Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 20.


__ADS_3

"Buat apa? Aku yakin kamu nggak bakal mau lihat tempatnya. Di sana lokasinya kotor dan banyak perokok. Kamu nggak mau kan datang ke tempat seperti itu?" Hendrik sengaja mengarang cerita agar Kirana tak meminta di beri tahu di mana kos Judika nantinya.


Hanya mendengar dari cerita Hendrik saja sudah membuat Kirana sesak nafas.


"Lupakan kalau gitu!" Kirana kembali melanjutkan jalannya menuju lift.


Sesampainya di dalam apartemen, terlihat Judika sedang menonton televisi, tapi ruang tamu terlihat teramat sangat berantakan. Padahal tadi pagi saat Kirana keluar, kondisi ruangan masih tertata rapi.


"Judika!" teriak Hendrik yang berdiri di belakang Kirana.


Hingga membuat Kirana menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.


"Apaan sih, Bang? Dateng-dateng bukannya nawarin makan, ini malah teriak-teriak kayak di hutan aja," gerutunya seraya melihat sekilas.


"Jangan-jangan lu sudah ketularan mak lampir itu ya?" Judika menunjuk Kirana yang berdiri tak jauh darinya.


Mata Kirana seketika membelalak. "Apa kamu bilang barusan? Jaga ya mulutmu itu!" Sepatupun akhirnya melayang ke arah Judika.


"STOP!" hardik Hendrik. "Kalian kenapa malah jadi tengkar sendiri?" Hendrik melengos lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Kirana bergegas ingin menyusul Hendrik, tapi tanpa sengaja kakinya justru menendang benda kotak yang tergeletak di samping sofa.


Kirana memperhatikan dengan seksama, ternyata itu dusbook HP. Ia segera membungkuk dan mengambilnya.


"Dusbook HP siapa ini? Sepertinya masih baru di beli," gumam Kirana.


Ia melihat ke arah Judika, ternyata ia sedang asik menonton acara di televisi. Awalnya Kirana ingin bertanya pada Judika, tapi akhirnya ia urungkan niat itu.


"Apa sebaiknya aku tanya Mas Hendrik aja ya? Ah, ngaak ... nggak! Mungkin sebaiknya aku cari tau sendiri aja ini dusbook HP siapa," Kirana berjalan mengendap-endap menuju ke balkon.


Ia segera membuka penutup dus itu, di dalamnya ternyata masih ada nota pembeliannya juga.


Degh.

__ADS_1


"HP ini baru di beli tadi siang oleh Mas Hendrik? Untuk siapa? Kalau untuk Mas Hendrik, kenapa aku nggak lihat dia tadi pegang HP baru? Kalau untuk aku, kenapa dusbooknya tergeletak gitu aja tanpa ada HP nya lagi di dalamnya? Atau jangan-jangan, HP ini ...."


Kini Kirana sudah dapat jawaban tentang siapa pemilik ponsel baru itu. Ia segera masuk ke dalam kamar menemui Hendrik.


"Boleh aku tanya sesuatu, Mas?" Kirana duduk di samping Hendrik yang kini sedang fokus dengan ponselnya.


Hendrik meletakkan ponselnya lalu menatap Kirana heran. "Kamu kenapa lagi?"


"Ada yang kamu sembunyiin nggak dari aku?"


"Nggak ada."


"Yakin?" Kirana berjalan menatap ke arah jendela kamar. "Aku harap nggak ada yang kamu sembunyiin dari aku, Mas. Karena saat ini statusku adalah istri sah mu. Di mana aku juga berhak tau kemana aja perginya uang-uangmu itu."


Kirana sempat melihat sekilas ke arah Hendrik saat dirinya telah menyelesaikan kalimatnya barusan. Terlihat wajah Hendrik berubah jadi pucat. Namun Ia berusaha tetap tenang.


"Apa maksudmu? Langsung aja ke intinya. Emangnya aku ada ngelakuin apa?"


"Nih!" Kirana menunjukkan nota pembelian HP itu.


"Kamu belikan HP untuk siapa dengan harga puluhan juta begini, Mas? Apa untuk adikmu itu?" Kirana menunjuk keluar kamar.


"Dan jangan-jangan kamu juga sudah belikan dia apartemen dan mobil juga?" cecar Kirana.


"kalau iya, masalahnya apa buat kamu? Apa aku pakai uangmu? Nggak kan? Lagian meskipun aku belikan Judika HP puluhan juta juga nggak bakal bikin kamu sampai terlantar kan?"


Kirana berjalan mendekat ke arah Hendrik seraya menarik tangannya agar mau melihat ke arahnya.


"Lihat aku, Mas!" Kirana memunjuk wajahnya.


"Memang semua itu pakai uangmu. Hak kamu juga mau pakai buat apa. Dan iya memang aku nggak sampai terlantar. Tapi tolong hargai aku sebagai istrimu, Mas! Aku tau kalau kamu menikah sama aku bukan atas dasar cinta


, tapi apakah kamu nggak bisa ngehargain keberadaanku?

__ADS_1


Dimana seharusnya seorang suami harus mengajak istrinya berdiskusi terlebih dahulu. Apalagi ini untuk pengeluaran yang sangat besar!" Kirana berucap dengan deraian air mata.


"Apa kamu lupa sama janji nikah kita kemarin? Di mana kamu berjanji akan menghargai aku, menghormati aku?"


"Sudahlah jangan lebai gitu, Ran. jangan dikit-dikit kamu sebut janji nikah kita kemarin. Lama-lama aku bisa muak sama kamu tau nggak!


Satu lagi, kamu jangan terlalu ikut campur dalam hal keuanganku! Tau apa kamu itu soal pengeluaran dan pemasukkanku, hah?"


"Kalau menurutmu aku saat ini lebai, aku minta maaf. Dan kalau kamu bilang aku nggak boleh ikut campur dalam hal urusan keuanganmu, okeh akan aku turutin semua maumu!


Cukup kamu inget satu hal, rejeki suami lancar itu karena dia mau terbuka sama istrinya! Dan hal sebaliknya juga bisa terjadi jika dia nggak mau terbuka sama istrinya!"


"Oh, jadi kamu mau doain rejekiku nggak lancar gitu? Istri macam apa kamu yang bisa-bisanya malah mendoakan agar rejeki suaminya nggak lancar!" ungkap Hendrik dengan kekesalan.


"Bukan aku yang doain supaya rejekimu nggak lancar. Tapi sikapmu sendirilah yang membuat rejekimu seret!"


"Kita buktikan! Apa benar yang kamu katakan barusan!"


"Pantas aja aku pinjam uang untuk membantu Mas Johan, kamu sangat keberatan. Ternyata seharian ini kamu sudah keluar uang ratusan juta untuk adik benalumu itu!" Kirana sudah nggak bisa menahan kata-katanya lagi.


"Setelah ini apalagi yang dia minta? Turutin aja semua maunya. Aku mau lihat sampai di mana dan sampai kapan kamu sanggup!


Aku juga ingin tau, jadi apa adikmu itu setelah semua yang dia minta kamu beri! Apa begini cara didik orangtuamu pada adikmu itu, Mas? Sama aku aja dia nggak ada hormatnya sama sekali!"


"Cukup, Ran! Lebih baik sekarang kamu mandi. Lalu kita makan bersama. Aku sudah nggak mau ngebahas hal seperti ini lagi."


Lalu Hendrik berjalan keluar kamar meninggalkan Kirana yang masih menangis sesengukkan.


"Pernikahan kita baru hitungan hari, Mas. Tapi setiap hari selalu ada aja masalah yang datang. Apakah sesakit ini menikah dengamu, Mas?


Padahal aku hanya ingin pernikahan kita bisa berjalan sewajarnya. Jika ada masalah di selesaikan dengan kepala dingin. Bukan seperti barusan yang harus saling teriak.


Andai aku bisa memilih, aku pasti memilih untuk nggak mengenal kamu. Agar aku tak merasakan sakit hati seperti sekarang.

__ADS_1


Mas Johan, apakah kamu di sana baik-baik saja? Maafkan adikmu yang nggak bisa berbuat apa-apa untukmu," isak Kirana meratapi nasibnya.


__ADS_2