Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 95.


__ADS_3

Hendrik mengusap kasar wajahnya. Berkali-kali juga ia terlihat berusaha mengatur nafasnya. Ia tak menyangka jika hari ini mamanya akan tau semuanya. Di satu sisi ia merasa lega, karena tak perlu berbohong lagi pada keluarganya tentang bagaimana kehidupan Kirana saat ini. Tapi di sisi lain, ia juga merasa khawatir.


Apalagi saat ini keuangan kedua orang tua dan saudara-saudaranya sedang memburuk. Pasti mereka akan memanfaatkan Kirana nantinya.


Sedangkan di dalam kamar, Kirana yang awalnya ingin masa bodoh dengan obrolan mereka, tiba-tiba mulai menajamkan indera pendegarannya. Ia ingin tau dan dengar bagaimana jawaban dari Hendrik atas semua pertanyaan yang diberikan oleh Bu Mery.


"Bukan begitu, Ma. Aku nggak ada maksud untuk menyembunyikan semua ini dari mama dan yang lainnya. Aku hanya ingin menunggu waktu yang tepat. Apalagi kemarin papa kan juga sedang sakit," Hendrik beralasan. Sesekali ia juga menatap satu per satu orang yang ada di sana.


"Dan kalau soal modal yang mama bilang tadi, itu semua nggak benar. Aku sama sekali sudah nggak punya apa-apa semenjak rumah makanku terbakar. Apalagi waktu itu mama kan juga sudah mengambil rumah dan apartemen milikku buat bebasin Judika.


Kirana membuka toko bunga itu, murni yang kasih modal ya Tantenya yang sekarang sudah meninggal. Bukan dari aku.


Jadi, aku harap saat ini mama jangan terlalu berharap lebih padanya, apalagi sampai menyusahkan Kirana. Sudah bagus kemarin dia mau membantu biaya pengobatan Papa selama di rawat di rumah sakit." Hendrik menghela nafas panjang di akhir kalimatnya.


Ia sedikit merasa lega setelah berbicara panjang lebar. Setidaknya di penjelasannya tadi, ia juga telah meminta mamanya untuk tak menyusahkan Kirana di kemudian hari.


"Loh, ya nggak bisa gitu dong, Hen!" ketus Bu Mery dengan angkuhnya. "Kalau memang Kirana saat ini sudah sukses, ya memang sudah kewajibannya untuk membantu membayar semua biaya perawatan Papa kemarin." Kembali Bu Mery mengatur nafasnya.


"Dan seharusnya sekarang dia juga membantu semua saudara-saudaramu yang lain! Terutama membantu Abangmu, Handoko dan Rita!" tegas Bu Mery. Netranya menatap iba sang pemilik nama tersebut.

__ADS_1


Handoko dan Rita yang merasa namanya disebut, dan sudah tau kemana arah pembicaraan Bu Mery, segera memasang wajah sesedih mungkin. Di hati mereka juga berharap jika Kirana nantinya akan mau memberikan sebuah modal atau apalah itu. Yang penting sebuah keuntungan bagi mereka.


"Apa kamu nggak kasihan melihat abangmu yang sudah di PHK itu? Rumah dinas dan mobil juga sudah di ambil sama kantornya. Coba buka hati nuranimu sedikit aja. Lihat kakak iparmu, Rita. Dia sedang hamil juga saat ini. Tapi justru malah nggak bisa sering makan bergizi akibat suaminya nggak kerja lagi." Bu Mery berucap dengan isakan kali ini.


"Ih, mama apa-apaan sih? Dari kemarin Mama, Bang Handoko, dan Kak Rita aja nggak ada baik-baiknya sama Kak Kirana. Eh, kok sekarang setelah mama tau Kak Kirana punya usaha yang sudah sukses, kok mama malah minta Kak Kirana bantuin dua orang ini. Ya, jelas bakal nggak mau lah Kak Kirana," cibir Cindy dengan tatapan mengejek Handoko.


Bu Mery melotot geram. "Tutup mulutmu Cindy! Lebih baik kamu diam aja. Daripada kamu bicara tapi malah salahin mama."


"Aku kan hanya bicara apa adanya aja, Ma. Tapi kalau menurut mama salah, ya sudah. Aku lebih baik keluar aja deh, aku nggak mau terlibat sama obrolan ini," lalu Cindy bangkit berdiri, diikuti oleh Bagas, Axel, dan Sinta.


"Duduk kamu Cindy! Nggak ada yang boleh keluar sebelum mama selesai bicara dan dapat jawaban pasti dari Abangmu Hendrik!" perintah Bu Mery tegas.


Dari kemarin kalian bertiga sudah julid sama Kak Kirana. Tapi sekarang kok malah minta di kasih sesuatu. Aku yang nggak ngerasain jadi Kak Kirana aja pasti udah males kasih sesuatu buat Bang Handoko. Apalagi Kak Kirana."


"Baiklah, pergi kalian! Jangan sampai kalian nanti minta bantuan sama Mama!" teriak Bu Mery agak lantang.


Setelahnya, mereka berempat benar-benar berjalan keluar. Namun sebelumnya Cindy mewakili Bagas, Axel, dan Sinta. Sempat mengirim pesan singkat pada nomor Kirana karena tidak bisa berpamitan secara langsung.


"Kamu ini kenapa suka sekali ribut sih, Ma? Ingat ma, umur kita ini sudah tua. Harusnya kita ini bisa membuat anak-anak dan menantu kita ini saling akur. Bukan malah saling bertengkar," ujar Pak Robert menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Namun Bu Mery mengabaikan nasehat baik dari suaminya. Karena yang ada di pikirannya saat ini bagaimana caranya agar Handoko bisa punya modal usaha. Agar tak menyusahkannya lagi.


"Bagaimana Hen? Benar kan yang mama ucapkan tadi? Tolonglah kamu bujuk istrimu itu. Toh dengan membantu Abangmu Handoko, nggak bakal bikin dia sampai bangkrut kan?" ucapa Bu Mery penuh penekanan san sedikit memaksakan kehendaknya.


"Kalau bisa bantuin gue juga lah! Masa cuma Bang Handoko aja yang dibantuin," celetuk Judika.


Bu Mery sepertinya baru sadar jika masih ad Judika yang harus ia perjuangkan juga. "Nah, iya benar itu. Judika kan sebentar lagi mau minta dilamarin pacarnya. Jadi kalau bisa semua Kirana yang tanggung," pinta Bu Mery lagi.


Padahal, permintaan sebelumnya belum mendapat jawaban apapun dari Hendrik. Tapi Bu Mery yang tak tau diri ini sudah mengajukan permintaan lagi.


Hal ini membuat Kirana yang berada di dalam kamar merasa geram. Ia meremas erat telapak tangannya. Andai dia tidak sedang kelelahan akibat perut yang semakin membesar, sudah pasti saat ini juga ia akan mengemasi semua barang-barangnya lalu beranjak keluar.


Tapi sayangnya tenaganya sudah habis siang ini. Belum lagi kalau misal dia nekat keluar. Pasti mereka semua yang ada diluar berusaha menahannya dan memberondongi dengan permintaan-permintaan konyol mereka.


"Hen, ayo antar Papa istirahat di kamar. Papa sudah capek dari tadi duduk di kursi roda. Papa juga sudah bosan dengar celotehan nggak bermutu dari mamamu. Dan sebaiknya kamu setelah antar Papa ke kamar, kamu juga masuk ke dalam kamar ya. Temani Kirana di dalam. Ia pasti stress karena mendengar obrolan kita barusan.


Tolong sampaikan maaf Papa pada Kirana, karena nggak bisa mendidik Mama, Handoko, dan Judika dengan benar. Sampaikan juga padanya, untuk tak ambil pusing dengan permintaan apapun yang datang dari mereka berempat itu," sela Pak Robert sambil meneteskan air matanya. Terlihat sekali jika Pak Robert merasa tak berdaya saat ini. Apalagi ditambah dengan kondisi beliau yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Hendrik bangkit berdiri, lalu mendekati papanya. "Iya, Pa. Papa jangan sedih ya. Nanti Hendrik akan sampaikan semua yang papa ucapkan tadi pada Kirana. Semoga saja Kirana mau mendengarkan." tutur Hendrik tulus.

__ADS_1


Bu Mery terpaksa diam kali ini. Tapi niatnya sepertinya tak mudah dibuyarkan begitu saja. Ia masih sangat berharap. Syukur-syukur jika Kirana juga mau memberikan Bu Mery modal untuk membuka rumah makan lagi di Jakarta.


__ADS_2