
Tante Linda mengabaikan pertanyaan Sintya. Beliau terus melangkah menaikki tangga menuju lantai dua. Sedangkan saat Sintya akan menyusul Tante Linda, security sudah lebih dulu menahan tangannya.
"Tolong jangan bikin keributan lagi di sini!" bentak laki-laki berbadan kekar yang bertugas sebagai security itu.
"Lepasin tangan saya!" Sintya memberontak lalu memukul keras lengan laki-laki itu. "Saya hanya ingin mencari barang saya yang sudah di ambil oleh karyawan di sini!"
"Tadi Bu Inda sudah meminta anda untuk membawa buktinya kan? Jadi silahkan anda tunjukkan bukti itu terlebih dahulu sebelum menuduh seperti ini."
Nampaknya secutity itupun mulai geram dengan sikap keras kepala yang di tunjukkan Sintya.
"Kamu panggil siapa wanita tua tadi? Bu Inda? Kamu yakin dia namanya Inda?" tanya Sintya tak percaya.
"Yakin lah! Kan saya sudah kenal dengan beliau sebelum kerja di sini!" tukasnya tak mau kalah. "Sudah sekarang lebih baik anda keluar!"
Security itu akhirnya menarik paksa tangan Sintya. Karena ia masih bersikeras ingin menyusul naik ke lantai dua.
Awalnya dia memang hanya ingin menanyakan perihal hilangnya CCTV kecil yang ia pasang di dalam kamarnya kemarin. Tapi ternyata ia malah melihat sosok yang hampir mirip dengan Tante Linda. Sayangnya keyakinannya itu di tepis oleh security yang mengusirnya.
Terpaksa ia harus pulang dengan perasaan kecewa dan marah. Padahal dia berharap dengan adanya bukti rekaman itu bisa membuat Kirana dan Hendrik bisa secepatnya bercerai.
Namun ternyata tadi pagi saat ia akan mengambil CCTV itu, ternyata benda kecil itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Sudah ia cari kesana kemari, namun tetap tak ketemu juga.
"Ah, sial sekali sih nasibku! Padahal CCTV itu sudah aku letakkan sangat tersembunyi!" geran Sintya sambil memukul setir mobilnya.
Kemudian, ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area parkir LiNa Florist. Ia melajukan mobilnya ke arah rumah makan Hendrik.
Sesampainya di sana, ternyata mobil mereka tanpa di sengaja masuk area parkir secara bersamaan.
"Hai, Mas!" sapa Sintya yang sudah turun dari mobilnya.
Hendrik mengabaikannya, ia tetap berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Sintya berlari mengejar Hendrik, "Mas tunggu! Apa kamu sudah lupa sama kejadian semalam?" teriaknya dengan nafas terengah-engah. Hingga mengundang perhatian beberapa orang yang sedang makan di sana.
Hendrik balik badan dan menatap tak suka ke arah Sintya.
Sintya berjalan mendekat hendak memegang pipi Hendrik namun dengan cepat Hendrik memegang kuat tangan Sintya. Lalu menariknya untuk ikut naik ke lantai dua.
Sesampainya di atas lagi-lagi Hendrik melempar tubuh Sintya ke sembarang arah. "Mau apa lagi kamu?" bentaknya dengan mata melotot hingga urat lehernya pun nampak.
"Aduh sakit, Mas!" pekiknya tertahan karena menahan sakit akibat tangannya di remas kuat oleh Hendrik tadi.
"Jangan kamu coba-coba rusak nama baikku di depan orang banyak seperti tadi! Kejadian semalam cukup kita aja yang tau! Mengerti kamu?"
"Makanya kalau kamu nggak mau nama baikmu rusak, jangan pernah kamu abaikan aku seperti tadi! Karena aku bisa hancurkan nama baikmu kapanpun aku mau! Bahkan aku juga bisa bikin kamu kehilangan semua yang kamu punya!" ancam Sintya tanpa rasa takut sedikitpun.
Hendrik tersenyum miring. "Oh, kamu mau mengancamku?" tanyanya sambil berjalan mendekati Sintya.
"Iya, karena aku punya bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan kalau kita sudah tidur bersama semalam! Dan aku juga yakin kalau nggak lama lagi aku bakal hamil anak kamu Mas!"
"Lalu apa maumu sekarang?"
"Aku mau kamu ceraikan Kirana secepatnya, lalu nikahin aku!" pintanya dengan sangat lantang dan percaya diri.
"Bagaimana aku bisa bercerai denganya? Kalau surat nikah aja kita belum mengurusnya di catatan sipil!" Hendrik membuang muka.
Sintya tersenyum puas. "Kalau begitu lebih bagus kan? Kamu bisa melakukan nikah lagi tanpa harus bercerai dulu dari Kirana?" Sintya memeluk Hendrik dari belakang.
"Nggak bisa!" Hendrik menepis tangan Sintya yang melingkar di pinggangnya. "Aku hanya ingin punya satu istri saja! Meskipun sampai saat ini aku belum sepenuhnya mencintai Kirana. Tapi aku belum ada niat untuk bercerai atau menduakannya!" ucap Hendrik masih tetap membelakangi Sintya.
"Apa sih lebihnya Kirana? Kenapa hingga saat ini kamu berat sekali untuk melepaskannya? Sudah jelas-jelas dia pergi dari apartemenmu bersama laki-laki lain. Kenapa kamu masih mengharapkannya?" Sintya menghentakkan kakinya kesal.
"Bukan urusanmu!" Bentak Hendrik tak terima.
__ADS_1
Sintya berdiri di depan Hendrik. "Saat ini urusanku lah! Karena kamu sudah mengeluarkan cairan cintamu di dalam rahimku semalam! Bahkan hingga berulang kali. Jadi mau nggak mau kamu harus tanggung jawab sama perbuatanmu!"
Hendrik mendorong kening Sintya kasar. "Gila kamu ya! Hamil aja belum sudah menuntut aku untuk tanggung jawab! Lagian kamu yakin kalau semalam yang tidur sama kamu itu aku? Bukan laki-laki lain gitu?" cibirnya.
Sintya yang awalnya sudah sangat yakin kalau yang semalam tidur bersamanya itu adalah Hendrik, kini ia pun mulai ikutan ragu. Lantaran bukti CCTV yang ia pasang telah hilang.
Sintya mengelenggkan kepalanya cepat. "Ma-maksud kamu apa, Mas? Kenapa kamu bicara seperti ini? Bukankah semalam kamu sendiri yang sudah bertanya padaku apakah aku puas dengan permainanmu?
Lalu apa maksudnya sekarang kamu bertanya apakah aku yakin jika yang tidur bersamaku semalam adalah kamu?" tanya Sintya cemas.
"Aku kira kamu pintar, ternyata kamu bodoh! Bisa-bisanya kamu nggak bisa membedakan itu aku atau bukan! Dasar perempuan murahan!
Pasti selama ini kamu sudah sering tidur sama laki-laki di luar sana! Makanya kamu sampai sudah nggak bisa membedakan!" cemooh Hendrik puas.
Plak!
Plak!
Dua tamparan mendarat di pipi Hendrik. Hingga membuat Hendrik memegang kedu pipinya.
"Jaga mulutmu, Mas! Aku nggak seperti yang kamu bilang barusan!" teriak Sintya.
"Tapi aku nggak percaya! Terbukti semalam aja kamu bisa menikmati tidur bersama laki-laki lain sampai berjam-jam! Coba kamu lihat ini bagaimana menjijikkannya kamu semalam."
Hendrik menyalakan laptopnya lalu mengarahkan layarnya pada Sintya.
Dengan mata membulat serta mulut terbuka lebar Sintya menatap layar itu. "Jadi, ...." ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.
Malu, marah, kecewa semua campur aduk ia rasakan saat ini. Kemudian ia mengambil laptop itu lalu membantingnya kasar. "Jahat kamu, Mas! Pantas aja semalam kamu meminta menutup mata dan mengikat tanganku! Ternyata ini tujuanmu! Dan jangan-jangan kamulah yang sudah mengambil CCTV kecil milikku?"
"Tepat sekali, tapi sayangnya kamu baru menyadari itu sekarang. Hahaha! Jadi kalau sampai nanti kamu hamil, itu bukan anakku! Tapi anak laki-laki yang sudah memuaskanmu semalam!" Hendrik tertawa besar melihat Sintya yang terlihat bodoh.
__ADS_1
"Aku akan balas semua perbuatanmu ini, Mas!" ujar Sintya sebelum keluar dari ruangan Hendrik.