maksud itu pemilik toko bunga sebelumnya? Soalnya baru siang ini tadi kami bekerja dengan pemilik toko bunga yang baru." jelas security yang akhirnya menemukan jawaban.
"Maksud kalian? Toko bunga ini bukan milik Kirana lagi?" Hendrik meminta jawaban dari setiap orang yang mengelilinginya.
Mereka kompak menganggukkan kepala.
"Nggak mungkin! Mana buktinya jika ini bukan milik Kirana lagi?"
"Coba hubungin nomor ini." karyawan itu memberikan satu kartu nama pada Hendrik. "Itu adalah nomor bos kami, Bapak bisa bertanya langsung nanti," sambungnya lagi.
"Oke, saya akan hubungi nomor ini!" lalu ia beranjak keluar dari toko bunga itu dengan perasaan kecewa.
Ia terduduk di trotoar samping motornya terparkir. Netranya menatap ke arah toko lantai 2 yang ada di depannya. Sebuah rasa penyesalan yang teramat sangat, ia rasakan kali ini.
"Andai aku nggak terlambat mengetahui kebenaran yang ada, pasti aku tak akan pernah kehilangan kamu dan anak kita, Ran. Sekarang aku harus cari kamu kemana? Apa secepat ini kamu pergi dari hidupku?" dadanya tiba-tiba terasa sesak jika kembali mengingat semua kesalahan dan kebodohannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, ia mulai menekan nomor yang tertera pada kartu nama itu di ponselnya. Ia sangat penasaran dengan siapa pemilik toko bunga itu sekarang.
__ADS_1
Siapa tau, dengan bertanya pada pemilik toko bunga yang baru, ia bisa mengetahui di mana keberadaan Kirana.