
Kirana lalu melangkah menuju pintu keluar. Ia berencana akan pergi ke rumah Tante Linda. Mungkin ia akan menumpang di sana beberapa hari sampai menemukan kontrakan.
Selama di perjalanan Kirana sengaja mematikan ponselnya. Ia tak ingin berkomunikasi dengan siapapun saat ini.
Empat puluh lima menit kemudian, Kirana telah sampai di rumah Tante Linda. Kebetulan pagi itu Tante Linda sedang merapikan tanaman yang ada di halamannya.
Melihat Kirana yang turun dari taksi online dengan membawa satu travelbag besar membuat hati Tante Linda menjadi sedih.
Beliau gegas membuang gunting rumput di tangannya lalu berlari ke arah Kirana. "Kirana, kamu kenapa, Nak? Kenapa kamu bawa-bawa tas besar begini?" tanya Tante Linda seraya memeluk erat Kirana.
"Kirana nggak apa-apa kok, Tan. Hanya ingin menenangkan diri saja," jawabnya setenang mungkin. "Ehm, Kirana boleh nggak Tan numpang di sini sampai Kirana dapat kontrakan?" sambungnya seraya mempererat pelukannya. Ia belum mau menceritakan masalahnya pada Tante Linda saat ini.
Tante Linda melepas pelukannya, lalu mengamati wajah sendu Kirana. Dari sorot matanya terlihat ada sebuah beban yang sedang Kirana pikirkan meskipun Kirana belum cerita.
"Kamu jangan bicara seperti itu sama Tante. Tante justru bahagia jika kamu mau tinggal di sini menemani Tante. Apalagi Om Alex pulangnya beberapa bulan sekali.
Ya sudah, ayok masuk dulu. Kamu bisa tidur dulu jika mau. Pasti kamu juga capek kan setelah perjalan jauh menuju ke sini tadi?" ajaknya.
Kirana menganggukan kepala. Lalu ia berjalan mengikuti Tante Linda menuju kamarnya.
"Kamu istirahat dulu ya, Ran. Kalau perlu apa-apa bilang sama Tante," titah Tante Linda sembari mengelus lengan Kirana. Setelahnya Tante Linda pamit keluar kamar, dan menutup pintunya kembali.
Kirana mulai merebahkan dirinya di tempat tidur. Perutnya terasa sakit, mungkin karena terlalu lama duduk di mobil dan banyak pikiran.
Lalu ia berusaha memejamkan matanya demi mengurangi rasa sakit di perutnya, namun bayang-bayang wajah Hendrik yang selalu terlihat jelas.
"Semoga kamu cepat menyadarinya, Mas. Dan semoga saat kamu sadar, semuanya belum terlambat," gumam Kirana. Tanpa sadar kini air matanya justru mulai menetes. Padahal tadi sewaktu keluar dari apartemen Hendrik ia terlihat sangat tegar.
__ADS_1
Sedangkan di luar kamar, Tante Linda sebenarnya sangat menyanyangkan kalau Kirana sampai keluar dari apartemen Hendrik. Apalagi saat itu dia sudah berusaha menasehatinya agar menjadi istri yang penuh kasih sayang dan penyabar dalam menghadapi apapun seperti dirinya.
Tapi bagaimanapun saat ini ia juga belum bisa sepenuhnya menyalahkan Kirana sebelum ia tau cerita yang menyebabkan Kirana pergi.
Pukul 12.00 siang, Tante Linda telah menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
"Ran, makan dulu yuk. Kasihan bayimu pasti lapar kalau kamu nggak makan," panggil Tante Linda sambil mengetuk pintu kamar Kirana.
Saat pintu dibuka, yang pertama kali Tante Linda lihat adalah kedua mata Kirana yang terlihat sangat sembab akibat banyak menangis.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Nanti setelah makan kita ngobrol. Ceritakan semua beban di hatimu. Kamu nggak sendrian, ada Tante, dan ada Tuhan yang pasti akan tolong kamu," tutur Tante Linda lembut dengan seuntai senyum.
"Makasih, Tan. Aku nggak tau bakal kemana lagi kalau nggak ada Tante. Untung saja saat itu Tante menghubungiku, jadi aku tau kalau sebenarnya Tante nggak marah sama aku," Kirana menggenggam erat tangan Tante Linda.
"Tante nggak pernah marah sama kamu, Ran. Ini pasti Johan ya yang bilang kalau Tante marah sama kamu?" tanya Tante Linda sambil berjalan menuju meja makan.
Seusai makan siang, Tante Linda mengajak Kirana duduk di sofa ruang keluarga. Ia sudah sangat penasaran dengan cerita Kirana.
Kirana tidur di pangkuan Tante Linda dengan sangat manja. "Ran, apa kamu sudah bisa bercerita sekarang? Bukan Tante ingin ikut campur sama masalah rumah tanggamu. Tapi dengan kamu sudah datang kemari, berarti secara nggak langsung kamu sudah melibatkan Tante. Apalagi Tante juga nggak mau kalau melihat kamu seperti tertekan sendiri begini." tutur Tante Linda sambil membelai lembut kepala Kirana yang ada di pangkuannya.
"Sebenarnya Kirana malu jika harus bercerita sama Tante. Tapi jika Kirana nggak cerita, rasanya Kirana tersiksa sendiri."
Kirana terdiam sesaat guna mengambil nafas. Lalu melanjutkan kembali kalimatnya.
"Kirana di bilang pembawa sial bagi kehidupan Mas Hendrik, Tan. Bahkan teman-temannya Mas Hendrik mengatakan jika Mas Hendrik memilih terus bersama Kirana, maka semua yang Mas Hendrik punya saat ini akan musnah."
Tante Kirana terlonjak kaget. "Astaga! Jahat sekali mulut teman suamimu itu, Ran. Nggak ada yang namanya manusia pembawa sial. Yang ada hanyalah perbuatan manusia itu sendiri yang membuat kesialan baginya," ucap Tante Linda emosi.
__ADS_1
"Lalu, kamu sekarang ini pergi dari sana apa karena Hendrik percaya begitu saja dan dia memilih mengusirmu?" tebak Tante Linda tak ragu-ragu.
"Mas Hendrik nggak mengusir Kirana kok, Tan. Hanya Kirana aja yang ingin memberi waktu pada Mas Hendrik untuk membuktikan ramalan itu."
Kirana membenarkan posisi duduknya, "Apakah Kirana salah, Tan?"
"Kamu nggak salah, Sayang. Kamu sudah melakukan hal yang benar, biarkan suamimu itu membuktikan ucapan dari temannya.
Tante bangga sama kamu yang bisa bersikap dewasa seperti ini. Lalu sekarang apa rencanamu?"
Kirana nampak berpikir, kemudian kembali tidur di pangkuan Tante Linda.
"Kirana ingin membuka toko bunga, Tan. Kira-kira bagaimana menurut Tante?"
"Wah, itu ide bagus. Kebetulan Tante punya teman yang punya kebun bunga. Jadi kamu bisa ambil bunga dari sana nanti.
Soal modal awal, kamu nggak perlu khawatir. Tante akan bantu kamu sebisa mungkin. Tante juga ingin kamu bisa membuktikan pada Hendrik jika kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah istri yang hebat," sahut Tante Linda penuh semangat.
Kirana bangkit duduk dan mencium kedua pipi Tante Linda. "Makasih, Tan. Kirana sangat berhutang budi sama Tante."
"Apapun bakal Tante lakukan sekarang demi lihat kamu bahagia, Sayang. Jangan lupa juga kamu doakan suamimu, agar pintu hatinya terketuk."
Kirana mengangguk setuju. Lalu mereka berdua melanjutkan dengan obrolan santai lainnya.
Dua hari kemudian, Kirana mulai mengecek ruko yang akan dia sewa untuk toko bunganya nanti. Tentunya Tante Linda selalu berada di sampingnya.
Kebetulan ruko yang akan Kirana sewa itu nanti terletak di pusat kota yang tak begitu jauh dari rumah Tante Linda. Jadi ia tak akan capek jika harus pulang pergi setiap hari.
__ADS_1
Lalu untuk semua bunga akan datang keesokan harinya. Kirana sangat antusias mempersiapkan semuannya. Sampai-sampai ia lupa dengan masalahnya.