
"Tante Linda sudah tau?" tanya Kirana sambil melepas kacamata hitamnya.
Sisil menggelengkan kepala. "Belum, Bu. Karena Tante Linda masih repot di lantai atas."
"Baiklah, tapi kamu sudah simpan nomor ponsel dan alamat rumahnya kan?" tanya Kirana pada pegawainya itu.
"Sudah, Bu Carol," Ia merogoh kantongnya lalu mengeluarkan satu kartu nama. "Ini kartu namanya, Bu. Oh iya, tadi dia juga tanya kalau kita yang decor bisa apa tidak, Bu?"
Kirana melihat nama di kartu nama itu dengan mata membeliak dan mulut terbuka. "Sintya?" namun ia segera menutupi keterkejutannya di depan pegawainya itu.
"Okeh, kalau gitu nanti saya akan hubungin dia," ia mulai menaikki tangga, tapi tiba-tiba berbalik badan lagi. "Sil, tapi dia tadi nggak tanya-tanya yang lain-lain kan?" tanya Kirana pada Sisil yang masih berdiri di kaki tangga.
Alis Sisil berkerut, "Maksudnya gimana, Bu? Tadi dia hanya tanya soal bunga mawar saja, lalu saat saya bilang kalau saya mau tanya dulu sama Ibu, tiba-tiba dia meninggalkan kartu nama ini. Kemudian dia pamit, sepertinya dia sedang terburu-buru begitu Bu," jelas Sisil sopan.
Kirana menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia terlalu parno saat ini dengan nama Sintya.
"Ya sudah, makasih ya."
Di ujung tangga, Tante Linda sudah berdiri menunggu Kirana. "Duh, Sayang. Kamu kenapa lama sekali sih periksanya? Pasti kamu capek sekali ya?" sambut Tante Linda sembari menuntun Kirana masuk ke dalam ruangannya.
Ia duduk di sofa diikuti dengan Tante Linda. "Iya, Tan. Tapi meskipun ngantri panjang, tapi aku senang kok. Kan Aku abis liat calon dedek bayi."
Terlihat senyum mengembang di kedua sudut bibir Tante Linda. Ya, dia juga tak sabar ingin segera menimang cucu. Meskipun itu cucu dari keponakannya.
Kirana menatap Tante Linda, ia ingin mengatakan rencananya tadi. Namun ia takut jika Tante Linda menjadi kepikiran.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tante Linda mengusap punggung tangan Kirana.
"Ahh, nggak ada kok, Tan," ia mengurungkan niatnya.
Kemudian Kirana mulai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi teman Tante Linda untuk memesan beberapa macam bunga termasuk pesanan customer bernama Sintya itu.
Setelah di rasa yakin kalau besok bunga itu ready stok, Kirana memutuskan untuk menghubungi Sintya melalui pesan singkat. Ia tak mau berbicara melalui telpon, takutnya Sintya bisa mengenali suaranya.
[Selamat sore Kak Sintya. Perkenalkan saya Carol pemilik LiNa Florist.
Saya mau menginfokan kalau besok bunganya sudah bisa diambil pukul 10.00 pagi ya, Kak. Tapi kalau misal mau di tambah jasa dekor juga bisa. Nanti saya akan minta pegawai saya datang ke rumah Kakak. Trimakasih.] pesan terkirim dan langsung berubah centang dua biru.
[Selamat sore. Oh, pegawainya ya yang ngedecor besok? Apa tidak bisa kalau anda sendiri yang turun tangan? Karena saya dapat rekomendasi dari teman saya, katanya anda jago dalam dekor ruangan menggunakan bunga.
Saya bayar berapapun deh, asal anda yang ngedekor kamar pengantin saya nanti. Kalau pegawainya yang ngedekor, saya takut nggak sesuai ekspektasi saya dan suami saya.] balasnya.
[Sebelumnya mohon maaf, karena saya besok sudah terlanjur ada tugas dekor di tempat lain. Dan di sini saya bukan ambil siapa yang berani bayar mahal, tetapi saya ambil sesuai siapa yang memesan terlebih dulu.
Jadi tolong jangan salah paham sama toko kami. Tetapi jika Kakak tetap tidak mau kalau pegawai saya yang mendekor, Kakak bisa ajukan pembatalan. Semua DP akan saya kembalikan full.] Kirana sengaja berbohong, dan dia juga sengaja membuat Sintya jengkel dengan memintanya membatalkan pesanannya saja.
[Loh kok saya jadi disuruh batalin sih? Ya sudah saya tetap ambil! Tapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan, saya tidak mau bayar sisanya ya.]
[Baik, tapi setelah selesai melakukan dekor, karyawan saya akan merekam hasil dekor mereka. Sebagai bukti kalau kerja kami tidak asal-asalan.]
Pesan terakhir Kirana hanya dibaca saja tanpa ada balasan lagi dari Sintya. Tante Linda yang memperhatikan Kirana, menggerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kamu menghubungi siapa? Kenapa sekarang jadi seperti kesal begitu? Kalau ada apa-apa, cerita. Jangan di pendam sendiri," cecar Tante Linda.
Membuang nafas, lalu menyandarkan kepalanya di sofa. "Sintya tadi siang datang kemari dan memesan bunga mawar untuk mendekor kamar pengantinya, Tan. Dan dia meminta aku sendiri yang mendekornya."
"Sintya sahabatmu itu kan, Ran? Wah, kok nggak ketemu sama Tante ya dia tadi siang. Coba kalau ketemu, kan bisa Tante ajak minum dulu di sini. Apalagi katanya dia mau nikah.
Emm, apakah sekarang kamu kesal itu karena Sintya memberitahumu dadakan?" tebak Tante Linda antusias.
Kirana memang belum banyak bercerita pada Tante Linda, termasuk soal Sintya. Yang dia ceritakan hanya soal alasan dia keluar dari apartemen Hendrik serta mulut jahat mertua dan adik iparnya saja.
"Bukan, Tan. Aku justru bersyukur kalau tadi siang Tante nggak bertemu dengan Sintya. Karena kalau Tante bertemu dengan dia, yang ada Mas Hendrik bisa tau aku buka toko bunga ini.
Dan lagian kita juga sudah nggak bersahabat seperti dulu, Tan. Semua sudah berubah semenjak aku hamil anak Mas Hendrik," jelas Kirana yang membuat Tante Linda semakin binggung.
"Tante nggak ngerti maksud kamu, Sayang."
Akhirnya Kirana menjelaskan semuanya. Mulai dari dia yang baru tau jika Sintya ada hubungan dengan Hendrik. Sampai dengan Mita yang Kirana curigai sebagai kaki tangan Sintya untuk membuat Kirana berpisah dengan Hendrik.
Tante Linda terkejut setelah mendengar cerita dari Kirana barusan. Dia sangat menyanyangkan jika Sintya sampai berubah seperti itu.
"Lalu, siapa yang akan mendekor kamarnya besok, Ran? Nggak mungkin kan kalau kamu yang datang ke sana?"
"Kirana sudah bilang sama Sintya, kalau yang ngedekor besok pegawai LiNa Florist. Awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia menerima tapi dengan syarat kalau nggak seseuai dengan mau dia, dia nggak mau bayar uang sisanya," decak Kirana kesal.
"Loh, itu namanya dia mempermainkan kita. Mending kamu batalin aja lah itu pesanannya. Belum-belum kok sudah bikin jengkel dan banyak maunya," Tante Linda pun jadi ikutan geram.
__ADS_1
"Tenang aja, Tan. Besok Kirana bakal minta Sisil untuk ngerekam selama dia mengerjakan dekornya. Dan jika Sintya bilang kalau itu hasilnya buruk lalu dia nggak mau bayat. Maka kita sebar aja videonya ke sosmed. Biar netijen yang menilai hasil dekor Sisil yang di katakan buruk oleh Sintya," Kirana tersenyum puas dengan pikirannya.