
Kirana terduduk di samping mobil seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Duh, ampun Mas. Aku tadi nggak ada maksud buat nakutin kamu. Tapi ternyata kamu malah ngira aku sedang kesurupan.
Sekarang jangan bales nakutin aku kayak gini dong. Serius aku takut beneran saat ini," isak Kirana dengan wajah masih tertutup.
Hendrik berjongkok di samping Kirana lalu menjewer telinga Kirana, "Tau kan kalau takut itu rasanya nggak enak?"
Bukannya menjawab, Kirana justru langsung memeluk erat tubuh Hendrik dari arah samping. Terlihat sekali kalau dia sedang ketakutan. Bahkan tangannya masih terlihat gemetar.
"Ayok buruan naik lagi ke atas!" titah Hendrik saat ia bangkit berdiri, tapi dengan cepat Kirana segera menahan kakinya.
Hendrik menoleh, "Ada apa lagi?"
Kirana mengankat kedua tangannya tinggi-tinggi, yang mengartikan dia minta di gendong lagi.
Hendrik membeliakkan matanya. "Astaga, Ran. Aku sudah nggak kuat buat gendong kamu lagi. Tenagaku udah habis, nih coba liat," lalu Hendrik menjatuhkan dirinya tepat di pelukan Kirana.
"Ihh, berat banged badanmu, Mas!" rintih Kirana berusaha mendorong tubuh Hendrik yang makin menimpanya.
"Ya udah deh kita jalan sendiri-sendiri aja kalau gitu," seru Kirana yang hampir kehabisan nafas.
Hendrik tersenyum puas. "Gitu dong!"
Setibanya di apartemen, Hendrik segera mandi karena kini badannya sudah terasa sangat lengket karena berkeringat.
Sedangkan Kirana memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Tapi tiba-tiba matanya melihat ponsel Hendrik yang tergeletak di bawah meja.
Ia gegas meraihnya sambil tersemyun jahil. Pertama kali yang dia buka dari ponsel Hendrik adalah aplikasi pesan singkat.
Kirana mengerucutkan bibirnya kala melihat Hendrik menyimpan nomornya masih menggunakan namanya saja. Padahal yang Kirana harapkan Hendrik menyimpan nomornya menggunakan nama yang romantis.
"Ahh, biarlah nanti bakal aku protes dia!" gerutu Kirana kesal.
Kemudian sekarang Kirana mengambil ponselnya sendiri lalu mengirim foto pernikahan mereka kemarin ke ponsel Hendrik.
__ADS_1
Setelah berhasil terkirim, Kirana lalu memasang foto pernikahan mereka sebagai foto profil di aplikasi pesan singkat milik Hendrik dan status di pesan singkatnya juga, dengan caption 'late post'.
"Nah, selesai!" Senyum puas mengembang di bibir tipis Kirana. "Kita lihat bagaimana respon teman-temannya besok. Karena di acara pernikahan kemarin, teman Mas Hendrik yang datang hanya 2 orang saja. "Masa iya mereka nggak ada yang di undang sih?" gumamnya seraya terus mengotak atik ponsel suaminya itu.
Di riwayat panggilan dan pesan, hanya ada nama Kirana saja. Tidak ada nama yang lain lagi, entah sudah di hapus atau memang tidak ada sama sekali. Ini membuat Kirana semakin penasaran. Kini ia beralih melihat status yang di kirim oleh teman-teman yang ada di kontak Hendrik.
Ada satu nama yang membuat Kirana tertarik untuk melihat statusnya. Nama itu hanya di simpan menggunakan inisial aja, tapi di belakang inisial itu ada emoticon berbentuk love.
"P? Siapa 'P' ini? Apa dia orang yang spesial bagi Mas Hendrik? Sampai-sampai namanya ada di sertai emotikon love."
Status dari P ini di kirim dua jam yang lalu, dan berisi kata-kata yang jika diartikan secara inti, dia rela kalau harus jadi yang kedua.
Degh.
Seketika dada Kirana bergemuruh setelah membaca status dari P itu. Air matanya pun ikut luruh bersamaan dengan perasaannya yang sedih.
Kirana menghapus dengan kasar air mata yang ada di pipinya. "Ngak! Aku nggak boleh sedih, siapa tau status P ini bukan untuk Mas Hendrik, tapi untuk yang lain."
"Tapi kenapa Mas Hendrik menyimpan nomornya hanya dengan inisial saja? Apalagi ada tambahan emotikon love di belakangnya. Tapi siapa dia? Nggak mungkin kan kalau ini Sintya?" Kirana mengacak rambutnya sendiri saking frustasinya.
Saat pintu kamar terdengar dibuka, Kirana gegas menaruh ponsel Hendrik ke bawah meja lagi. Lalu ia kembali berpura-pura sedang asik menonton televisi.
"Iya, bentar lagi." jawab Kirana ogah-ogahan.
Hendrik meraih remote yang berada di pangkuan Kirana lalu memencet tombol off.
"Kok di matikan sih, Mas? Aku lagi seru nih nontonya!" protes Kirana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Buruan mandi dulu, abis itu istirahat. Jangan banyak begadang, nggak bagus buat orang yang sedang hamil."
"Hilih, kayak kamu paling tau aja apa yang baik dan nggak baik buat ibu hamil!" sahut Kirana seraya berjalan masuk ke dalam kamar.
Usai mandi, Kirana gegas naik ke atas tempat tidur. Namun tiba-tiba ia ingin mengintip Hendrik di ruang tamu, yang kini masih sibuk di depan laptopnya.
"Belum tidur?"
__ADS_1
Kirana berjalan mendekat sambil memperhatikan bawah meja, ternyata ponsel itu masih ada di sana. Mungkin Hendrik benar-benar lupa sama ponselnya karena sudah di sibukkan dengan membaca laporan keuangan rumah makan miliknya.
"Belum ngantuk!"
Beberapa saat suasana sempat hening.
"Mas, apa setelah kita menikah ini kamu masih menjalin hubungan dengan mantanmu?" tanya Kirana, tapi tatapannya memandang arah balkon.
"Nggak!" jawabnya tegas.
Kirana beralih menatap Hendrik, "Semoga aja ya, Mas."
Hendrik menutup laptopnya, lalu menatap Kirana dengan perasaan heran.
"Kamu kenapa lagi sih? Pasti kamu kebanyakan nonton sinetron deh. Kurang-kurangin lah nonton acara yang nggak berfaedah gitu itu."
"Ya kan siapa tau, Mas. Lagian jangan langsung bilang kalau itu acara yang nggak berfaedah dong.
Soalnya tadi itu aku lihat ada sinetron yang menceritakan kalau ternyata suaminya itu masih menjalin hunbungan sama mantannya. Terus mantanya itu bilang asalkan bisa terus bersamanya, dia rela meskipun jadi yang kedua. Kasihan banged ya yang jadi istrinya itu."
"Kalau kamu gitu juga nggak sih, Mas?"
"Hah? Ka-kamu ini lagi ngomong apa sih, Ran?" sahut Hendrik gugup.
Terlihat sekali kalau ada perubahan di raut wajah Hendrik, dari yang tenang menjadi tegang.
"Lah, kamu kenapa jadi gugup gitu sih, Mas? Padahal aku kan hanya menceritakan cerita yang di sinetron yang aku lihat barusan,"
"Sudahlah, lihat itu sudah jam 12 malam. Buruan tidur, besok aku mau berangkat pagi-pagi sekali soalnya." Hendrik menunjuk ke arah jam dinding.
"Kok tumben pagi-pagi sudah mau berangkat? Mau ada janji sama siapa?" selidik Kirana.
"Nggak usah kamu curiga gitu sama aku! Cukup kamu doain aja biar besok kerjaanku lancar. Aku bukan tipe laki-laki yang suka selingkuh kok." lalu ia beranjak masuk ke dalam kamar dan mematikan lampu ruang tamu.
Tapi tiba-tiba, ia kembali lagi menyalakan lampu ruang tamu. "Kamu lihat ponselku nggak?" tanyanya sambil terus mencari keberdaan ponselnya.
__ADS_1
"Nggak tau!" sahut Kirana cuek, lalu beranjak masuk ke dalam kamar.
Bukan apa-apa, tapi Kirana takut kalau Hendrik tau dia habis mengotak atik ponselnya. Jadi lebih baik dia memilih untuk masuk ke dalam kamar lalu tidur.